
Saat sampai dirumah brian mendapati kakeknya sedang membaca koran diruang tamu. Ini Sudah sore, kakek sepertinya menunggu makan malam. Brian yang berwajah dingin diluar menyapa kakek tanpa antusias dan tanpa ketidaksukaan. Emosinya tsrsembunyi rapi didalam hatinya. Seperti kotak yang dikunci sandi, yang hanya diketahui oleh brian sendiri bagaimana cara membukanya.
"Kakek, bagaimana kabar kakek? Sudah lama tidak bertemu."
Formalitas.
Tuan tua mengerti, kehidupan setengah abad lebih yang dijalani membuatnya mempunyai banyak wawasan. Mengenali nada emosional dari seseorang cucu yang memiliki kelumpuhan wajah, bukan sesuatu yang sulit untuk menebak.
"Baik. Bagaimana dengan sekolahmu ? "
"Tidak buruk."
Brian melirik elle yang sedari tadi diam, ia tahu hubungan elle dan kakeknya tidak baik setelah nenek meninggal. Sebab itu dirinya bergegas pulang menemani elle,untuk melihat apakah pria tua dari keluarganya memulai menggertak elle lagi.
Ada yang berbeda kali ini, biasanya elle tidak akan memandang lelaki tua itu walau hanya sedetik. Sekarang elle bahkan menangguk padanya, seperti sapaan teman lama pada teman yang tidak terlalu dekat. Jelas ini untuk formalitas kesopanan kepada tetua. Setelahnya elle tidak mengungkapkan satu kata pun.
Brian menghela nafas, tidak masalah. Seseorang tidak bisa memaksa orang lain untuk menyukainya. Lagipula elle sudah berubah lebih sopan pada kakek. Mungkin kakek akan memlertimbangkan untuk melepaskan elle.
Tidak menyangka, dugaan dirinya benar. Kakek bahkan tidak mengomel tentang sikap elle barusan. Brian tidak bisa menahan diri untuk menatap wajah tua itu lagi ? Apa sekarang dia mengalami rabun yang parah sehingga tidak mengenali elle ?
__ADS_1
Tapi itu tidak benar, bagaimana bisa dia rabun namun tetap mengenali dirinya ?
Brian masih menolak percaya, ia menunggu kakeknya berkata. Namun, sesuatu yang tidak diharapkan brian adalah...
"Apa ada yang lain? "
Brian terpesona, bagaimana alurnya berubah dari apa yang dia bayangkan ?
"Tidak, aku akan ke kamar." Brian pergi dengan tanda tanya.
*
"Duduk." Tuan memberi lerintah dengan acuh tak acuh.
"Ada yang ingin kau jelaskan! " Reksi menekan amarah didadanya, namun aura dingin telah menyelimuti seluruh ruangan yang menyebabkan sekretaris yang baru datang didepan pintu memilih kembali dengan langkah paling ringan.
"Tidak ada." Balasnya santai.
Reksi menggeram, ia mengepalkan tangannya sangat kuat sehingga jari-jari kukunya memutih.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan pada lily ? "
"Bukankah gadis itu memberitahumu? "
Reksi diam.
Melihat ini, tuan wilson puas ternyata gadis itu cukup masuk akal. Ia menepati janjinya.
"Tanya sekali lagi, apa yang kamu katakan kepada lily? " Kemarahan Reksi tidak menghilang, setelah melihat wajah ayahnya yang tidak bersalah, ia semakin kesal.
"Kenapa kamu perduli ? " Tuan wilson masih acuh tak acuh. Dia sama sekali tidak terlengaruh dengan emosi putranya.
"Kamu mengancamnya untuk putus denganku."
Tuan wilson mengernyit,
"Apa hakmu untuk mengurus ini? " Tanya reksi benci.
"Karena aku ayahmu dan kamu dilahirkan oleh istriku."
__ADS_1
Tuan wilson marah. Beraninya putra bau ini menanyakan apa haknya. Kalau dia memiliki kesadaran diri, ia tidak akan terlalu ikut campur masalah kehidupannya. Tuan wilson menyaksikan dengan matanya sendiri perkembangan putranya yang semakin hari semakin bodoh karena cinta.