Who Am I?

Who Am I?
Jalan-jalan


__ADS_3


Jalan-jalan



Aku masih berkeliaran di pasar. Baik pedagang satu atau pedagang lainnya, mereka mengatakan hal yang hampir sama. Bulu hitam dan Yang Mulia Raja. Parahnya tadi aku melihat Ratna dengan beberapa pengawalnya mulai berkeliaran. Sepertinya mencariku. Beberapa orang yang melihatnya akan membungkuk hormat saat melihatnya. Ratna akan tersenyum lalu menanyakan kepada mereka adakah yang melihat diriku.


Untunglah tidak ada yang mengatakan melihat aku. Aku keluar dari area pasar. Itu adalah area pemukiman penduduk. Aku melihat banyak binatang kecil bermain bersama. Kurasa merekalah anak bayi siluman yang sebenarnya. Saat aku berjalan-jalan, sama seperti di pasar tadi. Beberapa orang akan memperhatikan diriku dengan tatapan bingung.


Ada seorang wanita dewasa yang bentuknya semi binatang. Ada telinga kelinci di kepalanya. Ia mendekatiku lalu bertanya pelan. "Nak, di mana orang tuamu?"


Aku mempertahankan ekspresi bingung seperti anak yang tersesat. Lalu wanita itu sepertinya kasihan kepadaku. Ia memelukku dengan erat. Lalu berkata sembari mengusap kepalaku. "Nak, sampai orang tuamu datang aku akan menjagamu sebentar ya?"


Aku menganggukkan kepalaku. Istirahat sebentar seharusnya tidak apa-apa. Wanita itu menggendongku, lalu membawanya ke sisi anak-anak kelinci yang lucu. Meski lucu mereka sepertinya takut padaku. "Aduh... Aku tidak tau orang tua mana yang meninggalkan anaknya sendirian begini. Padahal kamu memiliki bulu hitam yang indah."


Aku menatap wanita itu dengan tatapan penuh tanya. Seolah mengerti apa yang aku pikirkan wanita itu berkata. "Bulu berwarna hitam di anggap sebagai pembawa keberuntungan di kerajaan ini. Aku tak yakin mengapa, mungkin karna bulu tubuh Raja juga berwarna hitam."


Aku mengangguk-angguk paham. Wanita itu hanya tertawa kecil saat melihatku. Hari hampir memasuki sore saat itu. Wanita itu menemani anak-anaknya untuk bermain di halaman. Sayang sekali hujan turun membuat kami terpaksa memasuki rumah. Tempias hujan mengenai kami, membuat aku dan anak-anak kelinci basah dan kedinginan.


Wanita itu mengambil handuk dan mengusap tubuh anak-anak kelinci. Terakhir ia ingin mengusap bulu tubuhku agar aku tak kedinginan. Namun sebelum ia mendekat aku sudah memutar-mutar kepalaku agar air-air itu berjatuhan dari tubuhku. Aku belajar ini dari kucing peliharaan di rumah.


"Aduhh... Kamu ini, lihatlah basah semua."


Aku menatapnya dengan tatapan bersalah. Lalu Wanita itu mengelap lantai dengan pasrah. Aku baru saja ingin duduk sebentar, pintu rumah wanita itu telah di ketuk begitu keras. Hingga menimbulkan suara berisik yang mengganggu.


"Hah! Di-dia datang! Ayo naik, kamu harus bersembunyi!" Aku di gendong lalu di letakkan di atas lemari.


"Nak, aku tau kamu anak yang pintar, diam saja di sana dan bersembunyilah ya!" Wanita itu memperingatkan dengan wajah sedih dan khawatir.


Aku mengangguk patuh. Wanita itu menghela nafas lega, lalu berlari menuju pintu depan untuk membukakan pintu. Karna aku berada di ruangan yang berbeda, aku hanya mampu mendengar keributan.


"Ah!"

__ADS_1


'Bruk'


"Cepat bawa anak-anak siluman ini. Usia yang masih pantas untuk di latih! Ayo bawa mereka."


"Siap Boss!"


Lalu aku mendengar suara barang-barang yang di lempar atau di jatuhkan. Di sertai suara tangis pilu wanita yang sebelumnya. "Katakan dimana bayi kucing hitam yang kau jaga tadi!"


"A-aku tidak tau apa yang kau maksud!" Wanita itu berbicara dengan suara ragu.


Lalu aku mendengar suara tamparan wajah. "Jangan bohong kamu! Aku melihat sendiri kamu membawanya memasuki rumah!"


"Di-dia sudah p-pergi!"


"Jangan bohong kau kelinci sialan!" Aku mendengar lagi suara tamparan di sertai pukulan. Aku yakin objeknya adalah wanita tadi.


Tak terdengar olehku pengakuan apapun dari wanita kelinci. Lalu aku mendengar suara dingin pria tadi. "Hamili dia! Kita butuh rahimnya untuk terus memproduksi anak-anak kelinci! "


Tiba-tiba sepasang tangan besar bergerak di atas kepalaku. Aku yakin tempat ini cukup tinggi, bagaimana bisa pria asing itu mencapainya? Saat itu aku menghindar sebisa mungkin, aku menghindari tangannya. Lalu melompat ke sisi lain lemari. Namun pria asing itu berhasil menangkap diriku.


"Muehehehe! Dapat juga kau anak nakal! Bulu hitam yang indah! Kau pasti akan terjual dengan harga mahal!" Ujarnya.


Namun aku tak ingin di jual belikan. Maka ku akhiri semua penyamaranku. Lalu tubuhku membesar seperti sebelumnya, hingga pria itu kesulitan untuk memegangi ku. "Aku berani jamin kau takkan bisa berjalan dengan kedua kaki lagi, setelah berpikir untuk menjualku!!!"


Lalu ku coba untuk berubah menjadi manusia, hebatnya itu berhasil. Pakaian di tubuhku adalah pakaianku saat aku di tarik si wanita aneh keluar dari raga Rini Ariani. Wajah ketakutan ku lihat dari pria itu. Aku menendang dada pria itu hingga ia jatuh ke lantai. Lalu menginjak Dadanya dengan keras. ''Jangan berpikir bisa selamat setelah berpikir untuk menjualku!"


Pria itu batuk darah, karna tak sanggup menahan tekanan yang di timbulkan oleh kakiku. Lalu aku melangkah ke luar ruangan. Pemandangan di depanku benar-benar mengejutkan. Ini pertama kalinya aku melihat orang berhubungan **** secara nyata. Wanita itu benar-benar di gang bang oleh tiga pria sekaligus. Adegan ini terlalu hot!


Satu pria sedang memompa wanita itu di tubuh bagian bawah, pria lainnya sedang melakukan paizuri di dada wanita itu, pria terakhir sedang melakukan oral **** di mulut wanita itu. Meski aku sendiri hampir terangsang saat melihatnya, aku kasihan dengan wanita itu. Dia adalah wanita yang baik. Ia menjagaku dan tidak memarahiku walau aku membasahi rumahnya. Serta memintaku bersembunyi agar aku tak di temukan oleh pria asing yang jahat.


Aku harus membantunya. Dengan sebuah tendangan aku berhasil menjatuhkan satu. Dengan suara gedebuk yang keras pria itu menabrak dinding. Sebelum ia bangkit untuk melawanku, aku dengan segera menendang dadanya dengan kakiku. Ia memuntahkan darah lalu meringis kesakitan kemudian berubah ke bentuk aslinya dan kehilangan kesadaran.


Dua yang lainnya tak tinggal diam saat 'kegiatan' mereka terganggu. Aku menghindar saat mereka hendak menangkapku. Lalu dengan sebuah tinjuan dan tendangan aku menjatuhkan mereka ke lantai. Lalu aku menahan kepala mereka dengan telapak tanganku. Lalu ku kirimkan energi sebanyak-banyaknya hingga tubuh mereka tak dapat menahannya dan meledak.

__ADS_1


Saat aku berbalik, wanita kelinci tampak terkejut. Ia segera bersujud memberi hormat. "Terimakasih atas bantuan Anda Yang Mulia."


Aku melirik rupa wanita itu yang rok dan pakaian atasnya sudah tak layak pakai. Kulihat ada kain lebih di pakaianku, kain itu mengikat pinggangku. Aku melepasnya untuk di berikan kepada wanita kelinci.


Siapa yang mengira kain yang terlihat tak berguna itu ternyata adalah ikat pinggang. Celana yang ku kenakan hampir lepas saat aku melepas kain itu. "Pakailah ini. Kamu terlihat buruk."


'Brak!'


Ada kejutan lain, itu adalah Calya dan Ratna beserta beberapa pengawalnya. Saat itu Ratna tersenyum jahat. Sedangkan Calya terlihat marah hingga wajahnya berubah merah. Tapi apa yang membuatnya marah?


"RAJJJEEENNDRRRAAAAAA!!!" ia meneriakkan nama yang ku yakini sebagai namaku, lalu melempar sandal yang ia kenakan ke kepalaku. Menghindarpun aku, tetap saja terkena sandal itu.


"Tunggu! Jangan marah padaku dulu!" Aku berujar saat Calya meremas erat kerah pakaianku.


"Apa yang perlu di jelaskan! Kau menyelingkuhi aku?!" Ujarnya dengan nada sinis.


Aku berubah ke bentuk macan hitam. Agar tak tercekik karna remasannya. "Tidak! Bukan begitu!"


Lalu wanita tadi segera berlutut di depan Calya. "Mohon jangan marahi Yang Mulia Raja, ia hanya menolongku, tolong dengarkan penjelasan saya Yang Mulia Ratu."


Aku sedikit terkejut saat ia mengatakan aku sebagai Raja. Aku tau kalau aku adalah seseorang dengan status yang tinggi, tapi aku tak pernah mengira kalau aku adalah Rajanya.


"Oke aku mendengarkan! Coba ceritakan dengan jujur! Jika tidak aku akan memasak kalian ke dalam panci panas!"


Wanita itu duduk untuk menjelaskan semuanya. Termasuk adegan pemerkosaan dan penjualan anak-anak. Calya menatap sekitar, dengan kepala yang mengangguk-angguk. Lalu ia berkata lagi. "Baguslah jika kau tidak berselingkuh dariku. "


Calya mengecup dahiku yang berdarah. Luka itu sembuh sekejap setelah timbulnya rasa hangat yang nyaman. "Kalau begitu buatkan aku makan malam yang enak!"


Aku berkata untuk menuntut pertanggung jawaban atas tuduhan palsu Calya. Ia hanya menganggukkan kepalanya sambil memeluk leherku. Lalu aku mengecilkan tubuhku seukuran kucing, kemudian melompat ke pelukannya.


"Ratna, urus mereka. Kami harus pergi." Calya memerintah.


"Ya, ya pergilah..."

__ADS_1


__ADS_2