
Bellerie sadar, namun masih belum bisa melihat apapun. Ia menekuk kedua kakinya, lalu meletakkan kepala diantara kedua lutut. Tubuh bellerie fleksibel, sehingga memudahkan kedua lutut mengapit erat ujung tutup kepala.
Bellerie menarik kepala, yang pertama ia lihat adalah pohon-pohon tinggi serta langit yang terang benderang.
Ia menggeleng-geleng, mengusir helaian rambut yang sedikit menutupi wajah. Bellerie melihat ke samping kiri, ia menemukan kunci. Bellerie membalikkan badan dan menggapainya dengan jari-jari lentiknya sedangkan kedua tangannya masih terborgol dibelakang.
Melihat kelima lainnya masih pingsan di bawah pohon, ia tidak bisa berkata selain mengesot dengan pantat dan kaki yang di ikat.
"Bangun."
Bellerie menendang-nendang kaki seorang lelaki cukup keras.
"hmm."
" Menunduklah ! "
Karena orang itu masih diam, bellerie menendang keras, berhasil membuat pihak kedua tergeletak.
Bellerie berbalik dan menarik tutup kepalanya kuat.
"hm." ringisnya
Lelaki itu melotot tak percaya. Di tengah hutan bersama orang-orang pingsan.
Bellerie mengesot lebih dekat ke kepala dan menarik lakban.
"akh." Teriaknya kesakitan.
"Kita ada dimana? " Tanyanya pada bellerie.
"Buka."
Bellerie memperlihatkan kunci dengan tanggan yang terborgol. Membuat pria itu terbangun, saling membelakangi.
"Sudah. Sekarang buka punyaku." Pintanya.
Bellerie tidak membalas, ia membuka borgolnya. Dan melapaskan ikatan di kaki sendiri.
Bellerie membantu membebaskan yang lain.
"Namaku Lusheng. Siapa namamu? " Tanya Lusheng pada bellerie di sela-sela melepas ikatan siswa lain.
"Bellerie."
"Mereka masih pingsan, kita harus membangunkannya." Kata lusheng lagi setelah semua ikatan lepas.
"Hei bangun, bangun." Sambungnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh 2 orang siswa laki-laki.
Sedang bellerie tidak berkata, ia hanya menggoyang-goyangkan dua yang lain.
"Dimana ini ? " Tanya seorang perempuan.
"Kita ada dihutan." Kata siswa lain kaget.
"Apa kita dibuang ? Tapi kenapa tidak di bunuh? " Tanya yang lain.
"Kau benar." Imbuh siswa lain.
"Kita harus keluar dari sini." Balas Lusheng.
"Lewat mana ? " Tanya yang lain.
"Kesini." Bellerie berjalan mendahului.
"Ayo ikuti dia." Ajak Lusheng.
"Siapa dia? Kenapa kita harus mengikutinya? " Tanya siswa yang memakai rompi seragam.
"Dia juga korban, bagaimana dia bisa tahu kalau jalan itu jalan keluar ?" Sahut yang lain.
Bellerie menghentikan langkahnya.
"Iya benar, bagaimana kalau kita malah bertemu hewan buas ?"
__ADS_1
"Tapi kalau kita diam saja juga percuma. Bagaimana kalau hewan buasnya justru datang kesini ?" Balas seorang siswi.
Bellerie membalikkan badan.
"Semalam aku mendengar langkah kaki ke arah sini." Kata bellerie dengan raut datar.
Ke empatnya terkejut dengan wajah datar bellerie. Sedangkan Lusheng sudah tidak kaget, ia sudah melihatnya lebih dulu.
"Ayo ikuti bellerie. Kita harus mencoba." Ajak Lusheng yang di ikuti empat siswa lain.
Bellerie melepas jaket levis, ia kegerahan.
"Bellerie, kau dari SMA Guna Bangsa X." Kata Lusheng.
Bellerie mengangguk sekali.
"Aku juga dari kota X, tapi SMA kita beda." Lanjut Lusheng.
"Kalau kalian darimana ?" Tanya Lusheng pada keempat siswa lain.
"Kami dari kota Z." Balas seorang siswa.
"Hei bukankah kota kita tetanggaan ?" Kata lusheng sambil tersenyum.
"Ya kau benar."
"Namaku Lusheng. Siapa nama kalian? "
"Aku Rey, dia Rafi, Sisil, dan Julian." Rey memperkenalkan dirinya dan teman-teman.
"Kalian sepertinya dari sekolah yang sama." Lanjut Lusheng
"Kau benar." Balas rafi.
"Dia Bellerie." Kata Lusheng menunjuk bellerie.
Keempatnya mengangguk.
"Bellerie, kita sudah jauh dari tempat tadi. Bagaimana kau yakin kalau jalan keluar lewat sini ?" Tanya Julian.
"Lihat rumput itu."Suruh belllerie yang di ikuti kelimanya.
"Rumput itu telah terinjak, hanya manusia yang bisa menginjak rumput selebar itu." Terang bellerie.
Kelimanya melongo. Membenarkan.
"Kau sangat cermat." Puji Lusheng.
"Berarti kita hanya perlu mengikuti jejak ini kan ? " Tanya Sisil.
"Ya." Lusheng menjawab, karena bellerie hanya diam melanjutkan langkah.
"Ini sangat aneh, kenapa kita dibuang kesini? " Tanya Julian.
"Apalagi kalau bukan untuk dibunuh. Pasti mereka mengira kita akan mati di terkam hewan buas." Jawab Rafi kesal.
"Tapi kenapa hanya kita yang dibuang? " Rey angkat suara.
"Kau benar, sedangkan yang lain di penjara."
'arghh'
Julian mengacak rambut frustasi.
"Aku lapar." Celetuk Sisil.
"Lebih baik kita istirahat dulu di sini. Ini sudah sore." Kata Rafi melihat langit.
"Kita harus cari buah-buahan dan air."
"Begini saja, kita buat perkemahan disini. 2 orang berjaga, sisanya cari makanan dan air." Jelas Lusheng.
"Sebaiknya perempuan disini saja. Di temani satu laki-laki." Imbuh Rey.
__ADS_1
"Rey, kau saja yang temani mereka." Sahut Rafi.
"Baiklah. Sebaiknya kalian jangan berpencar." Balas rey yang diangguki ketiganya.
"Bellerie, kau mau kemana? " Tanya Rey.
"Mencari kayu." Balas bellerie acuh tak acuh.
"Jangan jauh-jauh." Peringat rey.
Bellerie hanya diam. Rey menghela nafas, mendudukkan bokongnya disamping Sisil.
"Rey aku ingin pulang, aku tidak ingin mati." Kata Sisil sendu.
"Kita pasti keluar dengan selamat." Balas Rey menenangkan.
Bellerie mengikatkan lengan jaket pada pinggangnya. Ia mulai mencari kayu atau batang pohon yang kuat dan runcing. Bellerie berencana mengumpulkan enam, sebagai senjata bila bertemu hewan buas. Bellerie memikirkan berbagai macam kemungkinan yang bisa terjadi di hutan, ia harus berjaga-jaga. Terutama bertemu hewan buas.
"Kalian lama sekali. Tidak ada yang terluka kan ? " Tanya Sisil pada ketiga laki-laki yang kembali membawa banyak buah-buahan dan tiga bambu sepanjang 40 cm. Yang ternyata berisi air.
"Kami baik-baik saja." Jawab Rafi.
"Ternyata kita tidak jauh dari sungai. Ada sungai dari arah belakang kalian." Kata Julian.
"Benarkah ? Lalu kenapa kalian datang dari samping ? " Tanya Rei.
"Mencari buah-buah an ini menghabiskan waktu lama."
"Dimana bellerie? " Tanya Lusheng.
"Dia mencari kayu, tuh." Tunjuk rey pada bellerie yang berjalan mendekat dengan kayu-kayu di tangan.
Brukk
Bellerie melempar enam kayu.
"Untu apa kayu-kayu ini? " Tanya Rafi.
"Senjata, untuk berjaga-jaga." Jawab Bellerie yang lagi lagi dengan wajah datar.
Yang lain ber oh ria. Dalam hati mereka memuji kecerdasan berfikir bellerie.
-
Andreas tidak pernah tidur akhir-akhir ini. Semula ia memikirkan Anak kembar dan putri bungsunya. Kantung mata tercetak jelas di bawah mata, rambutnya juga tidak terurus. Setelah mendengar laporan jinyi, ia sangat senang. Behararp anak-anaknya berkumpul lagi dan ia dapat tidur malam setidaknya 2 jam.
Namun, kenyataan bellerie menghilang dan belum di temukan sampai sekarang membuatnya urung untuk tidur walau hanya sejam. Ia terus mencari keberadaan putrinya. Ia bahkan kurang fokus pada perusahaan. Beruntung rain bisa berfokus pada urusan kantor.
Acara pertunangan Rain yang akan diadakan dua hari lagi terpaksa di tunda sampai bellerie di temukan. Pihak perempuan juga menyetujui.
Andreas benar-benar kacau saat ini. Ia berfikir apakah ini masa kehancurannya ? Andreas seolah kehilangan segala.
Perusahaan dan keluarga. Ia tidak mengerti tapi merasa sangat tidak adil dan tidak baik.
tok tok tok
Suara ketukkan pintu mengalihkan atensinya.
"Masuk."
"Tuan."
"Katakan! "
"Tuan dua orang sandera tidak mau angkat suara. Menurut informasi dari kepolisian, para penculik adalah anggota organisasi bawah tanah. Mereka sedang mencari anggota dengan melakukan penculikkan anak-anak SMA. Mereka yang di culik akan menerima tes berat cara bertahan hidup. Mereka yang masih hidup akan melanjutkan tes kedua, lalu otak mereka akan di cuci agar menuruti semua perintah organisasi."
Ada jeda, Janson mengambil nafas sebentar.
"Kejadian ini pernah terjadi di negeri seberang, tuan."
Andreas membatu. Fikirannya semakin kalut. Ia memikirkan bellerie,
apakah bellerie masih hidup ?
__ADS_1
Andreas mengingat saat-saat bellerie selalu mencari perhatian dan bermanja. Saat itu ia bahkan tak menghiraukan bellerie. Memikirkan ini andreas merasa sangat menyesal.
Ia tidak boleh menyerah begitu saja, fikirnya. Ia harus terus mencari, ia yakin bellerie masih hidup. Kalau tidak, ia akan menyalahkan diri sendiri seumur hidupnya.