Who Am I?

Who Am I?
Arian Lakeswara


__ADS_3


Arian Lakeswara Rev



"Ayo Kak! Kakak sudah janji padaku." Hallin merengek membangunkan aku yang sedang tidur siang.


Ah, benar. Aku baru ingat. Ini adalah hari janjiannya Hallin dengan teman-temannya yang menyebalkan. "Lalu? Apa rencanamu?"


Aku bertanya dengan mata yang setengah terbuka. Aku masih setengah sadar saat di bangunkan Hallin. Hallin sepertinya mengetahui kondisiku, ia mencipratkan beberapa kali air yang entah di dapat dari mana ke wajahku. Itu membuatku sadar seketika.


Hallin memberikan tisu basah yang terletak di meja. "Lap, wajah kusut Kakak."


Aku mengambil tisunya. Aku sedikit tidak rela saat wajahku di katai oleh Adikku sendiri. Hallin kemudian mendorongku ke meja rias miliknya. Saat melihat cermin, ternyata wajahku memang terlihat kusut. "Untuk apa kau membawa Kakak kemari?"


"Aku ingin membuat Kakak terlihat seperti Manusia." Anehnya kalimat Hallin membuatku merasakan firasat buruk.


"Apa sekarang masih bisa menolak" bisikku


"Aduh... Kakak ngomong apa sih? Kakakkan sudah janji" Hallin tersenyum dengan mata yang menyipit. Meski wajahnya tersenyum aku dapat merasakan peringatan yang kuat memancar dari senyumnya. Dengan begitu aku hanya pasrah menjadi bonekanya.


.....


"Kakak, Kakak yakin kita tidak akan jatuh atau kecelakaan?"


Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak, Kakak mu ini diam-diam mempelajarinya, jadi jangan khawatir. Kau pegangan saja yang erat."


Aku mulai memutar gas. Ya, seperti yang kalian tebak. Aku belajar berkendara sepeda motor diam-diam belakangan ini. Meski aku merasa bersalah kepada Ibu, aku cukup merahasiakannya dari keluargaku. Dengan begitu takkan ada seorangpun yang tau.


Hallin janji dengan teman-temannya untuk bertemu di situs rekreasi yang cukup di minati pasangan-pasangan muda, di desa ini. Saat di tengah perjalanan, Hallin yang awalnya bertindak sebagai supir, memberhentikan sepeda motor di salah satu mesjid. Untuk menghindari kecurigaan keluargaku, aku memakai pakaian perempuan dari rumah. Lalu di mesjid ini, aku melangkah ke toilet umum. Dengan menghabiskan beberapa menit, aku pun berganti pakaian.


Melihat aku keluar dengan pakaian laki-laki, Hallin segera menghampiriku. Ia menatapku dari atas ke bawah. Kemudian mengacungkan jempolnya. "Perfect! Sekarang Kakak terlihat seperti Manusia yang tampan!"


Hallin berbicara begitu keras sehingga beberapa orang yang berjalan menatap aneh kepadaku. "Kamu berbicara kepadaku seolah Kakakmu ini bukanlah manusia."


Hallin hanya tersenyum dengan bodohnya. Kemudian aku duduk di posisi supir. Dan begitulah keadaannya sekarang. Di sepanjang perjalanan, Hallin selalu bertanya pertanyaan yang sama. "Kakak yakin kita tidak akan jatuh atau kecelakaan?"

__ADS_1


Benarkan? Gadis muda itu bertanya lagi dengan wajah khawatir yang sama. Saat kami sampai di lokasi yang di tentukan dengan selamat. Hallin menghela nafas lega. Seolah baru saja lepas dari cekikan maut.


"Apa yang kau takutkan? Kakak mu sudah mahir berkendara. Tapi jangan bilang Ibu atau Ayah ya." ujarku dengan volume yang hanya di dengar oleh aku dan Hallin.


"Sudah, ayo kita temui teman-temanku." Hallin berkata sambil menggandeng lengan kiriku.


Saat kami berjalan bersama sambil mencari teman-teman Hallin, aku mendengar sebuah keluhan. "Heh... lama sekali Hallin datang..."


Hallin juga mendengar namanya terpanggil. Ia segera tau kalau itu adalah teman-temannya. "Hei Ayla, menurutku murid baru itu cuma omong besar saja. Aku tau dia cantik, tapi tidak yakin apakah dia benar-benar punya kekasih. Bagaimanapun wajahnya itu kelihatannya masih polos. Kayak anak rumahan yang di larang ini itu sama Ibu Bapaknya."


"Iya sih, wajahnya emang lugu."


"Tuhkan apa ku bilang. Lagi pula kenapa kau ajak dia sih, dia itu kan cuma orang buat kita contek aja, bukan teman kita."


"Hehe... Kau tau sendiri kan dia itu cantik, siapa tau pacarnya ganteng juga. Ntar di goda-goda aja terus tikung deh." Bisik salah satunya.


Ku lirik Hallin yang langkahnya terhenti. Bibirnya mengkerut, aku tidak dapat melihat wajahnya dengan baik karna jilbabnya. Ia tampak menunduk dan kecewa. Aku harus bertindak. "Ehem... Baby, kurasa ada yang membicarakanmu di belakang. Oh iya di mana temanmu? Bukankah kau ingin mengenalkanku kepada mereka?"


Meski panggilanku sedikit lebay, ku lihat Hallin menatapku dengan tatapan terkejut. Teman-teman Hallin juga mendengar suara serakku. Mereka berbalik untuk melihatku. Ada keterkejutan di mata mereka. Aku memegang tangan Hallin yang ukurannya lebih kecil dari tanganku. Lalu mencoba untuk membuat tatapan hangat yang romantis. Meski itu terbilang mustahil dengan wajah kaku milikku.


"My baby Hallin, kurasa tidak ada yang menginginkanmu di sini. Mari kita pergi berdua saja. Lagi pula teman-temanmu itu tidak kunjung muncul." Aku berpura-pura tidak mengetahui yang sebenarnya untuk menghibur Hallin. Dengan melihat sikap teman barunya, aku tau Hallin ada di posisi yang menyedihkan di sini.


Yang menghentikan kami adalah gadis yang membicarakan hal buruk tentang Hallin. Aku tidak menyukainya. Pada pandangan pertama kesanku kepadanya sangat buruk. "Kak, ini temanku yang ku katakan pada kakak." Hallin mencoba yang terbaik untuk mengenalkan temannya dengan wajah tersenyum. Meski aku tau dia masih sedih karna temannya yang membicarakan hal buruk tentangnya.


"Halo kak, aku Fera, teman dekatnya Hallin." Fera mengulurkan tangannya untuk berkenalan denganku.


Aku menatapnya tanpa berkedip. Namun karna alisku berkerut, itu membuat ekspresi yang tampak tidak suka kepada Fera. Aku juga menolak untuk berjabat tangan. Aku takut si Fera itu akan menyulitkan Hallin jika tau suhu tubuhku yang berada di bawa nol derajat.


"Baby, kau bilang temanmu sangat baik. Mengapa yang ku temui sekarang malah seorang penggosip?"


Ku lihat wajah canggung si Fera, heh itu membuatku senang. "Kak, jangan begitu..." Bisik Hallin.


Tapi aku tidak suka pada teman-temannya itu. "Baby, jangan memaksakan diri. Ada banyak teman baik yang bisa di ajak berteman. Sebaiknya kau tidak usah lagi berteman dengan penggosip ini. Aku tidak ingin Hallinku yang cantik dan murni di nodai oleh mulut racun mereka. Ayo pergi."


Aku menatap teman-teman Hallin dengan tatapan merendahkan. Hallin sepertinya menolak untuk pergi. Namun aku menarik tangannya menjauh dari sana. Aku sempat melihat matanya yang berkaca-kaca. Jika air matanya jatuh, bukankah teman-temannya akan mempersulitkannya.


Sembari pergi aku berkata. "Sampai mati pun aku, Arian Lakeswara. Tidak akan pernah membiarkan orang-orang beracun menodai Hallinku."

__ADS_1


Ku lihat ada tatapan malu di wajah teman-teman Hallin. Aku tidak membawa Hallin ke parkiran, namun membawa Hallin ke sisi ujung dari tempat itu. Dimana kami berada jauh dari teman-teman sampahnya itu. Aku membawa Hallin duduk. "Hallin, maafkan Kakak, Kakak terbawa suasana. Kakak tidak suka wanita beracun seperti mereka, berteman denganmu."


Hallin menatapku. Air matanya berlinang, dia sangat cantik jika kau mengabaikan ingusnya yang naik turun. "Ke-kenapa menangis?"


"Huwa.... Kakak.... Huwaaa...." Hallin memelukku erat.


"Ha-Hallin... " Aku ingin memperingatkan soal ingusnya itu.


"Huwaaaa.... Kakak.... Aku tidak tau ternyata mereka berpikir begitu tentangku... Aku... Hiks... Aku.... Hiks... Aku pikir mereka adalah teman yang baik..." Hallin menatapku sambil memelukku dengan ingus yang berubah menjadi gelembung.


Aduh, aku ingin mengatakan itu kepada Hallin, tapi tidak sanggup. Takut ia akan malu. Aku melirik ke arah tempat teman Hallin duduk. Mereka tampaknya merasa bersalah kepada Hallin. Sesekali mereka menatap ke arah kami. Aku menggunakan punggungku untuk memotong arah pandang mereka kepada Hallin. Sesekali ku arahkan tatapan tajam ke arah Fera.


Aku menepuk punggung Hallin untuk menenangkannya. "Tidak apa-apa, sebaiknya jangan berteman lagi dengan mereka. Kalau Hallin kesepian, nanti Kakak bisa mencarikan teman yang baru."


Aku berkata sambil memberikan kertas tisu di saku celanaku. Hallin mengambilnya untuk menyeka ingusnya. Lalu memberikannya kepadaku. "Ih.. lengket-lengket, jorok sekali sih kamu."


Hallin hanya menatapku dengan senyuman yang sedih. Aku mengusap wajahnya dengan tisu lainnya. Ku lihat ada kedai makan kecil tak jauh dari kami. Aku menuntun Hallin kesana. "Permisi Pak, saya mau tanya nih."


"Mau tanya apa Mas?" Tanya penjaga kedai sambil mengelap gelas basah.


"Bisa numpang ke toilet tidak?"


"Oh boleh-boleh, tunggu sebentar ya. Indah... Indah.." Bapak itu berteriak ke dalam rumahnya.


Tak lama kemudian keluarlah si Indah yang di panggilnya. Seperti namanya, orangnya juga indah. Mataku tak lepas dari bentuk tubuhnya yang indah. Si Bapak dan Hallin berdehem secara bersamaan. Aku segera mengalihkan pandanganku.


"Indah, antar Mas ini ke toilet belakang ya."


"Eh anu... Yang mau ke toilet pacar saya Pak. Pergilah cuci wajahmu, hapus bekas tangisanmu itu." Hallin pun pergi bersama si gadis bernama Indah.


Saat para gadis itu pergi si Bapak menyindirku. "Mas apain itu pacarnya sampe nangis begitu. Lagi pula kenapa sih bocah SMP di pacarin. Bo'yo cari yang sepantaran gitu to."


"Bapak ngomong apa sih, saya juga masih SMP kok."


Si Bapak tampak menatapku dengan mata menyipit. "Halah, Dari wajah Mas sama suara Mas, saya tau Mas pasti murid SMA, cuma pendek aja mangkanya cari pacar SMP biar tingginya pas."


Dadaku terasa seperti tertusuk panah. Kata-kata si Bapak itu benar-benar mengenai bagian paling sensitif di hatiku. Aku menggebrak meja. Bapak itu tampak terkejut, sampai hampir menjatuhkan gelas di tangannya. "Kopi hitam tanpa gula, satu Pak!"

__ADS_1


Si Bapak segera membuatkan pesananku. Si bapak sepertinya benar-benar memahamiku. Sambil menunggu Hallin kami membicarakan beberapa hal lagi. Sampai gelas kopiku tandas.


__ADS_2