
Usia 19 Rev
Ini adalah hari kemerdekaan Indonesia. Seluruh pelajar dan pegawai negeri sipil akan melaksanakan Upacara Bendera. Begitu pula di desa Lepamala tempatku tinggal. Karna ini sebuah desa yang cukup ramai, peserta Upacara akan melaksanakan upacara mereka di sebuah lapangan besar yang biasanya di pakai untuk bermain sepak bola.
Matahari pagi seakan menyengat kami. Teman-teman mulai mengeluh tentang betapa panasnya hari ini. Namun karna kondisi tubuhku yang khusus, aku tidak merasa kepanasan. Hanya sedikit hangat dari biasanya saja. Untuk itu, Calya yang merangkap identitas sebagai Alya tak henti-hentinya menempelkan tanganku ke wajahnya. Teman di belakang atau di depan juga sedikit menempel.
Suhu tubuhku yang berada di bawah nol derajat, membuat orang-orang ingin berdekatan denganku. Sebenarnya aku tidak terlalu suka di tempeli banyak orang seperti ini. Aku berharap Bu Guru yang mengawasi di belakang kami mengerti. Salah satu Guru yang mengawas memang mendekatiku. Saat ku pikir Bu Guru ingin memarahi teman yang menempel, ternyata Bu Guru malah ikut menempelkan telapak tanganku ke wajahnya.
Untungnya, Upacara akan berakhir sebentar lagi. Karna hari ini juga ulang tahunku, Ibu meminta kami pulang segera setelah Upacara selesai. Aku, Hallin dan Alya datang bersama, maka pulangpun harus bersama. Karna Upacara telah selesai, Aku dan Alya pamit kepada yang lain untuk langsung pulang.
Aku dan Alya mencari Hallin ke barisan sekolahnya. Kemanapun ku cari, tak ku temukan ia di barisannya. Saat ku tanya Gurunya, Bu Guru itu bilang kalau Hallin pergi dengan temannya ke stand jajanan.
Yah ku pikir beristirahat sebentar juga tidak apa-apa. Sekalian ku ajak Yesie juga. "Katanya mau langsung pulang?"
"Kami ingin mencari Hallin sebentar lalu pulang." Alya yang menjawabnya.
"Apa kau berkendara sendiri?" Tanyaku kepada Yesie.
"Yap." Yesie berkata dengan anggukan kecil.
"Karna kita searah, maukah kau mampir ke rumahku? Hari ini hari ulang tahunku. Aku berharap kau juga hadir dalam perayaannya. Sekaligus Rayakan ulang tahunmu, bukankah kau berulang tahun besok?" Aku membujuknya untuk datang. Bagaimanapun semua temanku akan datang, rasanya kurang jika Yesie tak datang.
Ulang tahunku di rayakan dengan makan bersama. Dan Ulang tahunku selalu di rayakan. Itu adalah tuntutan Ayah, bahkan jika Adik-adikku tidak maka aku harus di rayakan. Baik aku atau anggota keluarga yang lain, tak mengerti mengapa Ayah berperilaku demikian.
Teman-temanku di tempat tinggal sebelumnya akan datang. Mereka juga tak pernah melewatkan ulang tahunku. Lagi pula Ibu sangat ingin mengenal Yesie, tidak ada salahnya untuk mengundangnya dan mengenalkannya pada Ibu. Tapi aku tak bisa memaksakan dia untuk datang.
"Baiklah, aku akan minta izin ke Bapakku dulu." Ujarnya.
__ADS_1
Alya menarik tanganku sambil berteriak. "Kalau begitu kami menunggumu di parkiran motor!"
Setelah bertemu dengan Hallin yang sedang melambaikan tangan, kami mengajaknya pulang. Yesie, Hallin, Alya dan Aku berangkat menuju rumah.
Di pintu depan yang terbuka, ku lihat ada banyak sendal laki-laki. Bocah-bocah laknat itu pasti telah datang. "Yo Ketua! Baru sampe nih?"
Si Yuda nongol sambil nyengir ke arah kami. Saat melihat tiga gadis lain di belakangku ia segera terpesona. Yesie dan Alya hanya menatap dengan tatapan dingin ke arah Yuda. Sedangkan Hallin menganggap Yuda angin lalu. Aku merangkul bahu Yuda sambil berbisik ku bisikkan kata. "Jaga image bro! Muka terpesona mu mirip monyet."
"Sialan ni Bu ketua. Udah ah ganti baju sana, liat Bu ketua pake seragam rasa kek lihat banci ngecosplay."
Ku tendang pantatnya. "Sialan nih Si Yuda."
Lalu aku melangkah ke kamar. Setelah mengunci pintu, aku segera berpakaian. "Karna ini hari spesial, setidaknya sisir rambutmu."
"Tidak perlu..." ujarku pelan.
Tapi Alya memaksa, ia menahanku di dinding lalu menyisir rambutku perlahan. Setelah puas ia tersenyum bangga. "Kalau begini kan keren."
"Sudah, ayo ikut. Akan ku kenalkan kau pada teman-teman lamaku."
"Ih Arian, nggak mungkin itu." Ujarnya. Tapi gadis itu masih mengikutiku.
Ah benar juga, aku kan merangkap identitas sebagai Rendi, kekasih virtual Yesie. Ketahuan ngga ya? "Aku tau semua tentangmu Rein. Tidak apa-apa, yang kau takutkan ngga akan terjadi kok." Alya berbisik halus. Aku menatapnya dengan tatapan terimakasih.
Kami bersama ke ruang tengah. Di sana sudah di sediakan sebuah tikar dengan banyak lauk yang tertutup di atasnya. Para kucing berlari mendekatiku. Lalu sebuah cahaya flash dari kamera telpon menyambut mataku. "Mantap! Aku dapat foto Ketua sama para kucing nih. Nanti bisa di kirim ke Lesti!"
Itu adalah Ardian. Temanku dari klub foto di sekolah lamaku, begitu juga dengan Lesti. "Memangnya si Lesti ngga ikut?" Tanyaku.
Ardian menggeleng. Lantas sebuah suara menyela kami. "Biasa... Di larang Mamanya."
Itu adalah Linda. Ia mendekatiku untuk memelukku. "Aaa... Bu Boss, udah lama nggak ketemu makin dingin aja." Ujarnya sambil menempelkan tanganku ke wajahnya.
__ADS_1
Linda tampak terkejut saat ia melirik orang di belakangku. Itu adalah Calya tentunya. Jika benar dia istriku, wajar ia marah saat melihat wanita muda memelukku. "Boss jangan ingat sama yang cantik aja dong. Liat kami yang ganteng ini juga, hahaha..."
Itu adalah Bayu dan Rangga. Teman di klub melukisku. Aku, Linda, Bayu dan Rangga adalah anggota klub melukis. Dan aku adalah ketua klub melukis. Aku juga ketua kelas di sekolah yang lama. Jadi terkadang teman-temanku akan memanggilku Ketua atau Boss.
Sedangkan Ardian dan Yuda adalah teman dekatku sejak SMP. Mereka bukannya tidak tau aku yang sedikit aneh. Mereka adalah yang paling mengenalku diantara para temanku. Tapi ada yang kurang nih. "Eh mana si Radit? Kangen juga, tu bocah biasanya yang paling nempel kek cewek centil." Ujarku.
Radit adalah teman sekelasku, juga teman dekatku saat SMP. Ia duduk di sebelahku, dulu saat MOS SMP kami sekelompok. Dia sempat di rundung saat itu, tapi aku datang dan menyelamatkannya. Sejak itu ia selalu menganggapku pendekar berkuda putih yang menyelamatkannya. Dia mirip dengan seorang wanita, wajahnya terlalu manis untuk di katai tampan. Dan ia seorang kutu buku penderita rabun dekat. Radit selalu menempel padaku, ku rasa ia takut di rundung lagi. Karna kami sama-sama seorang pecinta puisi, maka aku tak mempermasalahkannya.
"A-aku di sini Bosku!" Sepertinya ia baru saja dari toilet.
"Wah, kau ikut membolos dengan mereka? Biasanya kau sangat tidak ingin meninggalkan momen langka seperti event event yang terjadi setelah acara Upacara Bendera." Ujarku sambil menyenggol bahunya.
"Kalau nggak sama Boss nggak seru, jadi aku ikut deh sama mereka ke sini." Ia memperlihatkan gigi putihnya yang mungil dan runcing.
Tingkahnya selalu menyerupai wanita muda, tapi enggan di katai banci. Aku hanya mengusap-usap rambutnya. Selalu menyenangkan saat melakukan itu, karna rambutnya lembut dan halus. "Ekhem..."
Suara Calya menginterupsi kami. Rasa dingin memenuhi punggungku. Aku merasakan tatapan predator di belakangku. "Eh... Karna semuanya di sini, biar ku perkenalkan kalian dengan dua temanku di tempat ini."
Yesie dan Alya berdiri di sisiku. Yesie dengan tatapan dingin dan Alya dengan senyum dingin. Serta wajahku yang juga dingin. Flash kamera telpon kembali berkedip. Ardian mengacungkan jempolnya. "Keren! Kalian bertiga sama-sama dingin!"
Alya maju selangkah dan mulai memperkenalkan diri. Ia tampak sangat ramah kepada semuanya, namun di balik keramahannya ada kesan pura-pura yang jelas. "Aku Alya. Is.. maksudku teman sekamarnya Rein."
Yesie juga maju memperkenalkan dirinya. "Aku Yesie, sahabat baiknya Arian."
Teman-teman menatap dua gadis di depanku bergantian. "Rein? Arian?"
"Hahaha... Karna semuanya telah berkenalan, ayo kita mulai makan bersama." Aku dengan segera mengalihkan pembicaraan.
Saat semuanya menuju tikar, Radit berbisik kepadaku. "Bos mereka seperti Istri dan selirmu. Yang di panggil Alya itu tidur denganmu, jadi dia istrinya dan si Yesie itu selirmu. Hehehe... "
"Pengennya gitu sih." bisikku.
__ADS_1
"Hehehe... Sayang banget Boss ngga punya batang. Kalo punya pasti udah di perkosa tu cewe yang sekamar." Yuda ikut berbisik.
"Udah ah, makan dulu kita, berbacot ria adalah nomor dua!" Ujarku sembari mendorong mereka ke tikar.