
Rubah dan kelinci.
Padang ilalang hijau berdesir di tiup angin. Dinginnya angin yang berhembus tak mampu mengusik kami. Sepasang binatang buas yang makan bersama menatap bulan. Bagiku ini tak lebih sebagai perayaan atas perburuan kami yang berhasil menangkap mamalia besar seperti anak kerbau dan seekor jerapah. Tapi ini sangat berarti untuk Calya. Aku tau dari cara dia menatapku.
Dari buku tebal yang ku baca, Kaum Siluman adalah Binatang yang berpikiran cerdas seperti halnya manusia. Berbeda dengan binatang biasa yang hanya tau makan, bermain, kawin dan tidur. Maka dalam hukum kerajaan siluman, tidak di perbolehkan membunuh sesama Siluman. Jika itu berburu binatang biasa, maka di perbolehkan.
"Malam masih panjang, kemana kau ingin pergi setelah ini?" Aku bertanya untuk jeda sesaat setelah mengunyah daging merah.
"Mari berjalan-jalan ke desa siluman yang ada di sana!" Calya menunjuk arah Timur yang berada jauh dari rumah ataupun kerajaan.
"Kau yakin?"
Jawabannya adalah anggukan dari kepala abu-abu itu. Lalu aku menjawab "Baiklah mari kita selesaikan makan malam kita. Lalu pergi bersama."
Calya baru saja menelan daging yang baru saja ia koyak dari tubuh anak kerbau. "Apanya yang makan malam? Kita ini baru sarapan. Binatang nokturnal memulai hari setelah gelap, kau tau."
Aku hanya mengangguk-angguk saja. Lalu mengunyah makananku lagi. Meski tidak seenak makanan yang di masak, kepuasan dari hasil perburuan ini cukup menyenangkan. Teringat olehku satu hal. Lalu kutanyakan itu. "Kau bilang kau tidak suka di perintah oleh orang yang lebih muda, jika Ibu terlalu muda untukmu maka berapakah usiamu?"
Ia mengerutkan dahinya dan berkata dengan nada tidak suka. "Hei, menanyakan usia pada seorang wanita itu tidak sopan tau. Tapi karna kau adalah suamiku, akan ku jawab pertanyaan itu. Usiaku hampir empat abad."
"Hmm... Lalu bagaimana dengan usiaku?" Aku bertanya dengan rasa ingin tau.
"Hm.. mungkin sekitar empat atau lima abad." Ujarnya.
__ADS_1
Aku hampir tersedak oleh makananku sendiri saat ini. Setua itukah Aku? Seolah memahami keterkejutanku, Calya berkata. "Kau tidak setua yang kau bayangkan. Di dunia siluman penampilanmu itu paling-paling baru memasuki awal tiga puluh, jika di bandingkan dengan manusia."
Aku kembali mengunyah daging jerapah ini. Lalu bertanya satu hal lagi. "Lalu... Em... Apakah kita... Punya Anak?"
Kucing hutan itu mendekatiku, lalu menjilati bibir dan kumisku. "Tidak sayangku, kita baru saja menikah belum lama ini. Tapi kita pernah berpacaran sangat lama. "
Aku hanya terdiam saja. Lalu menelan makananku dalam keheningan. Karna ingatanku yang di segel oleh diriku sendiri, aku tak mampu mengingat banyak hal tentang diriku. Bahkan keluargaku juga. Sehingga hidupku terasa seperti permainan. Saat aku memulainya, aku segera di hubungkan dengan banyak wanita yang katanya adalah keluargaku. Tapi tak ada ingatan tentang mereka. Aku merasa seperti sedang bertemu dengan NPC di dalam sebuah game.
Tanpa sadar aku telah menghabiskan seluruh tubuh jerapah dewasa sendirian. Yang tersisa paling paling hanya kerangka tulang yang berserakan karna ulahku. Perutku terasa begitu kembung dan kenyang. Aku merasa aku tak lagi sanggup bergerak. "Aku merasa sangat kenyang. Biarkan aku beristirahat sebentar ya?"
Saat itu Calya juga baru saja selesai makan. Ia ikut tidur-tiduran di sampingku. "Ya, mari lihat bintang untuk sesaat."
Calya melihat bintang dengan sepasang mata hijau almond miliknya. Aku bahkan dapat melihat pantulan bintang di langit dalam matanya. Aku selalu menyukai matanya yang unik. Aku mendekatinya, tanpa sadar aku menjilati wajah kucing hutan abu-abu itu.
Apa yang terjadi padaku?
Binatang berbulu mengungkapkan kasih sayangnya dengan menjilat yang lainnya. Jadi anggap saja begitu. Itu pasti reflek dari bawaan tubuh asliku.
"Ekhem, ayo kita lanjutkan perjalanan. Naiklah, malam belum berakhir, waktu bersenang-senang masih panjang." Aku berkata dengan seringai sok keren. Ini untuk menutupi rasa canggungku.
Kucing Abu-abu itu melompat ke atas punggungku. Dan kami mulai melanjutkan perjalanan. Dengan laju kecepatan ku berlari, kami dapat sampai ke desa yang di tunjuk Calya dalam hitungan menit. "Kita punya kenalan di sini. Katanya sih dia temanmu, dia datang ke acara pernikahan kita. Karna ingatanmu sekarang, biarkan aku saja yang berbicara ya?"
"Memangnya kita akan bertemu dengan dia?" Aku bertanya setelah Calya turun dari punggungku.
Setelah merubah bentuk, Calya berucap lagi. "Tidak, itu jaga-jaga bila kita bertemu dengan dia nanti. Kita akan berkunjung ke temanku. Si Rubah, aku sudah mengabarinya siang tadi. Jadi di tempat bertemu nanti ada Virya si Rubah dan Cila si kelinci. "
"Nama temanmu keren-keren, tidak jadul seperti nama kita." cibirku.
__ADS_1
"Mereka lahir di dunia manusia, Ayah dan Ibu mereka sedang melakukan perjalanan dalam bentuk manusia." Balas Calya.
Aku hanya menghela nafas. Malam itu jalanan cukup ramai, jalanan di penuhi binatang siluman nokturnal. Beberapa lampion berwarna di gantungkan. Bahkan ada pasar. Secara keseluruhan jalanan di desa terlihat seperti jalanan yang sedang melakukan festival.
Tiba-tiba tangan mungil Calya menggenggam tanganku. "Ada apa?"
Aku bertanya saat melihat kegugupan di wajahnya. "Jalanan sangat ramai, aku takut kamu hilang atau tersesat."
Aku memberikan senyuman. Dia jelas gugup, namun masih beralasan agar gugupnya tidak di ketahui olehku. Bahkan jika dia ganas, dia juga punya sisi lembut yang manis ternyata. Lalu ia membimbingku berjalan menuju sebuah kedai makan.
Sepertinya kedai makan ini cukup populer, ada begitu banyak siluman yang datang. Bahkan siluman rumput pun juga terlihat olehku. Taukah kau apa yang di pesannya? Ada beberapa memesan serangga, ada beberapa memesan tanah, namun ku rasa itu adalah cacing yang di tutupi tanah.
Calya membawaku ke meja yang berada tak jauh dari tengah ruangan. Itu adalah meja bundar dengan empat kursi. Ada dua wanita berambut putih dan jingga, duduk di sana. Sepertinya itu adalah temannya Calya.
Yang rambutnya berwarna jingga memiliki sepasang mata coklat. Sedangkan yang rambut putih memiliki sepasang mata Abu-abu kebiruan. Jika di bandingkan dengan ukuran tubuh Calya, keduanya memiliki tubuh yang mungil dan imut.
"Semuanya perkenalkan ini Suamiku, Rajendra Lakeswara. Kami menikah belum lama ini, saat itu kalian sedang melakukan perjalanan ke luar dunia siluman. Itu sebabnya kalian belum tahu hal ini." Calya berkata sambil memeluk bahuku.
Aku memberikan senyuman formal. Lalu berkata. "Halo, salam kenal."
Virya dan Cila membalas senyumanku dan mulai mengenalkan dirinya. Nada bicara mereka sedikit lebih hormat kepadaku. Mungkin karna aku adalah Raja Siluman. Tapi apakah wilayah ini termasuk wilayahku juga? Aku tidak yakin dengan itu.
Calya memesan makanan beberapa saat kemudian. Aku masih memikirkan nama panjang yang di sebutkan Calya. Rajendra Lakeswara. Nama itu terdengar berat untukku, tapi rasanya tidak begitu berat karna aku berada di tubuh asliku saat ini. Ataukah karna Calya di sampingku? Rasanya apapun yang terjadi kepadaku, aku akan baik-baik saja selama Calya bersamaku. Atau mungkinkah aku yang sebenarnya adalah seorang pria yang cinta buta kepada Calya?
"Raj, makanlah, kamu melamun dan wajahmu mulai berubah-ubah warnanya, apakah kau sakit?" Calya bertanya saat melihat aku menyentuh dahiku yang terasa berat. Rasanya dengan sentuhan tangan Calya yang menyelimuti telapak tanganku, semua bebanku seakan hilang.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja" Ujarku.
__ADS_1