Who Am I?

Who Am I?
Chapter spesial 3.1


__ADS_3

Chapter spesial 3


'flash back 1'


"Kamu boleh pergi, tapi ingat jangan menimbulkan masalah atau kembali dengan tubuh penuh luka." Ibunda ratu berujar saat aku meminta izin untuk keluar dari dunia siluman. Saat itu aku masih seorang pangeran muda yang suka menjelajah dan bertualang.


"Raj!" Ayahanda Raja memanggil saat aku hendak pergi.


"Ya?"


"Jangan pergi sendiri."


"Aku pergi dengan Lea!"


Lalu aku berteleportasi menuju rumah Paman Chandra. Paman Chandra adalah siluman kucing hutan, ia merupakan seorang panglima perang kerajaan Lakeswara. Lea adalah Putrinya. Dia temanku sekaligus gadis yang ku sukai. Kelak, aku harap ia akan menjadi satu-satunya permaisuriku. Yah, itupun jika dia juga menyukaiku...


"Yang Mulia Pangeran? Ada apa?"


Paman Chandra datang saat aku menunggu di kursi ruang tamu rumahnya. Paman Chandra adalah pelatihku sekaligus pengasuhku di masa lalu. Sehingga kami cukup akrab. "Lea di rumah bukan?"


Paman Chandra hanya tertawa saat mendengar pertanyaanku. "Ya, dia sedang berlatih pedang dengan Yang Mulia Galuh di halaman belakang."


Mendengar nama Galuh saja membuatku kesal. Dia tau aku menyukai Lea, tapi dia malah selalu mendekati Lea. Lea bukan gadis yang peka, jadi aku harus berusaha keras untuk meningkatkan nilai baikku di matanya. Galuh itu siluman Harimau putih. Dia juga pangeran, tapi dia merupakan pangeran dari kerajaan lain. Dia di kirim kemari untuk berlatih di bawah ajaran Guru Chandra. Setelah memasuki masa pensiun, Paman Chandra mengajar pedang pada generasi muda.


"Memangnya Yang Mulia Pangeran ingin kemana? Sepertinya Anda terburu-buru." Ujar Paman Chandra sembari mengusap janggut panjangnya.


"Aku ingin mengajaknya mengunjungi dunia manusia." Ujarku pelan.


"Pilihan yang bagus untuk membawa Calya, ilmu pedangnya adalah yang nomor satu setelah saya. Dia akan mampu menjaga Anda seperti saya menjaga Paduka Raja." Paman Chandra berujar dengan bangga.


"Hm... Kalau begitu aku akan menghampirinya dulu Paman." Aku berujar dengan senyum lebar. Di balas dengan anggukan dan tawa dari Paman Chandra.


Aku melangkah ke area halaman belakang dengan perasaan berat. Memikirkan Galuh hanya berdua dengan Lea saja membuatku kesal. Semakin aku dekat dengan area halaman belakang, semakin aku dengar suara dentingan pedang.


"Halo semuanya!" Aku berujar segera setelah memasuki halaman belakang.

__ADS_1


Saat itu aku melihat Galuh memegangi pinggang ramping Lea. Sepertinya ia menahan Lea agar Lea tidak jatuh. Karna kesal, aku diam-diam menendang batu ke arah tangan Galuh yang menyentuh pinggang ramping Lea. Saat ia mengaduh sembari menatapku tajam, aku hanya membalasnya dengan seringai.


"Raj? Kamu kemari dengan wajah berseri, sepertinya ada sesuatu yang baik." Lea berujar sembari memasukkan pedang tipisnya ke sarung pedangnya.


"Ayo kita pergi bersama!" Aku langsung mengucap maksud kedatanganku.


"Apa aku di ajak?" Galuh berujar dengan senyuman yang agak naik.


"Tidak, hanya aku dan Lea." Aku berujar tegas.


"Ah, kamumah tidak menyenangkan." Ujar Galuh kesal.


"Kita akan kemana Rajendra?" Lea bertanya saat ia duduk di kursi sembari meminum minuman yang di berikan pelayan.


"Dunia manusia." Jawabku.


"Bbffttt... " Ia menyembur air yang di minumnya.


"Kamu serius Raj?" Ia bertanya lagi seolah aku hanya melontar kebohongan.


"Baiklah jika kamu tidak percaya padaku, tapi seharusnya kamu percaya ini bukan?" Aku menunjukkan dua lembar kertas izin yang di berikan Ibunda Ratu.


"Kau ingin ikut?" Aku bertanya.


"Ayo!" Mengesampingkan segalanya ia segera meloncat ke pangkuanku.


Aku segera berteleportasi ke area terluar dunia siluman. Dua penjaga gerbang alam siluman itu menoleh sesaat. "Oh, Yang Mulia Pangeran dari kerajaan Lakeswara. Tolong tunjukkan surat izinnya?"


Aku segera memberikannya, setelah memeriksa sesaat, sebuah portal muncul. "Dalam surat izin menyebutkan kalau Yang Mulia Pangeran, akan pergi untuk mempelajari dunia manusia. Kalau begitu kembalilah saat purnama berikutnya. Kami akan bukakan portal kembali saat itu."


"Baik." Lalu aku menarik tangan Lea untuk memasuki portal bersama.


Kami muncul di sebuah hutan besar. Maka aku dan Lea memutuskan untuk berkeliling dalam bentuk asli kami. Aku dalam bentuk macan hitam dan Lea dalam bentuk kucing hutan. Kami berkeliling cukup lama. Aku tak yakin sudah berapa kali matahari berganti, akhirnya kami menemukan sebuah desa berisi manusia.


Bahkan untuk Lea yang selalu menjaga emosinya dan tetap terlihat tenang pada saat biasa, ikut takjub saat melihat desa ini. Kami masih bersembunyi di dalam semak di sisi sebuah pohon besar. Lea sepertinya sudah tidak sabar untuk melihat lebih dekat. Liurnya menetes, entah apa yang dia pikirkan.

__ADS_1


"Mau kemana?" Aku menahan lengannya saat melihat dia akan pergi ke sisi manusia kecil yang terluka.


"Raj, katanya Anak manusia rasanya enak." Ujarnya.


Aku segera menarik tangannya untuk kembali bersembunyi. "Dengarkan aku lebih dulu. Coba kau lihat, manusia-manusia itu memiliki rambut gelap dengan mata yang sama gelapnya. Tidak seperti kita. Untuk memasuki kawasan manusia, kita juga harus menjadi seperti manusia. Artinya kita tidak memakan manusia atau berpenampilan seperti ini. Kita memerlukan penyesuaian."


Lea adalah gadis yang pintar, aku yakin ia akan mengerti. Lea mengangguk-angguk pelan. Aku mendengar helaan nafas darinya. "Lalu apa yang harus kita lakukan?"


Mendengar pertanyaan darinya, aku segera menjawab seadanya. "Kita harus menyamar. Perhatikan ini. Semua siluman seharusnya bisa melakukan jurus ini."


Lea memperhatikan setiap jurusku. Aku merubah warna rambut hitam kebiruanku ke warna coklat gelap. Lalu mata kemerahanku menjadi kecoklatan, seperti manusia yang sempat lewat di sekitar kami beberapa waktu lalu. "Rajendra terlihat tidak berubah, hanya sedikit yang terlihat berbeda."


"Ini karna rambutku sebelumnya memang hitam. Sudah sekarang giliranmu untuk mencoba." Ujarku. Melihat untaian rambut perak dan mata hijau almondnya, pasti dia akan berubah cukup drastis.


Mengikuti langkahku, rambut peraknya telah berubah warna ke warna coklat gelap. Matanya juga demikian. "Bagaimana? Apakah aku sudah berubah bentuk?"


Aku mengacungkan jempolku. Lalu mengeluarkan gumpalan air dari tanganku, kemudian membentuk layar tipis dengan bola air itu. Di sanalah terlihat bayangan kami. "Lihat kemari, penampilanmu berubah cukup drastis."


"Waaah! Keren sekali!" Serunya.


Aku menghilangkan cermin air yang aku ciptakan, lalu mengatakan petuah kecil. Bagaimanapun juga aku lebih tua darinya sekitar seratus tahun. "Selain penampilan baru, kita juga perlu nama baru."


"Benar juga, kalau begitu ayo berikan aku sebuah nama baru untuk penampilan manusiaku." Lea berujar dengan semangat.


Permintaannya membuatku harus memutar otak untuk jawabannya. "Alya, ini agak terlalu pendek. Ah, bagaimana dengan Alya Perwita? Pelafalannya hampir serupa dengan Calya Bawita."


"Itu bagus, kalau begitu aku juga akan memberi nama untuk bentuk manusiamu! Biar aku pikirkan." Ia berseru dengan nada senang.


Aku duduk menunggunya berbicara. Gadis itu terus saja bergumam-gumam sembari menggeleng-gelengkan kepalanya atau mengangguk-angguk pelan. Aku agak bingung dan sedikit bosan.


Agak cukup lama hingga ia memutuskan untuk berucap. "Aku mendapatkannya! Tapi jangan di tertawakan ya?"


Aku mengangguk sebagai persetujuan. "Reindra Ambarawa, aku rasa itu keren untukmu."


"Sempurna! Ayo kita berkencan di dunia manusia!" Aku berujar dengan semangat.

__ADS_1


"Kencan?" Ia bertanya dengan bingung, tapi pipinya memerah. Apakah itu benar? Atau aku yang salah lihat? Jarang-jarang Lea melihat tersipu.


"Ah, tidak-tidak, maksudku jalan. Ayo kita jalan-jalan." Aku berujar canggung. Bagaimanapun juga dia dan aku hanya teman dekat bukan sepasang kekasih.


__ADS_2