
Piknik keluarga Rev
Dua hari berlalu dengan sangat cepat. Libur singkat itu juga memberiku kenyamanan sesaat. Kepergian Rini membuatku merasa ada yang hilang. Ku lihat wajahku di cermin. Kini aku telah tahu, kalau aku memang bukan Rini Ariani. Dari Rini aku juga tau, kalau aku bukanlah seorang wanita, melainkan seorang pria, yang merasuki tubuh wanita. Dan manusia tak mungkin mampu merasuki orang lain kecuali hantu, mungkin? Tapi aku juga sangat yakin kalau aku juga bukan hantu. Melihat kemampuan Calya yang dapat berubah rupa, ku pikir mungkin aku juga sama sepertinya.
Kini pertanyaannya adalah, siapa namaku? Dan mahluk apa aku ini? Namun dengan kehadiran Alya, aku tak lagi memikirkan pertanyaan yang tak terjawab itu. Instingku juga mengatakan kalau semuanya akan segera berakhir. Maka aku pun mulai fokus menikmati waktu yang tersisa.
Tak terasa waktu sudah banyak terlewati dengan rasa senang yang mengalir dalam darahku. Sekarang sudah mendekati hari ulang tahun Indonesia. Yang berarti juga mendekati ulang tahunku. Beberapa teman lamaku mulai menanyakan kabarku. Seperti para bocah laknat yang sedang menelpon ku sekarang.
"Yoo ketua, bagaimana kabarmu disana?"
"Aku baik-baik saja Yuda, desa ini lumayan menyegarkan, sangat nyaman di sini. Gadis-gadisnya juga pada kinclong tuh, kapan-kapan ku kenalin deh..."
"Ketua tidak berubah ya, masih datar saja. Bahkan saat berbicara hal seperti itu. Nanti aku mau bolos deh, jadi bisa mampir ke sana sama yang lain. Kangen juga nih sama si Hallin." Yuda berbicara dengan tawa mesum di akhir kalimat.
"Hei, jangan mikir yang macam-macam tentang Hallin ya! Entar ku kebiri tu K*nt*l mu!"
"Dih galak banget nih Bu ketua. Nanti mampirnya aku bawain hadiah deh, hehehe...."
"Asal jangan yang berbau mesum aja, ntar ngga bisa ku buka."
"Kenapa memangnya? Ketahuan Nyonya Boss ya?" Yang Yuda maksudkan adalah Ibu.
"Ngga, aku sekarang sekamar sama cewe, dia nempel banget, jadi takutnya ketahuan."
"Oalah begitu to. Kenalin dong."
__ADS_1
Tiba-tiba yang di bicarakan datang dengan piring yang berisi kue manis. "Rein, Rein, di coba ya! Aku pake bahan spesial nih!"
"Tuh yang di bicarakan nongol, terdengar tidak suaranya?"
"Dengar, dengar! Suaranya imut! Pasti cakep kan ya?"
"Banget sih ku rasa."
Merasa di abaikan, Alya mengembungkan pipinya kesal. Ia meletakkan piring lalu merebut telponku. "Rein bicara sama siapa sih! Beraninya mengabaikan aku!"
Ia segera mematikan sambungan telpon, lalu melempar telponku ke tempat tidur. Ia memegang bahuku dengan sedikit erat. Lantas berkata dengan nada serius. "Aku tidak suka di abaikan, Rein harus ikut denganku."
Ia segera menarik tanganku ke sebuah tempat. Dengan keranjang piknik di tangannya yang lain. Alya membawaku ke hutan ini. Awalnya Hallin mencegat kami. Namun dengan sebuah permintaan kecil dan senyumannya yang memikat, Alya berhasil membujuk Adik perempuanku itu.
Meski aku masih belum tau dengan jelas nama asliku, Aku sangat yakin kalau sebentar lagi semuanya akan kembali padaku. Jadi untuk apa terburu-buru? Mari habiskan sisa waktu hingga usia 20. Aku tidak sabar menantikan usia 20, apa yang akan terjadi saat aku berusia genap 20 tahun? Itu selalu menjadi misteri tak terjawab yang selalu menggangguku. Namun kehadiran Alya meredakan semua itu.
"Rein, apa yang kau lamunkan?"
Sebelum aku sempat bereaksi, dua wanita berbeda usia datang. Aku mengingat mereka, mereka adalah Ratna dan seseorang yang mengaku sebagai Ibuku. Karna aku sudah mengetahui kalau aku memang bukan Rini Ariani, maka kehadiran mereka membuatku lebih yakin bahwa merekalah keluarga asliku.
Ibu yang pertama kali berbicara. "Raj-" sebelum Ibu menyelesaikan kalimatnya, Calya memotong. "Reindra, nama ini lebih familiar dari pada nama itu Ibu. Benarkan Rein?"
Aku menganggukan kepalaku. Nama Reindra memang pernah ku dengar di suatu tempat. Efek kemunculan kata itu di kepalaku juga tidak besar, rasanya aku sangat terbiasa dengan nama itu. "Baiklah, Rein kemarilah sebentar."
Aku mendekat ke Ibu. Ibu menatapku dengan tatapan dalam. Matanya yang berwarna kuning kehijauan seolah menghipnotis diriku. Rasanya ada arus listrik kecil yang menyengat titik terdalam di tubuhku. Lalu Ibu melepasku dari tatapannya.
Wajahnya menunjukkan kekhawatiran. "Kamu sangat kelelahan! Akhiri saja perjanjian itu segera Putraku! Itu tak baik untuk kesehatan jiwamu!"
Meski aku tidak mengerti perjanjian apa yang di bicarakan Ibu. Mulutku saat itu spontan menyebutkan. "Tidak! Janji adalah sumpah! Aku harus menepatinya!"
__ADS_1
"Kakak berbicara seolah Kakak mengingat semuanya saja." Ujar Ratna.
"Eh, ya aku memang tidak ingat sih... Tapi itu insting!" Ujarku.
Calya memelukku dari samping, lantas mengusap punggungku sebentar. "Tidak apa-apa... Hari ini aku mengundang kalian semua untuk makan bersama. Sebentar lagi Rini berusia 19, mungkin sekitar beberapa hari lagi."
Seolah mengerti sesuatu, Ratna dan Ibu mengangguk. Calya pun mulai mengeluarkan isi keranjang pikniknya. Ratna dan Ibu juga mengeluarkan keranjang milik mereka. "Rein, Ibu dan Ratna membawakan camilan kesukaanmu."
"Benarkah? Coba ku lihat."
Yang di berpihatkan Ibu adalah sebuah makanan yang di gulung oleh daun hijau. Aku mencoba memakannya. Bentuknya mirip pangsit, di tambah aroma khas dari dalam daun membuat selera makanku naik. Saat mengunyahnya, ada sesuatu yang lumer dari dalamnya. Karna aku makan dalam satu gigitan, maka aku belum tau apa isinya.
"Aku juga Kak! Aku belakangan ini sedang belajar masak! Aku ingin Kakak jadi yang pertama mencobanya!"
Ratna menunjukkan sebuah mangkuk. Saat ku buka penutupnya, isinya adalah air kental yang berwarna hitam. "Kamu ingin aku mati lebih cepat?" Gumamku.
Aku menatap Ratna saat hendak menolak, namun raut berharapnya membuat pertahanan ku runtuh. "Ba-baiklah, aku akan mencobanya."
Ku teguk cairan kental itu. Rasanya begitu lengket saat menyentuh bibirku. Aromanya juga memasuki hidungku, Aroma ini mirip dengan Aroma darah, tapi sepertinya di campur dengan bahan lain. Saat mencapai lidah, dapat ku rasakan cita rasa menarik dari cairan kental ini. Rasanya mirip dengan kuah kaldu menurutku. Sebenarnya jika kau mengabaikan warnanya, Tidak ada yang salah dengan makanan ini.
Aku meneguknya hingga tak bersisa. Lantas mengacungkan jempol kananku. "Enak."
Reaksinya mirip seperti Calya beberapa hari lalu. Berkedip sebentar lantas tertawa. "Kenapa? Apa yang kalian tertawakan?"
"Tidak, hanya aneh saja." Calya berkata.
Ratna ikut berkomentar. "Wajah datar Kakak saat berkomentar sangat lucu"
Aku mengangkat bahu. "Mau bagaimana lagi? Tubuh inikan tubuh yang sudah mati. Berikan makanan berikutnya. Sepertinya makanan yang di berikan kalian lebih membuatku berselera, dari pada makanan yang di berikan orang rumah."
__ADS_1
Tiga wanita berbeda usia di depanku hanya saling bertatapan lalu tersenyum bersamaan. Hari itu, selera makanku yang aneh benar-benar di puaskan. Suasana hutan dan keluarga lain di depanku membuatku sangat nyaman. Hari itu kami habiskan dengan berbincang sambil makan bersama.
Selain itu perasaan rindu aneh yang terasa berat di hati juga terbayar saat bersama dengan mereka. Piknik kali ini sangat menyenangkan. Hanya itu kesimpulan yang ku dapatkan.