
Keinginan terakhir.
Saat itu pukul lima sore saat aku dan Alya pulang dari sekolah. Hal buruknya adalah, leherku telah mengalami kekakuan saat di perjalanan. Saat kami baru saja turun dari sepeda motor, tubuhku tiba-tiba mengalami kekakuan menyeluruh.
Oh! Ya Ampun! Ini buruk!
Segera setelah itu aku kehilangan kemampuan untuk menjaga kesadaranku. Dengan segera aku menyerap energi sekitar secara habis-habisan untuk menjaga tubuhku agar ia tak membusuk.
'Lea. Tubuhku mengalami kekakuan menyeluruh.' Aku mencoba memanggil Alya dengan bertelepati. Begitu ia selesai memarkirkan sepeda motor, ia berbalik dan melangkah ke arahku pelan.
"Aku akan coba alirkan energi ke seluruh tubuhmu. Kamu keluarlah dulu. Tubuh dengan jiwamu di dalamnya akan terasa berat." Alya berbisik.
Aku pun keluar dari dalam tubuh Rini. Dengan segera pembusukan dapat di lihat di bawah mata telanjang. Untungnya, aku dan Alya dapat menahannya. Lalu Alya bergerak secepat yang ia bisa sambil menggendong tubuh kaku Rini. Aku mengikutinya dari belakang.
Saat itu Alya meletakkan tubuh kosong itu di atas tempat tidur. Ia berbalik untuk mengatakan. "Masuklah, kita akan berkomunikasi dengan telepati."
Setelah aku memasuki tubuh Rini sekali lagi, Alya segera berkata, dalam telepati tentunya. 'Ini cukup serius, seharusnya menurut perkiraan ku dan Ibumu, tubuhmu akan mengalami kekakuan menyeluruh pada saat bulan Mei di tahun ini.'
Yah, menurut perkiraan awalku juga demikian. Namun sekarang adalah pertengahan April. Tampaknya tubuh ini pun benar-benar tak dapat bertahan sampai ulang tahun ke dua puluh.
'Aku tau apa yang kau pikirkan. Aku akan kembali ke Kerajaan dan menghubungi Ibu dan Ratna. Dengan bantuan mereka aku akan membantumu mempertahankan tubuhmu agar tidak membusuk.'
'Ya, berhati-hatilah' ujarku. Setelahnya, aku tak dapat merasakan hawa keberadaan Alya.
Aku mulai memfokuskan diri untuk menyerap energi dan menyebarkannya ke seluruh tubuh. Lalu mulai memperbaiki tubuh yang telah rusak. Begitu seterusnya, aku tak yakin itu sudah berapa lama waktu berlalu.
__ADS_1
Yang pasti saat itu, aku memiliki sedikit energi lebih untuk mampu membuka mata. Saat itu ada Hallin dan Ibu di sisi tempat tidurku. Anehnya tidak ada barang-barang Alya. Seolah ia tak pernah hadir di kamar ini.
"I-Ibu..."
Aku melihat ada selang infus yang terpasang di tubuhku. Tapi itu bukan infus biasa. Dalam pandanganku itu adalah selang infus berisi darah. Mungkin ini yang memberiku kelebihan energi. Namun melihat pandangan Ibu dan Hallin, sepertinya yang mereka lihat bukan darah.
"Rin!"
"Kak!"
Ibu segera pergi untuk memanggil seseorang. Aku yang terbaring hanya mampu menggerakkan bagian kepala dan berbicara patah-patah. Karna Ibu meninggalkan kami, aku mulai mengatakan keinginan terakhir untuk peran Rini Ariani.
"Lin. Dengar... Kakak punya buku... Buku itu berisi cerita dewasa... Kakak... Meletakkannya di dalam novel... La-lalu... Di bawah kasur... A-ada kardus... Isinya... Komik de-wasa..."
Hallin memelototi aku karna aku berbicara hal-hal kotor di saat aku sedang tak mampu bergerak. Karna tenggorokanku sudah lama tidak di gunakan. Berbicara terlalu lama membuatku membatukkan darah. Oh, dengan jumlah yang sebanyak itu, seharusnya di sebut memuntahkan.
"Kak!"
'Hallin tenang...'
Mungkin ia terkejut. Bagaimanapun suara telepati yang muncul adalah suara asliku. Bukan suara Rini. 'Tenang ini Kakakmu.'
Hallin menatapku dengan tatapan tak percaya. "Kedipkan matamu jika itu memang Kakak!"
Aku mengedipkan mataku. Hallin semakin tak percaya dengan apa yang terjadi di depannya. 'Hallin tenangkan dirimu. Bantu Kakakmu ini ya. Di dalam deretan novel di sana ada DVD anime Hentai garis keras! Lalu di bawah ada sekotak manga hentai. Ingat yang kotaknya hitam! Lalu di antara novel biasa dan DVD. Ada beberapa novel dewasa. Tolong ambil semuanya tanpa sepengetahuan Ibu! Lalu kamu masuk ke hutan bambu belakang rumah. Kamu masuk ke sana, terus sampai kamu menemukan pondok kayu. Letakkan di sana!'
"Aku tau Kakak mesum, jadi wajar untuk memiliki benda semacam itu. Tapi apa hubungannya dengan hutan bambu?" Ia bertanya dengan mata menyipit.
"Anggap... Saja i-ini keingi-ngin-an... Ter-akhir... Uhuk!" Kali ini aku membatukkan seteguk dara lebih banyak dari sebelumnya.
__ADS_1
Wajah penuh kecurigaan Hallin berubah menjadi sangat khawatir. "Oke! Akan aku lakukan! Kakak jangan bicara lagi!"
Aku memberikan senyuman. Mungkin ini adalah senyuman pertama dan terakhir dari Rini Ariani dalam benak Hallin. Ini juga senyuman pertama yang tidak robek sejauh ini. Senyum yang aku berikan adalah senyum puas yang bercampur senyuman bahagia.
"Ka-Kakak!" Tampaknya ia terharu melihat senyumku. Gadis muda itu menangis keras sembari memelukku.
Tak lama Ibu datang dengan Ayah. Aku mencium bau si Kembar. Namun tampaknya mereka tak berniat untuk memasuki kamar. Ibu menepuk punggung Hallin. Lalu Hallin di tarik agar ia menjauh dari tubuhku.
"Rin... Kamu sebenarnya sakit apa sih Nak..." Ibu ikut menangis bersama Hallin. Bedanya Hallin menangis haru, sedangkan Ibu menangis lara.
Ayah berpura-pura memeriksa kondisiku. Aku mulai bertelepati. Kali ini kepada Ayah dari Rini. 'Wahai keturunan ke tiga Arya Jaya Wisesa. Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri.'
Ada keterkejutan di mata Ayah. Ia menatapku dengan tatapan terkejut sekaligus lebih hormat. Bibirnya bergerak membisikkan kata. Namun dengan Indra pendengaranku, aku dapat mendengarnya dengan mudah. Ia membisikkan kata. "Anda sudah mengingat siapa diri Anda?!"
Aku mengedipkan mataku. Lalu bertelepati lagi. 'Ya, aku sudah mengingat semuanya. Mungkin karna tubuh Putrimu sudah mencapai usia yang di tentukan.'
Itu bukan omong kosong. Aku ingat semuanya. Sejak aku mampu membukakan mata hari ini. Aku mengingat semuanya. Ingat dengan Anak muda yang menyelamatkan aku dari kesulitan. Ingat tentang aku yang mengumbar janji akan membantu Anak muda itu dengan seluruh keturunannya satu kali sebagai bentuk balas budi.
Anak muda itu adalah Arya Jaya Wisesa. Kakek buyut dari Ayahnya Rini Ariani. Tak lama aku melihat Ayah menganggukkan kepalanya sembari membisikkan kata berikutnya. "Ini adalah dini hari. Istriku merasa kalau Rini akan pergi. Begitu pula dengan Hallin. Pagi ini adalah hari kemerdekaan republik Indonesia sekaligus hari kelahiran Rini Ariani."
Aku menghela nafas lega. Bukankah itu artinya lengkap sudah usia jasad mati ini dua puluh tahun? Sudah waktunya untukku menepati janjiku pada Ibunda kerajaan Lakeswara saat itu. Apa janjinya? Tidakkah kalian ingat? Tentu saja membuat anak! Lalu melahirkan Macan hitam penerusku kelak!
Aku menutup mataku. 'Tabahkan hati Istrimu. Sudah waktunya untukku pergi. Sudah sepantasnya pula jasad Putrimu ini di kuburkan. Ia sudah menderita selama dua puluh tahun, kuburkan ia dan beri ia kedamaian.'
Bersamaan dengan itu aku menghentikan semua kerja organ dalam Rini Ariani. Dan membuatnya seolah benar-benar mati. Lalu aku keluar dari jasad yang telah mati itu. Namun aku masih mempertahankan kondisi mayat itu agar ia tetap seperti sebelumnya, tanpa ada pembusukan. Jika aku benar-benar melepaskan diri sepenuhnya dari tubuh itu. Tubuh itu akan membusuk dan mengecil, sebagaimana kondisi ia mati sembilan belas tahun yang lalu. Itu sebabnya aku akan tetap mempertahankannya hingga Rini di kuburkan.
"Bagaimana?" Ibunya Rini bertanya kepada Suaminya.
"Semuanya telah selesai." Aku dapat melihat ekspresi Ayah Rini yang tersenyum miris. Ada kesedihan dalam menyangkut di sepasang matanya. Ternyata ia juga menyayangi Rini. Kepergian dan berhentinya aku dari bermain peran membuatnya sedih. Aku bahkan dapat merasakan hati semua orang terasa berat.
__ADS_1