Who Am I?

Who Am I?
Kerasukan?


__ADS_3


Kerasukan? Rev



Saat dalam perjalanan pulang, Hallin sepertinya dalam keadaan senang. Suasana hatinya sepertinya membaik. "Apa kamu baik-baik saja?"


Dari spion motor aku dapat melihat kalau wajah Hallin berseri-seri. "Ya, aku sangat senang sekarang. Meski Ayla dan yang lainnya bermaksud buruk kepadaku, Aku senang karna sekarang aku dan Indah berteman. Indah sangat baik, terlebih lagi kami ternyata satu sekolah. Hanya saja dia berbeda kelas denganku." Ujar Hallin dengan senyuman di wajahnya.


"Hm...."


Aku sedang memikirkan cara untuk berganti pakaian pria yang ku pakai, sebelum sampai ke rumah. Jika Ibu melihat ini dia pasti curiga. Dan berpikir hal aneh tentangku.


"Hallin, bagaimana dengan pakaian Kakak? Ibu pasti curiga." Ujarku.


Hallin tidak menjawab untuk beberapa saat. Ku tebak dia mungkin sedang berpikir. Tak lama Hallin menjawab. "Di samping rumah kitakan ada sekolah TK, nanti ganti pakaian di sana saja."


"Benar juga." gumamku.


Setelah hampir mendekati area rumahku, aku menghentikan sepeda motorku. Lalu aku turun dari sepeda motor. Aku bergegas menuju toilet sekolah TK. Karna pagar yang di kunci, terpaksa diriku harus memanjat pagar. Untungnya pagar yang ku naiki pagar tembok, sehingga tidak terlalu sulit untuk menaikinya. Hallin yang duduk di sepeda motor bertugas mengawasi sekeliling selagi aku memanjat.


Karna aku mendengar suara Ibu yang sepertinya berjalan di sisi pagar, aku memutuskan untuk bertukar pakaian segera di balik pagar. "Loh, Hallin, kok kamu di situ? Ngapain?"


Gawat! Ibu bertanya. Aku mempercepat gerakanku. "Kakakmu dimana?"


Hallin terdengar gugup saat di tanyai oleh Ibu. Aku segera memanjat kembali pagar. "Aduh Hallin... Sepertinya tidak ada buah ceri yang masak." Ujarku.


Kebetulan di belakangku ada pohon ceri. Sehingga aku bisa beralasan kepada Ibu. "Aduh.... Ngapain kamu di situ! Cepat turun! Jatuh nanti gimana?!"


"Eh, Ibu... Iya aku akan turun."


Aku turun perlahan dan hati-hati. "Ibu mau mampir ke warung di depan sana. Kalian cepat pulang ya. Anak-anak sendirian di rumah." Ujar Ibu tanpa curiga denganku yang memegang tote bag berisi pakaian.

__ADS_1


Setelah Ibu berlalu meninggalkan aku dan Hallin. Kami sama-sama menghela nafas lega. "Ya ampun. Tadi itu nyaris saja. Ayo Kak kita pulang."


Aku mengangguk. Dengan Hallin yang mengendarai sepeda motor, kami segera pulang ke rumah. Saat aku sudah memasuki Rumah, Hallin menutup pintu sambil bertanya. "Kok bisa ya, Ibu percaya sama omong kosong Kakak?"


Aku mengangkat bahu. "Mungkin saja karna ekspresi Kakak yang tidak dapat di baca. Jangankan Ibu, kamu saja kalau di bohongi tidak akan tau." Ujarku.


"Apa? Jangan-jangan Kakak sering bohongin aku ya?" Hallin bertanya dengan mata yang menyipit.


"Eh... Ya... Mungkin saja..." Aku menjawab asal-asalan.


Hallin hanya mendengus kesal. Saat aku memasuki kamar, Hallin bertanya lagi. "Lalu Arian Lakeswara itu siapa? Kakak mengarang atau meniru nama orang lain?"


"Kalau Arian, Kakak ambil dari nama panggilan salah satu teman baru Kakak. Karna nama Kakak Ariani, dia memanggil Kakak Arian. Lalu untuk Lakeswara, Kakak hanya memikirkannya. Nama itu muncul begitu saja."


"Keren juga. Arian Lakeswara. Nama yang terdengar unik gitu."


Aku memikirkan kata Lakeswara. Rasanya ini bukan pertama kalinya aku menyebutkan nama itu. Dimana aku pernah mendengar atau mengatakan kata itu? Ada rasa mengganjal di hatiku, bila aku tidak tau dimana aku pernah menyebutkan kata itu.


Seketika terpikir olehku sebuah nama, Rajendra Lakeswara.


"Kak, Kakak baik-baik saja?"


Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Hallin. Rasa sakit ini mencegahku. Jauh di dalam kepalaku sebuah memori kecil berputar. Ada aku yang berpakaian khas anak Raja, lalu dengan angkuh aku berkata. "Namaku Rajendra Lakeswara. Calon Raja kerajaan Lakeswara! Tunduklah padaku kucing kecil!"


Kepalaku seakan terkikis saat memori itu berputar. Dalam memori itu, seorang gadis kecil berpakaian hijau kekuningan berdiri di belakangku. Gadis kecil itu begitu imut dengan rambut kelabu yang di kuncir dua. Tapi gadis kecil itu terlalu agresif untuk di katakan imut. Ia mengangkat kaki mungilnya lalu menendang perutku. Ku rasa itu bukanlah tendangan biasa, karna aku di buat terpental dari posisi awalku, dan menabrak dinding ruangan itu. Selain itu, aku juga terkena luka dalam. Darah mengalir terbalik di tenggorokanku. Lalu seteguk darah merah tua keluar dari mulutku.


Tak sampai di situ, gadis kecil itu melempar tendangan ke samping wajahku. Pandangan mataku mulai kabur. Gadis itu menarik kerah pakaianku. "Aku, Calya Bawita! Tidak akan pernah tunduk pada siapapun! Terutama kau! Macan lemah!"


Sebelum kesadaranku hilang, aku sempat melihat wajah angkuh gadis itu. Ia menyeringai dengan berpangku tangan, lalu aku melihat tatapan merendahkannya saat itu. "Heh, Macan Lemah!"


Anehnya menghadapi tatapan merendahkan dan kalimat hinaannya, jantungku terasa berdebar-debar saat itu. Yang gilanya jauh dalam hati kecilku ada rasa senang yang tak terlukiskan.


"Kak, Kakak kenapa?"

__ADS_1


Kepalaku yang masih terasa sakit, semakin sakit saat mendengar panggilan Hallin. Hallin mungkin khawatir kepadaku, ia mencoba memegang tanganku. Namun saat itu entah mengapa, suara yang keluar dari tenggorokanku bukanlah suara manusia. Melainkan raungan khas binatang buas.


"Grrraaaooo...."


Aku tau Hallin mungkin takut dengan raungan anehku. Namun begitu aku menatapnya, ia tampak ketakutan saat melihatku. Seolah yang di lihatnya bukanlah aku, melainkan setan. "Kak Hall! Cepat sini! Kak Rin sudah jadi setan!"


Kepalaku semakin sakit saat mendengar teriakan Adik-adik laki-lakiku. Kembali lagi Raungan binatang buas keluar dari tenggorokanku. Adik-adik laki-lakiku menarik Hallin keluar dari kamar. Mereka mengunci pintu kamar dari luar. Mereka mengurungku di kamar ini.


Jauh dalam hatiku, perlakuan mereka membuatku tidak suka. Aku kesal dengan mereka. "Graaooo!"


Ku kejar mereka. Ku pukul daun pintu kamarku. Dalam hatiku, ingin rasanya ku telan mereka ke perutku. Tiba-tiba aku lupa bagaimana cara untuk membuka pintu kamar. Aku hanya bisa menampar pintu, atau mencakarnya dengan tanganku. "GRRRAAAOOO BUKA PINTUNYA! ANAK MANUSIA!!!"


Tubuhku masih terasa begitu panas. Sekarang bahkan ujung jariku terasa begitu panas. Panas sampai ku pikir aku bisa memasak telur di kulitku. Untuk melampiaskan rasa panas di tubuhku, Aku berteriak sekuat tenagaku. Mungkin lebih pantas di sebut meraung. Karna tidak ada jeritan manusia dalam suaraku, melainkan raungan khas binatang buas.


"GGGGRRRRAAAAAOOOO!!!"


Lantas ku tendang pintu kamar ini. Daun pintunya terbang ke sisi lain ruangan. Tidak ada siapapun di rumah. Tubuhku yang terasa panas dan kepalaku yang kosong, membuat aku membenci siapapun atau apapun yang muncul di depanku.


Aku mendengar suara tangis wanita. Dalam suara sesenggukannya, ia sepertinya sedang berbicara dengan seseorang. "Cepat! Hiks... Hisk... Anak kita.... Rini.... ngamuk.... Aku takut... Hiks cepat pulang Ayah... Hiks... Hiks..."


Ku langkahkan kakiku ke arah suara wanita itu. Seolah tubuhku di penuhi kekuatan, setiap langkahku membuat lantai yang ku pijak tenggelam. Seolah-olah yang ku pijak adalah pasir basah.


Dalam telingaku, suara Isak tangis wanita itu terdengar semakin dekat. "GRRRAAAOOO..."


Ada raungan lain tak jauh dariku. Hanya dengan mendengar raungan itu, hatiku yang terasa panas dan berdenyut terasa mulai tenang. Aku pikir aku harus kesana. Raungan itu mungkin bisa mendinginkan tubuhku yang terasa panas. Karna ingin lebih cepat, aku berlari. Aku berlari dengan tangan dan kakiku. Kondisi kepalaku kini dalam keadaan kosong. Aku tidak ingat jelas diriku sendiri mahluk apa. Yang pasti aku ingin pergi secepatnya ke arah raungan itu.


Aku berlari terus hanya untuk sampai di sebuah hutan, yang tak jauh dari tempat awalku berdiri. "GRRRAAAOOO"


Saat aku meraung lagi. Ku dengar raungan balasan sedikit lebih jauh di dalam hutan. "GGGGRRRRAAAAAOOOO"


Aku terus berlari menuju raungan itu. Saat sampai, aku melihat seorang wanita yang sepertinya lebih pas di panggil Ibu-Ibu. Ia membentangkan tangannya, mulutnya menyunggingkan senyum. "Kemarilah Nak."


Kalimatnya membuat separuh panas tubuhku menurun. Aku berlari ke arah wanita itu. Ku rengkuh tubuh wanita itu ke pelukanku, ku benamkan wajahku di ceruk lehernya. Saat wanita itu mengelus rambutku, rasanya ada kesejukan yang menguar dari tangannya.

__ADS_1


Seluruh tubuhku yang panas, mulai mereda. Organ-organ tubuhku juga berhenti berdenyut. Kepalaku yang awalnya terasa hampir pecah, menjadi lebih tenang. Mataku pun terasa semakin berat. Wanita itu mengusap kepalaku. "Tidurlah nak. Tenangkan dirimu, berhenti mengamuk ya? Kamu harus tenang...."


Usapan tangannya, dan ucapan yang di ucapkannya. Berhasil membuatku tidur dalam pelukan wanita itu. Aku tidak mengingat apapun saat ini. Tapi aku yakin wanita itu seharusnya adalah salah satu bagian penting dalam hidupku.


__ADS_2