
“Perang”
Hari-hari yang dingin dan basah berlanjut hingga bulan Desember. Di awal bulan Desember, sekolah telah berada di minggu-minggu terakhir ujian. Ujian semester ganjil tahun ajaran 2023. Yah rasanya baru kemarin kita berganti tahun, sekarang tau-tau sudah akhir tahun.
Karna ujian, waktu pulang di percepat hingga tengah hari. Alya juga mulai menunjukkan keinginannya untuk berkemah kepada Ayah dan Ibu. Ayah tentu saja menyetujui kami saat aku setuju. Yang sulit adalah membujuk Ibu. Dia masih tidak terlalu menyukai Alya. Menurutnya apa yang berasal dari Alya hanyalah hal buruk.
"Tapi aku juga ingin ikut! Sudah lama kita tidak berkemah bersama! Ayolah Bu, Ibu kan juga bisa ikut." Hallin berkata dengan sedikit membujuk atau memohon.
Si kembar juga ingin ikut, mereka mulai memohon kepada Ibu. "Benar Bibi, berkemah bersama adalah hal yang menyenangkan. Anggap saja hadiah karna telah berjuang saat ujian."
Alya ikut membujuk. Ibu hanya mendengus kesal. Dengan meneguk beberapa tegukan air putih ia kemudian berkata. "Memangnya kamu tidak ingin pulang?"
Ibu bertanya sambil melirik Alya. "Bagiku kalian juga keluargaku, apakah kalian tidak menganggapku begitu?"
Alya memulai akting air mata buaya. Saat itu Ibu tanpa sadar mengangguk dengan sedikit terbawa perasaan, ia berkata. "Baiklah, telah di putuskan liburan semester ini kita berlibur bersama di rumah Nenek! Nak Alya juga bisa ikut, setelah di sana kalian bebas ingin bermain, berkemah atau apapun."
Setelah mendengar keputusan Ibu, Hallin dan Anak-anak adalah yang paling berisik saat bersorak gembira. Rumah Nenek berada cukup jauh dari rumah kami. Namun sama halnya dengan rumah ini, rumah Nenek berada di tepi hutan. Akan sangat menyenangkan untuk berkemah di sana. Rumah Nenek juga berada di perbatasan desa Lepamala dengan desa lain.
Inginnya aku untuk berkeliaran melihat-lihat tempat itu. Sudah lama Ibu dan Ayah tidak membawaku ke sana. Tempat itu selalu menarik minatku. Alya juga terlihat menantikan liburan ini. Meski tampak tenang, ia tak bisa menutupi rasa tidak sabar yang tersembunyi di dalam matanya.
Yah, waktu berlalu secepat angin. November pun sudah berganti menjadi Desember. Bukankah semuanya berlalu begitu cepat. Yang terburuk bagiku adalah entah mengapa aku bahkan tidak mengingat hal-hal yang ku lakukan selama di bulan November.
Hari ini adalah hari pertama dalam Minggu libur semester. Karna ujian kami semua telah selesai, saatnya menagih janji Ayah dan Ibu yang katanya ingin membawa kami ke rumah Nenek. Itu adalah pagi hari yang sibuk saat kami semua berbenah rumah. Bersiap untuk pergi dalam jangka panjang.
Persiapan selesai setelah hari menjelang siang. Di dalam mobil tak hanya para manusia yang ikut. Binatang peliharaanpun tak di tinggalkan karna tak ada yang memberi makan bila kami pergi. Dengan begitu keluarga kecil kami berangkat menuju rumah Nenek.
Hujan yang cukup deras mengiringi perjalanan kami di hari itu. Si kembar telah tertidur pulas bersama dengan Hallin. Tersisa Ayah dan Ibu yang berbincang sesekali. Di kursi paling belakang ada aku dan Alya. Kalau aku, di hujan begini hanya ingin tidur dengan berselimutkan selimut hangat. Tapi tidak bisa karna mataku terus terjaga dan tak bisa terpejam. Mungkin karna sedang dalam perjalanan.
Melihat rintikan hujan yang menetes tanpa pola membuatku ingin menulis beberapa larik puisi. Dengan segera ku ambil buku tebal dan penaku yang tak pernah ku tinggalkan. Alya terus melirik ke arah ku yang menulis.
__ADS_1
Dengan sedikit berpikir, gerakanku terhenti sejenak. Setelah beberapa kali terhenti, selesai sudah puisi hangat yang baru saja ku buat. Alya mengambil buku tebalku untuk melihat apa yang ku tulis. "Aku baca ya?"
Dia bertanya tapi bukunya telah ada di tangannya, jika sudah begitu memangnya ada kesempatan untuk menolak? Ku lihat kepalanya mengangguk-angguk saat membaca puisi ku. Sesekali ia melirikku dengan tatapan mengejek. "Memangnya sejak kapan kau takut Guntur"
Lalu ia melanjutkan membaca hingga bagian akhir. Sembari menyerahkan buku ku ia berkata dengan tawa pelan. "Aku tak melihat senyuman berseri di wajahmu"
Ia berujar sembari menusuk pelan pipiku dengan ujung jarinya. "Oke, hentikan. Ini di sebut Citra perasaan dan penglihatan."
"Ya ya terserahmu saja. Aku ingin tidur. Bangunkan aku saat sudah sampai ya." Alya berkata saat matanya telah terpejam dan kepala yang disandarkan ke bahuku.
Jika kalian ingin tau puisi yang ku buat akan ku tuliskan.
“Perang”
Gemuruh kilat memeluk langit.
Angin dan awan tak pula tertinggal.
Matahari hilang tak tau arahnya.
Deburan hujan dengan kuat memekik di telingaku.
Cahaya kilat hampir membutakan aku. Guntur berteriak menggetarkan hatiku.
Ketakutan sudah mulai memakan aku.
Ku lihat melalui jendela...
Hujan mengalir seakan tidak berhenti.
Guntur terus berbunyi menjadi pengiringnya.
Angin sesekali bergabung menghadirkan siulan.
__ADS_1
Andai langit adalah Medan perang.
Cahaya matahari ikut bergabung menyingkirkan badai dan menjadi pemenang.
Alam menghadiahkan pelangi.
Bersamaan dengan itu pula senyumku berseri.
Author note : ini karya Author murni ya. Puisi alami yang di buat sendiri 👍
Kira-kira aku paham mengapa Alya sedikit mengejek. Bagaimanapun juga, unsur perasaan di dalam puisi itu begitu kuat. Sedangkan wajahku yang datar dan dingin telah melambangkan seseorang yang tak memiliki perasaan. Mau bagaimana lagi, hati ini adalah orang yang di penuhi perasaan.
Ku rasakan kaca jendela mobil yang terasa dingin, dinginnya hampir menyamai suhu tubuhku saat itu. Tapi aku tentu tak berpengaruh. Tubuh ini hampir mencapai batasnya. Indra perasa tubuh ini hampir menghilang. Dan beberapa bagian kulit di tubuh sudah mulai terlihat sedikit lembek. Ku pikir, aku tak dapat mempertahankan tubuh ini terlalu lama.
"Oke anak-anak. Kita sudah sampai, bangunlah." Ayah berkata sembari membunyikan klakson mobil.
Hallin adalah yang pertama membuka mata. Ia menggeliatkan tubuhnya sembari merenggangkannya. Dengan mata yang separuh terbuka ia bertanya. "Kita sudah sampai?"
"Iya, bangunkan si kembar." Ujar Ibu dengan senyuman lembut.
Hallin mulai bergerak membangunkan si kembar. Aku juga bergerak untuk membangunkan Alya. Ku tepuk pipinya pelan. Lalu berkata. "Hei, bangunlah..."
"Hm.." Ia menolak bangun, tangannya mendorong tanganku yang menangkup di wajahnya.
Ku pikir aku harus membangunkannya dengan cara yang sedikit kasar. Ku pegang pipinya yang terasa lembut. Lalu ku cubit pelan, lalu ku tarik-tarik pipinya. "Bangunlah gadis malas... Ayo bangun kita sudah sampai..."
"Ugh... Iya aku bangun, hentikan cubitan mu." Ujarnya sambil menampar tanganku. Dengan pelan tentunya.
Ibu memberikan kami payung besar yang sekiranya pas untuk kami. Karna hujan masih cukup deras. Ayah memerintahkan untuk memasuki rumah Nenek terlebih dulu. Beberes barang bawaannya nanti saja.
Baru saja aku hendak masuk Hallin telah menghalangi jalanku. "Kak, ayo kita bawa anak-anak kucing ke rumah juga!"
Aku mengangguk pelan. Alya juga sudah masuk duluan ke dalam rumah. Dengan aku yang memegangi payung, Hallin memasuki mobil untuk mengambil kandang besi yang berisi kucing peliharaan kami. Sambil menunggu Hallin, aku melihat wilayah hutan yang berada tak jauh dari rumah Nenek.
__ADS_1
Aku sungguh bisa merasakan banyak tatapan yang mengarah kepadaku di sela rintik hujan. Rasanya tatapan itu mengandung terlalu banyak hawa yang bermacam-macam. Beberapa dengan tatapan jahat, beberapa dengan tatapan penuh niat baik, beberapa hanya sekedar ingin tau. Yah, aku pun sama. Aku ingin mencari tau mahluk apa saja yang ada di hutan itu.