
"Elle, ayo kita kekantin."
Waktu istirahat telah berbunyi 5 menit yang lalu, jinyi yang jengah melihat elle tidak bergerak sama sekali. Kemudian ia berinisiatif mengajaknya ke kantin.
Sebenarnya jinyi ingin meminta elle untuk memperkenalkan lingkungan sekolah. Namun, melihat karakter elle, jinyi sudah tahu kemungkinan yang akan terjadi. Elle akan berkata 'tidak ' atau 'Aku tidak tahu'.
Benar, elle adalah orang yang seperti ini, tidak perduli dengan siapapun dan dalam kondisi apapun.
"Aku akan mentraktirmu."
Setelah menatap jinyi beberapa detik, elle menyetujui ajakannya.
Elle enggan ke kantin untuk menghindari drama picisan. Drama khas anak-anak SMA, sama sekali tidak di peruntukkan untuk elle. Dia sudah dewasa, di kehidupan lalu dia berusia 20 tahun lebih beberapa bulan.
Ia menjadi lebih muda setelah memasuki dunia novel. Sebab itu, perasaan aneh menggelayar di hatinya saat harus meladeni tingkah kanak-kanak siswa SMA.
Sebagai teman, elle berusaha membuka hati untuk jinyi. Ia juga tidak ingin mengecewakan temannya. Teman yang telah membantu melancarkan rencana membebaskan para korban penculikkan. Anggap saja ini hadiah atas kerja sama itu. Kerja sama yang jinyi sama sekali tidak sadari.
Jinyi mendengar kata traktir keluar dari mulut elle. Pupil matanya bersinar, tidak menduga elle akan membalas demikian jinyi melompat sekali kegirangan.
Reaksinya berlebihan tapi jinyi tidak malu sama sekali. Meski segelintir siswa kelas melihatnya.
"Kau sungguh-sungguh akan mentraktirku? "
Elle mengangguk
"Hebat. Pertama kali aku di traktir elle."
Gumam jinyi yang masih bisa di dengar elle.
"Ayo."
Jinyi segera menarik tangan elle, ia mensejajarkan langkah. Karena jinyi belum tahu letak kantin, jadi ia tidak bisa menyeret elle terburu-buru.
Ia mendengar beberapa siswa bergosip sepanjang jalan. Tatapan mereka seolah mengisyaratkan 'Kasihan' kepadanya.
Jinyi tidak terkejut dengan beberapa bisikkan ini, elle memang terkenal dengan rumor seperti itu sebelum jinyi bertemu langsung dengannya.
Untuk perbedaan fakta dengan rumor, jinyi juga bingung. Tapi ia tidak mempermasalahkan.
Menurutnya sikap elle sangat menarik.
"Elle, aku akan memesan. Kamu mau apa? "
Tanya jinyi saat mereka telah duduk di salah satu meja.
"Terserah kamu."
"Baiklah, aku pergi dulu."
Jinyi mengantri di stand penjual Meatball. Samar-samar ia mendengar seseorang mengucapkan kata 'Pertandingan nasional.'
"Apakah benar begitu? "
"Iya, tapi aku tidak yakin kalau Carles akan menang lagi."
"Benar-benar tidak terduga Carles yang tempramental itu dikalahkan orang lain."
"Benar, padahal sejak debutnya 3 tahun yang lalu belum pernah ada yang mengalahkannya."
"Kalian jangan berisik. Bisa saja kemarin hanya keberuntungan pembalap baru itu. Carles pasti menang di pertandingan nasional."
"Balapan apa tahun sekarang ? Mobil atau motor ? "
"Katanya motor."
__ADS_1
"Apalagi motor keluaran tebaru. Gila, pastinya akan sangat menggiurkan."
Jinyi tiba-tiba teringat bellerie. Ia harus segera memberitahunya, mungkin saja elle tertarik pada pertandingan itu.
"Elle.."
Jinyi datang dengan seorang pelayan yang membawa dua mangkok meatball sedangkan ia membawa dua gelas jus alpukat.
"Terima kasih."
Kata jinyi sopan yang dibalas senyuman dari pelayan.
"Elle, aku akan menceritakan sesuatu."
"Makan dulu."
Perintah elle, tidak ingin di bantah.
Elle dan jinyi dari keluarga terpandang. Mereka hidup di istana dengan banyak peraturan. Layaknya bangsawan terhormat.
Hal dasar yang harus dipatuhi setiap anggota keluarga adalah makan tanpa bicara. Elle mengenal aturan ini sejak ia masih kecil. Melanggarnya seperti sesuatu yang tidak bisa dilakukan.
Sebab itu, elle selalu makan tanpa bicara.
"Elle, pertandingan nasional akan diadakan 1 bulan lagi."
Jinyi berkata setelah meminum jus.
Elle melap sisa makanan, ia tidak berminat menanggapi ucapan jinyi. Tapi menyenderkan bahu pada kursi dan menatap jinyi, seolah siap mendengarkan apa yang akan dibicarakan selanjutnya.
"Elle aku sarankan kamu mengikuti pertandingan ini."
"..."
Jinyi tahu elle tak menaruh ketertarikkan sampai sini. Ia tak menyerah, terus membujuk.
Jinyi berusaha mengingat-ingat kejadian tahun lalu.
"Carles selalu menang. Tapi bulan depan aku yakin carles akan kalah."
Sahut jinyi antusias.
"Elle, carles akan kalah kalau kamu ikut. Aku percaya pada kemampuanmu, teman."
Jinyi menatap dalam manik elle. Berharap ia akan membuat kejutan bulan depan.
Jinyi menghela nafas. Sulit untuk menebak isi fikiran elle, karena hanya wajah datar yang selalu ditunjukannya.
Elle adalah temannya yang langka. Kepribadian dan kelebihan itu jarang dimiliki anak SMA. Selama 17 tahun, jinyi belum pernah melihat orang seperti elle. Mungkin karena inilah jinyi tertarik. Ia merasa elle adalah orang spesial.
Karena spesial maka perlakuannya juga berbeda.
"Hai."
Jinyi mengernyit bingung. Ada 4 orang berdiri di sampingnya.
"Boleh duduk disini? "
Jinyi tidak menjawab. Ia melirik elle yang hanya diam, bahkan tidak menoleh. Jinyi bingung harus bagaimana, sebab ia sendiri tidak tahu siapa 3 laki-laki dan 1 perempuan itu.
Tunggu !
Jinyi merasa tidak asing dengan mereka. Tapi dimana ia pernah bertemu ?
Jinyi melotot, ia ingat siswa kembar itu bukankah anak tuan andreas ? Yang berarti kaka elle. Ia menepuk jidat.
__ADS_1
"Silahkan." Balas jinyi setelah sekian menit.
"Mempersilahkan duduk saja lama sekali."
"Kau dari tadi bicara terus. Siapa namamu? "
Tanya jinyi penasaran.
Orang di depannya ini mirip seseorang. Apa dia juga korban penculikkan ? Jinyi bertanya-tanya dalam hati.
"Jack Anderson."
"Kau pernah di culik juga ya? "Tanya jinyi to the point.
"Iya, kau orang yang menangis di tengah jalan itu kan.?"
Jinyi diam, ia tidak bisa membantah karena keadaannya memang begitu. Ia begitu kaget karena elle menghilang.
"Kenapa kau pindah sekolah? " Tanya Jack.
"Tentu saja untuk bersama elle. Ada masalah? "
Kali ini Jack yang membisu. Memang benar tidak ada yang salah. Hanya saja merasa aneh, ada juga orang yang mau berteman dengan bellerie. Pasti karena sikapnya yang telah berubah.
Jack melihat bellerie yang sedari tadi diam. Ia penasaran bagaimana bellerie bisa di temukan. Dan juga apakah siswa yang lain juga selamat seperti bellerie.
"Bellerie, aku senang kau pulang dengan selamat."
Jinyi menoleh, ia tidak kenal sama sekali. Namun melihat elle yang tidak bereaksi, ia membalas.
"Tentu saja, elleku hebat."
jinyi menyahut dengan bangga.
"Jinyi calvier, aku akan memperkenalkan mereka."
Tunjuk jack pada ketiga temannya.
"Bagaimana kau tahu namaku? "
"Semua orang di kota X tahu kau anak tunggal keluarga calvier."
Jinyi mengangguk faham. Ia baru ingat popularitas perusahaan keluarganya. Fakta bahwa dirinya adalah pewaris perusahaan calvier pasti telah di ketahui sejak lama.
"Dua orang kembar itu kaka bellerie. Dia Frian betrix dan ini Brian betrix."
"Aku pernah melihatnya." Balas jinyi.
"Yang itu reksi wilson dan sebelahnya adalah kekasihnya, lily." Terang jack.
Jinyi mengernyit, reksi wilson adalah pewaris perusahaan wilson. Salah satu perusahaan raksasa. Beruntung juga perempuan bernama lily itu.
Jinyi melihat bellerie, masih tidak ada pergerakkan. Sekali lagi fakta yang ia lihat berbeda dengan rumor. Elle terkenal dengan tingkahnya yang suka membuat onar dan mengejar reksi wilson. Melihat elle hanya diam sambil memainkan hp bahkan saat jack menyebut lily sebagai kekasih reksi, jinyi merasa gosip itu tidak benar.
Padahal elle cocok dengan reksi. Mereka sama-sama berasal dari keluarga terpandang. Berbeda dengan lily yang bahkan jack saja tidak menyebutkan marganya. Dengan ini jinyi faham bahwa lily adalah perempuan yang berasal dari kelas bawah.
Jinyi menggeleng, ia kasihan dengan keduanya. Reksi pasti tidak akan mendapat restu dan lily yang akan terus dibully karena perbedaan strata sosial.
"Senang berkenalan dengan kalian."
Kata jinyi ramah
Kemudian ia melihat kakak kembar bellerie. Keduanya tidak membuka suara sejak tadi padahal adiknya ada disini.
Jinyi bisa menyimpulkan ini, kakak elle tidak perduli padanya.
__ADS_1
Jinyi awalnya mengira keluarga elle mengabaikan dan membenci elle. Tapi sejak ia bertemu dan berbincang dengan andreas, sepertinya tidak begitu. Andreas terlihat khawatir saat elle menghilang.
Namun jinyi tidak pernah tahu reaksi kakak-kakak elle. Setelah melihat reaksi frian dan brian yang tidak berniat menyapa elle atau dirinya, ia mengerti. Kakak elle tidak menyukainya.