Wanita Terkuat Di Dunia Novel

Wanita Terkuat Di Dunia Novel
Malam Yang Indah


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, elle belum kembali. Yeye sudah menunggu dengan cemas. Ia mondar mandir di belakang pintu.


Setelah kejadian di arena balap, nona muda belum memperlihatkan batang hidungnya lagi. Banyak pertanyaan yang ingin yeye tanyakan, kapan nona belajar balapan ? Bagaimana nona mengenal tuan muda feng ? Bagaimana nona dapat meyakinkan tuan lane untuk kerja sama? Dan masih banyak lagi.


Namun, yang paling penting sekarang adalah 'Dimana nona muda? Ini sudah larut dan nona belum kembali. Bagaimana jika tuan marah? ' Yeye melirik andreas, masih tanpa ekspresi.


Wajah keriput yeye mengerut, ia semakin khawatir.


Bukan hanya pelayan tua yeye, andreas juga menunggu dengan cemas. Elle tidak memberi kabar apapun, selain itu hp elle tidak bisa di hubungi, entah apa yang sedang dilakukan putrinya. Andreas berbeda dengan yeye, ia duduk di sofa dengan kaki menyilang. Namun, ia sama risaunya seperti yeye.


Citt..


Suara mobil, yeye segera keluar. Ia melihat elle diantar seseorang, bukan jinyi. Melainkan seorang pemuda seusia elle. Yeye tidak bisa melihatnya dengan jelas karena pemuda itu tidak keluar dari kursi pengemudi.


"Nona." Yeye bernafas lega sekarang.


Elle melewatinya begitu saja. Setelah masuk beberapa langkah ia terhenti karena sebuah suara.


"Elle.."


Suara berat milik andreas.


Elle lelah malam ini. Ia membantu teman-temannya yang mabuk. Untungnya lusheng tidak ikut mabuk. Lusheng membantu elle menangani yang lain. Mereka yang dari kota X tinggal di apartemen lusheng, elle tidak bisa menawarkan tempat tinggal. Karena ia belum membeli apartemen.


Elle merasa tidak nyaman jika membawa pulang teman-teman ke mansion dalam keadaan mabuk. Ini pertama kali bagi elle, dikehidupan sebelumnya ia tidak pernah berpesta dengan teman manapun.


"Darimana ? "


Suara andreas menghentikan langkah elle. Ia menoleh, mendapati andreas yang sedang duduk di sofa single.


Ia melempar jaket ke atas meja kemudian merebahkan diri di sofa panjang, menutup mata dengan lengan kanan.


"Kamu minum alkohol."


Andreas berkata sambil menutup hidung.


"Elle.."


Elle tidak menjawab.


"Tuan sepertinya nona lelah. Biarkan nona istirahat."


Yeye membela elle, ia khawatir andreas akan marah.


Ia merasa kasihan dengan nona muda, setelah balapan entah nona muda pergi kemana. Sepertinya hari ini melelahkan, sehingga nona memilih tidur di sofa. Elle tidak pernah tertidur di sofa.


"Aku akan mengurusnya. Panggilkan pelayan perempuan."

__ADS_1


Andreas berkata pada yeye.


"Baik, tuan."


Andreas berdiri, ia berniat menggendong elle ke kamar. Sebelum tangannya menyentuh, ia di tepis tangan lain.


"Pergi."


Elle berkata tanpa mengubah posisi.


Andreas menghela nafas.


"Kamu adalah putriku. Papah akan mengurus elle."


Suara andreas melembut. Tidak ada kedinginan seperti biasanya.


"Tidak perlu."


Elle tetap pada posisi semula.


Andreas tidak menghiraukan, ia tetap menggendong elle dengan kedua tangan. Seperti seorang ayah yang menggendong bayinya.


"Kau.."


"Elle, diamlah."


Andreas berkata dengan datar, namun tidak ada kekesalan sedikitpun.


Elle tidak lagi menolak, ia menyandarkan kepalanya pada dada andreas. Melanjutkan tidur.


Elle tidak menyadari perubahan raut muka andreas, ia menatap wajah elle lekat. Hatinya merasa tercubit.


Andreas telah mengabaikan anak-anaknya, terutama elle anak bungsu yang paling kehilangan. Melihat ini, ia mengeluarkan setetes air mata. Ellenya yang paling menderita adalah anak yang paling membanggakan. Elle telah menyelamatkan keluarga betrix dari kehancuran.


Setelah kejadian hari ini, tidak ada yang bisa andreas ungkapkan selain rasa bangga yang teramat tinggi.


Ia meletakkan elle dengan hati-hati diatas kasur. Seorang pelayan masuk atas perintah andreas.


"Gantikan baju elle."


"Baik tuan."


Andreas hendak keluar, saat itu elle menarik selimut sampai menutupi tubuh.


"Pergi !"


Usir elle pada pelayan yang akan menarik selimut.

__ADS_1


"Tapi nona.."


Pelayan menatap takut pada andreas.


Andreas mengerti, ia akhirnya berkata.


"Keluar."


Ia mendekati elle dan menarik selimut hingga terlepas.


"Elle, kau harus mengganti baju."


Elle tidak bergeming, ia tidur telungkup dengan rambut yang menghalangi seluruh bagian wajahnya.


"Elle.."


Andreas merapikan rambut elle.


"Baiklah, apa kau mau papah yang menggantikan bajumu? "


Andreas bertanya namun ada sedikit gurauan. Ia yakin elle pasti akan menolak.


"Pergi! "


Seperti yang diharapkan, elle berucap dengan tegas.


"Elle, papah akan tidur denganmu tapi bajumu bau alkohol." Tidak banyak ekspresi yang di miliki andreas, hanya nada bicaranya yang berbeda dari biasanya.


Elle diam dengan mata tertutup.


"Kalau begitu tidak apa-apa, jangan ganti baju. Papah akan tetap tidur dengan elle."


Andreas berbaring di samping elle, ia menggeleng melihat elle yang betah telungkup. Ia membenarkan posisi tidur elle. Elle menolak lagi.


"Elle, jangan telungkup. Kamu tidak bisa bernafas dengan benar."


Elle membuka mata.


"Berisik." elle membalas dengan suara rendah.


Raut wajahnya datar tapi andreas tahu kalau putrinya sedang kesal. Kemudian ia bergegas mengganti baju dengan piyama berlengan dan celana panjang. Elle tidak menyukai warna terang, karena itu meski baju tidur harus tetap berwarna gelap.


Andreas terkekeh melihat putrinya. Lantas ia mengusap kepala elle yang telah berbaring kembali layaknya seorang ibu yang menidurkan anak kecil. Andreas memeluk elle, putri kecilnya. Andreas senang, elle tidak lagi menolak. Ia mencium dahi elle, menyalurkan kasih sayang. Dalam hati andreas berharap waktu bisa diulang, agar ia bisa mengurus elle sejak bayi, tidak akan pernah mengabaikannya.


"Elle, maafkan papah."


Andreas bergumam sangat lirih.

__ADS_1


"Terima kasih untuk hari ini, elle putriku yang hebat."


Andreas masih menatap wajah elle. Setelahnya ia ikut memejamkan mata. Malam yang indah.


__ADS_2