Who Am I?

Who Am I?
Lea


__ADS_3


Lea Rev



Pagi berikutnya kembali tiba. Dan ini adalah akhir pekan. Saat hari menjelang siang, aku berjalan ke belakang rumahku. Aku duduk untuk menikmati angin pagi. Ku tatap hutan tempat aku pernah di culik ke alam lain.


Aku kembali mengingat sepasang mata hijau almond yang menatapku saat itu. Setiap mengingat itu, nama 'Rajendra' terngiang-giang di kepalaku. Aku tidak tau siapa Rajendra, tapi instingku mengingatkanku kalau itu mungkin adalah namaku.


"Wah, ternyata Kakak disini." Hallin muncul di pintu belakang dengan wajah berseri.


Aku menatap Hallin yang sedang menarik kursi. Sekalipun wajahnya terlihat berseri, aku melihat kekhawatiran di antara kedua alisnya. "Ada apa? Kamu pasti ingin mengatakan sesuatu."


Ia tersenyum dengan pipi memerah dan alis yang turun ke bawah. "Hehe... Kakak tau ya."


"Sekalipun ukuran tubuh kita hampir sama, aku masih lebih tua beberapa tahun darimu. Sekarang katakan apa yang membuat alismu Turun begitu?" Tanyaku.


Hallin tampak gugup dengan dahi yang berkerut. "Kak..." Ia menatapku dengan tatapan sedih.


Aku mengusap rambutnya yang halus. "Katakan saja."


"Teman-temanku mengejekku. Mereka bilang aku jomblo gak laku."


"Apa!" Seketika aku naik darah saat mendengarnya. Hallin begitu manis dan cantik, kata 'jomblo gak laku' adalah penghinaan untuknya.


"Siapa yang mengatakan itu!? Biar Kakak hajar dia." Aku berkata dengan tangan yang mengepal.


"Kak tenang dulu. Karna temanku bilang begitu, aku kelewat emosi dan bilang kalau aku juga punya seorang pacar yang ganteng dan keren. Mereka ketawa, terus nantangin aku buat bawa pacarku pada saat kami ketemuan besok. Masalahnya aku ngga punya pacar, gimana dong Kak?"


Aku merenung. Sebenarnya bisa saja meminta bantuan teman laki-lakiku. Tapi karna aku pindah, jarak rumah mereka dan rumahku jadi terpisah jauh. Sedangkan di tempat baru ini aku belum memiliki teman laki-laki yang cukup dekat. Aku menghela nafas panjang. "Lalu bagaimana? Kamu ingin Kakak mencarikanmu pacar?"


Hallin menatapku dengan mata berbinar yang penuh semangat. "Tidak." ujarnya.


"Lalu? Kamu ingin Kakak melakukan apa?" Tanyaku bingung. Aku yakin Hallin memikirkan sesuatu. Aku menyesap kopi hitam kesukaanku.


"Aku ingin Kakak yang menyamar menjadi pacarku."


"Uhuk uhuk..." Karna terkejut, aku tersedak air kopi.


Hallin menepuk punggungku lalu memberikan air putih. "Maksudmu gimana?"

__ADS_1


Terlihat di mataku gadis itu tersenyum. Namun dalam senyumannya ada ketakutan, seakan takut aku akan menolaknya. Jika di posisi ini aku juga tidak tau harus menjawab apa. Jika saja Hallin adalah orang lain mungkin aku tidak akan peduli sama sekali. Tapi orang ini adalah Adikku, aku tidak bisa mengabaikannya.


"Haih.... memangnya teman-temanmu tidak tau wajah Kakak?" Aku bertanya sambil menatap Hutan.


Hallin menggeleng. "Kitakan baru pindah belum lama ini, jadi teman-teman baruku belum pernah melihat wajah kakak."


"Ya, kalau begitu baiklah. Kakak akan bantu kamu. Tapi Kakak tidak pandai menyamar, sebaiknya kamu saja yang urus, Kakak nanti ikut apa katamu saja." ujarku sembari meneguk tegukan terakhir kopiku.


"Baik, serahkan saja padaku! Aku akan buat Kakak menjadi tampan!" Ada semangat dan tekad di sepasang matanya. Aku yakin menolakpun aku, Hallin tidak akan menggubris tolakanku.


"Terserah saja. Sudah sana, jangan ganggu Kakakmu yang sedang bersantai ini." ujarku.


Hallin hanya menatap tajam ke arahku. Lalu meninggalkanku dengan lengkungan senyum di wajahnya. Aku mengangkat bahu, lagi pula janjiannya kan besok. Ya sudah, hal di hari esok pikirkan esok saja.


Semilir angin pagi mengembus wajahku. Angin bertiup lembut pagi ini. Seolah mereka sedang mencoba membuatku tidur. Usapan angin membuatku mengantuk. Perlahan mataku tertutup.


.....


Aku yakin tempatku sekarang belum pernah ku datangi sebelumnya. Dan tempat ini sangat indah. Sebuah Padang rumput lembut sebagai lantainya, dan bentangan langit biru sebagai atapnya. Kilau matahari keemasan bahkan tak cukup untuk menyilaukan ku, meski aku bertatapan langsung dengan matahari.


Mungkin saja sekarang aku masih bermimpi. "Rajendra, tidakkah kau rindu kepadaku?"


Calya memelukku dengan lembut, ia menyandarkan kepalanya ke dadaku. Lengannya melingkari tubuhku. Dengan mata yang terpejam ia berkata kepadaku. "Rajendra, Aku benar-benar merindukanmu. Apa kau tidak? Hampir dua puluh tahun kita tidak lagi bersama."


Matanya menatap ke bawah dan tangannya mendekapku erat seakan tidak rela jika aku meninggalkannya. "Ukh.. ini semua karena manusia itu!" Calya mencibir kesal dengan dahi yang berkerut.


"Siapa yang kau maksud?" Aku merasa bingung dengan perkataan Calya. Dia berkata seolah dia sendiri bukanlah manusia.


Segera kulihat wajah terkejut Calya. Ia segera menggelengkan kepalanya. Lalu menarik tanganku. "Lupakan saja, ayo ikut aku."


"Kemana kita akan pergi um... Nona Calya?"


Semangat Calya seakan memudar saat aku memanggilnya Nona. Ia berbalik secara tiba-tiba. Alisnya berkerut pertanda ia marah. "Kita bukan lagi orang asing, Rajendra. Aku tidak suka panggilan itu!"


"Lalu bagaimana aku harus memanggilmu?" Aku merasa tidak nyaman di hatiku saat Calya merajuk.


"Pikirkan saja sendiri! Hmph!"


Aku mencoba berpikir. Meski aku tidak yakin, aku tau kalau perasaan familiar yang di berikan Calya bukanlah kebohongan. Aku sangat yakin kalau dia dan aku memiliki hubungan. Namun aku melupakannya karna suatu alasan yang aku sendiripun tidak tau.


Yang kuingat dengan jelas mengenai Calya hanyalah lemparan sandal waktu itu. Namanya adalah Calya Bawita. Kira-kira nama apa yang harus ku serukan untuk memanggilnya? Dan lagi aku yakin kalau hubunganku dan Calya sangat dekat, jadi aku tidak bisa memanggilnya dengan nama biasa.

__ADS_1


"Alya?" Calya menggelengkan kepalanya.


"Yaya? Aly? Cacal?" Semuanya mendapat gelengan kepala dari Calya.


Aku berpikir lagi. Jika itu aku, aku akan memanggil Calya dengan nama yang seindah orangnya. Aku juga akan memanggilnya dengan nama yang hanya aku dan dia yang tau. Itu artinya nama panggilan yang ku sematkan kepada Calya seharusnya bukan nama umum.


"Mungkinkah Lya?" Calya tampak tertarik tapi hasil akhirnya adalah tidak.


"Oh aku tau!" Terpikir olehku sebuah nama indah yang tidak terlalu umum.


Calya menatapku dengan tatapan tak sabar. "Katakan padaku Rajendra. Apa kau mengingatnya?"


"Tidak, tapi terpikir olehku sesuatu. Bagaimana dengan Lea?" Aku berkata dengan senyuman di wajahku.


Calya tampak antusias saat aku mengatakan itu. Ada senyum haru di wajahnya. "Akhirnya kau memanggilku lagi. Aku suka panggilan itu! Karna kau tidak mampu mengingatku, aku akan Membantumu untuk mengenangnya."


Calya kembali menarik tanganku. Pemandangan di depanku berubah menjadi sungai jernih di tengah hutan bambu. Lalu di tangan Calya muncul sebuah pancing bambu yang panjang, yang entah dari mana asalnya. Pancingnya juga sederhana tanpa ada sentuhan modern di atasnya.


"Cobalah memancing. Aku yakin kau akan suka." Ketika Calya memberikan pancingan bambu, aku merasa ingin memancing. Aku pun menduduki sebuah batu di tepian sungai. Tentunya setelah menggali beberapa cacing.


Begitu aku mencelupkan senar, tarikan kuat muncul menarik ujung pancinganku. Terjadi tarik ulur sebentar, hingga kekuatan tarikan menurun. Dengan sigap aku menarik ikan sebelum dia lepas. Waah... Aku mendapat ikan yang lumayan besar.


Hatiku mengatakan kalau Calya seharusnya menyukai ikan ini. Namun begitu aku berbalik, tidak ku temukan wanita itu di manapun. Dimana dia?


Saat aku hendak memanggilnya. Indra pendengaranku menangkap suara kecipak air yang pelan. Aku mengikuti arah suaranya. Suara itu berasal tak jauh dari posisiku memancing. Di balik rumpun bambu, ku lihat seorang wanita yang sedang mandi.


Air sungai yang jernih hanya memperlihatkan tubuhnya hingga separuh punggungnya. Bahunya yang putih dan lembut memantulkan sinar matahari pagi. Rambut kelabu miliknya sudah basah saat tersiram air sungai. Sungguh... Indah. Sayang sekali wanita itu membelakangiku.


Wanita itu menyelam ke dalam sungai itu. Menyisakan gelembung udara yang naik ke permukaan sungai. Saat kepalanya mencuat kembali, lengannya yang lentik di naikkan ke atas. Untuk menutupi matanya dari sinar matahari. Aku melihat separuh wajahnya. Pipinya tampak kemerahan dengan wajah yang basah.


Tunggu... Ini tidak baik bukan? Bukankah aku sekarang sedang mengintip seorang wanita mandi? Namun anehnya pemandangan yang aku lihat terasa familiar. Sepertinya aku pernah mengintip seperti ini sebelumnya. Namun aku tidak ingat pasti apakah benar atau tidak. Karna hatiku hanya memberikan perasaan familiar tanpa ingatan apapun.


"Kak, bangunlah." Suara Hallin terdengar menggema di kepalaku. Saat aku membuka mataku lagi, aku kembali berada di kursi belakang rumahku.


Hallin membangunkanku dengan Virong di pelukannya. Aku mengambil Virong, dan mengusapnya. Aku merasakan helaian bulu lembutnya di sela-sela jemariku.


"Rajendra! Kau berselingkuh di belakangku! Hmph!" Suara khas milik Calya menggema di telingaku. Begitu aku berbalik menuju asal suara, aku tidak menemukan apapun selain semak hijau yang bergoyang.


"Lin, apa kamu mendengar sesuatu?"


Hallin hanya menatapku dengan tatapan bingungnya. "Kakak mengigau ya? Sudah, bangun-bangun, Ibu bilang Kakak lanjut tidur di kamar saja."

__ADS_1


__ADS_2