Wanita Terkuat Di Dunia Novel

Wanita Terkuat Di Dunia Novel
Paman Ken


__ADS_3

Setelah semua pria yang memakai pakaian hitam pergi, beberapa orang mulai membayar dan meninggalkan toko segera. Mereka masih dilanda ketakutan setelah kejadian barusan. Para pelayan di toko mulai membereskan kekacauan dan ada juga yang menghubungi manajer toko.


Terkecuali elle, masih tidak bergeming ditempat. Punggungnya bersandar malas pada dinding disebelah ruang toilet. Matanya tertuju pada harmonika yang sedang dibolak-balik oleh tangan kanan elle. Satu tangan yang lain ia simpan disaku, sepertinya sedang menimbang haruskah masuk kedalam ruangan atau pergi saja.


Beberapa detik kemudian, langkah kaki elle akan menjauh. Tetapi ada suara samar dari dalam ruangan, sepertinya dia mendengar seseorang memanggil nona.


"Nona."


Elle melihat seorang laki-laki berusia 30 tahunan memakai jas dokter keluar dari ruangan itu. Tingginya sepertinya hampir sama dengan andreas, wajahnya memiliki ciri lokal khas penduduk negara redbird. Rambutnya tidak tersisir rapi, tapi elle menilai sepertinya sebelum keluar rambutnya dirapihkan oleh tangan. Kulitnya putih, lebih putih daripada kebanyakan pria seperti kulit seseorang yang jarang keluar rumah selama bertahun-tahun. Ada hal yang menganggu pandangan elle, dibawah matanya ada kantung yang membengkak berwarna coklat, yang sangat mencolok dengan warna kulitnya.


Elle, sudah tahu pria didepannya ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk bergadang.


"Hm... Nona.."


Ia ragu-ragu apa ia harus menyapa dan mengucapkan terima kasih pada nona di depannya. Atau membiarkannya saja sebagai orang asing yang tidak pernah menjalin suatu kontak. Memang ia tidak kenal wanita muda didepannya, tapi dengan kejadian tadi...


"Nona, hm... saya ". Pria itu menggaruk kepalanya ragu-ragu.


"Membuang kerikil ditengah jalan dan bersembunyi." Elle yang memahami keraguan lawan bicaranya, mengangguk terus terang untuk mengakhiri percakapan. Dengan begitu elle akan segera kembali ke mansion.


Pria muda itu tercengang. Dia fikir nona muda ini tidak memperhatikannya saat menjatuhkan batu di dekat pintu ruang toilet. Karena saat ia melangkah dari arah berlawanan, nona ini tidak melirik sedikitpun. Yang diyakininya berarti dia tidak ketahuan oleh siapapun saat memasuki ruangan. Adapun kenapa batu itu jadi berada didekat nona itu karena ia tidak sengaja menendangnya saat akan membuka pintu. Ia begitu terburu-terburu, sehingga batu yang seharusnya ia langkahi malah ia tendang mendekat wanita muda.


"Tunggu, nona."


Elle berhenti, membalikkan badan kearah pria tadi.


"Nona, Anda sudah tahu itu saya ?. " Tanya pria itu dengan malu. Nada nya tidak jelas, apakah itu nada bertanya atau menyatakan pernyataan.


Elle hanya mengangguk.


"Hehe... nona apakah kamu tahu siapa saya? "

__ADS_1


"Pria yang memakai janggut tebal dan pakaian hijau tua."


"..."


Pria itu tersenyum kaku.


"Nona, terima kasih untuk tidak membocorkan persembunyian saya. Apakah anda bebas malam ini ? Saya akan mengundang anda makan."


Ia yakin dengan penampilannya yang berbeda tidak akan mudah ditemukan oleh orang-orang itu. Sehingga ia dapat berkeliaran dengan tenang. Setidaknya sampai 2 atau 3 hari kedepan.


"Tidak." Tolak elle tegas.


"Nona jangan sungkan. Saya sebenarnya bukan orang miskin, hanya saja saya ada sedikit masalah dengan orang-orang tadi. Tapi jangan khawatir, dengan penampilan saya sekarang tidak akan mudah ditemukan oleh mereka. Saya juga tidak akan melibatkan anda dengan masalah. Saya hanya ingin membalas budi."


Ia berkata dengan percaya diri. Pria tadi merasa wanita muda ini mungkin menganggapnya bermasalah dan miskin, sehingga ia menolak untuk ditraktir makan malam. Atau wanita muda ini takut terkena masalah.


"Saya sudah makan malam." Elle menjelaskan dengan malas.


"Nona, saya tidak mau berhutang budi pada siapapun. Bisakah saya meminta informasi kontak anda? "


Elle merenung beberapa detik,


"Tambahkan teman, jangan kirim uang."


Pria muda itu tercengang sekali lagi, bagaimana nona ini bisa tahu jalan fikirannya ? Ini luar biasa, kelihatannya nona ini masih remaja mungkin di sekolah menengah. Sangat jarang menemukan remaja yang begitu kritis. Apalagi tidak menginginkan uang.


"Baik nona kalau begitu mari tambahkan teman." Pria memberikan kode QR nya pada elle.


"Nona, saya harap saya juga bisa membayar untuk harga harmonika itu." Pria muda melihat elle mengggenggam harmonika, segera ia menawarkan diri untuk membayarnya.


"Ya." Elle tidak menolak kali ini.

__ADS_1


Pria muda menghela nafas lega. Untunglah nona muda ini tidak menolaknya lagi, atau tidak ia benar-benar akan merasa tidak nyaman. Untuk orang seperti dirinya yang tidak suka berhutang budi pada orang lain apalagi ini tentang nyawanya sendiri, ia akan memperlakukannya dengan hormat. Meskipun wanita didepannya sangat muda, tidak menghalangi dirinya untuk membalas budi.


"Mari nona, kita ke kasir."


Elle tidak menjawab, hanya mengikuti dari belakang.


Setelah pria membayar untuk satu alat musik kecil. Mereka kini berada didepan toko, melihat pemandangan di kiri dan kanan, tidak ada yang tidak berantakkan. Semua pelayan dan penjaga toko tampak kusut, ada beberapa kepolisian yang mengobrol dengan beberapa pemilik toko. Ada juga yang mengobrol dengan pelayan toko. Masyarakat diamankan untuk kembali ke rumah masing-masing. Satu-satunya hal yang paling menguntungkan adalah tidak ada korban sama sekali. Selain barang-barang toko yang berantakkan, sisanya tidak ada yang terluka seorang pun.


Pria melihat sekeliling, ia meringis prihatin. Namun ini juga bukan salahnya, ia hanya korban yang mencari perlindungan. Dalam hal ini bukankah ia juga di rugikan ?


"Hm... Nona, siapa nama anda? "


"Bellerie."


"Nona bellerie, bolehkah saya memanggil anda elle ?"


Elle tidak menjawab, tapi mengangguk.


"Bagus, elle namaku Ken. Kamu bisa memanggilku kakak ken, aku lebih tua darimu." Katanya bangga.


Elle mengangguk, "Ken."


"..."


"Sampai jumpa."


"Tidak elle, pertama kamu harus memanggilku kakak ken, aku berusia 32 tahun, tahun ini. Berapa umurmu ? Kamu pasti sangat muda sekali, jangan memanggilku ken. Itu tidak sopan. Kedua, tidakkah kamu penasaran siapa aku dan siapa mereka ? "


Elle tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya berkata " Paman Ken."


Paman ken, "......"

__ADS_1


__ADS_2