
Rini Ariani Rev
Ku pikir yang terjadi padaku kemarin hanyalah mimpi. Namun kenyataan sekali lagi menamparku. Aku dapat melihat, mendengar dan merasakan sama seperti sebelumnya. Namun aku tak dapat mengendalikan tubuhku barang sesaatpun. Bahkan aku tak bisa mengendalikan hal yang ku katakan.
"Halo Paman, apa kau di sana?"
Di depanku ada sebuah cermin. Teringat olehku pesan Rini semalam. Aku mencoba berbicara. "Ya?"
"Wah ini menakjubkan! Tapi aku masih tak bisa tersenyum seperti sebelumnya." Rini mengeluh saat ia memegangi pipinya yang pucat.
Akupun menimpali. "Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau tubuh ini tubuh mati? Jika benar begitu bukankah itu hal yang wajar?"
Rasanya sedikit gila saat melihat sosok di cermin yang terus menerus berubah Auranya. Saat Rini sedang berbicara, cermin menampakkan dirinya dengan Aura lembut dan feminim. Saat Aku yang berbicara, Auranya kasar dan sangar. Seperti orang gila yang berbicara pada udara kosong, tapi kami benar-benar berkomunikasi melalui cermin ini.
Ini juga merupakan pengalaman baru untukku. "Hoam... Rein... "
Alya terbangun dan melihat kami dengan wajah terkejut. Aku dapat merasakan kakiku yang gemetaran. Ku dengar suara Rini menggema di kepalaku. 'Mengerikan! Aku takut! Auranya seperti Aura setan!'
"Kamu bukan Rein..."
Alya memerengkan kepalanya. Matanya menatap tajam ke arah kami. "Aura kehadiranmu berbeda dengan Rein. Kamu... Rini ya?"
Heh? Dia sepertinya mengetahui sesuatu. Benar saja dugaanku, Alya sangat misterius! Aku yakin kalau dia memiliki sesuatu yang di sembunyikan di belakang punggungnya. Visiku berpindah menjadi menatap lantai. Aku yakin Rini sekarang sedang menunduk.
Suaranya terdengar sedikit gemetar saat berbicara. "A-aku akan segera pergi... Waktuku akan segera berakhir... Ja-jadi aku ingin... Menghabiskan wa-waktu dengan y-yang lain..."
Suara menyenangkan Alya terdengar lagi. Ku rasakan ia menepuk bahu kami. "Apa yang membuatmu takut? Lakukanlah sesukamu. Aku adalah teman Rein."
Rini menatap wajah manis Alya yang tersenyum. "Biar ku beritahu sedikit rahasia... Aku ini Istrinya Rein, namaku yang sebenarnya Calya Bawita."
Seperti wanita penggosip di luar sana, Alya merengkuh bahu Rini dan berbisik dengan nada misterius. "Rein tidak mendengar Kitakan?"
__ADS_1
Aku dapat merasakan kecanggungan mengalir ke seluruh tubuhku. "Anu... Sebenarnya Paman mendengar dan melihat apa yang aku dengar dan lihat." Bisik Rini.
"Ah!?" Wajah putih Alya tampah memerah. Ia sepertinya malu akan sesuatu. Atau bersemangat akan sesuatu?
"Rein! " Alya menangkupkan tangannya di sisi wajah Rini. "Apa dia melihatku? Apa dia mendengarku? Apa katanya?"
Karna aku dapat mendengar suara hati Rini. Ku pikir Rini juga dapat mendengar suara hatiku. Maka aku membatin. 'Dia sangat berisik. Tapi aku memang sudah menduga kalau dia Calya.'
Dengan suara yang masih gemetar, Rini menyuarakan isi hatiku. Alya hanya tersenyum lebar. "Apa yang membuatmu yakin? Apakah Rein sudah mengingat semuanya?"
'haih... Wajahmu begitu serupa dengan Calya, buka buku tebalku untuk memastikannya. Dan aku masih tidak mengingat semuanya. Aku mengatakan segalanya berdasarkan instingku'
Rini menyampaikan apa yang aku katakan. Wajah Alya berubah menjadi Khawatir. "Rein sebaiknya jangan terlalu sering membatin. Itu tidak baik untuk kesehatan tubuh kalian. Rini pasti merasa tidak nyaman sekarang. "
Rini mendekati cermin lagi. "Benar Paman. Yang tidak dapat merasakan rasa sakit adalah Paman, bukan Aku. Mungkin karna akulah pemilik tubuh yang sebenarnya."
Aku hanya mengangguk pelan. Lalu mengatakan. "Bolehkah aku meminta sesuatu?"
Rini mengangguk. "Katakan saja Paman."
"Bolehkah aku melihat wajahmu Calya? Bukan Alya, tapi Calya."
'Rini, aku ingin memeluknya.'
Rini memeluk Calya. Calya mengusap kepala kami. Perasaan hangat ini menenangkan hatiku yang gundah. 'Terima kasih Rini'
"Paman bilang Terimakasih."
Calya mengusap rambut Rini. Mata hijaunya berkedip dengan cahaya bahagia. "Tidak apa-apa... Sebentar lagi semuanya akan berakhir. Rein bisa mengingat semuanya ketika semuanya telah berakhir. "
"Ngomong-ngomong, ini dimana? Rasanya kamarku tidak seperti ini." Rini berkata sambil menatap sekeliling ruangan.
Calya berubah kembali ke Alya. Ia merapihkan rambutnya yang kusut sehabis bangun tidur. Lalu berkata. "Rini, karna kondisimu yang sekarang, aku yakin kau akan sulit menerima hal baru ini. Jadi aku akan pergi meminta izin kepada Bibi, agar dia membiarkanmu cuti sekolah beberapa hari."
"Um.... Bibi!" Rini menangkap tangan kiri Alya.
__ADS_1
Rini berkata saat ia berhasil menghentikan Alya. "Izin sekitar dua hari saja. Aku merasa waktuku yang tersisa tidak banyak."
Alya mengangguk perlahan lalu matanya menatap tajam kepada Rini. "Jangan panggil aku Bibi! Aku lebih muda dari Rein!"
Hehehe... Lebih muda...
'Rini, kamu pernah melihat wajahku bukan?'
Rini segera berkata. "Benar Paman. Apa ada yang bisa ku bantu?"
'Jika bisa, ambil buku tebal itu dan lukis sketsa wajahku'
Rini bergerak menuruti keinginanku. Awalnya ia mengeluh dan mengira kalau ia tidak bisa menggambar sebaik aku. Tapi itu adalah bakat alami dari kedua tangan kami. Sehingga ia hanya perlu membiasakan diri. Goresan demi goresan pensil telah di torehkan pada kertas putih. Tangan itu telah terbiasa menggambar dengan baik. Maka bahkan jika yang mengendalikannya adalah jiwa yang berbeda, gambarnya akan tetap sama.
Setelah menghabiskan waktu beberapa menit, gambar sketsa kasar dari wajahku telah selesai. Yang kulihat di halaman kertas adalah gambar seorang pria yang usianya mungkin sekitar awal 30. Pakaiannya tidak sama dengan pakaian manusia di era ini. Pakaiannya lebih mirip pakaian kerajaan purbakala. Potongan rambutnya yang panjang juga menjadi ciri khas dari gambar itu. Tatapan pria di kertas terlihat tangguh dan penuh aura Mendominasi. Ku pikir hanya dua kata yang bisa menggambarkan sosok di kertas. Yakni, keren dan tampan!
'Apakah itu aku?'
"Benar Paman. Apakah Paman bahkan tidak bisa mengingat wajah Paman sendiri?"
'Begitulah, sudah, langkahkan kakimu dan temui keluargamu. Aku yakin kau sangat merindukan mereka. Aku takkan mengganggumu lagi.'
Rini meletakkan buku tebal itu di tempat yang seharusnya. Lalu pergi melangkah ke pintu luar. "Rumah ini mirip dengan rumah di Album foto lama milik Ibu."
Karna siang hari belum tiba, Adik-adik masih berada di rumah. Rini berpapasan dengan si kembar. Ekspresi si kembar menegang saat melihat Rini. "Anwar! Arvid! Kalian sudah besar ya!"
Sebelum dua bocah nakal itu dapat pergi. Rini telah mengunci mereka dalam pelukan hangat. Si kembar juga menatap Rini dengan tatapan aneh. Kalimat bisikan yang terdengar dari mereka ketika kami pergi adalah, "Rasanya Kak Rin seperti berubah menjadi orang lain."
Aku tak tau apakah Rini juga dapat mendengarnya. Kakinya terus melangkah menuju kamar Hallin. Sebelum lengannya bergerak untuk mengetuk, pintu kamar telah terbuka dengan Hallin yang menguap.
Saat itu aku merasakan luapan perasaan yang begitu besar bak banjir bandang di hatiku. "Eh? Kakak?"
"Hallin... Sudah besar ya... "
Aku merasakan pipi kami yang basah. Aku yakin Rini sangat merindukan Adiknya. Rini memeluk Hallin. Hallin sepertinya kebingungan dengan tingkah Kakaknya. "Kakak? Kenapa?"
__ADS_1
Rini menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Kakak hanya bermimpi buruk dan sekarang Kakak mu ini sangat merindukan dirimu."
Rini mengusap kepala Hallin dengan penuh kasih. Sama seperti si kembar, Hallin juga menatap aneh kepada Rini. Hari itu di habiskan Rini dengan mengisi waktu luang di sekitar keluarganya. Tanpa ada waktu untuk berdiam sendiri. Meski sedikit merepotkan, aku sendiri dapat merasakan kehangatan yang selalu muncul dalam hati.