
Kekasih Revisi
Hari ini sekolah kembali di mulai, sepertinya Minggu belajar efektif juga telah di mulai. Baguslah, aku tidak akan bosan lagi. Lembar Kerja Siswa atau yang kalian kenal sebagai LKS juga sudah di bagikan, seragam baruku juga tentunya.
Aku tidak terlalu menyukai seragam baruku. Kainnya sedikit tipis jika di bandingkan dengan seragam sekolah lamaku. Dan seragam baru ini begitu besar di tubuhku yang terbilang kecil. Aku tidak terlalu suka saat-saat aku memakainya.
Virong datang saat aku berpakaian. Ia mengeong dengan lembut seolah sedang berbicara padaku. Benar-benar menggemaskan. Aku mengusap kepalanya, Virong dengan senang hati menyambut tanganku.
Virong selalu bertingkah manja kepadaku dan waspada kepada orang lain selain aku. Tingkahnya itu membuatku sangat menyayangi kucing manis ini. Saat aku menyiapkan semua barang-barang dan hendak berangkat ke sekolah, Virong melompat ke tasku seakan ia tidak ingin aku pergi meninggalkannya.
"Turunlah Virong. Setelah pulang sekolah, aku berjanji kita akan bermain bersama."
Virong tidak mengeong, ia malah mengencangkan cengkraman cakarnya di tasku. Aku tidak tau apa yang membuat kekasih kecilku ini melarangku pergi. Tapi aku harus meninggalkannya di rumah, agar aku bisa cepat pergi ke sekolah. Aku takut terlambat tiba ke sekolah. Jika itu terjadi, akan ada hukuman membersihkan toilet.
Dan aku paling tidak suka toilet sekolah baru ini, dindingnya hitam karna lumut dan di penuhi coretan-coretan di dindingnya. Belum lagi ada beberapa orang tidak bertanggung jawab yang tidak menyiram kotoran mereka. Kotoran-kotoran itu bahkan sudah berubah warna menjadi hitam karna sudah lama tidak di siram. Yang terburuk adalah terkadang pasokan air ke toilet tidak terpenuhi, sehingga tidak ada yang bisa di gunakan untuk membersihkan pantatmu saat kau buang air di sana.
Memikirkan itu hanya akan membuatku semakin ingin pergi ke sekolah dengan cepat. Aku meminta Hallin yang sedang memakai sepatu untuk melepaskan Virong. Virong segera di angkat dengan kedua tangannya, kucing hitam itu segera di masukkan oleh Hallin ke dalam rumah.
__ADS_1
Kemudian aku meminta Ibu untuk mulai menyalakan sepeda motor. Berbedanya arah persimpangan sekolah Adikku dengan aku, membuat Ibu harus berkerja ekstra untuk mengantar jemput aku yang sudah MAN. Sebenarnya aku takut kalau aku merepotkan Ibu. Tapi Ibu bilang ia khawatir jika mengizinkan aku berkendara sendiri.
Takutnya nanti aku mengalami kecelakaan dan tubuhku terpisah-pisah. Saat pertama kalinya aku menunjukkan gejala tubuhku yang mirip dengan Zombie, Ibu cukup terkejut. Kemudian sifat over protektifnya muncul dan melarang aku melakukan hal-hal berat. Ibu takut tubuhku akan lepas begitu aku menggunakan energi fisik atau latihan terkait.
Begitulah seorang Ibu, aku dan keluarga memaklumi sifat Ibu. Ibu mengantarku dengan segera. Setelah berpamitan, aku segera berjalan dengan langkah cepat menuju kelas. Tepat saat aku memasuki pintu, bel masuk berbunyi. Bagus, kali ini aku tidak terlambat.
Kemarin malam, waktuku ku habiskan dengan menelpon kekasihku. Kalian bertanya apa aku punya kekasih? Jawabannya adalah 'Ya, aku punya.'
Seperti yang kalian pikirkan, kekasihku adalah seorang gadis yang manis. Aku tidak tau rupa aslinya, kami hanya berhubungan lewat sebuah aplikasi chatting. Yang artinya aku dan kekasihku hanyalah kekasih virtual. Kami belum pernah benar-benar bertemu secara nyata.
Dalam Virtual, aku sangat percaya diri. Tulisan dalam ketikanku juga hangat dan responsif. Karna aku seorang pembuat puisi, bahasa ketikanku terkadang sengaja ku buat dengan bahasa puitis. Aku menyukainya, dia juga menyukaiku. Namun satu hal yang aku rahasiakan dari kekasihku itu. Aku menyatakan identitas ku adalah laki-laki di sana.
Kekasihku memakai foto profil seorang wanita remaja yang manis dengan wajah putih dan bibir merah, mata berair yang indah serta aksen manja yang menjadi ciri khasnya. Aku berkenalan dengannya karna di perkenalkan teman virtual ku yang lainnya. Dia menamai dirinya dengan sebutan 'Sisie yang lucu'. Semua orang mempercayai bahwa Sisie adalah seorang gadis manis, dari beberapa foto profil yang terkadang berganti ganti gaya, namun dengan wajah manis yang sama.
Ku rasa Sisie sama sepertiku, ia menyembunyikan identitas yang sebenarnya. Baik tingkahnya dan aksen manjanya, keduanya hanyalah sebuah citra buatan. Meski tidak ada bukti, kami pernah melakukan sebuah panggilan video. Dari sana aku melihat bahwa sebenarnya, Sisie adalah seseorang yang pandai memainkan peran. Tapi itu hanya dugaan sementara, karna instingku berkata demikian.
Kebetulan bahwa Sisie sebenarnya seorang gadis yang tinggal di desa ini. Aku dan dia hanya di pisahkan dengan jarak beberapa kilometer jauhnya. Aku pernah mengajak Sisie bertemu secara Offline, tapi Sisie selalu menolak. Ia berkata padaku bahwa ia memiliki banyak kesibukan dan ia takut hubungan kami akan di ketahui oleh Ayahnya yang over protektif.
Aku selalu merasa bahwa Sisie dan aku sebenarnya ada di tempat yang sama. Mungkin karna aku terlalu rindu padanya. Suaranya yang manis terkadang terngiang dalam mimpiku. Iqish menghentikan lamunanku dengan gebrakan meja, yang cukup membuatku terkejut.
"Kak memikirkan apa sih?" Tanyanya.
__ADS_1
"Kekasihku." Ujarku singkat.
Ada tatapan terkejut sekaligus rasa ingin tau di matanya. Ia menarik kursi Rafit yang ada di sebelahku untuk bertanya lebih jauh. Kemudian ia menatapku dengan mata bundarnya. Meniru gaya Hallin saat memohon kemarin, Iqish berkata padaku.
"Kumohon Kak... Kak Ren yang cantik." ujarnya.
Sejujurnya aku lebih suka saat di panggil tampan. Aku tidak tau mengapa, tapi aku merasa aku lebih pantas di sebut begitu. Saat kecil aku pernah berkata bahwa aku akan melakukan trans gender di masa depan. Namun begitu aku dewasa, aku baru mengetahui ternyata Trans gender di larang dalam agamaku. Yah separuh diriku hanya dapat menyerah.
Kadang kala aku berpikir bahwa aku akan memilih berusaha menjadi gadis baik yang sangat baik, sehingga aku menjadi penghuni surga. Lalu di surga nanti, aku ingin meminta pada Tuhan agar Tuhan menukar ragaku dengan raga pria. Dengan begitu barulah aku merasa lengkap. Tapi menjadi seorang muslimah yang baik itu sulit.
Aku dan sekeluarga bahkan bukan benar-benar seorang muslim yang benar-benar baik. Ku pikir aku adalah salah satu
orang-orang yang ada dalam kategori istilah 'Islam KTP' .
"Kak? Ya ampun Kakak melamun lagi? Ceritakanlah sedikit mengenai kekasih Kakak. Aku ingin tau orang seperti apa yang Kakak sukai sampai Kakak melamun beberapa kali untuknya."
Untungnya Guru jam pelajaran pertama datang dan Iqish tidak memiliki kesempatan untuk mendengarkan ku berbicara. Lagi pula, aku terlalu malas untuk berbicara tentang hubunganku dan kekasihku pada orang luar. Aku merasa Iqish dan aku masih orang asing yang memiliki hubungan ala kadarnya saja. Jadi aku masih belum bisa terbuka kepadanya.
Pelajaran pagi ini cukup menarik, itu adalah mata pelajaran kimia. Aku sangat menyukai ini. Di tambah lagi ternyata yang mengajar adalah Ibu wali kelas kami. Kepribadiannya yang lembut dan keibuan membuat aku mengingat Ibuku.
Beberapa menit sebelum jam istirahat pertama, aku sengaja meminta izin untuk ke toilet. Ibu itu menganggukkan kepalanya. Aku pun segera berlari seolah aku akan pergi ke toilet. Namun, jalan yang ku tempuh bukanlah jalan menuju toilet. Aku melangkahkan kaki menuju tempat favoritku. Sehingga tidak akan ada Iqish yang akan bertanya-tanya.
__ADS_1