Who Am I?

Who Am I?
Berkemah


__ADS_3


Berkemah



Seperti yang direncanakan saat sebelum liburan. Tujuan kami ke tempat Nenek adalah untuk berkemah. Tapi karena Nenek juga merupakan sanak keluarga, Ayah dan Ibu kemari dengan tujuan melepas rindu. Karena terkendala hujan dan udara lembab, kami tak dapat melaksanakan kemah yang diinginkan itu.


Hari ini di siang hari, aku sedang menonton televisi dengan kipas yang menyala di sisiku. Yang menggunakannya adalah Nenek. Ia berkata bahwa hari cukup panas dan ia sengaja duduk di sisiku, agar temperatur dinginku juga menyelimutinya. Hallin dan Alya pergi keluar, aku tak tahu apa yang mereka lakukan. Tapi ada senyuman di wajahnya, ku pikir seharusnya itu adalah pergi menemui Lisa dan Sari.


Saat Nenek mengganti siaran televisi menjadi acara berita. Pintu masuk ke rumah tiba-tiba terbuka dan tawa gadis terdengar di telingaku. Ada empat orang yang masuk ke rumah, Hallin, Lisa, Sari, dan Alya. Mereka berempat tampaknya ingin mengajakku ke suatu tempat. "Kak sini sebentar."


Yang berbicara adalah Hallin, dengan langkah malas aku berjalan ke sisinya. Ada senyuman mengembang di wajah empat gadis itu. "Ada apa?" Tanyaku.


"Kau ingat tentang rencana kita untuk berkemah?" Yang bertanya adalah Alya.


"Ya aku ingat, mengapa?" Tanyaku.


"Kami tahu kau tidak suka hal merepotkan, sehingga kami telah membahasnya bersama. Jadi kami datang untuk mengatakan kepadamu, malam ini kita akan berkemah bersama di hutan bambu." Alya mengedipkan sebelah matanya.


Aku memikirkan Ida ketika alya mengatakan hutan bambu. Ida cukup berbahaya, ia juga mengincar beberapa manusia yang bermain sembarangan di hutan bambunya. Bahkan jika ada aku dan alya, itu tak menahannya dari keinginan untuk menangkap manusia.


"Tidak, tidak, sebaiknya jangan di hutan bambu, bagaimana kalau di sungai saja?"

__ADS_1


Mendengar saranku mereka tampak berpikir, lalu aku berkata. "Kita bisa memancing dan membuat bakar ikan atau melakukan hal lain di tepi sungai, tapi sebaiknya jangan di hutan bambu. Itu tidak baik untuk kalian."


Mendengar peringatanku mereka tampak sedikit takut tapi Hallin segera berkata. "Ya,di tepi sungai juga tidak ada salahnya, mari kita rencanakan hal yang akan kita lakukan malam ini." Ujar Hallin.


"Apa kalian akan mengajak anak-anak?" Tanyaku, yang ku maksud adalah si kembar.


Hallin menggeleng. "Ayah bilang si kembar tidak menyukai Kakak, jadi Ayah berinisiatif untuk mengajak si kembar berkemah bertiga. Hanya khusus para lelaki."


"Yah baiklah kalau begitu, terserah kalian saja. Aku akan mengikuti pengaturan kalian." Ujarku.


Ke empat gadis itu tertawa lalu berkumpul bersama di kamar Hallin, aku, dan Alya. Aku melanjutkan tugasku, yaitu menemani Nenek menonton televisi.


.....


Matahari telah tenggelam di ufuk barat, sinar jingga melambangkan senja telah tiba. Karena kami memang berniat untuk berkemah sejak kepergian kami ke tempat Nenek, kami telah menyiapkan beberapa tenda. Jika tidak salah itu ada dua tenda besar. Karena yang satu digunakan Ayah, maka yang lainnya juga digunakan oleh kami. Hallin dan Alya mengajakku pergi setelah bulan mulai naik, jika tak salah lihat, ku pikir itu adalah jam 08.00 malam.


Mulai dari membangun tenda, lalu berjalan-jalan di sekitar sembari mengumpulkan beberapa kayu bakar. Katanya itu karena untuk merasakan rasa berkemah yang nyata. Aku sendiri sebelumnya belum pernah berkemah, karena Ibu selalu melarangku. Dengan tubuhku yang rapuh, Ibu takut terjadi sesuatu yang buruk kepadaku. Jika aku pergi berkemah tanpa pengawasannya. Ibu mengijinkan aku berkemah dengan Hallin, karena ada Hallin yang mengawasiku. Tambah lagi juga ada Alya, hingga Ibu bisa mengangguk tanpa khawatir.


Saat kami tiba, ternyata Lisa dan Sari telah tiba terlebih dahulu. Seperti yang direncanakan, kami membangun tenda dan mengatur segala sesuatu lebih dulu. Supaya nantinya bersenang-senang akan lebih mudah.


Hal pertama yang kami lakukan setelah semua selesai adalah membangun api unggun. Maka dengan senter di tangan, kami pergi berjalan berkeliling di sekitar sungai untuk mencari beberapa ranting. Karena aku memiliki kemampuan istimewa, yakni melihat dalam gelap. Maka tak sulit untukku, bahkan aku tak perlu senter. Namun karena aku bersama dengan Sari, dia memegang senter.


Tak ada yang berbicara di antara kami, mungkin dia masih ingat saat dia marah saat itu. Tapi aku telah melupakannya, hanya mengingatnya ketika melihat wajahnya. Karena ia diam saja, maka aku pikir aku harus berinisiatif untuk mengambil kayu bakar. "Itu... Kak maafkan aku soal hari itu ya..." Ujarnya pelan.

__ADS_1


Tapi aku masih dapat mendengarnya. "Tidak apa-apa, tidak perlu dipikirkan, lagipula itu semua sudah berlalu." Ujarku.


Tapi wajahnya masih terlihat murung. "Kau perlu tidak terlalu memikirkannya, dan suaraku memang terdengar dingin dan datar. Baik aku sedang senang ataupun sedang sedih ataupun biasa saja. Jadi kau tidak perlu memikirkannya. Oh iya, apa segini sudah cukup?"


Aku bertanya sambil memperlihatkan kayu bakar yang ke pegang di masing-masing tangan kanan dan kiriku. Sebenarnya menurutku itu cukup banyak. "Itu sangat cukup, bahkan lebih dari cukup." Ujar Sari.


Kami kembali ke sisi sungai dengan membawa banyak kayu bakar. Tapi karena ibu telah melarangku untuk memancing, maka yang memancing adalah mereka bukan aku. Padahal aku sangat ingin, tapi arus sungai ini cukup deras. Jadi kupikir jika lenganku putus lagi, maka akan cukup sulit untuk mengambilnya.


Setelah kami membawa kayu bakar, aku dan Sari segera membangun api unggun dari kayu bakar. Karena aku tak tahu bagaimana caranya, Sari yang kebetulan sudah sering mengikuti kemah di organisasi pramuka, maka ia menunjukkan caranya kepadaku. Aku hanya mengangguk-angguk saja.


Setelah membangun api unggun, Sari dan aku bersama membentang sebuah tikar untuk kami duduk. Di atas tikar itu ada Alya, aku, dan Sari yang sedang menyiapkan bumbu untuk membakar ikan. Aku tidak tahu apa bumbu pastinya, aku hanya mengikuti apa yang dikatakan Alya.


Setelah itu mereka mulai menusukkan ikan ke ranting lalu mulai membakarnya. Sembari membakar ikan, kami mengelilingi api unggun sambil bercerita. Tentu saja ceritanya adalah cerita seram, serta sedikit kisah cinta dan drama kehidupan. Ku pikir malam akan membosankan, siapa yang tahu ternyata mendengar curhatan anak gadis juga menyenangkan.


Itu salah satu kenangan yang menurutku indah, karena di dalamnya ada terlalu banyak senyum yang indah. Senyuman bahagia yang benar-benar alami, tanpa ada sebuah paksaan. Untuk mengenangnya aku menggambarnya di buku besarku, yang tak pernah ku tinggalkan bahkan saat aku pergi terlalu jauh.


Lisa dan Sari secara alami sangat tertarik untuk melihat apa yang aku gambar. Sedangkan Alya dan Hallin sudah terbiasa dengan ku yang selalu menggambar atau menulis, sehingga mereka hanya membalikkan ikan-ikan dengan tatapan berseri.


Dengan beberapa kali membuat garis di sana-sini, akhirnya sebuah gambar mungil tercipta di bukuku digambar itu. Aku membuat wajah empat gadis itu yang tersenyum. "Wah, itu gambar yang cantik!" Ujar Lisa.


"Bisakah aku memotretnya Kak?" Ujar Sari.


"Tentu silahkan, ini bisa dianggap sebagai salah satu kenangan kita." Ujarku.

__ADS_1


"Ya, itu benar, aku juga ingin memotretnya." Ujar Lisa, saat itu ia terlihat sangat bersemangat.


Tapi yang membuatku lebih bersemangat adalah, teriakan senang Alya dan Hallin. "Semuanya, ikannya telah masak!"


__ADS_2