
"Tuan muda kita sudah sampai."
Dia mengangkat kepalanya, mendongak ke sebelah kiri hanya untuk menemukkan gerbang sekolah dengan tulisan Guna Bangsa X diatasnya.
Gerbang itu cantik dihiaskan beberapa rangkaian bunga, pita berwarna biru tua, merah maroon dan grey. Disana juga ada papan steroform indah yang bertuliskan 'Welcome to mr. Heirgh."
Penyambutan yang cukup meriah.
"Silahkan tuan muda."
Seketika dia keluar dari mobil, 5 orang bodyguard berbaris di belakangnya. Di sebelah kiri adalah asisten pria dan di sebelah kanan adalah wakil wali kota x dan dibelakangnya 3 orang bodyguard.
Keramaian tak bisa dielakkan. Beberapa murid perempuan tersipu melihatnya, murid laki-laki terkagum-kagum. Guru-guru begitu bersemangat, yang tua dan yang muda sama saja seolah melihat jimat keberuntungan sedang berjalan perlahan menuju kehidupan mereka. Yang akan mengubah semua nasib buruk menjadi nasib baik.
Tuan muda ketiga heirgh adalah eksistensi yang digandrungi semua kalangan. Wajah datarnya terpahat sempurna, tidak meninggalkan satu celah pun. Mata yang tajam dengan bola mata hitam bersinar, kulit putihnya begitu bersih. Sosok idaman semua wanita.
Postur tegak seperti seorang prajurit yang telah memenangkan banyak pertempuran dengan bahu yang lebar, pinggang sempit, kaki panjang. Tinggi tubuh sekitar 1,8 m, aura maskulin dan berwibawa menguar diudara. Bertebaran seperti pelangi yang menarik hasrat semua manusia.
"Permisi." Asisten disebelah kiri menyadarkan kepala sekolah dari linglung.
"Ah, maafkan saya tuan Gavin, tuan Heirgh dan Bapak wakil walikota. Silahkan lewat sini." Kepala sekolah segera bereaksi.
Ia menunjukkan jalan pada ketiganya untuk duduk di kursi paling depan dengan sopan dan segan.
Kepala sekolah mengkode mc untuk segera melakukan pembukaan setelah memastikan ketiga tamu terhormat itu duduk dengan nyaman. Ia mengerti setiap detik sangat penting bagi orang-orang hebat seperti mereka. Tidak ingin terlalu mengecewakan para tamu dan murid-murid yang sebagian bersiap untuk tampil, sebagian lain menanti dengan tidak sabar. Maka acara penyambutan dimulai.
"Elle, maafkan aku. Karena perutku kita jadi tidak menyambut tuan muda ketiga heirgh."
Jinyi berkata setelah keluar dari toilet dan merapikan bajunya.
"Elle, tapi meskipun begitu mungkin kita bisa melihat dari jauh sekarang."
"Elle ayo."
Jinyi berlari-lari kecil meninggalkan elle yang berjalan santai di belakang.
"Jinyi." Seseorang berteriak.
__ADS_1
"Diandra, ada apa ?."
"Ini gawat." Diandra datang dengan ngos-ngos an.
"Apa yang gawat ?"
"Ketua kelas bertengkar dengan kelas unggulan." Diandra menenangkan dirinya.
"Lalu kenapa kamu mencariku ?"
"Ketua kelas tidak bisa menyinggungnya. Salah satu orang yang bisa membalas orang itu adalah kamu. Bellerie juga bisa tapi... " Diandra melihat kebelakang jinyi, elle tetap berjalan dengan tenang, tidak cepat juga tidak pelan. Benar-benar tidak memikirkan banyak masalah.
"Itu tidak mungkin." Bisik Diandra didekat telinga jinyi. Lalu ia menunjukkan ekspresi jelek di depannya.
"jinyi, ayo." Diandra menggenggam tangan jinyi, memohon bantuan.
"Baiklah aku mengerti. Tunjukkan jalannya."
Jinyi bersikap seperti pahlawan kecil yang akan menyelamatkan bumi. Ia tahu elle tidak akan tertarik dengan pertengkaran ketua kelas, maka demi menjaga reputasi elle di depan teman-teman sekelas jinyi rela menjadi tameng untuknya.
Jinyi ditarik diandra menuju ruang kelas. Melihat keadaan didalam, ia tidak bisa membantu tapi tercengang.
Tidak ada guru ? Namun jinyi ingat semua guru pasti berkumpul di ruang acara. Tidak ada orang dewasa yang akan menghentikkan ini.
Saat ini dua pihak yang terlibat masih bergaduh.
"Kamu hanya ketua kelas di kelas regular, beraninya kamu memukulku. Tuan muda ini tidak terima dilecehkan oleh orang rendahan seperti kamu."
"Kamu lah yang memulai. Teman sekelas kami tidak melakukan kesalahan apapun denganmu. Kenapa kamu mengganggunya ?"
"Kamu fikir dia pantas berdampingan dengan perempuan secantik Revina ? Dia hanya orang yang tidak memiliki kemampuan bermain piano. Dia sama seperti teman-temannya di kelas regular rendah." Katanya sangat sombong.
"Kau..." Ketua kelas sangat marah, ia akan memukul kembali tetapi ditahan oleh dua teman sekelas pria di sisi kiri dan kanan.
"Memang apa masalahnya ? Revina saja tidak keberatan." Balas pria disamping kanan ketua kelas.
"Masalahnya adalah dia akan merusak penampilan Revina kami."
__ADS_1
"Ya, benar. Bagaimana Revina kami bisa bekerja sama dengan orang sepertinya. Level Revina terlalu tinggi untuk dia kejar." Teman kelas unggulan lain menyetujui.
"Kau..."
Jinyi mengerti sekarang, ia melihat teman sekelas perempuan yang ketakutan berdiri dibelakang teman sekelas lain. Ia juga melihat revina yang hanya berdiri tegak di dekat piano, seperti tidak ada niat untuk melerai perkelahian.
Teman sekelas ini bernama Yuliar, ia adalah siswi eksul piano yang bersemangat mengikuti ekstrakulikuler setiap minggu. Sejauh yang jinyi tahu, yuliar adalah pianis terbaik dikelasnya. Tidak heran teman sekelas mempercayai kemampuan Yuliar. Hanya saja siapa yang menjadi teman duel ? Itu adalah Revina, bunga sekolah Guna Bangsa yang terkenal dengan penghargaan-penghargaan tingkat provinsi dan nasional dari perlombaan piano.
Yuliar benar-benar tidak ada bandingannya dengan Revina. Jinyi merasa bodoh memikirkan ini, itu adalah kenyataan apa yang dikatakan teman sekelas unggulan tapi...
Ia melihat ketua kelas dan beberapa teman sekelas berdiri disisi Yuliar.
Jinyi tidak bisa menerima penghinaan untuk kelas regular.
"Apa yang kamu katakan ? "
Mendadak atensi orang-orang beralih padanya.
"Kamu tidak bisa seenaknya merendahkan teman sekelasku." Sambung jinyi.
"Jinyi, kamu jangan ikut campur. Masalah ini tidak ada hubungan denganmu."
"Bagaimana ini tidak ada ada hubungannya denganku ? Aku juga bagian dari kelas regular yang barusan kamu hina."
Hening. Mereka kehilangan kata-kata.
"Robi, aku ingat ayahmu pernah datang ke perjamuan dan menawarkan makan malam pada ayahku. Apakah keluargamu sudah tidak menginginkannya lagi? "
Pria dari kelas unggulan yang babak belur bernama Robi. Ayahnya adalah seorang sutradara terkenal dan ibunya adalah seorang aktris senior. Sudah 3 tahun ibunya tidak pernah muncul di layar tv, menurut berita yang beredar ibu Robi mulai mengambil alih bisnis keluarga bersama sang kakak. Benar adanya, suatu ketika jinyi pernah melihat ibu Robi berpakaian formal menghadiri perjamuan bisnis. Perusahaan ibunya juga tidak bisa dianggap menengah kebawah.
Dengan latar belakang keluarga robi yang kuat, siapapun di kelas regular C saat ini tidak akan mampu menyinggung. Namun jika sudah terjadi, beberapa teman sekelas akan mendapat balasan dari robi. Itu akan sangat merugikan keluarga teman sekelas dan masa depan.
"Tidak, jinyi. Apa yang kamu katakan ? Tentu saja ayahku sangat mengharapkan kedatangan tuan calvier."
Robi gelagapan. Jika ayahnya tahu karena ulah robi makan malam bersama tuan calvier dibatalkan. Bukankah ayahnya akan membunuhnya ?
"Kalau begitu kamu berhenti sampai disini. Jangan membuat masalah lagi di masa depan." Peringat jinyi.
__ADS_1
Robi yang mengerti maksud jinyi mengangguk tak berdaya. Kemudian ia berteriak membubarkan kerumunan, meninggalkan ruang kelas. Ia tidak perduli lagi dengan penampilan revina dan kelas regular. Meskipun ia sangat menyukai revina, ia tidak bisa mengabaikan nasib keluarganya. Saat ini yang terpenting adalah tidak dibunuh oleh ayahnya.