
Hala Aida
Ya, sepertinya Alya mampu mendengar bisikan Ayah kepadaku. Saat kami sampai di sungai pagi itu, hanya ada beberapa nenek tua yang sedang berenang. Beberapa sedang mencuci pakaian. Tidak ada yang bisa di lihat selain Hallin dan Alya. Karna ini memang sungai yang di gunakan untuk mandi, maka area lelaki dan wanita di pisahkan. Lalu bagaimana kabar lelaki yang merasuk ke tubuh wanita sepertiku? Yah, diam dan duduk memperhatikan di kejauhan juga tidak buruk.
Tapi itu adalah kisah di pagi hari. Karna sekarang bulan telah naik dan waktu telah larut. Alya menagih janji yang ku katakan pagi ini. Setelah aku keluar dari tubuh Rini Ariani, aku dengan segera berkata kepada Alya yang telah berubah menjadi Calya. "Paling lama kekuatanku mampu mempertahankan tubuh itu hingga pukul lima pagi."
"Iya, ayo kita pergi!" Ujarnya bersemangat.
Kami melangkah keluar dari kamar. Aku berbalik melihat ke belakang. Karna kami sekamar dengan Hallin. Calya juga membuat belahan diri untuk tidur di sisi Hallin. Aku terkejut saat aku berjalan tanpa sengaja menembus pintu yang tertutup. Yah, aku harus membiasakan diri. Kami ini mahluk halus bukan?
Benda alam manusia tidak mempengaruhi kami. Kami adalah mahluk yang berbeda alam dengan manusia, secara mendasar berbeda dimensi. Manusia tidak dapat merasakan rumah kami. Begitu pula dengan kami yang tidak dapat merasakan rumah mereka. "Ayo cepat!"
Calya menarikku dengan cepat. Ada ketidak sabaran yang terlihat jelas di sepasang mata hijaunya yang indah. Aku hanya bisa mengikuti kehendaknya. Tapi saat kami hendak melewati pintu belakang, seseorang tiba-tiba membuka pintu belakang dari luar. Itu adalah Nenek.
Ada kepanikan di hatiku. Bahkan aku dapat merasakan jantungku yang seakan menegang. "Apa yang kau lakukan di sana. Keberadaan kita ini mirip dengan hantu. Mana mungkin ia bisa melihat kita."
Ah benar, aku lupa hal itu. Calya segera menarikku. Dan aku menembus tubuh keriput Nenek. Rasanya aneh. Tapi aku tak dapat memikirkan hal lain karna ada kucing kecil yang tak sabar untuk bermain di luar.
Calya mengubah bentuknya ke bentuk Kucing Hutan. Begitu pula denganku yang mengubah bentuk ke bentuk macan hitam. Kami melangkah memasuki hutan bambu. Alya berkata hanya ingin berburu tapi hutan ini tak sebising hutan di tempat kami berburu sebelumnya. Lebih senyap dan gelap. Sepertinya di tempat ini lebih banyak mahluk jejadian seperti aku dan Calya.
__ADS_1
Namun menurutku suasana ini jadi lebih romantis. Dari sudut pandang ku tentunya. Teringat olehku kata-kata Alya di sekolah beberapa Minggu yang lalu. Kata itu menggema di pikiranku. Kata 'Manjakan aku Suamiku.'
Yah, mungkin kencan semalam seharusnya tidak apa-apa. Calya berbalik saat melihatku yang berhenti. Alisnya naik seolah ia berkata 'Kenapa? Apa yang salah?'
"Hm... Tidak apa-apa." Aku mengubah kembali bentukku ke bentuk manusia. Aku ingin mengajaknya berkencan ala siluman. Tapi sepertinya... Aku merasa gugup untuk bertanya hal itu.
Aku mendekati Calya yang masih dalam bentuk Kucing Hutan. Sebelum aku sempat berbicara, sikap santai Calya berubah menjadi waspada. "Ada apa?"
"Ssss... Ternyata benar... Sss... Kau mengunjungiku..." Ada suara wanita dewasa di belakangku. Saat aku berbalik, itu adalah ular putih yang sangat besar. Sangat besar hingga aku harus mendongak untuk melihatnya.
"Kamu... Adalah?" Aku bertanya bingung, karna ia terlihat akrab sementara aku tak punya ingatan apa-apa tentang ular besar ini.
Calya berubah ke bentuk manusia. Lalu berdiri di depanku. Kewaspadaan tinggi masih melekat padanya. Ular putih itu juga merubah dirinya. Itu adalah seorang wanita dengan rambut putih yang indah. Wajahnya pucat membuat ia tampak tidak sehat.
"Hohoho... Tenangkan dirimu gadis muda. Aku tidak mengincar Rajendramu. Kita adalah teman. Aku dan Rajendra adalah teman di masa lalu." Ujar Wanita ular.
"Aku seorang pebisnis yang sibuk. Kau taukan pesugihan ular putih yang terkenal di desa ini. Itu adalah Bisnisku. Aku memiliki banyak urusan sehingga aku tak memiliki waktu untuk menghadiri upacara pernikahan Akbar kalian."
Aku memeluk pinggang ramping Calya untuk menenangkan dirinya. Meski aku tak mengingatnya. Aku sangat paham perasaan apa yang aku miliki untuk wanita berambut putih. Kami adalah teman dekat. Teman yang sedekat Cakra. "Tidak apa-apa, bahkan jika aku tidak mengingatnya, dia memberikan perasaan akrab yang sama dengan Cakra."
Kalimat itu tampaknya berhasil menenangkan Ratuku. Ia hanya terlihat tidak menyukai hal itu. "Ya, aku sudah tau kondisimu dari para bawahanku. Karna kau tak mengingatku, biarkan aku memperkenalkan diri kepada istrimu yang manis Rajendra."
"Ya."
__ADS_1
Setelah mendengar persetujuanku, Wanita ular memberikan senyuman. Ia melangkah lebih dekat dan mengulurkan tangannya. Sejujurnya aku sedikit merasa tidak nyaman untuk membiarkannya mendekati Calya. Instingku merasakan kalau si wanita ular itu bukanlah wanita biasa. Dia adalah wanita berbisa! Yah, secara alami ular itu berbisa bukan?
"Aku Hala Aida. Panggil aku Ida. Dan aku adalah Siluman Ular paling cantik di hutan ini. Salam kenal." Ia berkata sembari mengulurkan tangannya yang pucat.
Tiba-tiba teringat olehku sebuah kenangan. Saat itu aku bahkan belum bisa berbicara. Masih macan besar yang belum bisa berbicara atau berubah ke bentuk Manusia. Aku berlarian terlalu jauh, di saat hari hampir berakhir dan aku belum tau cara kembali. Aku memasuki hutan bambu ini untuk istirahat. Lalu aku akan pulang di hari berikutnya.
Siapa yang tau kakiku malah membawaku ke sebuah telaga kecil. Itu adalah rumah tempat Ida tinggal. Telaga itu di kelilingi ular. Aku benci ular. Sehingga aku memutuskan untuk pergi. Namun kakiku tertahan lebih tepatnya di lilit oleh seekor ular putih kecil. Yang ukuran tubuhnya sekitar seukuran betis anak-anak.
"Tunggu sebentar! Mampirlah ke rumahku! "
Ia memaksaku untuk datang ke rumahnya. Waktu itu aku masih sangat muda sehingga aku tak tahu mengapa ular kecil itu memaksa ku untuk tinggal. Aku menolak hari itu tapi ular itu memaksa, ia bahkan ingin menggigit ku lalu menanamkan bisa dia di tubuhku agar aku menuruti keinginannya. Untunglah aku sudah pernah belajar untuk menghindari gigitan ular.
Dia begitu agresif mengejarku, dia hanya ingin agar aku menemaninya di rumahnya. Aku tidak mau berhubungan atau pun berkomunikasi dengan ular misterius itu. Ibu pernah bilang kepadaku agar aku tidak mengikuti keinginan orang asing. Tapi karna hujan turun malam itu, mau tidak mau aku pun harus ikut ular itu untuk berteduh.
Aku saat itu benar-benar masih hanya anak-anak yang hanya tahu bermain makan dan tidur. Sedangkan ular itu sepertinya sudah beranjak remaja, saat itu ia mengajakku ke kamarnya. Ia berkata akar aku tidur, karena anak-anak tidak baik tidur terlalu larut. Aku menurutinya saja karena Ibu juga bilang begitu kepadaku.
Tapi ular itu melilit ku, untungnya aku masih bisa bernafas. Saat aku mengeluarkan aura siluman kerajaan, ular itu segera melepasku. Tapi ia terlihat kesal, ekornya di cambuk cambukkan ke lantai dan mulutnya mengatakan kata.
"Hah... sayang sekali, ternyata hanya anak kecil, laki-laki pula." Ujarnya
Aku bingung mendengarnya. Dari aroma ular itu, jelas-jelas ular itu adalah ular betina. Tapi mengapa ia mencari binatang betina.
Esok harinya aku pulang ke rumah dengan diantar oleh ular putih itu. Karena rasa ingin tahu ku tak kunjung terjawabkan, beberapa bulan setelahnya aku mampir lagi ke hutan bambu ini. Dan yang kulihat adalah wanita ular itu sedang bermesra-mesraan dengan sesama wanita, yang mana itu membuatku bingung saat itu.
__ADS_1
Semakin lama aku semakin sering bermain ke tempat itu. Kami pun semakin dekat dan berteman layaknya saudara. Hingga aku mampu berubah ke bentuk manusia. Karena saat itu statusku masih pangeran, aku dilatih oleh ibu untuk mengurus urusan politik kerajaan. Sehingga tak punya waktu untuk bertemu dengan ular putih itu hingga saat ini. Hal yang paling melekat tentangnya adalah ular putih itu adalah wanita yang menyukai wanita.
Dengan peringatan kecil dari ingatan yang secara tidak sengaja muncul, membuatku waspada kepada si wanita ular putih. Bagaimanapun juga wanita ular putih ini menyukai wanita, bagaimana jika ia menyihir Calya lalu Calya malah menceraikan aku?