
Yesie dan permintaan Maafnya. Revisi
Karena sekarang masih masa-masa class meeting, maka Alya tidak ikut ke sekolah. Hari-hariku dengan kehadirannya cukup menyenangkan sebenarnya. Sifatnya yang begitu mirip dengan Anak kecil membuatku sangat suka menjahilinya. Ayah dan Ibu senang dengan keadaan ini.
Tapi Alya sangat misterius. Bahkan Ibu dan Ayah mengalihkan percakapan ketika aku bertanya tentangnya. Meski begitu Naluriku berkata kalau Alya bukanlah orang jahat. Mungkin dia juga bukan orang baik, tapi aku tau dia takkan menyakitiku.
"Aduh... Bosannya... Kak, Kakak membawa telpon?"
"Tidak" ujarku.
Benar yang Iqish katakan. Hari ini sangaaaat membosankan. Yang kami lakukan saat datang ke sekolah hanyalah, datang, makan dan melihat bola voly atau bola sepak yang memantul ke sana kemari. Aku bukanlah peminat olah raga apapun. Ingin rasanya aku membuat alasan untuk tidak datang ke sekolah. Tapi aku tau kedua orang tuaku tak bisa di ajak berkerja sama.
"Kak, bagaimana dengan Kak Yesie? Apa kalian sudah kembali bersama?" Tanya Iqish dengan nada penasaran.
Aku menghela nafas panjang saat mendengarnya. "Entahlah... Aku tidak terlalu yakin. Tidak ada kesempatan untuk berbicara belakangan ini. Sehingga aku benar-benar tak tau apa yang harus ku lakukan."
"Memangnya kenapa sih Kak? Kalian kan berhubungan baik, mengapa tiba-tiba menjauh?" Iqish berbicara setelah menyeruput minumannya.
"Aku tidak tau. Sebelum Yesie menjauh, aku bertemu Ayahnya. Ayahnya tampak ketakutan saat melihatku. Ia mengatakan begitu banyak omong kosong lalu kabur seolah aku adalah penagih hutang. Aku sendiri masih tak tau mengapa Ayahnya Yesie berperilaku seperti itu." Aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi.
"Ayahnya Kak Yesie sebenarnya bukan orang biasa loh Kak. Mungkin dia melihat sesuatu dari Kakak. Jangan-jangan Kakak adalah Macan jejadian yang penyamarannya ketahuan, hehehe...."
Aku mengerutkan alisku. Sebenarnya kalimat Iqish membuatku terus memikirkannya. Terlebih saat ingat perkataan Yesie dalam pesannya saat itu. Yang menyebutkan perkataan Ayahnya. Mengenai kata 'Dia Rajanya Siluman hutan desa Lepamala! Dia Raja Lakeswara!! '
Rasanya aku menangkap sesuatu, tapi begitu aku berpikir untuk melihat, sesuatu yang ku tangkap dari kalimat itu tidak kunjung terlihat. Seolah sesuatu yang ku sadari dari kalimat itu menghilang di ambil seseorang.
__ADS_1
Baiklah mari lupakan segalanya. "Ah iya, nanti saat kenaikan kelas ada murid baru lagi." Ujarku.
Iqish menoleh, ia adalah orang yang sangat suka bergaul. Ku pikir ia akan menyukai berita ini. Ia menatapku dengan mata berbinar. "Benarkah? Siapa namanya?"
"Alya Perwita, dia menginap di rumahku sekarang."
"Wah itu bagus sekali. Apakah dia gadis yang baik?"
"Tentu, dia hanya sedikit aneh." Ujarku pelan.
"Aneh bagaimana?"
"Aku tak dapat menebak jalan pikirannya. Terkadang ia terlihat sangat lembut, manis dan feminim di depanku. Tapi saat di belakangku, dia aneh." Aku berkata dengan helaan nafas panjang.
"Wah muka dua ya? Memangnya seperti apa kalau di belakang Kakak?"
Aku menghela nafas lega setelah meminum beberapa teguk air putih. "Dia memperingatkan semua perempuan di rumahku kecuali aku. Dia berkata dengan nada sombong, 'Jauhi Reindra-ku' suaranya terdengar dingin."
"Jika suaraku terdengar dingin tanpa emosi, maka suaranya dingin dan di penuhi aura Mendominasi. Dia mirip seperti seorang wanita kejam yang misterius." Aku berkata dengan nada serius.
"Kalau begitu Kakak harus hati-hati."
Aku mengangguk-angguk. Bukankah memang harus begitu. Tapi ku pikir itu terlalu mustahil. Bagaimanapun Alya selalu menempel denganku. Anehnya lagi, bahkan jika dia berbuat salah, aku merasa tak tega menegurnya. Aku sangat yakin ada yang salah di antara aku atau dia.
Baiklah, mari lupakan hal yang seharusnya tidak terjawab. Di hari yang membosankan ini biasanya aku akan mampir ke kelas Yesie. Aku menghampiri Kelasnya untuk bertanya kabarnya. "Halo Nona ketua, bagaimana kabar Yesie hari ini?"
Yang ku panggil menoleh. Ia kemudian berkata kepadaku. "Hari ini dia datang, tapi aku tidak tau dia berada di mana."
"Baiklah, terimakasih atas informasinya."
__ADS_1
Gadis di depanku mengangguk, lalu ku tinggalkan ia. Aku pikir mungkin Yesie sedang berada di tempat Favorit kami. Aku berjalan dengan senyap yang menyertai. Sepertinya Yesie memang ada di tempat itu. Aku melihat bayangannya.
Begitu aku mendekat, dapat ku lihat ekspresi gusarnya yang tampak murung. Aku mendekatinya, sayangnya kesenyapan tak selalu menyertai langkahku. Aku tak sengaja menginjak beberapa daun kering. Suara renyah itu cukup untuk membuat Yesie menoleh.
Sejujurnya, meski aku sangat ingin berbicara dengannya, aku merasa sedikit Canggung karena sudah lama tak berbicara. Ku angkat lengan kananku. "Ha-halo."
Tapi tingkah Yesie justru membuatku terkejut. Ia menerjangku dengan pelukannya. Pelukannya begitu erat sampai aku dapat merasakan dadanya. Selain kerinduan, ada sesuatu yang lain dalam pelukan ini. Mungkin semacam permintaan maaf secara tak langsung.
Aku menepuk punggungnya, sesekali ku hirup aroma yang ku rindukan darinya. "Ariaaaan.... Maafkan aku.. "
Yesie menangis sesenggukan, membuat aku kesulitan memahami apa yang ia ucapkan. Ku pikir aku harus mencoba membuatnya lebih tenang. Beberapa menit kemudian tangisnya telah berhenti, namun mata dan pucuk hidungnya yang merah tidak hilang.
"Tenangkan dirimu dan katakan apa yang terjadi." Ujarku.
"Aku minta maaf, minta maaf karena mengabaikanmu. Itu karena Bapakku. Dia yang melarang aku berhubungan denganmu lagi." Yesie berbicara dengan mata tertunduk.
"Tidak apa-apa. Aku sendiri memahami kesulitanmu. Memangnya apa yang di katakan Bapakmu?" Aku ingin tau apakah Yesie akan jujur atau berbohong.
Yesie menarik nafas panjang, lantas menghembuskannya perlahan. Lalu mengatakan. "Bapak sangat ketakutan tiap kali aku membahas dirimu. Saat itu dia berkata padaku. 'Temanmu itu bukan Manusia! Dia jin! Dia Mahluk halus! Tubuh temanmu itu adalah tubuh mayat yang sudah lama mati! Jangan dekati dia lagi! Dia Rajanya Siluman hutan desa Lepamala! Dia Raja Lakeswara!! Jangan dekati dia lagi... Jangan dekati dia demi kebaikanmu Nak.' Sehingga aku bingung ingin menuruti Bapak atau tetap berteman dengan Arian. Meski Bapak terlihat takut, aku sendiri tau kalau Arian tidak semenyeramkan yang Bapak takutkan."
Dia berkata jujur. Aku mendudukkan diriku di sisinya. "Tidak apa-apa. Itu keputusanmu untuk menjauhiku atau tidak. Tapi tidak peduli siapa diriku, aku takkan melukai orang tak bersalah."
Aku tidak tau mengapa aku mengatakan itu. Aku juga tidak tau bagaimana ekspresi ku saat ini. Yang pasti Yesie menatapku dengan raut wajah tegang. Aku menatap langit yang mulai siang. Lalu mengatakan. "Ngomong-ngomong, Alya sudah datang ke rumahku."
Yesie hanya berkomentar sedikit. Aku merasa dia memikirkan sesuatu. "Benarkah? Apa dia orang yang menyenangkan?"
"Benar, Dia juga menyenangkan, hanya saja... Sedikit menempel..."
Aku mengecilkan suaraku di ujung kalimat. Tapi sepertinya Yesie masih dapat mendengarnya. Ia menatapku dengan tatapannya yang terlihat bingung. "Menempel bagaimana?"
__ADS_1
"Yah... Mungkin hanya perasaanku saja sih. Tapi begitu kau bertemu dengannya aku yakin kau akan tau."
Yesie mengerutkan alisnya. Aku sangat yakin ia lebih dari sekedar penasaran.