
"Bellerie..."
Elle melihat, seseorang disampingnya datang terengah-engah. Elle mengernyit.
"Bellerie, dia jinyi, bertengkar di kelas." Teman sekelas menjelaskan dengan panik.
Elle yang melihatnya tidak terpengaruh sama sekali. Ia dengan tenang berdiri menuju ruang tunggu. Anak itu jinyi saat ini pasti sedang berselisih dengan teman sekelas regular yang lain melawan kelas unggulan.
Saat tiba dikelas, ia melihat 2 orang berpasang-pasangan saling memukul dan menjambak rambut. Tak terkecuali dengan jinyi, ia melihat jinyi bahkan sudah seperti pengemis jalanan. Bajunya acak-acakkan dengan rambut yang berantakkan. Elle kemudian mengalihkan pandangan ke sisi lain, revina tidak ikut dalam pertempuran sama sekali.
Elle mendekati jinyi, ia memegang kerah belakang baju jinyi dan menyeretnya keluar dari perkelahian.
Jinyi sendiri merasa ada kekuatan besar yang menariknya ia menoleh dan mendapati wajah elle tanpa ekspresi. Seketika jinyi tidak tahu bagaimana harus bereaksi. ia bertanya-tanya, apakah elle marah karena dirinya berkelahi dengan orang lain ? Apakah elle berfikir bahwa dirinya liar ? Jinyi bingung harus mulai berbicara darimana.
Saat jinyi linglung, guru datang dengan beberapa siswi dibelakangnya.
"Bagus. Berkelahi disekolah saat acara penting seperti ini."
"Cepat hentikan. Kalian semua ingin dihukum."
__ADS_1
Murid-murid yang mendengar teriakan guru, segera berhenti. Keadaan mereka tidak ada yang baik satu pun. Begitupun ruang kelas, semuanya berantakkan, barang-batang bercecer dilantai, sebagian pecah atau retak. Guru menghela nafas, jika saja tidak ada siswi yang memberitahunya murid-murid nakal ini sudah sekarat di kelas. Guru khawatir orang tua akan menuntut pihak sekolah tentang ini. Lalu masalahnya akan menjadi semakin panjang.
Guru ingat disana ada revina berarti salah satunya adalah kelas unggulan. Guru tiba-tiba panik, secara tidak sadar ia memperhatikan satu persatu murid-murid nakal itu. Tidak ada anak bermarga wilson maupun betrix. Baru saja ia menghela nafas, pandangannya bertemu dengan wajah cantik nona muda betrix. Seketika guru merasa kepalanya sangat pusing.
"Kalian semua ikut ke ruang saya."
Elle sangat malas meladeni mereka semua. Ia bahkan tidak repot-repot untuk ikut campur kalau saja jinyi tidak ada didalamnya.
Jinyi yang merasakan tatapan elle, mulai membela diri.
"Elle, ini bukan salah aku ataupun teman seklas regular. Bocah bau disamping revina itu yang mulai memprovokasiku." Jinyi menjelaskan dengan marah.
"Baiklah, elle apa kamu marah? " Jinyi memberanikan diri bertanya.
"Tidak."
"Kamu pasti berfikir aku adalah seorang gadis liar." Jinyi mendengus sedih.
Sebelum elle menjawab, ia melihat jinyi terlebih dulu. Memperhatikan dari ujung kepala sampai kebawah kaki.
__ADS_1
"Tidak."
Jinyi tertegun, ia mengikuti pandangan elle dari atas sampai bawah dirinya. Apa yang salah ? Kenapa elle memperhatikan tubuhnya?
"Tidak elle, ada apa? "
Elle melirik bingung.
"Kenapa kamu melihatku dari atas sampai bawah ?"
"Oh, tubuhmu bagaimana bisa menjadi gadis liar." Elle menjawab dengan malas.
" ? "
Sesampainya diruang guru, murid-murid dengan patuh berdiri berkubu. Elle mengikuti disamping kelas regular. Tidak yang berani memulai omong kosong. Guru didepannya adalah guru yang terbiasa menghadapai anak-anak nakal seperti mereka. Guru ini seharusnya ditakuti semua murid. Ia selalu mempunyai cara untuk menghukum setiap murid yang menyimpang. Tidak semua guru seberani dirinya. Beberapa guru mengistimewakan murid-murid dari golongan atas, mereka takut dengan pengaruh keluarganya. Namun guru ini, menganggap semua murid adalah sama tidak perduli bagaiman latar belakang keluarganya.
"Ada yang bisa menjelaskan? "
Sebelum salah satu dari mereka menjawab, dua guru lainnya datang dari arah pintu. Yang satu perempuan sedangkan yang lain adalah laki. Guru perempuan yang baru datang menghampiri kelas unggulan. Ia memeriksa setiap kondisi anak didiknya.
__ADS_1
"Oh ya ampun, ibu Meri apa yang terjadi dengan murid-murid saya ? "