
Rahasia mengenai tubuhku Rev
Sampai saat ini, aku masih tidak dapat melupakan macan tutul misterius. Ibu mengetuk kepalaku dengan buku jarinya. "Jangan melamun, pegangi tanganmu dengan benar. Hallin juga, jangan goyang-goyang, nanti jahitannya tidak sesuai dengan posisinya."
Arvid si adik kembar ku yang tertua, sedang membantu memegangi benang. Hallin membantuku memegang sebelah tanganku yang lepas. Ibu membantuku menjahit tanganku yang terlepas. Sementara Ayah dan Anwar berdiri di belakangku dengan tatapan penuh rasa bersalah.
Saat tanganku selesai di jahit. "Kau tidak di perbolehkan bersekolah sampai tangan kirimu tersambung kembali!"
Aku, Ayah dan Anwar. Duduk bersama di depan Ibu. Ibu berkata dengan nada berang. "Mulai sekarang jangan pernah mengajak Rin memancing lagi! Hari ini yang putus cuma tangannya. Gimana kalau besok yang putus separuh badannya?! Pokoknya Ibu ngga suka!"
Ayah berbisik padaku dan Anwar. "Ayo kita minta maaf barengan." Bisiknya.
Aku dan Anwar mengacungkan jempol. "Kenapa kalian?! Berbisik di belakangku?!"
Ibu yang marah sangat menakutkan di hati kami. Bahkan untuk Ayah, yang sudah menjadi suaminya sejak lama. Dengan hitungan dari bisikan Ayah, kami yang tadinya duduk di lantai sedikit membungkuk, kemudian. "Kami minta maaf Yang Mulia Ratu."
Ibu mendengus kesal. "Hmph! Awas saja kalian! Kalau mengajak Rin memancing lagi! Hallin, pantau mereka, lapor kepada Ibu jika ada Anwar yang membawa pancing ke arah Kakakmu!"
"Baik Bu!"
Ibu tampak marah dan khawatir. Aku memeluk Ibu dengan sebelah tanganku yang baik-baik saja. "Ibu jangan Khawatir. Aku baik baik saja. Lagi pula aku tidak merasakan rasa sakit seperti yang Ibu pikirkan."
"Ibu tau, tapi tetap saja! Itukan bahaya! Jika tanganmu tidak di temukan di sungai, bagaimana?" Ku lihat ibu hampir menangis, seolah mengingat sesuatu yang membuatnya sedih.
"Sungguh, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan menyentuh alat pancingan lagi."
"Benar ya? Janji sama Ibu ya?" Aku menganggukkan kepalaku.
Ibu memelukku cukup lama, hingga akhirnya melepaskan ku. Ibu sangat menyayangiku. Setiap aku datang dengan luka baru di tubuhku, Ibu akan memarahiku dengan wajah yang seolah takut kehilangan. Aku tidak tau mengapa Ibu selalu begitu. Apakah ada rahasia di balik kelahiranku?
__ADS_1
.....
Saat malam tiba aku bercerita kepada Ayah, tentang Macan yang ku temui di hutan. Ayah sedang berada di ruang kerjanya saat itu. "Ayah? Ayah tidak sibukkan?"
Ayah menoleh kepadaku, kemudian memintaku duduk. "Tidak kok, ingin bercerita ya?"
Aku menganggukkan kepalaku. Ayahpun duduk di sebelahku. Ayah mengambil teh yang di siapkan Hallin untuknya, lalu menyesapnya perlahan. "Silahkan bercerita." Ujarnya.
"Saat mengejar tanganku di tepian sungai, aku melihat seekor macan tutul."
Saat aku mengatakan kata 'macan tutul' Ayah menyembur tehnya ke depannya. "Ayah baik-baik saja?"
Wajah Ayah tampak tegang dan pias. Ayah meletakkan tehnya di meja, kemudian mencengkram bahuku dengan cukup keras. "Ayah, jika Ayah mencengkeram bahuku terlalu keras, jahitan tanganku bisa terlepas lagi."
Seakan tersadar Ayah melepas cengkeramannya segera. Kemudian Ayah mencoba menenangkan dirinya dengan beberapa helaan nafas panjang. "Katakan berapa usiamu sekarang?"
Alih-alih bertanya mengenai macan yang kutemui, Ayah malah bertanya tentang usiaku. "Jika tidak salah, usiaku akan menjadi 19 tahun saat Agustus nanti."
Seakan nafasnya di kembalikan kepadanya, Ayah tersenyum lega. Melihat tingkah Ayah aku yakin ada yang di sembunyikannya. "Apakah Macan itu melakukan sesuatu kepadamu?"
Ayah tampak meneguk ludah, sepasang matanya diliputi ketakutan. "Apapun yang terjadi kamu jangan pernah ke hutan itu lagi. Oke? Berjanjilah kepada Ayah."
Mengapa Ayah tiba tiba melarangku? Biasanya ia akan menyetujui keinginanku. Apa yang sebenarnya Ayah sembunyikan tentangku?
"Tapi... "
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, Ayah berkata dengan nada tegas. "Tidak ada tapi! Ini demi Ibu oke? Setidaknya demi Ibumu, jangan pernah melangkahkan kaki ke hutan itu lagi."
Saat aku menganggukkan kepalaku, Ayah terlihat lega. "Kamu sudah berjanji kepada Ayah, maka kamu harus menepatinya."
Percakapanku dengan Ayah berakhir dengan pertanyaan besar di kepalaku. Aku memiliki banyak kecurigaan mengenai diriku, yang sepertinya di sembunyikan Ayah. Apa sebenarnya yang di sembunyikan Ayah?
Rasa ingin tau membuatku tidak bisa tidur semalaman. Aku menunaikan sholat subuh dengan tubuh yang kelelahan. Ku kira itu seharusnya karna tidak bisa tidur. Untungnya, aku tidak sekolah hari ini. Ah, aku jadi merindukan gadis itu. Siapa namanya? Sie... Yesie 'kan? Namanya mengingatkanku kepada Sisie.
__ADS_1
Karna aku tidak sekolah, hanya aku dan Ibu yang berada di rumah. Aku tidak di izinkan melakukan apapun sampai tangan kiriku membaik. Ibu membiarkan aku menonton televisi, dan bermain bersama anak-anak kucing.
Aku merasa sedikit bosan sebenarnya, di tambah lagi, aku tiba-tiba ingin mengetahui alasan tubuhku yang rapuh ini. Ibu duduk di sisiku saat semua pekerjaan rumah selesai.
"Ibu, bolehkah aku bertanya?"
Ibu menatapku, kemudian tertawa. "Tentu saja boleh, silahkan ingin tanya apa?"
"Kentang masa kecilku dan hari lahirku. Bolehkah aku mendengarnya dari mulut Ibu? Sebisa mungkin jangan merahasiakannya sedikitpun, aku benar-benar ingin tau Bu!"
Wajah Ibu tampak sedih saat aku bertanya. Tangan kanannya bergerak untuk mematikan televisi. Kemudian ia mendekat ke arahku. Ibu mendekapku dalam pelukannya yang hangat. Ibu menggunakan tangannya untuk mengusap kepalaku.
"Kamu seperti bayi kecil lainnya, terlahir normal dan sehat. Bahkan pertumbuhanmu terbilang cepat dan aktif di bandingkan bayi lainnya." Aku melihat senyum senang di wajah Ibu.
"Lalu mengapa aku menjadi seperti ini?"
Ibu menatapku dengan tatapan sendu. "Sampai, kamu berusia sekitar empat atau lima bulan. Kamu sakit parah, bahkan Ayahmu yang seorang Dokter juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ibu panik sekali, Ibu takut kehilanganmu."
Air mata Ibu mulai tergenang di bola matanya. Ibu mengatur nafasnya yang mulai sesak. "Sampai.. " Ibu mulai meneteskan air mata.
"Sampai detak jantungmu berhenti. Ibu panik sekali saat itu. Ibu merasa, Ibu hampir gila. Ibu sangat yakin bahwa kamu masih hidup, tapi orang orang mengatakan bahwa kamu sudah tiada. Ibu benar-benar tidak ingin kehilanganmu yang saat itu masih bayi. Terlebih kamu adalah Anak pertama Ibu." Ibu mengusap air matanya yang sesekali meluncur di pipi mulusnya.
"Ibu tidak ingin melepaskan mu. Tidak peduli seberapa banyak orang yang mencoba membujuk Ibu. Bagi Ibu, kamu akan selalu hidup. Orang-orang mengatakan bahwa Ibu sudah kehilangan kewarasan Ibu. Bagi Ibu merekalah yang tidak waras." Ibu kembali memelukku cukup erat.
"Ibu tidak ingin kehilanganmu, mereka berkata bahwa kamu telah mati dan akan menguburkan mu. Ibu sangat panik! Ibu memelukmu erat dan tidak ingin orang-orang itu mengambilmu dari pelukan Ibu."
"Lalu bagaimana kelanjutannya?" Tanyaku.
"Sampai Ayahmu mencoba membujuk Ibu. Saat itu Ibu ingat sekitar pukul sembilan malam. Bertepatan dengan malam Jumat. Ayah membujuk Ibu, berkata bahwa Ayah akan membawa tawamu kembali ke sisi Ibu." Ibu mengusap wajahku yang dingin.
"Kemudian Ibu membiarkan Ayah membawamu ke tempat yang Ibu tidak ketahui. Yang Ibu tau, Ayah berjalan sambil menggendong mu menuju Hutan di belakang rumah. Malam itu purnama bersinar sangat terang. Hutan di belakang rumah yang biasanya sepi, di penuhi oleh Geraman binatang buas. Ibu sangat menghawatirkan mu dan Ayahmu." Ibu mengusap air matanya lagi.
"Ibu terus menunggumu dan Ayahmu kembali. Ibu tidak tau apa yang Ayahmu lakukan padamu di hutan itu. Saat Ayah memberikan tubuhmu kepada Ibu. Matamu yang biasanya tertutup terbuka saat itu. Ayah bilang dia akan membawa tawamu ke rumah ini. Namun sejak saat itu kamu tidak pernah tertawa atau menangis. Kalaupun kamu menangis, tangismu selalu senyap. Begitulah yang Ibu ingat. Ibu benar-benar menyayangimu, dan takut kehilanganmu. Jadi jangan berbuat macam-macam, patuhilah apa yang Ibu katakan padamu." ujar Ibu dengan wajah yang ingin menangis.
__ADS_1
Aku memeluk Ibu sambil sesekali menepuk punggungnya. Ibu hanya mengatakan sedikit hal. Itu artinya jika ingin mengetahui alasan mengapa tubuhku seperti mayat, aku harus mendengarnya dari Ayah secara langsung. Ayah tentunya tidak akan mengatakan apapun. Dan satu kalimat Ibu membuatku tertarik.
Ibu sempat mengatakan sesuatu mengenai hutan di belakang rumah ini. Di tambah dengan reaksi Ayah yang berusaha melarangku ke hutan itu, aku yakin rahasia mengenai tubuhku seharusnya ada di hutan itu. Jika ada kesempatan, aku harus pergi ke hutan itu untuk mencari tau.