
" Bangun ! Bangun ! "
"Nih, makanan kalian."
"Makan, kalau kalian tidak ingin mati lebih cepat."
"Hahaha.."
Orang-orang itu melempar roti dan cup air mineral untuk setiap siswa. Mereka diperlakukan bukan layaknya manusia, tapi seolah memberi makan hewan.
Bellerie menyipitkan pandangan pada roti dan cup air. 3 detik kemudian, ia mengayunkan kaki, mengambilnya.
"Bellerie, apa kau tidak takut diracuni? " Tanya jack.
Bellerie diam, tidak melirik. Ia kembali bersandar pada dinding. Dan mulai memakan roti.
Melihatnya, jack menghela nafas lelah. Ia kemudian mengambil satu juga.
"Jack, apa yang kau lakukan? " Tanya frian.
"Makan." Jawab jack santai, membuka plastik roti.
"Kau tadi yang was-was."
"Makanlah, kalau kau tidak ingin mati lebih cepat." Balasnya meniru ucapan salah seorang penculik.
"Lagi pula bellerie pun tidak mati. Lihatlah !"
Jack menunjuk bellerie dengan dagunya. Ia telah menghabiskan setengah rotinya dan masih baik-baik saja.
Menyaksikkan ini ke empatnya mulai memakan roti.
Bellerie satu-satunya yang ingat bahwa sekarang adalah hari ketiga mereka di culik. Saat akan di bius 3 hari yang lalu, bellerie menahan nafas dan pura-pura pingsan. Dengan begitu efek obat biusnya tidak berpengaruh besar.
Awalnya ia akan menunggu sampai ditemukan. Namun, sekarang bellerie merasa bosan. Banyak waktu yang telah terbuang.
Ia menggulung kecil plastik roti. Berjalan menuju jeruji dan menjentikkan jari. Seketika plastik itu mengenai jidat seorang penjaga yang duduk di kursi. Jaraknya cukup jauh dari bellerie melempar.
"Siapa itu? " Suaranya tinggi, hingga siapapun dapat mendengarnya dengan jelas.
"Aku." Jawab bellerie santai.
Suaranya yang tidak tinggi dan juga tidak pelan, mengayun jelas di telinga penjaga. Karena semua orang diam.
"Mau apa kau bocah? "
"Toilet."
"Ck, merepotkan sekali, dasar perempuan."
Lalu ia menoleh ke belakangnya dan menemukan seorang rekan yang lewat.
"Hei kau sini. Ya kau. Antar bocah ini ke toilet."
Tunjuknya pada elle.
"Baiklah."
Pintu terbuka dan elle keluar dari penjara mengikuti di belakang seorang penjaga.
Melihat bellerie, semuanya tercengang.
Seberani itukah bellerie ?
"Adik kalian telah berubah. Dia bahkan tidak menangis dan ketakutan." Kata Jack pada Frian dan Brian.
Yang ditanya hanya diam, melamun.
"Dia bahkan tidak mencari perhatian reksi dan membuly lily. Bellerie seolah tidak melihat kalian ada di sini." Sambungnya pada reksi dan lily yang sedang bersandar padanya.
__ADS_1
"Bellerie juga seolah tidak perduli pada kalian." Katanya lagi pada betrix bersaudara.
Bellerie tidak mengetahui bahwa dirinya sedang dibicarakan oleh jack. Ia berjalan santai sambil melirik beberapa orang kekar yang berlalu lalang.
Di depannya ia melihat penjaga yang saling bertegur sapa. Pandangannya beralih pada saku samping celana penjaga yang berlawanan arah. Sebuah benda komunikasi mencuat keluar, benda itu hampir jatuh.
Ia menundukkan kepala, melihat lantai demi lantai yang akan di pijaknya.
Brukk
Keduanya terduduk dilantai. Bellerie mengatur tubuh agar jatuh di belakang penjaga. Kaki kanannya menjadi tumpuan.
"Hei kalau jalan pakai mata. Jangan asik menunduk. Memangnya kau akan menemukan uang, hah? " Sentaknya.
Penjaga itu melihat perempuan yang masih terduduk dilantai membelakanginya. Rambut panjangnya menutupi wajah.
Melihat bahunya yang bergetar, penjaga berfikir dia ketakutan sehingga tidak berani menatapnya. Lalu penjaga melihat temannya berjalan agak jauh di depan bellerie.
Penjaga memandang remeh gadis berjaket levis. Kemudian berlalu meninggalkan gadis itu.
Bellerie bangun, segera menyusul seseorang yang mengantarnya ke toilet. Ia tertinggal cukup jauh.
"Lama sekali kau. Dasar perempuan, lambat." Cibirnya
Bellerie tidak menanggapi, ia masuk ke toilet dan mengunci pintu. Menyalakan keran dan melangkah menuju pojok ruangan.
Tangannya mengeluarkan sesuatu dari balik jaket. Ia mengetik angka demi angka di hp kecil yang ketinggalan jaman.
Panggilan pertama, tidak mendapat respon. Ia mencoba yang kedua kalinya.
"Jinyi, dengarkan baik-baik."
"Elle ? " Suara di seberang sana terdengar bergetar.
"Ya. Lacak keberadaanku lewat jaringan ini. Jangan menghubungi nomor ini lagi atau aku dalam bahaya."
Ada jeda 2 detik.
"Jinyi, penjara bawah tanah."
"Hah? "
Dor dor dor
"Apa kau mati ? Kenapa lama sekali." Penjaga berkata dengan tidak sabar.
Bellerie tidak membalas, ia memutuskan panggilan. Lalu menghapus riwayatnya. Ia tidak punya pilihan selain mempercayai jinyi. Ia akan menghubungi andreas, sayang tidak tahu nomornya. Satu-satunya nomor yang bellerie ingat adalah nomor jinyi. Itupun ia melihatnya sekali saat jinyi pertama kali mengirim pesan.
Jalan kembali masih sama seperti jalan yang telah di laluinya. 5 langkah dari tempat kejadian ia bertubrukkan, bellerie berjongkok dan melempar pelan hp kebelakang sampai menyentuh tembok.
"Apa yang kau lakukan ?"
Bellerie menatapnya kemudian menarik simpul tali sepatu.
"Memperbaiki sepatu." Balasnya datar.
Penjaga berdecak kesal.
Bellerie melihat ada 4 ruang jeruji besi yang berpenghuni. Mereka memandang berbagai arah dengan tatapan kosong. Seorang perempuan masih menangis di pojokkan.
Bellerie menatap iba. Dalam hati bellerie bergumam 'Semua orang harus selamat.'
Mudah baginya untuk kabur seorang diri. Tapi bagaimana dengan anak-anak tak berdosa ini ? Bellerie tidak bisa egois. Ia juga harus memikirkan nasib yang lain.
Dikehidupannya dulu, kakak keduanya selalu mengajarkan untuk menolong sesama manusia selama itu bisa ia lakukan. Bellerie tidak tahu dirinya mampu atau tidak. Namun, ia akan mencoba untuk melakukannya. Ia akan mengamati situasi terlebih dahulu.
Bellerie duduk bersandar dengan satu kaki diselonjorkan dan kaki lain di tekuk. Kelopak matanya bergerak kebawah.
Ia mendengar suara langkah kaki.
__ADS_1
"Wakil ketua." Sapa penjaga dengan hormat.
"Bawa mereka." Orang yang dipanggil wakil ketua menunjuk ruang jeruji besi paling kanan.
Bellerie yang mendengarnya membuka mata. Ia melihat seorang lelaki bertubuh kekar, wajahnya masih muda. Wajah tampan itu menyorot tajam pada satu titik. Auranya menyebar ke seisi ruangan, berwibawa dan kejam.
Orang itu melewati begitu saja jeruji besinya.
"Apa yang akan kalian lakukan ?" Teriak seorang di seberang kanan.
"Lepaskan kami orang jahat."
"Lepas, lepas."
Bugh
"Akh, kalian orang-orang jahat tidak pantas hidup."
Teriakan demi teriakan terus dilontarkan.
Penjaga yang selalu berjaga melirik pada wakil sebentar, segera ia menghampiri penjara yang masih ribut.
"DIAM KALIAN. " Maki nya pada siswa-siswi itu.
Bellerie telah berdiri di depan jeruji, ia menjentikkan jari. Lagi bellerie melempar plastik lipat, tepat di jidat seseorang yang dipanggil wakil.
Wakil menoleh kebelakang, ia menemukan sosok santai sedang menatapnya. Ia tidak bisa berkata tapi kagum. Disaat anak-anak sesusianya ketakutan, dia seorang tetap tenang dan santai.
Penjaga yang melihat wakil menatap tajam gadis itu, ia segera menghampiri dan marah.
"Kurang ajar gadis ini. Dia harus diberi pelajaran."
"Bawa dia juga. Rupanya ada yang ingin menjadi pahlawan." Wakil berkata sinis, tatapannya meremehkan.
Brian yang melihat itu segera menarik tangan bellerie.
"Apa yang kau lakukan bodoh ?"
Brian menatap iris hitam itu dalam, tidak ada ketakutan sama sekali.
"Dia tidak sengaja, jangan membawanya." Kata brian kepada wakil.
Seolah tuli, satu penjaga membuka pintu hendak menyeret bellerie. Dua lainnya berjaga di depan pintu.
Brian menghalau, "Pergi kau bajingan, jangan menyentuhnya."
Perkelahian tidak bisa di elakkan, penjaga lain yang melihat ikut menyerang.
Brian limbung, frian membantu berkelahi.
"hahaha... " Wakil tertawa.
"Cepat seret semuanya keluar." Setelahnya wakil pergi mendahului.
Bellerie diam saat tangannya di borgol. Ia melirik Brian dan frian yang tersungkur lemah dengan lebam di wajah. Ujung bibir Brian sobek.
"Sialan, lepaskan dia. Bellerie.."
Brian berteriak menggoyang-goyangkan jeruji.
"Argh.." Brian murka.
Dan frian frustasi.
Yang lain menatap iba kepada mereka. Jack menghampiri keduanya dan menenangkan.
Baru kali ini jack melihat brian murka. Brian selalu tenang dan diam. Tapi berkat ini jack tahu bahwa Brian dan Frian menyayangi bellerie.
Jack melihat reksi yang termenung. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Bellerie benar-benar bodoh. Sangat disayangkan, saat semua orang memilih diam agar selamat. Ia justru menawarkan diri untuk di lenyapkan.
Jack tidak bisa berkata hanya merasa kasihan padanya.