Wanita Terkuat Di Dunia Novel

Wanita Terkuat Di Dunia Novel
Bellerie Tidak di Temukan


__ADS_3

Bellerie melihat 4 orang laki-laki dan 1 orang perempuan di depan. Mulut mereka dilakban karena selalu berisik. Berbeda dengannya, ia tidak di lakban. Tentu karena para penjaga tahu selain bellerie adalah satu-satunya yang selalu diam sejak di culik, ia juga menawarkan diri sendiri untuk ikut bersama 5 orang lainnya.


Mereka berfikir, orang sepertinya pasti sudah bosan hidup dan memilih menyerah. Jadi, tidak mungkin baginya melarikan diri.


Bellerie melamun, ia mengira-ngira kalau 5 orang siswa itu adalah orang-orang yang akan tewas.


Ia tidak mengkhawatirkan yang tersisa di penjara bawah tanah. Mereka akan segera bebas, mungkin lebih cepat dari yang di tulis di novel.


Kini ia tidak bisa melihat apa-apa, hanya suara mesin yang menyala. Ia tidak lagi memikirkan sesuatu, fokusnya pada perjalanan.


Bellerie mendengar suara bus berhenti di sebelah kiri. Sedang telinga kanannya menangkap suara bising kendaraan.


Selanjutnya ia mendengar suara pesawat terbang sangat rendah.


Setelah lama, ia merasakan suara gesekkan antara aspal dan ban. Gesekkannya mulus dan lurus.


Bellerie merasakan sekarang sudah bukan pagi lagi. Suara jangkrik ini, meyakinkannya bahwa sekarang sudah tengah malam.


"Cepat turunkan mereka disini."


"Baik."


Bellerie merasa dia mengjinjak rumput-rumput yang tebal dan rerantingan kecil. Lolongan serigala terdengar seperti jeritan minta tolong.


Tidak salah lagi saat ini mereka di tuntun menuju tengah hutan.


"Ikat kaki mereka."


"Baik."


"Cepat semprotkan gas."


Bellerie yang disandarkan di sebuah pohon, mencium bau gas yang menyeruak kuat. Ia mendengar derap kaki semakin jauh, tiba-tiba kepalanya seperti berputar. Perlahan matanya mulai menutup.


-


Jinyi setelah menerima panggilan dari elle, melaporkan kepada andreas dan petugas kepolisian. Setelah pelacakan, saat ini andreas, jinyi, tuan wilson dan tuan harrison berada di depan sebuah mansion mewah. Letaknya cukup jauh dari kota X, antara perbatasan kota Z dan kota X.


Orang-orang berpakaian hitam khas pengawal berdiri tegak memangku senjata, mengepung mansion. Mereka berjumlah 50 orang, gabungan dari pengawal Andreas, tuan Wilson, tuan Harrison dan Jinyi.


Pertempuran tidak bisa dielakkan, suara senjata bergema di luar dan dalam mansion. Darah berceceran sepanjang jalan, teriakan demi teriakan menjerit ribut. Rintihan kesakitan mengalun tertiup angin. Mereka tumbang, satu persatu pergi tak bernadi. Tersisa 2 orang lawan yang di sandera. Pemandangan lain seperti pembantaian, namun beberapa pingsan dan yang lain kabur.


Beruntung, karena pasukan musuh lebih sedikit. Sehingga mereka memenangkannya.


"Katakan dimana kalian mengurung anak-anak? " Teriak tuan Harrison.


Mereka hanya diam.


"Bicara sialan."


Bugh

__ADS_1


Tuan wilson memukul satu orang diantaranya.


"Katakan dimana anakku jack, brengsek."


Bugh


Tuan Harrison memukul orang satunya.


Jinyi yang melihat ini gelisah. Dimana elle?


Dimana elle nya?


Kenapa perasaannya tidak enak.


'Ayo jinyi berfikir-berfikir.' bathinnya.


"Tuan kami tidak menemukan siapapun di mansion ini."


"Ini tidak mungkin salah." Kata jinyi.


"Kau mendengar sesuatu saat bellerie menelponmu? " Tanya Andreas kepada jinyi.


Jinyi diam, ia hanya mendengar jelas bahwa elle meminta dilacak lewat jaringan telpon. Ia seperti mendengar elle berkata sesuatu di akhir panggilan. Tapi suara itu tidak jelas, mungkin karena sinyalnya. Karena itu jinyi bingung dengan kalimat terakhir elle. hah ?


'nah.. nah.., nah apa bodoh. Jinyi bodoh ayo berfikir. Nah.. tanah ? Apa tanah ? Ya, aku hanya mendengar kata nah setelah itu panggilan putus.' bathin jinyi.


" Aku rasa elle bilang tanah sebelum panggilan terputus." Balas jinyi sesikit ragu.


"Tuan, mungkin itu bawah tanah." Sangka Janson.


" Cepat cari ruangan atau pintu penghubung bawah tanah. "


"Tuan, saya menemukan banyak tas siswa." Lapor pengawal wilson.


"Dimana? "


"Lewat sini tuan." Pengawal itu menunjukkan jalan menuju sebuah kamar paling pojok dilantai satu.


"Ini tas elle." Jinyi segera memeluk tas sekolah elle. Ia memeriksa dalamnya, ada hp dan beberapa buku dengan nama Bellerie Betrix.


"Ini benar-benar tas elle." Jinyi sesenggukkan memeluk tas.


"Aku yakin ini adalah tas yang sering dipakai anakku." Kata tuan Harrison


"Pintu bawah tanah pasti ada di sekitar sini. Cepat cari." Perintah Andreas pada pengawal yang mengikuti.


Mereka mengobrak-abrik kamar mewah, memeriksa kamar mandi, meja rias, kaca, kasur, dinding dan walk in closet.


"Tuan ada lemari yang tidak bisa dibuka." Sahut pengawal wilson yang berlari dari arah walk in closet.


Tuan wilson tidak menjawab. Sebagai gantinya ia mengayunkan kaki ke dalam closet.

__ADS_1


"Hancurkan pintunya." Perintah tuan wilson.


2 pengawal mendobrak paksa pintu lemari, namun masih tidak bisa dibuka.


Seseorang baru datang dengan kapak besar, lalu merobek pintu kayu itu.


"Hanya ada pakaian." Jinyi berkata.


Andreas yang melihat itu, menyipitkan matanya. Lalu ia menyibak pakaian yang tergantung. Benar saja ada pintu di sana, sandi.


Jinyi yang melihatnya, ia menyuruh pengawal untuk mengumpulkan debu halus. Lalu meniupkannya pada angka-angka di sana. Kemudian jinyi menyentuh angka-angka tertentu.


Ting.


Jinyi pintar, pintunya terbuka.


Sementara yang lain masuk, jinyi menoleh ke belakang.


"Bukankah aku jenius ? " Tanyanya bangga pada orang suruhan ibunya.


Dibalas senyuman dan anggukan hormat oleh pihak kedua.


Jinyi tersenyum memperlihatkan deretan giginya. Lalu melangkah masuk.


"Sial kosong." Gerutu tuan Harrison.


"Tuan sepertinya mereka melarikan diri dari pintu itu." Tunjuk asisten harrison pada pintu keluar bawah tanah.


"Cepat susul mereka."


Tuan Harrison menempati mobil yang dikendarai asistennya.


"Lihat mobil hitam itu ! Cepat kejar."


Kejar-kejar an tak terelakkan, Lima mobil hitam terkepung banyak mobil yang datang. Orang-orang di dalamnya terpaksa keluar dan menyerang walau tahu akhirnya akan sia-sia.


"Jack, anakku dimana kau ? Jack ? "


Tuan Harrison mencari dari mobil satu ke yang lain.


"Jack." Tuan Harrison kaget melihat anaknya yang di ikat kedua tangan dan kakinya.


"Hmm hmm.. " Jack tidak bisa berbicara jelas karena mulutnya di sumpal.


Segera tuan Harrison melepas ikatan dan sumpal mulut anaknya, jack.


"Elle, elle. Elle tidak ada hiks." Jinyi terjatuh lemas.


"Nona." Orang suruhan ibunya membantu jinyi berdiri.


Menyaksikkan ini, Andreas geram. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya terkepal.

__ADS_1


Brian dan Frian ditemukan dengan luka di wajah. Sedangkan putri bungsunya hilang entah kemana.


__ADS_2