Who Am I?

Who Am I?
Sakit


__ADS_3


Sakit Rev



Meski aku tidak mengingat hal yang baru saja terjadi, begitu aku bangun, aku melihat Ayah dan seorang wanita asing berpakaian khas kerajaan purbakala, sedang berbicara di sisi tempat tidurku. "Kali ini aku masih dapat membantumu menahannya. Jika tidak, jangankan jasad utuh Putrimu, mungkin abu pun tidak akan bersisa."


"Sungguh terima kasih Yang Mulia."


"Heh, aku melakukan ini untuk Putraku. Jika saja aku sedikit terlambat, tubuh Putrimu akan meledak dan Putraku akan gila. Pokoknya jangan sampai Putraku mendengar namanya di sebutkan, sebelum perjanjian kalian selesai. Jika ingatan Putraku kembali saat berada dalam tubuh Putrimu, maka semuanya akan berakhir. Tidak hanya tubuh Putrimu, mungkin saja seluruh desa akan di lenyapkan oleh Putraku."


Ku lihat wajah marah wanita itu. Ayah hanya menunduk ketika mendengar amarah wanita itu. Aku mencoba untuk bangun, namun tubuhku sama sekali tidak dapat di gerakkan. "Engh... Mengapa... Tubuhku tidak bisa bergerak... Ayah?"


Mendengar suaraku, wanita itu dan Ayah melihatku. Ayah berkata dengan nada khawatir. "Tidak apa-apa, jangan bergerak, tubuhmu sepertinya sedang lelah. Tunggu sampai semua otot-ototmu melemas, barulah kau bisa bergerak."


Wanita asing itu hanya tersenyum lembut kepadaku. "Tidak apa-apa Nak. Tidurlah, istirahatkan tubuhmu. Jangan banyak bergerak ya."


Senyuman wanita itu membuat hatiku terasa damai. Tanpa banyak kata aku menuruti perkataannya untuk tidur. Sebelum kesadaranku sepenuhnya di telan mimpi, aku sempat mendengar beberapa kalimat dari wanita itu. "Aku akan pulang, Adiknya dan Istrinya pasti sangat khawatir kepada Putraku. Kau jaga Putraku baik-baik, saat menjelang usia dua puluh nanti, Calya akan menemani Putraku."


.....


Aku bangun lagi saat mendengar suara gaduh. Kulihat ternyata ada Ayah dan Ibu yang memindahkan barang-barang Hallin keluar kamar. Sepertinya aku di biarkan sendirian di kamar ini. Hallin di perintahkan Ayah untuk pindah ke kamar tamu.


Aku mulai merasa bosan dan kesepian. Biasanya aku akan bercerita banyak hal kepada Hallin. Atau aku yang mendengarnya bercerita. Kini sejak aku sakit bahkan Virong pun tak kunjung ku lihat ujung bulunya. Aku benar-benar di tinggalkan sendirian di kamar ini. Hanya sesekali, pada saat waktu makan tiba, Ibu akan datang untuk menyuapiku makan.


Seolah mengerti, tubuhku tidak mengeluarkan kotoran apapun selama aku sakit. Aku tidak perlu repot buang air kecil atau besar. Namun seluruh indraku serasa mati. Mataku masih bisa melihat hanya saja sedikit kabur. Indra perasaku tak lagi berfungsi, begitu pula dengan Indra penciumanku. Sekarang yang ku makan setiap hari tidak memiliki rasa. Untungnya Indra pendengaranku tidak terlalu buruk, aku masih dapat mendengar dengan lancar.


Ku dengar pintu kamarku sudah di buka dari luar. "Ibu ya?... Sudah berapa lama aku tidak bersekolah Bu?"

__ADS_1


"Sekitar tiga hari Kak. Bagaimana kondisi Kakak? Apakah mulai membaik?"


"Eh, Hallin ya? Lumayanlah... Meski masih terasa keras, tangan kanan sudah bisa di gerakkan." Ujarku pelan.


Sepertinya Hallin yang di minta Ibu untuk menyuapi aku hari ini. "Hallin, kenapa pindah? Terus kenapa Kakak ngga lihat Virong? Bagaimana dengan Anak-anak? Kenapa Anak-anak tidak melihat Kakak?"


Aku tidak mendengar jawaban dari Hallin. Aku malah merasakan tetesan air dingin menetes secara perlahan di tanganku. "Kak... Hiks... Sebenarnya aku takut banget Kak. Hiks... Hiks... Waktu itu Kakak seperti orang kesetanan. Kakak meraung seperti binatang buas.... Dan yang membuat aku dan Adik-adik takut adalah, saat itu taring Kakak memanjang. Lalu lensa Kakak berubah menjadi kuning terang. Hiks.... Mengerikan... Bahkan tangan Kakak saat itu berubah, tangan Kakak seperti cakar Macan. Hiks... Meski takut... aku malah lebih takut kehilangan Kakak.... Hiks... Huaaa... Kakak..."


Ku rasakan Hallin memelukku dari atas. "Sayang sekali Hallin, semua yang kamu katakan, tidak pernah hadir dalam ingatan Kakak. Sudah-sudah... Jangan menangis lagi... Bagaimana mungkin Kakak pergi meninggalkanmu."


Meski berkata begitu. Aku selalu merasa umurku dengan keluarga ini akan segera berakhir. Setelah Hallin tenang, ia mulai menyuapiku. "Wah... Kabar baik, lidah Kakak hari ini dapat merasakan makanan." Ujarku.


Ku dengar Hallin menghela nafas lega. "Syukurlah..."


"Oh iya bagaimana dengan pertanyaan Kakak tadi? Kenapa tidak di jawab?"


Kalau bagian ini aku ingat. Aku ingat bagaimana rupa Wanita yang di sebutkan Hallin. "Tante-tante yang pakai baju aneh ya? Apa katanya?"


Hallin mendengus kesal sambil menyuapiku. "Dia menunjuk tempat tidurku, lalu berkata kepada Ayah sambil marah-marah. 'Ini apa? Jangan satukan kamarnya sama anak perempuanmu yang lain! Sebagai sesama pria kamu pasti tau bagaimana pikiran Putraku. Jangan menyiksa batinnya dengan cara ini!' Yang aku kurang suka dari Tante itu, Tante itu terus saja memerintahkan Ayah ini dan itu. Pokoknya Tante itu merepotkan. Lalu saat melihat Virong berjalan memasuki kamar untuk tidur bersama Kakak, wajahnya mengernyit tidak suka. Lalu wanita itu mencekik Leher Virong dan membawanya keluar Kamar. Dia berkata omong kosong lagi kepada Ayah. 'Jangan biarkan satupun spesies betina mendekati Putraku terlalu lama. Putraku sudah beristri.' Aku kesel banget Kak. Aku tidak mengerti siapa yang di akui Putra olehnya. Aku juga tidak mengerti kenapa dia melarang orang-orang mendekati Kakak."


"Tidak apa-apa, mungkin saja itu untuk pemulihan Kakak. "Ujarku.


"Mungkin sih... Oh iya, Kakak benar-benar melupakan kejadian hari itu ya?"


"Benar. Dari pada lupa, lebih pantas di sebut tidak ada ingatan tentang itu sama sekali. Oh iya, bagaimana? Apakah Ayah mengatakan perkiraan Kakak sakit berapa hari?"


"Kata ayah sih, dengan perkembangan kesembuhan Kakak yang lambat, Kakak akan sakit selama mungkin satu atau satu setengah bulan."


"La-lama sekali..."

__ADS_1


"Ya begitulah... Sekarang ayo habiskan makanannya."


Aku mengangguk, dengan bantuan Hallin aku kembali menelan makananku. Seperti kata Hallin, aku sakit cukup lama. Aku tidak tau sudah berapa hari berlalu. Yang pasti sekarang aku sangat bosan. Tidak ada yang berbicara kepadaku ataupun menemaniku. Paling-paling hanya Ibu saat menyuapiku makan, atau saat menyeka seluruh tubuhku.


Pintu kamarku di buka lagi. Kali ini Ibu datang sambil membawa air hangat dan kain. Sepertinya ini waktu untuk menyeka tubuhku. Dengan kata lain, ini adalah waktu untukku mandi. Karna sekarang aku bisa menggerakkan setengah badanku, aku mencoba duduk saat Ibu datang.


"Sudah berapa hari aku sakit Bu?"


"Hampir dua Minggu Nak, kenapa?" Ibu mulai membuka pakaianku. Sejujurnya aku masih belum terbiasa, di mandikan oleh Ibu saat usiaku sudah hampir dua puluh tahun.


"Ngga apa-apa sih Bu. Cuma pasti banyak pelajaran yang tertinggal." Ibu mulai mengusap wajahku dengan kain yang di basahi air hangat.


"Jangan di pikirkan. Sejak awal tujuan kita pindah ke desa ini untuk membantu proses kesehatan tubuhmu yang terbilang buruk sejak awal. Pihak sekolah juga tau semua perihal tentangmu dari sekolah yang lama. Jadi tidak perlu terlalu di paksakan. Ibu dan Ayah tidak menekan kamu untuk menjadi murid yang berprestasi. Ibu dan Ayah menyekolahkanmu hanya untuk mengatasi masalah mentalmu. Ibu dan Ayah tau kalau kamu tidak suka keramaian, apa lagi suasana persekolahan. Tapi Ibu dan Ayah ingin kamu punya kenangan masa muda yang dapat di ingat di hari tua nanti. Masa SMA itu masa yang cuma bisa di lewati satu kali." Ibu berbicara sambil tersenyum.


Ternyata seperti itu. Aku menghela nafas panjang. Menatap langit-langit kamar yang tak pernah berubah warna. "Begitu ya Bu... Terima kasih ya... Mungkin jika kita tidak pindah, aku tidak akan bertemu dengan dia..." Gumamku.


"Dia siapa nih?" Ibu menatapku dengan mata yang menyipit dan seringai yang lebar.


"Temanku, namanya Yesie, lalu Iqish dan yang lainnya. Selain baik, mereka tidak pernah mempermasalahkan aku yang bertubuh aneh ini. Terutama Yesie, hehe... Jika di ingat lagi pertemuan pertama kamilah yang paling absurd. Dan yang terpenting Yesie memiliki tempat dalam memori kepalaku yang sempit."


Ibu menatapku dengan senyuman dan air mata. "Eh... Kenapa menangis Bu?"


"Sudah lama Nak.... Sudah lama sejak kamu berbicara dengan nada seperti itu... Sudah lama sekali... Ibu pikir, Ibu takkan pernah mendengar nada riang itu darimu lagi..." Ibu menangis haru.


Aku hanya menepuk-nepuk bahu Ibu. Memang sudah lama sejak terakhir kali aku bersemangat dan mengenalkan teman perempuanku kepada orang tuaku. Karna sejak aku kecil, anak perempuan yang ingin berteman denganku hanya beberapa. Itupun selalu saja tidak berlangsung lama. Kalaupun punya teman, aku hanya punya teman laki-laki yang tidak pernah mempedulikan perbedaan tubuhku.


"Nak, lain kali kamu harus memperkenalkan Ibu dengan temanmu yang bernama Yesie itu." Ujar Ibu dengan wajah bersemangat.


Aku hanya memberikan jempol kananku. "Kapan-kapan ya." Ujarku.

__ADS_1


__ADS_2