Who Am I?

Who Am I?
Chapter spesial 1.1


__ADS_3

Chapter spesial 1


'Keinginan sang Ratu 1'


Itu adalah pagi cerah yang indah. Di bawah langit biru dan pepohonan hutan yang menyegarkan. Aku dan Istriku sedang berduaan di sisi air terjun. Air terjun buatan yang aku buat atas permintaan aneh yang di sebut ngidam. Ya, Lea sedang hamil.


"Ssshhh... Ahhh... Iyyaahh.... Lebih kuat lagi sayanghh..." ******* halus selalu keluar dari mulutnya begitu aku bergerak.


"Sialan kau, jangan mengeluarkan ******* begitu dong. Entar kalau aku kelepasan dan kepengen gimana? Kamu kan lagi hamil!" Aku sedikit kesal dengan Istriku ini. Ia sengaja menggodaku di saat aku tengah 'berpuasa' dari yang namanya hubungan intim.


Jika saja tidak ada bayiku di perutnya. Aku benar-benar akan membuatnya mendesah hingga kehilangan kemampuan untuk berjalan!


"Ehehe maaf, pijatanmu nyaman. Pinggang dan punggungku yang pegal terasa lebih baik setelah di pijat olehmu." Lea berujar sembari mengecup pipiku.


Di air terjun ini, Lea ingin mandi di alam terbuka hanya berdua denganku. Lagi pula aku juga menuntut itu. Tubuh istriku begitu sexy, jika aku tidak bersamanya, aku yakin beberapa lelaki akan mengintipnya saat ia mandi di alam terbuka.


Karna ia begitu ingin mandi air hangat, aku mengubah suhu air terjun agar menjadi hangat. Dengan demikian ia berelaksasi di bawah pijatan nyamanku. Begini-begini aku jago memijat. Saat kecil, Ibunda ku selalu memintaku memijatnya. Karna aku tidak pandai mengendalikan kekuatan fisikku, aku secara tidak sengaja membuat kaki Ibunda keseleo. Aku di marahi oleh Ayahanda, dan aku mulai belajar memijat untuk menyenangkan kedua orang tuaku.


"Raj, ini sudah tahun ke berapa?" Lea bertanya saat ia mengusap perutnya.


Aku menghitung lagi tahun-tahun yang sudah ku lalui setelah aku menyelesaikan peranku sebagai Rini. "Mungkin sudah Lima atau Enam. Kenapa?"


"Raj, entah mengapa aku tiba-tiba terpikir Yesie. Mari kita mengunjunginya. Kamu pasti tau rumahnya kan. Kamu kan mantan pacar virtualnya." Lea berujar dengan mencebikkan bibir di akhir kalimat.


"Hei, jangan cemburu begitu. Dia hanya pacar virtual ku selama dua tahun. Kamu sudah menjadi kekasihku selama lebih dari dua ratus tahun. Jadi tak perlu cemburu kepadanya. Di hatiku hanya ada kamu. Yesie hanya temanku. Seperti Kak Ida."


Mata Lea menyala saat mendengarku berbicara. "Mari kita kunjungi laut itu! Lautan indah yang kita kunjungi di balik air terjun! Aku ingin kesana setelah kita mengunjungi semua temanmu! Aku ingin melihat Yesie! Lalu teman-teman di festival makanan saat itu dan teman-teman manusia mu!"

__ADS_1


"Oke-oke, jangan terlalu bersemangat. Mereka mungkin hanya mengingat wajah Alya, bukan Reindra. Jika aku bertemu mereka, mereka akan menganggapku orang asing, bahkan jika aku pernah menjadi teman akrab mereka."


Mendengar jawabanku. Lea tampaknya tidak senang, matanya berkaca-kaca dan ingin menangis. Aduhh... Wanita hamil benar-benar berhati rapuh. Meski Lea sedang hamil ia baru saja hamil muda. Siluman memiliki usia lebih panjang begitu pula dengan usia kehamilan. Lea membutuhkan tujuh tahun untuk mengandung anak. Sekarang jika perhitunganku tidak salah, ini adalah tahun ke tiga Lea hamil. Hamilnya masih termasuk hamil muda.


"Hueee.... Aku mau kita ke sana! Aku mau ke Festival makanan! Aku mau pergi mengunjungi semuanya!" Air matanya menetes lebih deras dari arus air terjun.


Aku memeluknya. "Oke... Kita kesana, jangan menangis... Ayo kita kembali."


Lea menatapku dengan mata berkaca-kaca pasca menangis. "Benarkah?"


"Iya Ratuku." Aku mengecup singkat dahinya.


Senyumnya mengembang lalu ia mengangguk senang. Aku memeluknya dan membawanya ke pangkuanku. Dalam sekali kedipan, kami telah tiba di kamar kami. Saat aku hendak mendudukkan Bumil, ia menolak melepaskan pelukannya.


"Kenapa? Lea harus memakai pakaian, lepaskan pelukannya untuk sekarang ya?" Aku harus melembutkan nada bicaraku saat berbicara dengannya. Jika tidak, ia akan menangis atau marah tanpa sebab lagi.


Ibundaku sangat sensitive soal bayi kami. Sehingga setiap kali Lea akan menangis, akulah yang akan di ketuk kepalanya.


"RAJJJEEENNDRRRAaaaa...." Ibunda berteriak keras saat itu namun teriakannya terhenti saat melihatku dan Lea.


Wajar saja, Aku dan Lea baru saja kembali dari air terjun, tubuh kami hanya di balut handuk putih. Saat ini aku sedang berdiri dan Lea yang berhanduk putih melingkari tubuhku seperti gurita. Meski menangis, ia memeluk kepalaku dengan kepala yang menelusup ke sisi leherku.


"I-ibunda..." Aku tak tau harus tertawa atau menangis. Lea ingin pergi tapi menolak untuk melepas pelukannya kepadaku.


"Kenapa? Ayo Lea katakan kepada Ibu kamu kenapa? Apakah Rajendra berbuat jahat? Ibu akan menghukumnya untukmu." Ibu mendekati kami dan mulai membujuk Lea.


Di saat-saat inilah Ibu akan berubah haluan, tingkah Ibu seakan-akan Lealah yang merupakan anaknya. Bukan aku.

__ADS_1


Tiba-tiba Ratna muncul dengan cemilan di tangannya. "Kakak mungkin tidak berbuat jahat. Tapi ia pasti berbuat mesum."


Tatapan Ibu seketika menajam saat menatapku. "Apa itu benar?"


"ಥ⁠‿⁠ಥ Apakah kalian keluarga kandungku?" Benar-benar miris. Begitu istriku hamil, aku segera terlempar jauh.


"Hiks.. Ibu aku ingin Raj memakaikan aku pakaian. Aku ingin kami pergi ke rumah kami di dunia manusia..." Lea berkata dengan mata berair dengan hidung yang merah.


Ibunda tentu akan meleleh melihat tingkah manjanya. Dan aku akan menjadi seseorang yang di wajibkan memenuhi keinginan Lea. Aku benar-benar sengsara, tapi aku bahagia.


Ini adalah perjuangan yang akan di lalui setiap calon Ayah.


Dengan tatapan tajam dan aura menakutkan yang muncul dari Ibunda, aku hanya bisa mengangguk. Dengan tangan yang menahan pantat Lea agar tak terjatuh. Aku menggendongnya seperti menggendong anak kecil. Aku mendekati lemari pakaian. Lalu melirik Ibunda dan Ratna yang masih di kamarku.


"Em... Bisakah kalian pergi? Aku dan Ratuku perlu berpakaian..."


"Ayo Ibunda, Raja kita sedang malu. Wajahnya hampir Semerah pantat monyet." Ratna tertawa sembari menggandeng tangan Ibu. Lalu mereka menghilang di tempat. Adik perempuanku itu selalu mengesalkan. Ia hanya sopan kepadaku saat aku lupa ingatan.


Karna pakaian yang ada di lemari kami hanyalah pakaian kerajaan, tak mungkin bukan, aku dan Lea harus mengenakannya untuk reuni dengan teman lama. Maka aku hanya memakaikannya jubah yang menutup pakaiannya. Itu jubahku sebenarnya. Tapi karna tubuhnya lebih mungil dari ku, itu mampu menutupi tubuhnya.


Lagi-lagi aku dan istriku berpindah tempat. Kemana? Tentu saja ke rumah kami di dunia manusia. Rumah itu memang tak sampai besarnya dari setengah kerajaan ini. Tapi itu cukup mewah untuk rumah modern.


Dengan banyaknya pelayan yang juga siluman menyambut kami yang muncul tiba-tiba di ruang tengah, seseorang yang aku ingat adalah kepala pelayan mendatangi kami. "Tolong katakan keinginannya Yang Mulia Raja, kami akan melayani Anda dan Yang Mulia Ratu dengan hati dan jiwa kami."


Mereka berlutut. Karna mereka pun tau kalau istri kecilku sedang hamil. Dan suka ngidam yang aneh-aneh, jadi mereka tampaknya berbaik hati ingin membantuku. Ahh baiknya, gaji bulan ini kasih bonus deh.


"Tidak perlu Ratuku hanya ingin bermain di dunia manusia sesaat." Lalu aku menghilang lagi hanya untuk muncul di kamarku.

__ADS_1


Aneh. Sejak tadi, Lea tidak berbicara. Aku menggerakkan tubuhnya perlahan untuk melihatnya. Nafasnya teratur dan matanya terpejam. Ia jelas sudah tidur karna kelelahan sehabis menangis.


__ADS_2