Who Am I?

Who Am I?
Wanita aneh 2


__ADS_3


Wanita aneh 2 Rev



Aku merasakan tatapan tajam Alya, tatapan yang menyeramkan menurutku. Aku menyebutnya tatapan Predator. Alya menatapku seolah aku sudah menyelingkuhi dirinya, yang katanya merupakan istriku. Istri dari sosok pria yang di gambarkan Rini saat itu.


Aku belum melihat cermin, jadi belum melihat rupaku setelah di cekik. Aku khawatir itu meninggalkan bekas atau sesuatu. Bekas tinjuan lebih baik di banding bekas cekikan. Ibu akan bertanya jika itu terjadi, apa yang harus ku katakan nanti.


"Rein, turunkan kucingnya ya? Tidur bersama kucing bukan hal yang baik untuk kesehatanmu." Alya tersenyum dengan senyuman peringatan.


Aku menghela nafas pasrah, lalu menurunkan Virong dari pelukanku. Tentunya setelah aku memberikan beberapa kecupan. Dan usapan dengan kepalaku. Oke, intensitas tatapan predator itu semakin kentara. Jika saja tatapan bisa membunuh, aku mungkin sudah mati karna tatapan Alya. Setelah Alya memasuki kamar, aku mengunci pintu kamar.


Alya seperti gadis yang merajuk. Langkahnya di sertai hentakan keras di atas lantai. Lalu ia menaiki tempat tidur dengan selimut menutupi tubuhnya. Tingkahnya seperti Virong saat mencium aroma wanita asing di tubuhku beberapa bulan lalu. Tunggu, Aroma?


Aku menghirup aroma di sekitarku lebih dalam. Memang ada aroma lain, namun aku sedikit kesulitan karna aroma itu hampir memudar. Saat itu wanita aneh itu memelukku. Mungkin di pakaianku tertinggal aromanya. Dengan mengendus aroma itu lebih dalam, aku mendapatkan perbedaannya. Ini bukan aroma yang biasanya ada pada wanita manusia. Aroma ini sejujurnya mirip aroma Virong? Ya! Aku yakin itu. Yah mungkin saja karna tadi aku menggendongnya.


Aku memutuskan untuk mengganti pakaian. Saat melihat cermin di pintu lemari, aku sedikit terkejut. Bekas cekikan wanita itu begitu kentara tercetak di leherku. Merah pudar berbentuk tangan yang lentik. Di sisi lain aku khawatir bekas tangan ini masih akan ada hingga esok hari. Namun di sisi lain aku merasa ingin tau, siapakah wanita ini.


Bekas tangannya terlihat ramping dan lentik. Dan itu, yang membuatku masih mengingat sensasi dua bola yang menempel di punggungku saat itu. Mengukur kepadatan dan ukurannya saat menempel, aku yakin itu adalah buah dada yang cukup besar. Hehehe... Ah, lupakan saja. Tidur mungkin lebih baik.


"Ya... Tidur saja..." Aku menguap sesaat. Setelah mengganti pakaianku, aku menaiki tempat tidur.


Saat aku baru saja hendak membaringkan diri, lampu kamarku tiba-tiba padam. Dengan berkedip, aku menyesuaikan mataku dengan kegelapan. Dan sosok asing mendekatiku secara tiba-tiba, itu muncul di atas kepalaku. Aku tidak sempat melihat seperti apa sosoknya. Karna mataku di tutup oleh tangannya. Tangannya memiliki aroma Susu.


Karna tidak dapat melihat, aku merasa sedikit panik. Sosok asing itu menekan tangannya hingga aku berbaring. Lalu dapat ku rasakan mulutku di sumbat oleh sesuatu yang lembab dan hangat. Yang sepertinya adalah Bibir seseorang. Lidah mungil memasuki mulutku membawa rasa manis yang unik. Namun ada yang salah, mulut mungil itu menghisap nafasku. Aku kesulitan bernafas. Benar-benar sulit.


Tanganku tak mampu ku angkat, tapi aku bisa menggerakkannya ke kiri atau ke kanan. Di sisiku ada Alya, jika saja dia bangun dia bisa membantuku mengusir sosok yang mencuri ciuman pertamaku. Saat aku meraba-raba, tersentuh olehku sesuatu yang ku yakini sebagai bagian tubuh Alya. Aku meremasnya sekuat tenaga.


"Enghhh!" Aku tidak tau apa yang aku remas hingga menimbulkan ******* begitu.

__ADS_1


Sayang sekali aku tak lagi sadarkan diri. Rohku seakan keluar dari tubuhku. Aku berada di tempat antah berantah dengan ingatan yang masih sama. Tak ada yang berubah. Ini mirip alam mimpi, tapi bukanlah mimpi. Aku dapat merasakannya. Saat aku ingin bergerak, sebuah suara menginterupsiku.


"Wah, benar-benar di luar dugaan. Ragamu adalah Wanita, namun jiwamu adalah Pria?" Aku berbalik untuk mencari orang itu. Dari suaranya, aku mengenalnya. Ia adalah Wanita aneh di belakang rumah.


"Siapa kau!?" Aku merasa suara wanita itu menggema di pikiranku. Ini membuatku tidak nyaman. Aku menunduk sembari menutupi telingaku.


"Ayolah, Auramu bukanlah Aura manusia. Di sertai jiwamu yang berbeda dengan ragamu, aku sangat meyakini satu hal. Ayo angkat wajahmu. Biarkan aku melihatnya." Wanita itu memegangi wajahku.


Aku menolak untuk mendongak. Suara wanita itu masih menggema di kepalaku. Kepalaku terasa berdenyut dan serasa akan meledak. "Berisik! Suaramu begitu memekakkan di telingaku! Terus saja menggema dan membuatku pusing!!"


Lalu Wanita itu tertawa dengan suara melengking. "Rein... Kamu baik-baik saja?"


Suara Alya seperti hawa dingin yang menyegarkan. Denyut di kepalaku telah berhenti setelah mendengar suaranya. "Lea!"


Saking menyenangkannya saat mendengar suaranya, aku memeluknya untuk mencari kenyamanan. "Hehehe... Kita baru bertemu beberapa menit lalu dan kamu sudah memelukku? Jangan bilang kamu menyukaiku Tuan?"


Hah!? Itukan suara wanita aneh! Jangan bilang yang aku peluk adalah dia?


"Apa yang aku lakukan? Tampan, kamulah yang memelukku. Secara tidak sadar melecehkan ku di depan Nona itu. Mengapa malah menyalahkan diriku?" Wanita itu mengusap punggungku. Kuku-kuku panjangnya membawa rasa dingin. Kuku-kuku itu di gerakkan seolah sedang mencari sesuatu.


Lalu aku merasakan kuku itu menembus punggungku. Anehnya aku merasakan sakit saat ini. Semacam rasa perih dan nyeri.


"Rein! Jangan kau sentuh Reindraku!"


Karna aku membelakanginya, aku tak tau apa yang di lakukan Alya. Yang pasti saat ini wanita itu menghisap sesuatu dari tubuhku melalui kuku-kuku nya, yang menembus tubuhku.


"Reindraku? Memangnya siapa dia bagimu? Kekasihmu? Jangan bercanda kamu!" Wanita aneh itu melompat mundur.


Tangan satunya terasa bergerak-gerak di sisi tubuhku. Aku merasa sangat lelah saat ini. Tiada tenaga atau energi untukku bergerak. Wanita itu seperti sedang menghisap energiku. "Reindra adalah SUAMIKU! Rajendra adalah MILIKKU!!!"


Aku tak tau sisanya. Karna sangat lelah aku hanya ingin tidur saat ini. Tidur, meski firasatku memperingatkan ku akan banyak hal. Tapi sungguh aku hanya ingin tidur untuk saat ini. Tapi aku masih belum bisa tidur.

__ADS_1


"Raj! Rajendra! Bangunlah! Bangun! Ayo buka matamu! Jangan membuatku takut!" Suara Calya terasa berisik. Inilah yang membuatku tidak bisa tidur.


Aku membuka mataku sebentar. Mata hijau Calya tampak berair, hidungnya yang putih terlihat memerah. Begitu pula dengan pipinya. "Lea... Aku mengantuk.. jangan berisik ya..."


Begitu lemah suaraku, hingga aku tak yakin apakah Calya mendengarku atau tidak. Tapi aku mendengar tangis Calya semakin pecah, saat mataku tertutup. "Ibu! Aku yakin Ibu pasti bisa membantu kita! Jangan tidur Rajendra! Kita akan pulang!"


Calya membawaku berlari. Aku merasa terpanggil oleh nama itu. "Tapi... Aku mengantuk..."


"Aku mohon! Jangan tidur, sebentar lagi kita sampai."


Aku tak tau apa yang akan terjadi padaku jika saja aku tertidur. Tapi aku benar-benar mengantuk. Suara sedih dan khawatir Calya yang selalu terdengar olehku, membuat diriku merasa tidak ingin tidur. Kalau begitu biarkan aku berusaha semampuku untuk tidak tidur.


Aku merasakan tubuhku di ombang-ambing kesana kemari. Terkadang terasa seperti sedang terbang, terkadang terasa seperti sedang berseluncur. Hingga Calya membawaku ke tempat lain. Karna lelah, pandanganku terasa kabur dan aku hampir pingsan. Karna tak ingin mengecewakan Calya, aku menahan kantukku.


"Ibu! Ibu! Ibuuuuu!!! Cepat kemari!!" Aku mendengar teriakan risau dari Calya.


Lalu ada langkah kaki terburu-buru datang dengan segera. Aku mencoba bangun, tapi tubuhku terlalu lelah. Bahkan untuk mengangkat satu jari pun membutuhkan perjuangan. Lalu aku kembali mendengar suara.


Suara itu adalah suara seorang wanita paruh baya. "Macan ini? Rajendra!! Apa yang terjadi kepada Rajendra?!"


Aku merasa seseorang memegangi wajahku. "Ibu, kita bicara nanti saja! Tolong selamatkan Rajendra! Energi Silumannya di serap, dan hampir separuh kekuatannya telah di ambil secara paksa darinya!"


Lalu aku merasakan dadaku di usap perlahan, sebuah energi hangat berkumpul di dahiku. Lalu bersirkulasi secara teratur dari dahi menyebar ke seluruh tubuh, setelah itu kembali ke dahi. Begitu seterusnya. Itu membawa perasaan hangat yang nyaman. Aku tak lagi merasa lelah atau mengantuk.


Saat aku membuka mataku, wajah pertama yang ku lihat adalah wajah Ibu yang mengaku sebagai Ibuku saat itu. Saat aku mencoba untuk bangun, Ibu itu berkata dengan lembut.


"Tidurlah, istirahat saja. Saat kamu mulai sembuh, kita bicara lagi."


"Tapi..." Ibu itu menutup mulutku.


"Kali ini dengarkanlah Ibumu!" Ujarnya.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk patuh lalu menutup mata.


__ADS_2