Who Am I?

Who Am I?
Hari pertama dalam Minggu liburan


__ADS_3


Hari pertama dalam minggu liburan.



Bulan telah naik saat hujan berhenti. Karna rumah Nenek tidak terlalu besar, Aku, Hallin dan Alya harus tidur di kamar yang sama. Awalnya si kembar juga di perintah tidur bersama kami. Tapi begitu melihatku, mereka menolak untuk setuju. Pada akhirnya si kembar tidur dengan Ayah dan Ibu. Rumah Kakek dan Nenek memiliki tiga kamar. Satu kamar di gunakan Kakek dan Nenek, satu kamar di gunakan Ayah dan yang lainnya, kamar yang tersisa di gunakan oleh Aku dan yang lainnya.


Ini adalah rumah Nenek dari Ibu. Kakek Nenek dari Ayah berada tak jauh dari tempat ini. Bisa di katakan tetangga. Ayah dan Ibu adalah sepasang kekasih dengan kategori 'lima langkah dari rumah' mereka adalah teman masa kecil yang akhirnya menjadi suami istri.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Baik Alya atau Hallin sudah tertidur. Aku masih dalam kondisi sama, terjaga dan sulit untuk tidur. Mungkin menghirup udara segar sebentar mampu membuatku tidur.


Aku pergi diam-diam lewat pintu belakang. Di sekitar rumah Nenek ada hutan bambu yang begitu tinggi dan rimbun. Angin malam menghembuskan batang bambu, membuatnya bergoyang mengikuti irama. Mendengar siulannya, ada ketenangan yang memeluk jiwaku.


Saat aku ingin melangkah lebih jauh ke hutan bambu. Tanganku di cekal oleh seseorang. "Jangan pergi sendirian. Besok saja ya.. Hoamm.."


Itu adalah Alya. Yah, terakhir kali aku pergi sendirian malah berakhir malapetaka. Mungkin aku pergi dengan Calya saja kapan-kapan. "Ayo tidur.."


Alya menarik tanganku untuk kembali ke rumah Nenek. "Jangan keluar sendirian, aku tidak ingin kejadian di malam itu terulang lagi..."


Alya berujar dengan nada sendu. Mungkin yang dia maksud adalah di malam ulang tahun Rini Ariani. Itu memang sebuah tragedi kecil yang sangat kritis menurutku. Kejadian itu hampir merenggut nyawaku. Ada perasaan bersalah yang muncul saat Alya mengingatkan itu. Yah, aku sudah membuat seluruh keluarga asliku khawatir.


Karna aku tidak bisa tidur, Alya membantuku dengan mantra uniknya. Yang dia gunakan saat menidurkan seluruh keluarga saat kami pergi berburu bersama. Yah, dengan itu aku memang mampu terlelap.


.....


Malam itu ku lalui tanpa mimpi apapun. Itu hal yang termasuk langka untukku. Biasanya aku selalu memimpikan sesuatu setiap kali tidur. Mungkin karna tadi malam aku di buat tidur oleh mantra.

__ADS_1


Meski begitu, aku merasa segar saat bangun. Hal pertama yang kami lakukan di pagi liburan adalah mencuci muka, lalu pergi untuk joging mengelilingi sekitar. Kalau aku tentu hanya ingin mandi dan menyeruput kopi di halaman belakang. Tapi dua gadis itu memaksaku untuk ikut dalam kegiatan mereka. Aku hanya bisa menurut saja saat mereka memohon. Yah, apa dayaku aku hanya seorang mahluk tuhan pecinta keindahan. Mereka berdua begitu cantik hingga aku tak bisa menolak.


Karna cuaca yang lumayan lembab setelah hujan, Ibu berpesan agar kami mengenakan jaket. Bagiku itu tidak ada bedanya. Beberapa langkah dari rumah Nenek, Hallin melambaikan tangannya kepada seorang gadis lainnya. "Lisa!"


Orang yang di panggilnya menoleh. Aku tak ingat siapa, tapi aku yakin kami pernah bertemu sebelumnya. "Dia siapa? Mengapa rasanya terlihat akrab."


Mendengar bisikan ku, Hallin sedikit kesal saat menjelaskan. "Itu adalah Lisa, teman masa kecil kita!"


Lisa seusia dengan Hallin. Namun mengikuti kalimat Hallin sepertinya Lisa ini juga berteman baik denganku. Lisa sedang menjemur pakaian di depan rumahnya. Pagi ini langit memang tertutup awan, tapi matahari tetap bersinar.


"Lisa, ini Kak Alya, dia teman Kak Rin. Kak Alya ini Lisa temanku dan Kakak saat kami masih sangat kecil." Hallin dengan gembira mengenalkan mereka.


"Halo Kakak-Kakak." Lisa tampaknya sedikit pemalu. Ada sedikit warna merah di pipinya saat ia menyapa kami.


Aku mengangguk saja. Sedangkan Alya, ia juga membalas kata-katanya dengan senyuman. "Halo juga!"


Temperamen Alya dan Hallin cukup unik dan membuat siapapun merasa nyaman saat bersama. Saat itu Hallin menggenggam tangan Lisa. "Ayo Lis, kita joging bersama!"


Hallin mengangguk dan mendekat untuk bermaksud membantu. Awalnya ku lihat Lisa merasa canggung dengan Hallin, tapi kecanggungan itu semakin menghilang seiring mereka berbicara. Saat aku berbalik untuk mencari kehadiran Alya, Alya sedang duduk melihat beberapa tanaman hijau yang di tanam oleh keluarga Lisa.


Karna tak ada kegiatan aku juga duduk untuk melihat apa yang gadis itu lihat. Saat itu Alya sedang tersenyum saat aku melihatnya. Ia menyenggol bahuku pelan lalu berbisik. "Bagaimana kalau malam ini kita berburu lagi..."


Ya aku juga sangat ingin menjelajah atau melihat-lihat di hutan desa ini. Tidak ada salahnya untuk mengangguk. Bersamaan dengan itu kulihat senyum berseri di wajah Alya. "Janji ya!"


Dia bertanya untuk menegaskan. Aku mengangguk. "Tidak masalah untuk pergi. Tapi jika bisa aku tidak ingin bertemu siluman lain lagi. Waktu itu aku selamat karna bantuan Cakra, sekarang aku tak yakin bila hal yang sama terjadi siapakah yang bisa membantuku?"


Alya mengangguk setuju. "Kita hanya akan bersama, berdua saja!"

__ADS_1


Alya berujar dengan mata yang menyipit dan bibir yang menyunggingkan senyum misterius. "Kak, ayo kita kelilingi beberapa rumah bersama Lisa. Tak perlu khawatir tersesat, karna ada Lisa bersama kita!"


Dia berkata dengan nada gembira. Tapi Lisa segera berkata dengan sedikit gugup. "A-aku akan menyimpan ember ini dulu, lalu meminta izin dari Ibu."


Kami mengangguk dan memutuskan untuk menunggu beberapa saat lagi. "Kakak mengingat Lisa bukan?"


Hallin tiba-tiba bertanya dan telah memecah keheningan. Aku mengangguk. "Meski samar setidaknya kepalaku mengingat dia. "


Hallin hanya tertawa kecil. Lalu ia bertanya lagi. "Bagaimana dengan Sari? Sari teman kita juga. Dari pesan yang ku kirim kemarin, katanya dia juga pulang kampung untuk liburan. Rumah Nenek Sari tidak jauh dari tempat ini."


Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak sebelum Kakak melihat wajahnya."


"Ibu mengizinkan, ayo kita berangkat bersama." Lisa keluar dan berkata dengan suara pelan.


Hallin segera merangkul bahunya. "kalau begitu ayo!"


Dia berujar dengan nada bersemangat. Ia terus berceloteh saat kami berempat berjalan bersama. Bahkan ia lebih bersemangat daripada ayam betina yang akan bertelur. Sebenarnya apa yang ia sebut sebagai joging ini tak lebih dari jalan kaki biasa. Karna niatnya berubah setelah bertemu dengan Lisa.


Tak membutuhkan waktu lama untuk matahari naik. Setelah berpamitan dengan Lisa, kami kembali ke rumah Nenek. Saat kami kembali Ibu yang baru melangkah keluar rumah berkata. "Kebetulan sekali kalian kembali, ini saatnya sarapan."


Lalu Ibu memerintahkan kami untuk masuk dan bergabung bersama yang lain untuk sarapan. Hari ini yang memasak sarapan adalah Ibu yang di bantu Nenek sedikit. Nenek dengan senang hati mempersilahkan kami semua makan.


Setelah makan jadwal kegiatan yang berikutnya adalah mandi. Aku sudah bersiap membawa handuk dan bertanya dimana kamar mandinya. Hallin yang baru datang setelah mengantar piring kotor berkata. "Kakak benar-benar lupa ya?"


Aku benar-benar tidak memiliki kenangan tentang tempat ini selain hutan dan rumah tua yang kami pijak ini. Itupun hanya sedikit dan agak samar. Melihat aku yang diam saja Alya menyuarakan kata. "Hallin berkata kita akan mandi di sungai bersama."


"Apa?" Aku cukup terkejut karna aku paling tidak suka mandi di tempat terbuka. Apa lagi kata bersama ini. Aku terbiasa melakukan segalanya sendiri, dengan kata bersama yang Alya katakan bukankah itu berarti kalau kami akan mandi bersama? Belum lagi ada kemungkinan untuk mandi bersama beberapa wanita lain....

__ADS_1


Ayah sepertinya mengerti kesulitanku. Dengan berbisik ia berkata. "Ini kesempatan langka loh, lagi pula Alya juga mengizinkan bukan? Pergilah..."


Ya, benar juga apa yang Ayah katakan. Ini adalah kesempatan langka untuk melihat gadis-gadis mandi hehehe.... "Ba-baiklah kalau kalian memaksa."


__ADS_2