
Sari
Kencan semalam cukup puas dan menyenangkan. Selain memancing, kami juga berjalan berkeliling. Calya berniat membangun beberapa rumah tempat singgah di pantai itu. Aku takkan melarangnya, ia bisa melakukan apapun sesukanya. Dan impianku untuk memakan daging hiu terwujud. Seperti saat berburu di waktu yang lalu. Setelah menangkapnya, hal yang kami lakukan selanjutnya adalah memakannya mentah-mentah. Itu mirip dengan sushi.
Untungnya kami kembali tepat waktu. Sehingga tumbuh Rini Ariani baik-baik saja. Pagi ini Hallin tidak mengajak kami jalan pagi. Ia berkata perutnya sedang sakit, dan ternyata ia datang bulan. Sehingga ia benar-benar tidak ada keinginan untuk keluar rumah. Karena tidak mood juga, hal lainnya adalah karena sakit perut.
Maka dari itu, Ibu memerintahkanku untuk pergi membeli obat sakit perut di kedai. Hal buruknya adalah kedai itu cukup jauh jika di lakukan dengan berjalan. Alya dalam suasana hati yang baik setelah berkencan, ia membantu Nenek dan Ibu untuk melakukan tugas rumah.
Maka dari itu dengan lembaran uang di tangan, akupun berjalan menuju kedai yang cukup jauh dari rumah Nenek. Dengan pakaian ku yang tidak bisa disebut pakaian wanita, serta wajahku yang cukup membingungkan. Membuat orang berpikir bahwa aku adalah seorang remaja laki-laki. Lagipula aku juga tidak terlalu ingin dianggap sebagai seorang perempuan murni, bagaimanapun juga aku adalah seorang lelaki.
Aku sampai di kedai kecil itu dan membeli apa yang Ibu titipkan padaku. Saat membayar uang, Lisa temannya Hallin menyapaku. "Hai Kak, di mana Hallin? Aku tidak melihatnya pagi ini."
"Dia sakit perut, dan sedang menghadapi tamu bulanan. Jadi Ibu memerintahkan Kakak untuk pergi membeli obat pereda nyeri."
"Oh" ujarnya.
Karena kami pun tidak dekat, percakapan pun berakhir dengan cukup canggung. Setelah mengucapkan selamat tinggal, aku pun pergi. Ada banyak hal menarik di desa kecil ini. Desa tempat Nenek tinggal lebih terpencil dibandingkan Desa tempat Ibu dan Ayah tinggal. Meskipun begitu, ini adalah desa yang cukup ramai.
Karena aku sendiri tak dapat membedakan arah, aku mengingat dengan baik aroma aroma yang muncul di jalanku. Sayang sekali sepertinya aku di pusingkan olehnya. Hari ini aroma yang ku lewati hampir tidak ada yang sama dengan yang ada dalam ingatanku. Mungkin telah berganti, tapi jika begini aku akan tersesat! Aku harusnya membawa orang tadi. Tapi tetap saja, aku coba untuk terus berjalan. Diam juga tidak ada gunanya bukan?
Sayang sekali kakiku malah melangkah terlalu jauh. Entah di mana aku berada sekarang. Namun ada aroma Alya yang samar di udara, seharusnya aku bisa mengikuti aroma itu. Sayang sekali aku tak memperhatikan jalan sehingga tanpa sengaja aku menabrak seorang gadis.
__ADS_1
Menurut perkiraan ku, ia mungkin seusia dengan Hallin. Dengan membantunya berdiri, aku berharap ini cepat selesai. Sayang sekali sepertinya gadis muda ini adalah seorang pemarah. Ia memarahi ku dengan suara yang keras, sehingga menimbulkan banyak perhatian. Tapi orang-orang hanya melirik kepada kami, tak berani mendekat. Bagaimanapun juga, wajahku adalah wajah asing di desa ini. Dan aku samar-samar memiliki kesan terhadap gadis ini. Tapi aku tidak mengingatnya sama sekali, sehingga tak dapat yakin dengan siapakah gadis ini.
"Kalau begitu maafkan aku, aku tak memperhatikan jalan hingga membuatmu jatuh." Aku sudah mencoba untuk berbicara dengan sangat tulus. Sayang sekali dengan suaraku yang serak dan dingin, orang yang baru mengenalku akan mengira aku sombong atau tidak tulus.
"Maaf-maaf, memangnya semua masalah bisa selesai sama kata maaf?!'' Ujarnya kasar.
Aku tidak suka hal merepotkan, dan gadis ini adalah orang yang merepotkan. "Kalau begitu katakan apa yang bisa aku lakukan agar engkau memaafkanku." Tanyaku.
Gadis itu hanya mendengus kesal, aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan dengan gadis ini. Saat ku pikir aku sudah boleh pergi, gadis itu malah menahanku dengan kalimat sinisnya. "Pergi begitu saja setelah membuatku terjatuh? Kau benar-benar lelaki yang tak bertanggung jawab!"
Oh Gadis ini benar-benar mengesalkan!
"Lalu apa yang kau inginkan?" Tanyaku.
Sama seperti sebelumnya, ia tidak berbicara. Lalu kulihat dia dari atas hingga bawah berulang-ulang. Apakah aku melukainya secara tidak sengaja? Ternyata benar, mataku menangkap sebuah luka gores yang timbul akibat ia terjatuh, di sekitar area lututnya.
Sayang sekali Gadis itu sepertinya tidak mempercayai kalimatku. Seakan-akan aku akan meninggalkan tanggung jawab ku. "Tidak bisa begitu!" Ujarnya.
Hahaha... Aku kesal sekarang.
"Lalu aku harus bagaimana?! Kalau begitu kau ikut saja denganku!" Ajakku.
Dia pun mengikutiku, aku mengikuti aroma kedai kecil tadi. Sayang sekali aku kesulitan menemukannya. Lalu aku berbalik menatap gadis yang mengikutiku itu. Jalannya pincang namun ia memaksa untuk mengikuti ku, aku benar-benar tidak bisa berbuat apapun kepadanya.
"Apa kau tau di mana kedai kecil di desa ini? Aku tadi baru dari sana, tapi aku tidak mengingat jalannya. Maaf merepotkanmu."
__ADS_1
"Heh, kalau begitu ayo. Aku akan mengantar mu." Ujar gadis itu.
Untung saja aku membawa dompetku. Jika aku tidak membawanya, mungkin aku tak bisa membeli beberapa plester kecil untuk menutupi lukanya. Setelah ia mengantarku, aku membeli beberapa plester kecil. Aku duduk di salah satu kursi kedai, lalu menepuk sisiku. Sepertinya ia memahami niatku, dia pun duduk di kursi yang ada di sampingku.
"Sudahkan? Aku sudah bertanggung jawab, jadi bisakah aku pergi?" Tanyaku
"Ya sudah sana, pergilah." Ujarnya. Ya ampun, cara berbicaranya cukup kasar untuk seorang gadis yang cantik.
Dengan begitu, aku pun pergi meninggalkannya. Sayang sekali aku lupa menanyakan arah kepadanya, tentang rumah Nenekku. Sepertinya kali ini aku pikir aku akan tersesat. Saat pulang ku pikir aku akan dimarahi lagi, yah beginilah akhirnya.
Matahari mulai naik dan hari mulai siang, aku juga tak kunjung menemukan jalan kembali menuju rumah Nenek. Aku tak yakin apakah aku telah berputar-putar terlalu lama. Bagaimanapun juga aroma yang ku cium jelas-jelas berbeda. Aku bahkan melupakan bahwa aroma adalah hal yang paling sulit untuk diingat. Aku benar-benar putus asa. Seandainya aku membawa telepon, aku bisa menghubungi Hallin. Lalu perintah Hallin untuk meminta Alya menjemputku. Sayangnya aku tidak membawa telepon. Teleponku ku tinggal di kamar.
Lalu aku tak sengaja menabrak seseorang lagi. Siapa yang tau itu adalah orang yang sama dengan gadis sebelumnya. Untungnya kali ini aku menahan tangannya agar ia tidak jatuh. Ia menatapku dengan tatapan kesal, seolah mengatakan 'orang ini lagi'.
"Maaf, bisakah kau mengantarkan ku ke rumah Nenek Maimunah? Aku benar-benar tidak tau jalan untuk kembali."
Ia menatapku dengan tatapan bingung. "Kamu ini siapa?" Tanyanya.
"Aku cucunya Nenek Maemunah, ini KTP ku. Kau bisa melihatnya." Aku berbicara sembari memberikan KTP yang terselip di dompet.
Ada ke terkejutan di matanya. Tapi kali ini ada senyuman di wajahnya. "Kamu adalah Kak Rin ya? Sudah lama sekali kita tidak bertemu!" Ujarnya sambil memeluk ku.
"Maaf aku bahkan tak mengingat jalan, sehingga aku pikir aku juga tidak mengingatmu. Siapakah kau?" Tanyaku.
Ku pikir pertanyaan itu terlalu kasar, karena dia terdiam setelah mendengar pertanyaan ku. Anehnya ia malah tertawa setelah itu. "Ternyata benar-benar Kak Rin!" Ujarnya
__ADS_1
"Kakak mungkin melupakanku, bagaimanapun juga kau adalah seorang pelupa. Aku adalah Sari, Kakak tidak mengingatku, tapi aku mengingat Kakak. Ayo ku antar Kakak pulang." Ujarnya lagi.
Siapa yang menyangka gadis pemarah ini bisa tersenyum begitu manis.