
Chapter spesial 2
'Mengunjungi teman lama 2'
Kami sudah mengunjungi ketujuh temanku. Kini yang tersisa hanya Yesie. Namun karna aku banyak meninggalkan pekerjaanku di ruang kerja istanaku, aku tak bisa mengantar Lea terburu-buru. Ku pikir aku harus menyelesaikan seluruh pekerjaanku lebih dulu.
Tapi kucing abu-abu bermata almond itu terus saja berguling-guling di lantai. Ia mengamuk ingin bertemu Yesie. "Sabar ya. Sebentar lagi ini selesai."
"Aaaa... Sejak tadi kamu bilang begitu terus Raj! Aku mau ke tempat Yesie! Aku mau ketemu Yesie!" Kucing hutan dengan bulu abu-abu dan perut menggembung itu masih saja merengek marah.
Aku agak senang karna Ibunda dan Ratna tidak ada di istana sekarang. Jika mereka di sini mereka pasti akan menendang ku hingga aku memenuhi keinginan Lea. "Hap! Aku akan menggigit kepalamu sampai kamu mau mengantarku."
Lea yang berada dalam bentuk kucing hutan manaiki kursiku dan menggigit kepalaku. Namun itu tidak bisa di bilang menggigit juga, karna ia hanya menutupi kepalaku dengan mulutnya yang terbuka lebar. "(´-﹏-`;) Sabar ya, Ratuku."
"Grrr..." Ia hanya menggeram seperti kucing hutan. Sepertinya Lea telah kesal. Aku mulai menyelesaikan dua tugas terakhir dengan gerakan kilat.
"Sudah selesai, ayo lepaskan kepalaku dan kita pergi." Aku berujar pelan agar tidak menyakiti perasaannya lagi.
Dengan segera ia melepaskan gigitannya dari kepalaku. Lalu berubah ke bentuk Alya Perwita. Aku menggendongnya ala pengantin lalu membawanya ke rumahku yang ada di dunia manusia. "Kita ganti baju dulu ya?"
"Oke!" Lea terlihat sangat senang dengan senyuman yang lebar. Saat aku meletakkan Lea di tepi tempat tidur, aku membuka lemari pakaian. "Mau pakai baju warna apa? Yang mana dan motif apa?"
Aku harus bertanya sebelum mengambilnya. Jika tidak, Lea akan merengek sambil menggigit tanganku. Lalu mencambukku dengan ekor silumannya. Belakangan ini moodnya terlalu mudah turun. "Aku mau pakai yang itu!"
Lea menunjuk ke salah satu dress yang panjangnya selutut, warnanya maroon dengan kerah bundar berwarna putih. Ada sebuah ikat pinggang putih terpasang longgar di bagian pinggang. Aku mengambilnya dan memberikannya kepada Lea. Ia tidak mengambilnya dari tanganku. Aku kebingungan, apa yang dia inginkan?
__ADS_1
"Pakaikan." Ia berujar sambil mengangkat tangannya.
"Kenapa tidak di pakai sendiri?" Segera setelah aku berujar demikian, Lea mengeluarkan ekor kucing Hutan miliknya. Itu di cambukkan ke kanan dan kiri. Lalu mata coklat Lea berubah ke hijau almond. Ia menatapku dengan mata menyipit. Aku segera paham maksudnya. Dengan segera aku memakaikan pakaian tadi setelah membuka pakaian kerajaan.
Bukannya aku takut kepada Lea, aku hanya takut terlalu banyak marah akan membuat kesehatannya memburuk. Tubuhku ini, bahkan jika di cambuk dengan ekor ular atau di tendang gajah siluman juga masih baik-baik saja. Mungkin hanya sedikit tergores saja. Apalagi bila di cambuk dengan ekor siluman kucing hutan, meninggalkan bekaspun tidak.
Setelah mengisi perut Lea sejenak, kami pergi menggunakan mobil. Karna Yesie guru biologi di desa Lepamala, dan juga tinggal di desa, maka kamipun harus menyusul ke desa. Yesie tidak tinggal di rumah Ayahnya, ia menyewa sebuah kontrakan kecil untuk tinggal. Itu agar lebih dekat dengan sekolah. Ini adalah hari Sabtu. Dan hari ini masih pukul sepuluh pagi. Menurut penuturan Hallin, Yesie di rumah setiap hari Sabtu. Lalu setiap hari Minggu ia akan menyempatkan diri untuk mengunjungi Ayahnya yang sudah tua.
Saat mobil sudah terparkir di depan rumah biru muda. Lea dengan bersemangat mengetuk pintu depan. Saat aku turun dari mobil, pintu depan sudah terbuka.
"Yesie! Ini aku! Alya!" Lea berujar dengan penuh semangat.
Yesie tersenyum melihatnya. Lalu ia menatapku dari atas sampai bawah. "Em, aku suaminya. Salam kenal, aku Rein Ambarawa. Panggil aku sesukamu saja."
"Maaf ya, aku sedang hamil, jadi Rein memaksa ikut. Aku tidak bisa pergi sendirian." Lea segera menjelaskan, karna sepertinya Yesie tidak menyukai kehadiranku. Mungkin karna aku laki-laki?
Yesie tidak menjawab, tapi aku tau jawabannya adalah ya. Tapi aku masih merindukan dia sebagai teman! Selagi dua wanita itu memasuki rumah, aku memasuki mobil. Aku ingin mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku harus memikirkan sesuatu.
"Meong.."
Aku mendengar seekor kucing mengeong di sisi pintu mobil. Ah benar juga, aku kan siluman! Di tambah lagi rupa macanku menyerupai kucing hitam. Yah, sedikit penyamaran tidak apa-apa.
Aku berubah ke bentuk macan hitam yang badannya di sesuaikan hingga seukuran kucing. Aku saat ini sedang duduk di jendela mobilku yang terbuka sembari mengintip di spion mobil. Meski mirip, aku ragu apakah itu benar-benar mirip? Tidak begitu mirip. Meski secara keseluruhan tubuhku di tutupi bulu hitam, masih ada bintik-bintik khas milik macan tutul. Tapi aku tidak bisa menunda lagi! Aku sangat ingin tau apa yang dua wanita dewasa itu bicarakan.
Aku melompat ketanah, lalu melangkah dengan empat kakiku memasuki rumah Yesie. Aku mengintip sebentar di pintu, sepertinya mereka tidak ada di ruangan pertama. Ruangan pertama hanya berisi sepeda motor. Aku melangkah pelan memasuki ruangan ke dua. Di sanalah dua wanita itu berbincang. Aku mengintip mereka sekaligus menguping pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Aku jadi ingat kalau saat di masa sekolah dahulu, kamu memanggil Arian dengan sebutan Rein. Lalu nama suamimu juga bernama Rein. Sejujurnya itu membuatku curiga." Yesie menyeruput teh dengan potongan jeruk lemon di dalamnya. Lalu Yesie duduk di tempat duduk yang posisinya membelakangiku, sehingga aku tak dapat melihat bagaimana ekspresinya selanjutnya.
"Ahh, itu ya? Hm... Sebenarnya, Rein tanpa memakai kerudung itu agak mirip dengan Reindra suamiku. Jadi aku tanpa sadar memanggilnya demikian. Yah, meski Reindra di masa lalu bukan suamiku, tapi kami sempat dekat sebelum aku pindah. Memangnya apa yang membuatmu curiga?" Ibu hamil bertanya dengan rasa ingin tahu.
"Karna aku ini indigo, aku dapat merasakan aura kehadiran setiap orang. Setiap orang memiliki aura kehadiran berbeda-beda. Namun anehnya, Suamimu dan Arian memiliki aura kehadiran yang hampir sama. Perbedaan yang mereka miliki sangat tipis. Umumnya itu hampir mustahil terjadi." Ujar Yesie dengan tenang.
Lea hanya mengangguk-angguk, ia juga tau mengapa alasan Yesie berujar demikian. Lalu ia mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana dengan kekasihmu? Di usia ini setidaknya kau memiliki seseorang yang kau sukai bukan?"
Aku tak dapat melihat ekspresi Yesie tapi sepertinya ia tersipu, aku yakin itu. "Ahaha... Ada sih..."
Ada nada canggung dalam kalimatnya, ia segera menjawab. "Itu adalah tetangga dari rumah Ayah. Selagi aku tidak ada, dia menjaga Ayahku sembari berkerja. Dia adalah apoteker di daerah itu. Tapi status kami saat ini hanya dekat saja... Kami tidak berpacaran."
Hahaha, aku sangat-sangat yakin gadis itu tersipu dengan wajah yang berwarna merah jambu. Aku segera bertelepati kepada Lea. 'Jangan lupa, suruh dia undang kita kalau-kalau dia menikah!'
Saat itu juga aku melihat Lea menatapku. Ia mengangguk pelan sebagai jawaban. "Kalau kamu menikah nanti, jangan lupa undang aku ya."
Aku melihat Lea mengedipkan sebelah matanya kepada Yesie. "Kamu ini..."
Suara Yesie di penuhi nada canggung dan malu-malu. Lalu Yesie berujar lagi. "Tapi aku pasti mengundangmu. Kamu bahkan bisa membawa anakmu saat itu."
Tiba-tiba aku mencium aroma makanan enak dari dapur Yesie. "Oh, tunggu sebentar ya, sepertinya itu sudah masak."
Aku ingin tau 'itu' apa yang di maksud Yesie. Dari aroma yang bercampur dengan uap air di udara, sepertinya itu makanan kukus. Tak lama Yesie datang dengan dua piring berisi pangsit kukus di atasnya. "Makanlah, kamu bisa mengajak suamimu."
Aku sangat menginginkan itu!
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan memanggilnya." Lea berujar dengan senyuman.