
Bersantai
Aku tak yakin sudah berapa lama aku di tempat yang katanya kamarku ini. Aku jadi ingin tau dimana Calya. Akankah ia benar-benar menggantikan aku mengendalikan tubuh Rini? Dan aku mulai sedikit rindu kepadanya.
Aku sudah mampu bergerak bahkan berlari. Tapi tubuhku masih dalam bentuk macan hitam yang besar. Aku pernah membaca Wikipedia tentang Macan Kumbang hitam. Dia adalah jenis yang sama dengan Macan tutul, hanya saja mengalami melanisme. Melanisme adalah kebalikan dari Albino. Jika Albino membuat seluruh tubuhmu memutih. Maka melanisme membuatmu menghitam. Umunya melanisme terjadi kepada Jantan.
Melanisme membuat macan kumbang menjadi lebih tersembunyi saat berburu. Dan dia di juluki sebagai 'Black Phantom' jika aku tidak salah. Fakta unik itu pernah membuatku kagum pada binatang berbulu yang berwarna hitam. Siapa yang tau bahwa diriku sendiri adalah Binatang berbulu berwarna hitam.
"Kau tidak berlatih lagi!"
Suara Ibu mengagetkan aku yang melamun.
Ibu selalu memintaku untuk berlatih setelah aku bisa bergerak lancar. Berlatih ini tidak lain adalah, menyerap energi Alam untuk memulihkan energiku yang hilang. Itu yang Ibu jelaskan tapi aku malas...
"Tapi..."
"Tidak ada tapi! Ayo berlatih!" Ibu ganas sekali.
Melihat aku yang masih tidak mulai berlatih, Ibu mengeluarkan Cambuknya. Sebelum mengenai diriku, aku telah menghindarinya dan mulai berlatih untuk diriku sendiri. Aku lihat Ibu tersenyum puas. Lalu ia melangkahkan kakinya ke arahku. Aku dapat mendengar suara gaunnya yang terseret di lantai.
Ibu berkata bahwa Siluman adalah mahluk independen yang unik. Siluman mampu menyerap energi alam yang berasal dari banyak unsur alam. Dengan energi itu, Siluman akan mempu mengelola diri sendiri dan kaumnya. Energi itu mampu mengubahku kembali ke bentuk manusia. Sehingga Ibu mengharuskan aku untuk berlatih keras hingga aku kembali ke bentuk manusia.
Ia duduk bersila di belakangku. Aku merasakan telapak tangannya menyentuh punggungku. Ada aliran energi hangat mengalir dari telapak tangannya. "Fokus! Serap semua energi di sekitarmu hingga kau tak lagi mampu menyerapnya."
"Ibu yakin?" Aku bertanya pelan. Meski aku yakin jawabannya adalah bentakan.
"Tentu! Cepat ini demi kesembuhanmu!"
__ADS_1
Aku mengangkat bahu. Jika itu yang Ibu inginkan aku akan menyerap seluruh energi itu segera. Aku menyadari satu hal saat aku menyerap energi beberapa hari lalu. Aku tak tau apakah itu hal normal atau bukan. Setiap kali aku akan menyerap energi, seluruh energi akan terserap. Tak ada istilah tak mampu menyerap, aku mampu menyerap seluruh energi sebanyak-banyaknya seolah aku adalah lubang hitam tanpa dasar. Energi itu memang akan meningkatkan kesembuhanku, tapi itu tak baik untuk orang sekitar. Jumlah energi di sekitar akan menipis dalam sekejap hingga orang lain tak mendapatkan energi seperti yang seharusnya.
Itulah alasan aku enggan untuk terlalu sering berlatih. Berlatih terlalu sering hanya membuat keseimbangan energi akan kacau. "Hentikan Rajendra. Hari ini cukup sampai disini."
Aku berhenti menghisap energi. "Ibu yakin ada yang salah denganmu belakangan ini. Kau yang biasanya payah dalam menyerap energi, sekarang mampu menyerap energi hingga merusak keseimbangan. Ibu tak tau ini hal baik atau buruk, untuk sekarang kau beristirahat saja. Beberapa saat lagi Ratna akan datang untuk menemanimu."
Ibu pergi meninggalkan aku setelah berkata beberapa hal. Aku merasa bosan, tidurpun aku tak menghasilkan mimpi. Maka untuk menghilangkan rasa bosan ini ku jelajahi ruangan yang di katakan sebagai kamarku. Sebenarnya ini lebih mirip rumah mini dari pada kamar.
Ruang tempatku duduk saat ini adalah ruang tidur. Dengan melangkah keluar dari ruangan ini, aku akan melihat sebuah ruangan lain yang mirip dengan ruang tamu. Di setiap dindingnya terdapat banyak rak buku. Dinding yang lain di penuhi pedang dan beberapa senjata yang aku tak tau apa namanya. Berjalan ke tempat lain ada ruang kecil yang mungkin di jadikan kamar mandi. Karna di sana terdapat sebuah kolam renang kecil semi terbuka.
Lalu jika kau melangkah ke pintu besar tertutup, kau akan bertemu dengan ukiran berbentuk tanaman yang rumit. Namun kau dapat melihat bagian luar ruangan dengan mengintip di sela ukirannya.
Ku lihat di luar ada beberapa orang berzirah besi, dengan tombak di tangan dan pedang di pinggang. Mereka seperti menjaga ruangan ini. Dan kulihat mereka berkeringat dingin. Mereka tidak berbicara atau melakukan apapun selain berdiri di kedua sisi pintu.
Oke melihat mereka yang mirip patung membuatku bosan. Mari coba untuk membaca buku. Tapi bagaimana caraku untuk mengambilnya? Di lihat dari ketebalan sampul seharusnya tidak masalah. Cakarku seharusnya tidak menembusnya. Atau aku gigit saja? Tidak, aku melihat diriku di cermin. Gigiku hampir keseluruhan adalah taring panjang yang tajam. Jika merusak bukunya bagaimana?
Benar juga, seharusnya beberapa pria di luar itu bisa membantuku. Aku melangkahkan empat cakarku ke arah pintu. Dengan merenggangkan cakarku, aku membuka pintu dengan menariknya melalui lubang ukiran yang kecil. Saat ku tarik ke dalam pintu itu, ku lihat wajah gugup pemuda yang ku kira sebagai penjaga pintu.
"Ba-baik Yang Mulia" langkahnya begitu gugup seakan-akan aku akan memakannya.
Ia mengikuti langkahku ke rak buku. "Ambilkan aku yang itu, itu, itu, dan itu."
Ia mengangguk pelan. Setelah meletakkan tombaknya, ia mengambilkan buku yang aku minta. "Kau terlihat gugup, ada apa?"
"Tidak apa-apa Yang Mulia, hamba mohon pamit." Ia terlihat membungkuk hormat kepadaku. Seolah aku adalah Raja saja.
"Bicaramu terdengar aneh, tapi ya sudah, pergilah. Terimakasih sudah membantuku"
Sekali lagi ia membungkuk hormat kepadaku, lalu pergi dengan tombaknya. Melihat beberapa buku tebal di meja membuatku bersemangat. Aku selalu suka melihat buku tebal, apalagi yang kertasnya menguning. Rasanya seperti melihat buku kuno.
Sekarang timbul pertanyaan baru, bagaimana aku membalik halamannya?
__ADS_1
Kertasnya terlalu rapuh, tak bisa menggunakan cakarku. Cakarku sendiri lebih besar dari buku itu. Kuku? Kukuku terlalu tajam untuk helaian kertas.
Mari berpikir, hal ini seharusnya adalah hal yang mudah.
Dengan lidahku, mungkin? Ya, tidak ada salahnya untuk mencoba.
Aku mencoba membalikkan halaman dengan ujung lidahku. Kertas tidak rusak atau basah, itu hal baik. Hal buruknya adalah tulisan aneh yang terkesan jelek untukku yang tulisannya mengikuti zaman sekarang. Melihat dari gaya hidup, sepertinya tempat ini mewakili zaman kuno yang lebih tertinggal di banding tempat manusia.
Seharusnya tulisan ini juga begitu cantik bagi mereka yang mengerti. Saat ku balik-balik halaman berikutnya. Ya, aku sepertinya memahami tulisan aneh ini. Dan isinya lumayan menarik. Seperti sebuah strategi perang atau pertempuran. Lalu aku membuka buku lainnya. Wah yang ini juga menarik. Isinya adalah sejarah masa lalu.
"Wah tumben Kakak membaca. Memangnya Kakak mengerti apa yang tertulis di sana? "
Ratna muncul dengan cemilan di tangannya. Ia duduk di kursi yang berada tak jauh dariku. "Yah, awalnya tidak tertarik karna tulisannya terlihat jelek. Tapi aku bisa mengerti apa yang tertulis di sini."
Ku lihat Ratna malah tertawa saat mendengar kalimatku. "Kenapa?"
"Memangnya yang mana yang tulisannya jelek?" Tanyanya lagi.
Aku menunjuk buku Strategi perang dengan bantalan cakarku. "Wahahaha! Sudah ku duga! Kakak ingin tau itu tulisan siapa?"
"Siapa?"
"Itu tulisan Kakak sendiri. Wahahaha... "
Aku hanya menatapnya dengan tatapan kesal. Sementara gadis berambut pirang itu terus saja tertawa. Butuh beberapa menit hingga ia berhenti tertawa. Aku mencoba memakan cemilan yang di bawa Ratna.
Ratna menyeka air mata di sudut matanya. "Oke, aku berhenti tertawa. Oh iya, aku punya Kabar baik loh Kak!"
Aku masih mengunyah cemilan yang teksturnya mirip seperti biskuit. Aku hanya mengangkat alisku untuk menunjukkan keingintahuanku. "Kakak Ipar akan datang besok! Bergembiralah! Kakak akan segera bertemu dengannya. "
Ia berkata dengan gembira. Jauh dalam hatiku rasa senang itu ada, dan sulit untuk di abaikan.
__ADS_1