Who Am I?

Who Am I?
Yesie Yuliani


__ADS_3


Yesie Yuliani Rev



Baik, kedamaian inilah yang aku dambakan. Semilir angin dan kicauan burung, suasana hening berbaur dengan alam, ini benar-benar tempat favoritku. Aduh... Sayang sekali perutku sakit di saat yang tidak tepat.


Jika di perkirakan seharusnya tempat ini tidak akan di datangi orang selain gadis itu. Aku meletakkan bukuku di sisi semak belukar tempat aku duduk. Kemudian melesat menuju toilet. Yah, untungnya ada toilet yang cukup bersih untuk ku pakai.


Saat aku kembali ke tempat favoritku, aku mendengar suara tangis seorang gadis. Aku berjalan perlahan menuju tempatku duduk. Benar dugaanku, yang menangis adalah gadis itu! Gadis yang mengira aku adalah hantu dan menatapku sinis!


Aku sebenarnya tidak ingin mengganggu, ini adalah privasi gadis itu. Aku berniat pergi, namun buku catatan ku masih ada di sisinya. Aku tidak bisa pergi tanpa buku besarku. Aku mencoba untuk berjalan santai seperti biasa.


Untungnya gadis itu mengabaikanku. Lalu aku duduk di sisinya. Ada rasa iba di hatiku saat aku melihat bahunya yang gemetaran, aku jelas melihat bagaimana sorot matanya kepadaku saat itu. Seharusnya gadis ini bukan tipe yang mudah menangis.


Aku menepuk bahunya, tubuhnya menegang sesaat. "Tenangkan dirimu gadis muda, aku tau seharusnya kau adalah orang yang kuat. Tidak mungkin menangis begitu saja."


Aku mencoba membuatnya tenang dan nyaman, namun suaraku yang datar dan dingin mungkin saja membuatnya salah paham. Yah, karna kelumpuhan wajah, berekspresi terlalu sulit untukku. Namun gadis itu masih saja sesenggukan. Aku duduk di sisinya, mencoba yang terbaik untuk menghiburnya.


Aku tidak pernah berinisiatif sebelumnya, ini kali pertama aku peduli pada orang asing. Aku melingkari bahunya dengan kedua tanganku, lalu menyandarkan kepalaku di atas kepalanya. Aku paling suka memeluk orang, apalagi jika orang itu adalah seorang gadis. Gadis muda itu hangat dan empuk, tubuhku yang dingin bisa merasakan suhu tubuh yang hangat karnanya.


"Kau bisa bercerita padaku, katakanlah apa yang membuatmu tidak nyaman. Aku bersedia mendengarkanmu."


Gadis itu menatapku, matanya yang sayu dan berair, hidungnya yang merah, bahkan bibirnya yang lembab di gigit karna menahan tangis. Ah, sial. Aku malah memikirkan hal lain. "Ekhem... Hm... Bercerita lah padaku, aku bersedia menjadi pendengarmu."


Aku agak merasa canggung karna gadis itu terus menatapku. Aku tidak berani menatap matanya, matanya sangat jernih seolah sedang menyelidiki sesuatu kedalam mataku. Aku mendengarnya menghela nafas. Ia menyandarkan kepalanya ke dadaku.

__ADS_1


"Aku bukan orang dari desa ini, tempat tinggalku sangat jauh. Dan temanku hanya seorang, karna hanya dia yang menemaniku saat aku SMP kemarin." Dia berbicara dengan nada sendu.


Aku mengusap bahunya. "Lalu apa yang membuatmu menangis?"


"Aku sedih, aku sudah menemani temanku dalam setiap duka maupun suka. Baru saja aku tidak sengaja membentaknya dan dia sengaja menangis keras. Dia mengatakan bahwa betapa aku tidak pengertian dan tidak peduli. Sekarang seluruh kelas mengucilkan aku. Tidak ada yang mau berbicara denganku. Dia seolah sengaja melakukan semua itu, bahkan teman baruku yang ku ajak berteman di awal masuk sekolahpun ikut menjauhiku. Ku pikir mungkin aku pindah sekolah saja."


!!!


Jarang-jarang aku menemukan seorang gadis berkarakter sepertinya. Jika dia pergi, aku mungkin akan kesepian.


Aku mengusap punggungnya, sesekali ku ambil kesempatan untuk mencium aroma khas miliknya. Aku memiliki hidung yang tajam, aku bisa membedakan Aroma setiap orang. Dan aroma gadis ini lebih unik, aromanya dingin dan menyegarkan. Seperti daun mint bercampur lemon?


"Haih.. sebaiknya jangan. Biaya pindah sekolah itu tidak murah. Kau harus mengurus banyak hal yang merepotkan. Aku yakin kau tidak ingin menyusahkan Ayahmu."


Saat ku lirik, gadis itu mengerutkan dahinya seolah dia sedang berpikir keras. Ia menggigit bibirnya lagi, ekspresinya terlalu imut di mataku. Gadis itu kembali memelukku, ia tidak menatapku, ia memilih menatap ke bawah. Aku mengusap kepalanya. Sekiranya aku mengerti apa yang dia pikirkan.


Aku mencoba untuk tertawa, tapi sudut bibirku mulai robek. Aku menghentikan tawaku. "Aku serius, tempat yang tenang ini terasa kurang jika kau tidak lagi datang. Aku mengenal karaktermu dari saat pertama kali kita bertemu. Kau adalah gadis yang kuat. Mungkin temanmu itu membencimu, tapi aku dan tempat ini akan selalu menyambutmu."


Kulihat ada senyum haru di wajahnya, namun ia menggeleng, entah apa yang dipikirkannya. "Aku senang ada seseorang yang bersedia mendengarkanku, aku juga senang kau ingin berteman denganku. Tapi kita berasal dari alam yang berbeda. Hal itu hanya akan membuat kita berdua sama-sama terluka."


💢💢 Aku kesal sekali sekarang.


"Nona muda, apa yang kau pikirkan! Tidakkah kau melihat kakiku yang menapak di tanah? Mana ada istilah beda dunia di antara kita, aku ini manusia, oke?!" Mungkin karna kesal nada bicaraku terdengar lebih dingin.


Gadis itu tertawa seolah dia memaklumi pikiranku. "Namaku Rini Ariani, aku seorang murid baru. Wajar jika kamu tidak pernah melihatku."


"Aaa, iya! Aku juga dengar dari Chaca beberapa hari lalu ada seorang murid baru yang aneh. Eh maaf, jadi kamu murid baru itu ya? Maafkan aku, aku mengira kamu itu..."

__ADS_1


"Hantu" sambungku.


Ekspresi gadis itu tampak di penuhi rasa bersalah. "Maaf, sungguh maafkan aku."


"Aku akan memaafkan mu jika kau menyebutkan namamu." Ujarku.


Tatapannya masih diliputi rasa bersalah. "Aku... Aku Yesie Yuliani."


Aku menjabat tangannya, ia yang tadinya memejamkan mata, membuka matanya. Tatapannya seperti orang yang sedang terkejut. "Salam kenal, semoga kita dapat berteman baik nona muda."


Aku mencoba meringankan nada bicaraku agar terdengar bersahabat. Tentu itu sedikit sulit. Yesie tampak tertawa riang saat melihat kecanggungan ku. "Aku senang melihat tawamu, sekarang bersikanlah wajahmu. Aku yakin kau tidak ingin terlihat lemah di depan mereka yang mengucilkanmu."


Aku memberikan tisu kering dan basah yang ada di saku rokku. Yesie mengambilnya dengan senang hati. Ia menyeka wajahnya, lalu menyemprotkan beberapa kali farfum yang di bawanya. Penampilannya sudah segar kembali. Ia tersenyum padaku, senyumnya yang tulus terkesan manis.


"Aku ada di X IPA 1 jika kau membutuhkanku. Ingat Yesie jika mereka menolakmu, aku selalu bersedia menerimamu. Kamu memiliki aku."


Aku mencoba yang terbaik untuk membuatnya terkesan. Agar dia mau berteman denganku. Aku menyukai karakternya, aku harap dia benar-benar bersedia berteman denganku. Aku merasa bahwa dia benar-benar ingin berbicara banyak hal. Namun bel masuk mengingatkan kami bahwa kami harus memasuki kelas.


"Kalau begitu aku ke kelas dulu ya, sampai jumpa lagi." Ia tersenyum, kemudian berlari menuju kelasnya.


Aku juga berjalan menuju kelasku. Sekarang aku mengetahui namanya, tapi aku akan sangat berharap dia dan aku dapat berteman. Dari sikapnya terhadap yang di sebut 'Hantu' aku yakin dia bisa melihat atau bahkan berinteraksi dengan mereka. Sebenarnya aku juga bisa, aku bisa berinteraksi dan berbicara dengan apa yang di sebut 'hantu', namun untungnya mahluk-mahluk itu mengabaikan aku. Mungkin karna rupaku hampir menyerupai mereka.


Rasanya senang saja, mendapat seorang teman baru yang sepemikiran. Sepertinya Yesie adalah orang yang cukup dewasa. Tipe teman seperti inilah yang aku suka! Aku benar benar menantikan kelanjutan pertemanan kami.


Sepertinya Rubah di mimpiku semalam menandakan hari baik ini. Semalam aku bermimpi melihat rubah manis berwarna putih. Ia tampak kasihan dan kedinginan. Aku memeluknya dan dia juga menyukaiku. Namun ada seekor kucing besar yang sepertinya berjenis Maine Coon tampak tidak suka dengan interaksi ku dan Rubah kecil.


Yah, lagi pula mimpi itukan hanya bunga tidur. Abaikan saja, tapi efek di kelilingi dua mahluk berbulu itu adalah aku yang dalam mood baik hari ini. Aku benar-benar merasa senang sekali.

__ADS_1


__ADS_2