
Ibu Revisi
Ini adalah hari Minggu pagi yang cerah, akhir pekan yang menyenangkan. Namun ini juga menjadi hari yang sama beratnya dengan hari biasa bagiku. Hari ini adalah hari memandikan kucing. Biasanya aku akan memiliki garis berdarah baru di tubuhku, pada setiap akhir Minggu.
"Kucing-kucing... Haih... Kemana mereka... Mengapa aku tidak menemukan mereka di manapun?" Aku menggaruk-garuk kepalaku karna kesal.
"Kak jangan khawatir... Aku akan memanggil mereka." Adikku berbicara dengan bangga.
Aku berkata sinis. "Apa yang kau bisa hah?"
Hallin tersenyum mencurigakan, ia mengambil plastik hitam di kakinya. ******* ***** hingga mengeluarkan suara gemerisik. Tak lama kemudian derap kaki kucing bermunculan dari segala arah. Tujuh peliharaanku datang di saat yang bersamaan. Hallin menyunggingkan senyum bangga.
Aku mendecih kasar dan menggendong anak kucing ke kamar mandi. Adikku membantu membawakan sisanya. Awalnya aku ingin Adikku membantu, tapi setelah terciprat air beberapa kali kemeja tipisnya melekat pada tubuhnya. Dan lagi Adikku memiliki tubuh yang lebih cepat tumbuh dari orang seusianya. Kalian mengerti maksudku bukan?
Kemeja itu melekat ke tubuhnya hingga bagian dada, pinggang, panggul, terbentuk. Di tambah lagi bentuknya itu loh! Sangat indah...
"Kakak jangan melamun... Hei sadarlah..."
Aku menggelengkan kepalaku, lalu berkata pada Hallin. "Lin, bermainlah di luar, aku akan mengurus anak-anak kucing sendirian."
"Tapi kata ibu..." Aku segera mendorong Hallin keluar kamar mandi. Mana bisa aku berpikir jernih jika melihat penampilannya yang seperti itu.
Aku melihat Ayah yang memberi makan pada burung beo hitam di dapur. "Ayah, beri tau Hallin agar jangan menyulitkan ku."
"Tapi Kak... " Hallin mencoba menolak dorongan ku.
Aku menatap Ayah yang menatap kami. "Aku yakin Ayah pasti mengerti."
Ayah melirik aku dan Hallin, ia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Hallin, kemarilah."
Aku menghela nafas lega...
Lalu segera memasuki kamar mandi dan menguncinya agar anak-anak kucingku tidak kabur. "Dengar, jika kalian menolak untuk mandi, aku tidak akan memperdulikan kalian lagi mengerti?!"
__ADS_1
Kucing-kucing tampak panik saat aku berkata demikian. Namun Virong si kucing kecil berwarna hitam itu tampak tenang. Yah, aku salut sih, dia selalu terlihat lebih dewasa dibanding kucing lainnya. Baiklah kegiatan memandikan kucing berjalan lancar.
Saat aku membawa kucing-kucing keluar kamar mandi, Ibu berkata padaku. "Rin ada teman-temanmu datang, katanya ingin bermain. Jangan terlalu kaku Nak, bermainlah dengan mereka."
Saat aku berjalan menuju ruang tamu, Hallin sedang berbincang ria dengan Iqish dan Rinmie. "Benarkah? Memang aku juga paling suka Kakakku, suhu tubuhnya yang rendah paling enak di peluk saat musim panas"
Aku tidak dapat mendengar apa yang di katakan mereka lebih lanjut. Tapi anak-anak kucing di belakang kakiku masih harus ku urus supaya tidak kedinginan. "Ayo jangan berisik ya.. kita lewat pintu samping."
Aku menggendong Bayi-bayi kucing yang berumur 3 bulan di pelukanku. Virong di kepalaku, dan Eby serta Tampu si Ibu kucing di pundak kanan dan kiriku. Baiklah, dengan begini tidak ada anak-anak kucing yang akan kotor lagi, bahkan jika ia keluar untuk berjemur.
Dengan mengendap-endap perlahan, aku berhasil melewati tiga gadis menyebalkan yang berpotensi mengganggu hariku. "Anak-anak jangan berisik ya, kita akan berjemur bersama sama dalam posisi ini. Jangan melompat atau turun, jika tidak aku tidak akan mempedulikan kalian lagi, oke?"
Kucing kucing itu tampak mengerti apa yang aku katakan. Mereka mengeong pelan sebagai persetujuan. Aku memiliki kulit yang dingin dan lembab, berjemur di bawah matahari pagi adalah salah satu hal yang ku sukai. Para kucing pun sepertinya begitu.
Perasaan nyaman membuatku terlena hingga mataku terpejam. Aku kembali membuka mata saat suara kamera telepon berbunyi berulang ulang kali. "Dek, Hallin Kakakmu di mana sih... Ini juga siapa Anak ganteng ini? Pacarmu ya dek? Uuuh gemes... mana suka sama kucing pula."
Iqish dan Rinmielah yang memotretku. Cahaya flash dari kameranya membuat mataku terasa tidak nyaman. Hallin berkata dengan gugup pada teman-temanku. "Sebenarnya ini Kakakku."
"Hah! Kak Rin mana mungkin jadi ganteng begini?" Iqish menatapku tak percaya.
Wajar sih pertumbuhanku lambat, rambutku tidak bertumbuh sejak di potong terakhir kali. Rambutku masih sama, pendek dan sedikit berantakan. Potongannya yang serupa dengan potongan rambut lelaki membuat beberapa orang keliru mengidentifikasikan aku sebagai laki-laki atau perempuan. Dadaku juga terbilang kecil untuk gadis berumur 18 tahun. Jika di bandingkan dengan Hallin, mungkin miliknya lebih besar.
Aku sih berharap begitu. Tapi tubuhku memang tubuh perempuan tulen. "Jangan ngaco kalian, aku perempuan kok."
Yah, dalam penampilanku yang sekarang di tambah suaraku yang serak, aku yakin Iqish dan Rinmie meragukan aku. "Ngga percaya? Kamu mau aku buka celana ?"
Iqish tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Kalau Rinmie seperti biasa dia hanya mendengus kesal. Hallin tertawa canggung, aku tidak mempedulikan mereka. Aku membawa kucing-kucingku memasuki rumah.
"Kakak memang seperti itu Kak, jangan di masukkan ke hati ya, cuma Ibu yang bisa membuatnya tunduk."
Aku mendengar perkataan itu. Yah, yang dikatakan Hallin itu benar, di dunia ini aku hanya sekedar hormat kepada semua orang. Itu pun hanya hormat standar, aku memperlakukan semua orang hampir seperti orang asing. Kecuali keluarga dan beberapa teman. Kalau dengan Ibu, Ibu dalam hatiku adalah seorang Ratu yang sangat aku hormati dan ku junjung tinggi. Dia juga sosok hebat di mataku, sosok yang satu-satunya ku berikan cinta di hatiku padanya.
"Rin, anak-anak kucing sudah mandi ya?"
"Sudah kok." Aku membawa semuanya untuk memberi mereka makan.
Ibu sedang memotong-motong bahan makanan untuk memasak. Ia akan memasak makan siang. Ibu bertanya dengan nada lembut seperti biasanya.
__ADS_1
"Rin, mengapa kamu tidak menemani teman-temanmu? Apa mereka sudah pulang?"
"Ada Hallin yang menemani mereka berbicara." Entah mengapa aku mendengar ada rasa kesal dalam suaraku.
"Rin... Ibu tau kamu selalu sulit bersosialisasi dengan orang lain. Ibu tau kamu juga sulit memiliki teman. Tapi kamu harus tau jika mereka yang datang kepadamu, mungkin saja kalian akan menjadi teman yang baik. "
"Ku harap begitu, tapi aku tidak berharap banyak. Dengan aku yang membosankan mana mungkin mereka ingin berteman denganku." Yah, seperti itulah analisis umum yang kudapatkan. Orang-orang yang mendekatiku hanya sekedar tertarik untuk melihatku lebih dekat, karna tubuhku yang aneh.
Ada beberapa kali aku di kucilkan karna tubuhku yang aneh. Mereka menyebutku Zombie girl. Aku tidak peduli dengan sekitar, atau bagaimana orang-orang menganggapku. Namun Ibuku peduli, ia selalu mencoba yang terbaik untuk membuatku nyaman. Namun dia tidak tau aku hanya merasa nyaman saat sendirian.
"Sana temui temanmu, jangan membuatnya menunggu." Ibu tersenyum padaku sebagai bentuk dukungan.
Aku hanya bisa pasrah kembali ke pintu depan. "Sebenarnya apa mau kalian? Mengapa datang di hari Minggu?"
Iqish tersenyum senang. "Kami ingin mengajak Kakak pergi bermain, mari kita pergi bersama!"
Aku menghela nafas. "Aku tidak bisa mengendarai sepeda motor." ujarku dengan suara berbisik.
"Apa?" Rinmie yang bertanya.
"Kakakku tidak bisa mengendarai sepeda motor. Biasanya yang membawanya berpergian itu aku atau Ibu. Lagi pula aku tidak yakin apakah Ibu akan mengizinkan dia pergi." Hallin membantuku menjelaskan.
"Kalau begitu biar Hallin yang membonceng Kak Rin." Ujar Iqish.
"Kalau begitu biar aku tanya pada Ibu terlebih dulu." Ujarku.
Mendengar permintaanku, Ibu tampak berpikir sebentar. Ibu kemudian berkata. "Boleh, tapi jangan terlalu jauh dan harus sudah pulang sebelum jam 5 sore. Bawa perban dan benang jahit ekstra, lalu kamu harus membawa makanan sendiri. Untuk makan siang ini, Ibu akan buatkan yang cepat untukmu."
Aku mengangguk kemudian memanggil Hallin atas perintah ibu. Aku berjalan ke lemari di ruang keluarga. Mengambil paket perban benang jahit dan beberapa plester. Lalu aku kembali ke ruang tamu yang berdekatan dengan kamarku.
"Kita mau kemana dulu nih? Ibu bilang aku boleh ikut, tapi harus membawa makan siang. Dan harus pulang sebelum jam 5 sore."
Iqish tersenyum senang seperti biasanya. "Lagi pula kita memang akan pergi berpiknik bersama. Nanti kita mampir ke kosku dulu untuk mengambil perlengkapan lebih."
"Kalau begitu aku akan mengganti pakaianku." Ujarku sambil memasuki pintu kamar.
"Kak, apa itu yang ada di tanganmu?" Rinmie bertanya dengan rasa ingin tau.
__ADS_1
"Seperti yang kau lihat, ini perban, plester dan benang jahit. Jika kau ingin tau apa kegunaannya, aku yakin Iqish bersedia memberi taumu." Aku tertawa kecil saat memasuki kamar.
Terakhir kali aku berpergian, telapak tangan kananku lepas dan Ibu harus menyuapiku seharian hingga lukanya kembali tersambung. Kurasa Ibu pun sebenarnya tidak mengizinkan aku pergi. Tapi karna suatu alasan yang tidak aku ketahui, ia malah menyetujuinya.