
"Ayo kita lanjutkan perjalanan selagi masih ada matahari." Sahut rey.
Yang lain setuju. Kakinya terayun kembali setelah kekenyangan.
Bellerie yang memang sudah jalan terlebih dulu, ia terlihat santai. Seolah tersesat di hutan bukan hal pertama kali. Melihat ini Lusheng tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Bellerie, apa kamu pernah tersesat di hutan? "
Bellerie melihatnya sekilas, tidak menjawab.
"Kau ini sangat irit bicara, bellerie."
Bellerie tidak menanggapi. Ia membiarkan lusheng sesekali mengeluh karena merasa diacuhkan.
Lama mereka berjalan, tak terasa matahari sudah menenggelamkan diri. Hutan mulai menggelap dan penglihatan mulai kabur.
"Kita buat perkemahan disini saja." Kata Julian.
"Baiklah, ayo kita buat api unggun." Sambung Rey.
"Ini masih ada sisa buah-buahan untuk makan malam." Julian membuka rompi seragam yang membungkus buah-buahan.
"Berapa lama lagi kita akan sampai? " Tanya Sisil disela-sela mengumpulkan ranting.
"Seharusnya tidak lama. Dengan apa mereka membawa kita kesini ? Bukannya jalan kaki ?" Tanya Lusheng yang menggosok-gosokkan kedua batu.
" Lusheng benar. Ini karena kita terbangun siang hari dan beristirahat cukup lama sore tadi. Kalaupun kita melanjutkan perjalanan malam ini semuanya gelap, jejaknya tidak terlihat jelas." Rey menimpali.
"Apa sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan ? Kita bisa membuat obor." Usul Sisil sedikit ragu-ragu.
"Lebih baik kita menginap dulu disini." Sambung Lusheng yang di setujui semua pria.
Bellerie mendengarkan obrolan mereka tapi tidak menimpali, ia membantu Lusheng menyalakan api dengan menggesekkan kedua ranting.
"Minumlah Sisil, kau kelihatan lelah." Julian menyodorkan batang bambu pada sisil.
"Aku tidak lelah, aku hanya... takut." Lirihnya.
"Aku juga mulai merindukan keluargaku." Gumam rafi yang masih bisa di dengar semua orang.
Lusheng menepuk bahu rafi menyalurkan kekuatan padanya.
"Jangan khawatir teman ! Sebentar lagi kita akan ke rumah masing-masing." Hiburnya dengan senyuman.
Malam semakin dingin, mereka berkumpul di depan api unggun. Perlahan, hangatnya api mulai sedikit menghibur. Tak terkecuali bellerie yang telah memakai kembali jaketnya.
"Bellerie, apa kau tidak takut ? " Tanya sisil.
Bellerie melihat manik hitam itu, ketakutan serta kegelisahan kentara hinggap di sana. Bellerie tidak bisa membantu tapi tersenyum tipis. Senyumnya membuat sisil terpesona.
"Jangan takut." Ujar bellerie singkat. Nada bicaranya datar tapi ada sedikit kehangatan.
Sisil tidak membalas ia merasakan kehangatan mengisi rongga dada. Ini pengalaman pertama, wajar sisil tidak bisa menghilangkan ketakutan.
Melihat teman-teman yang sama berjuang mencari jalan pulang, kedua ujung bibirnya terangkat. Sekarang ia cukup tenang bersama mereka.
"Makanlah." Rey menyodorkan buah kepada sisil dan bellerie.
Auuunngg....
__ADS_1
Dibalik keheningan malam, serigala tiba-tiba menggongong. Bersamaan dengan langit yang semakin gelap.
"Itu suara serigala kan? "
Sisil yang semula cukup tenang, kini rasa takut itu sedikit mengembang lagi.
"Iya, tapi suara itu jauh dari kita." Lusheng menenangkan.
Auuuunng...
Serigala berteriak lagi.
Sisil memeluk lutut, kedua tangannya menyilang menggosok-gosok lengan.
Siswa lain tidak bisa menolong, mereka semakin merapatkan barisan dan masing-masing mencekal kayu pemberian bellerie.
Bellerie sendiri merasakan sesuatu tak nyaman bergelombang di dada. Lantas ia mendekatkan telinga ke tanah dan mendengar sesuatu yang samar.
Buru-buru bellerie memadamkan api unggun dengan menginjak-injak.
"Bellerie, apa yang kau lakukan ?" Tanya Rafi
"Hentikan bellerie ! Kenapa kau mematikan apinya ? Ini gelap." Suara julian meninggi.
Setelah bellerie memadamkan api, tersisa kegelapan. Sisil ketakutan.
"Sembunyi." Perintah bellerie, menyeret tangan sisil ke balik semak-semak tebal nan tinggi.
"Kenapa ? Ada apa ? " Tanya Rafi lagi.
Rey dan Lusheng mengira bellerie mengetahui sesuatu, karenanya mereka mengikuti dan menyeret yang lain bersembunyi.
Derung telapak kaki sedikit terdengar.
"Suara apa itu? " Suara sisil bergetar.
"Sssttt.." Lusheng menyuruh semua diam.
Mereka mengintip dibalik semak-semak. Bising langkah kaki semakin bergema, bukan hanya satu atau dua. Melainkan begitu berisik disertai auman-auman kelaparan.
Sisil melihat itu, ia membekap mulutnya. Kedua bahunya bergetar. Setetes air mata terjatuh melewati jemari. Runtuh sudah pertahanannya, sekarang ia sangat takut. Benar-benar ketakutan.
Memandang sepuluh serigala berjalan pelan dari jarak yang tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh. Matanya menyala merah, gigi taring mencuat keluar. Seekor yang memimpin terus berjalan dan selalu memandang kedepan. Di ikuti sembilan lainnya, mereka mengendus-endus.
'Sial kenapa tidak naik keatas pohon saja.' Gerutu Rafi dalam hati.
Siswa lain membisu, Mereka was-was dan ketakutan.
Seolah menemukan mangsa, serigala-serigala berlarian melewati semak-semak tebal yang berbau khas tumbuhan.
"Mereka sudah pergi." Bisik Julian.
"Tunggu sebentar." Tegas Bellerie pelan.
Suara langkah menjauh, namun samar-samar masih terdengar auman.
'Ggrrr..'
Lolongan semakin menjauh. Seiring angin yang bertiup berlawanan arah, suara auman itu hilang bagai di telan debu.
__ADS_1
Bellerie berdiri, pandangannya menyipit.
Semuanya gelap.
Ia mengibaskan tangan, mengusir debu yang tercium.
"Apa kau melihat sesuatu bellerie? " Tanya rey.
Bellerie tidak menjawab ia bersandar pada pohon di samping semak-semak.
"Tetap disini jangan berpindah." Bellerie berkata sambil memejamkan mata.
"Kenapa ? " Rafi menoleh ke arah kiri.
"Hiks hiks... Aku banar-benar takut aku ingin pulang."
Sisil ingin menangis kencang, namun ia terus membekap mulut agar tidak memancing serigala kembali.
Yang terdengar hanyalah sisil sesenggukkan dengan suara yang parau. Melihatnya, rey membawa sisil kedalam pelukan. Menyalurkan kehangatan.
" Semak ini sangat bau, kita akan aman dibaliknya." Jelas Lusheng yang sedikitnya telah mengerti pemikiran bellerie.
"Memangnya kenapa kalau semak ini bau? " Tanya Rafi.
" Apa kau tidak melihat tadi serigala-serigala itu mengendus-endus ? Berkat bau semak-semak ini, mereka tidak mencium keberadaan kita." Jelas Lusheng santai.
Mendengar ini, Julian dan rafi memandang bellerie. Meski gelap mereka dapat merasakan bellerie berada disamping rafi.
Julian yang semula marah, kini ia memuji kepekaan bellerie.
Bagaimana jadinya jika mereka tidak buru-buru bersembunyi ?
Memikirkannya saja membuat julian bergidik ngeri.
-
Jinyi memikirkan bellerie, ia menyalahkan diri atas penculikkan itu. Jinyi kekurangan tidur, mendadak ia mengalami insomnia. Kekhawatiran selalu menghinggapi seperti burung yang menemukan sarang.
"Jinyi, ini mama nak."
"Ma hik suk." Jinyi sesenggukkan.
"Jinyi, ayo makan dulu." Mama jinyi masuk dengan nampan makanan.
"Jinyi gak mau ma hiks."
Mama jinyi menyimpan nampan diatas meja, lalu memeluk putrinya. Mengusap surai panjang itu lembut bermaksud menenangngkan.
Yang terjadi, jinyi semakin kencang menangis.
"Ma, semua gara-gara jinyi. Kalau saja jinyi gak maksa elle ke mall. Kalau saja elle langsung pulang kerumah. Kita pasti tidak akan bertemu penjahat itu." Suara jinyi bergetar, tangisnya mulai reda.
"Jinyi semuanya sudah menjadi takdir." Mama menenangkan.
Mama jinyi melihat putrinya begitu menyayangi seseorang bernama elle itu. Ia mengerti jinyi merasa bersalah. Ia juga berterima kasih karena elle telah menyelamatkam jinyi.
Namun, jinyi keterlaluan. Dia terlalu menyiksa dirinya sendiri.
Melihatnya, mama jinyi berfikir sebesar itukah rasa cinta jinyi kepada perempuan ?
__ADS_1
Ia meringis, menemukan kelakuan putrinya seperti seseorang yang ditinggal pergi oleh kekasihnya.