
Empat anak durhaka.
Itu adalah musim hujan ketika aku sedang duduk dengan segelas kopi pahit. Teman-temanku datang berkunjung dengan seribu alasan yang di pakai untuk izin ke orang tua mereka. Yang kasihan adalah mereka datang di bawah langit cerah. Namun tiba-tiba kehujanan saat mendekati area desa Lepamala. Yang berkunjung adalah Ardian dengan sang kekasih si Lesti, mereka berkunjung dengan alasan mencari spot foto bertema alam. Mereka kan dari klub foto.
Mereka juga datang bersama dengan Rangga dan Bayu. Rangga dan Bayu datang dengan alasan yang hampir serupa dengan Ardian dan Lesti. Katanya mereka ingin bertemu dengan senior mereka untuk memperdalam ilmu lukis mereka. Tentunya yang di sebut senior ini adalah aku. Ya, aku di kambing hitamkan demi alasan datang bermain.
"Hm... Jadi kalian datang dengan berbohong." Tanyaku.
Masing-masing dari mereka mengangguk. Aku menyeruput kopi hangatku. Lalu menatap mereka satu persatu. "Lalu kalian tersiram hujan?"
"Ya..." Mereka menyahut pelan sebagai jawaban.
"Itu artinya itu adalah azab untuk kalian. Para anak-anak durhaka." Cibirku.
"Kami juga tidak sepenuhnya bohong Kok Boss!" Itu Rangga yang berbicara.
Aku menaikkan sebelah alisku. "Benarkah?"
Rangga mengangguk kencang. Ia menyikut Bayu dengan tangan kirinya. Lalu Bayu memelototinya, kemudian ikut berkata. "Boss, sebentar lagi kami bakal mewakili sekolah dalam sebuah lomba besar. Biasanyakan yang pergi Boss, sekarang kami harus berlatih keras karna Boss tidak ada."
Lalu Hallin datang dengan beberapa gelas teh hangat. Lalu ada Alya dengan beberapa handuk kecil. Beserta sebuah pakaian untuk Lesti. Lesti memakai pakaian yang tipis, sehingga terkena hujan sedikit bisa membuat kita melihat warna pakaian dalamnya. "Terus? Karna sedang hujan kalian bisa menggambar gambar hujan saja tuh sana."
"Boss, jangan gitu dong. Kita ke sinikan sekalian mau maen." Ujar Bayu.
Lalu Lesti yang sudah berganti pakaian datang, dia ku minta duduk dan minum teh hangat agar merasa lebih baik. Karna mereka kemari karena rindu kepadaku, aku juga tak bisa menyalahkan mereka. "Oke deh, cuma gambar aja, aku masih punya di buku tebal. Tapi gimana sama kalian berdua? Sebagus apapun kamera, hujan tetap akan mengaburkan segalanya."
"Kita harus optimis Ketua. Mungkin nanti hujannya reda atau ada berubah ke gerimis kecil. Tapi nanti kita pinjam payungnya ya." Lesti ikut berbicara.
"Oke deh, terserah kalian saja. Kalian aman untuk saat ini. Tapi begitu tau kalau kalian terkena hujan, habis kalian. Orang tua kalian pasti marah." Ujarku.
__ADS_1
Rangga menggidikkan bahunya. "Kalau kami sih kan sudah bilang kalau kami datang kemari karna ingin bertemu senior. Jadi kalaupun tau di sini hujan, Ibu kita ngga akan marah karna tau kita ada tempat berteduh." Dia berujar santai sambil menatap Ardian dengan mata menantang.
Aku mengangguk-angguk. "Itu benar, kalau sampai Mamanya Lesti tau kalau anaknya di bawa hujan-hujanan, hubungan kalian bakal terancam. Dan kamu Ardian, kamu bakal di black list karna membuat Lesti kehujanan. Lesti kan intan payung."
Ku lihat saat itu wajah sejoli itu tampak pias. Mereka tidak memikirkan itu sama sekali. Di saat mereka sedang tegang karna takut. Aku melihat telpon Ardian berdering. Bayu melihat nama pemanggil. Itu bertuliskan nama Ibunya Lesti. Lalu Bayu membuat gerakan tangan yang menggorok leher. Mulutnya bergerak membisikkan kata. "Mati kau."
Ku Lihat Ardian hendak menolak panggilan itu. Namun aku memperingatkan dengan segera berkata. "Kalau kamu menolak panggilan itu, Mamanya Lesti pasti curiga."
Ardian tampak kebingungan saat itu. Tapi akhirnya ia juga menggeser tombol hijau. Padahal dirinyalah yang beresiko akan terkena marah, tapi kami satu ruangan malah ikut merasakan ketegangan. "Y-ya Tante?"
"..."
Kami tak mendengar apa yang Tante itu bicarakan, karna ponsel tidak dalam mode Loud speaker. Tapi dari raut wajah Ardi kami tau ia sedang di marahi. Lalu ia memberikan telponnya kepada Lesti.
"Iya Ma? Iya Lesti baik-baik aja kok. Nggak, nggak ada kecelakaan."
Saat itu tiba-tiba sebuah petir berbunyi dan hujan semakin deras. Wajah Lesti semakin pias karna sesuatu. "I-iya Ma, Nggak, tidak nggak apa-apa. Kami berteduh di rumah kenalan kok."
Nada bicaranya tampak panik, sepertinya Mamanya sedang menasehatinya. Lalu entah mengapa telponnya Ardian malah di berikan kepadaku. Aku mengerakkan kepalaku memberikan kode. 'kenapa?'
"Mama mau bicara, Ketua..." Lesti berbicara dengan nada gugup.
Aku menerima telponnya. Sebelum berbicara kepada Mamanya Lesti, aku berkata begini. "Lesti, Ardian, minum tehnya dulu, kalian pasti kedinginan. Hujan cukup deras di luar, untung saja kalian dapat menepi tepat waktu."
Kalimat itu berhasil menarik perhatian Nyonya di sebrang telpon. "Kamu anak yang di panggil ketua sama Lestikan?"
"Iya ini saya, Rini Ariani. Tante bisa memanggil saya sesuka hati. Kita pernah bertemu saat di event ulang tahun sekolah tahun lalu. Di tahun ajaran semester satu." Aku berpikir lagi dan ingat kalau kami pernah bertemu.
"Aaa, jadi kamu. Tante baru ingat. Kamu anak yang wajahnya datar itu. Iya-iya Tante ingat sekarang. Tolong jaga Lesti ya, Tante masih kurang percaya sama si Ardian itu." Nadanya terdengar senang di awal lalu berubah menjadi kesal di akhir.
"Aman Tante. Dia sekarang ada di rumah saya kok. Saya bisa kirim bukti lewat pesan kalau Tante mau." Ujarku.
"Tidak perlu, Tante percaya sama kamu. Kamu terlihat lebih bertanggung jawab dari pada pacarnya Lesti." Ujarnya. Lalu sambungan telpon di putus olehnya.
__ADS_1
Teman-temanku menatapku dengan tatapan yang seolah mengatakan. 'Bagaimana?'
Aku menggerakkan tanganku sepertišlalu berkata. "Aman."
Saat aku memberikan telpon ke pemiliknya yang sah. Aku mendengar telpon lain berdering. Itu sepertinya adalah telpon Bayu. Ia mengangkat telponnya, kebetulan saat itu juga Guntur sekali lagi berbunyi. Wajah Bayu mengernyit seperti orang yang di omeli.
"I-iya Bunda, ini Bayu di rumah Senior kok. Itu loh Bunda, teman Bayu yang jadi ketua klub tahun itu. Kan dia lebih jago dari Bayu Bunda, jadi Bayu sudah menganggapnya sebagai senior di hati Bayu." Ia berkata dengan wajah tebal. Padahal niat dia datang kemari di akhir pekan hanya karna ingin bermain saja.
"Pret" aku menyahut di kejauhan.
Bayu meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Memberikan isyarat agar aku diam. Aku mengangkat bahu. Lalu lanjut meneguk kopi pahit ku hingga tegukan terakhir. Tepat saat aku meletakkan gelas ke meja. Aku melihat telpon sekali lagi di arahkan kepadaku. Bayu saat itu hanya nyengir-nyengir nggak jelas.
Ia membisikkan kata. "Tolong ya Boss... Bunda mau bukti."
Aku mengambil telpon dan mulai membuka mulut. "Ekhem... Ya Bundanya Bayu?"
Seolah mengenali suaraku, Bundanya Bayu berkata dengan nada riang. "Ah jadi benar ya, saya mengira Bayu berbohong..."
"Meski di luar hujan, Bayu dan Rangga datang tepat sebelum hujan menimpa mereka. Anak Nyonya ada di rumah saya sekarang." Saat aku mengatakan kalimat terakhir, teringat olehku dialog pencuri anak.
"Ah... Syukurlah kalau begitu. Saya sangat khawatir. Titip anak saya ya?"
"Tentu, dia adalah junior saya. Dia mirip dengan murid saya, mana mungkin saya membiarkannya terluka." Ujarku. Saat aku berbicara kalimat itu, Bayu menatapku dengan mata haru. Aku membalasnya dengan jari tengah di tangan kiriku.
"Baiklah kalau begitu. Terimakasih." Ujarnya lembut.
"Ya" ujarku lagi. Lalu ia memutus sambungan telpon setelah mendengar kalimat ku.
"Makasih Boss! Kami selamat!"
Aku hanya menghela nafas. "Rindu sih boleh saja, tapi jangan mengkambing hitamkan aku dong. Kalian ini gimana sih." Ujarku.
"Ya, kami kan kesini rindu sekaligus butuh bantuan Boss." Ujar Rangga sambil menyesap teh hangatnya.
__ADS_1