Who Am I?

Who Am I?
Kencan?


__ADS_3


Kencan?



Atas tawaran Ida, aku dan Calya berkunjung ke rumahnya. Baik aku maupun Calya, kami adalah binatang buas yang secara alami tidak menyukai ular. Bahkan jika Ida tidak bersifat buruk. Kami masuk telaga tempatnya tinggal. Memang sih tak sebesar atau semewah sebuah istana, tapi itu cukup besar untuk kalangan orang biasa. Ida memiliki banyak pelayan yang juga ular, atau bisa ku sebut separuh ular.


Hal pertama yang dia lakukan adalah menarik perhatian Calya. Aku sudah tahu ini akan terjadi, ada sedikit ketidaksenangan yang muncul dalam hatiku. Tapi aku masih mencoba untuk mengabaikan nya, bagaimanapun juga Ida adalah temanku. Melihat tatapan dinginku Ida mulai mengalihkan pembicaraan, ia mengajak kami ke dapurnya. Untuk menjamu kami dengan beberapa jenis menu makan malam. Mungkin karena dia adalah ular, kebanyakan berbahan telur dan beberapa unggas.


Aku tentu tidak pilih-pilih makanan. Tapi yang membuatku kesal adalah, aku sama sekali tidak boleh menyentuh menu makanan yang berbahan dasar daging! Secara alami Ida memberikannya kepada Calya dan hanya menjamu ku dengan beberapa jenis telur!


Hatiku terasa masam, aku sudah memutuskan bahwa malam ini aku akan membawa Calya untuk berkencan. Tapi jika ada pihak ketiga, kencan itu sama sekali tak berarti. Aku hanya mampu memakan makananku, sembari memikirkan apa yang akan aku lakukan setelah ini. Dan bagaimana cara agar aku menyingkirkan ular putih menyebalkan ini.


"Rajendra, jangan menatapku dengan tatapan seperti itu, makan saja makanan mu. Apakah ada yang ingin kau katakan kepadaku?" Ida berkata dengan nada menyebalkan, alisnya di naik-naikan dan ada seringai jahil di wajahnya.


"Tidak, tidak ada apa-apa." Balasku.


Dalam diam Calya menggenggam jemari ku, sepertinya ia tahu ada yang salah dengan ku dan Ida. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Setelah makan, ku lihat Ida ingin mengajak kami melakukan hal lain lagi. Tapi aku menghentikan ular besar itu, karena aku tahu ia lebih tua dariku aku memanggilnya dengan sebutan Kakak.


"Maaf sebelumnya kakak Ida, kami memiliki sesuatu untuk dilakukan sehingga tidak bisa menemanimu. Mungkin lain kali aku akan mengunjungi mu lagi." Ujarku. Lalu ku berikan senyuman agar ia yakin dengan kalimat ku.

__ADS_1


Wanita berambut putih itu melirik ku dengan tatapan curiga, aku yakin tak mudah untuk pergi darinya. "Yang benar?" ujarnya.


"Iya! Ini adalah hal pribadi, sehingga kami harus segera pergi. Mungkin aku akan kemari beberapa tahun lagi, atau mungkin kapan-kapan." Ujar ku.


Wanita ular itu hanya menyipitkan matanya. "Ya, baiklah... Bagaimanapun juga aku tidak bisa mengganggu waktu pengantin baru bukan?" Ujarnya dengan nada menggoda.


Atas izinnya, kami pun berhasil keluar dari telaga itu. Saat aku masih berpikir untuk hal yang akan kami lakukan berikutnya, aku secara tak sengaja melihat Calya terus melihatku. Di mulutnya melengkung sebuah senyuman yang terlihat manis di malam hari.


"Kenapa? Apa ada yang salah denganku?" Aku bertanya saat mulai merasa tak nyaman dengan tatapannya.


Sepasang mata hijau almond itu terpejam dan lengkungan senyum yang lebih besar tercipta. Lalu ia berkata "Rajendra sedang cemburu ya?"


Ia berbicara dengan nada senang. Ku akui aku memang cemburu dengan Ida, yang mencoba menarik perhatian Istriku ini. Tapi tak mungkin aku akan mengakuinya di depan Calya bukan? Bahkan jika dia tahu yang sebenarnya. melihatku yang hanya terdiam, senyumannya semakin melebar.


Saat itu Calya hanya tersenyum dengan anggukkan pelan. Ia menggandeng lenganku, lalu kami berjalan bersama di tengah gelapnya malam. Aku tak tahu jelas bagaimana cara berkencan. Tapi mengikuti cara manusia, itu seharusnya berjalan bersama dan menghabiskan waktu bersama dengan pasangan.


Karena hidangan yang diberikan Ida masih memenuhi perut kami, kupikir makan bersama akan dihapus dalam daftar perjalanan malam ini. Tapi apalagi? Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Mengikuti cara kencan di dunia manusia, itu seharusnya berjalan-jalan, berbelanja, atau pergi ke taman hiburan, tapi bagaimana mungkin ada teman hiburan di desa terpencil seperti ini. Apalagi saat ini kami berada di sebuah hutan, aku benar-benar tidak terpikir cara lain selain berburu.


Calya terlihat menantikan kegiatan selanjutnya, sayang sekali saat ini otakku benar-benar buntu. Saat kami berjalan, aku melihat aliran sungai yang hari ini kami gunakan untuk mandi. Ku pikir aku tidak ingin mengecewakan Calya. Dia sudah banyak membantuku, rasanya berat hatiku jika malam ini berakhir sia-sia.


Mengikuti ingatan samar yang baru saja ku ingat. Tak jauh dari rumah, ada sebuah air terjun. Yang jika aku tidak salah ingat itu adalah gerbang menuju laut gaib. Seharusnya jika aku dan Calya berjalan menembus tirai air terjun, maka kami pun akan dibawa pergi ke tempat lain. Seharusnya di tempat lain bisa digunakan untuk berburu.

__ADS_1


"Hm... mari kita pergi ke sebuah tempat. Apakah kau mau?" Aku bertanya pelan.


"Kemanapun kau ingin membawaku, aku tak peduli. Selama itu bersamamu, itu berarti untukku." Calya berujar sembari tersenyum. Senyum alami terlihat indah di saat bulan menyinari wajahnya. Tanpa sadar melihatnya juga membuatku tersenyum.


Lalu kami berjalan menuju air terjun yang ku ingat itu. "Mengapa kita kemari?" tanya Calya.


"Aku berjanji untuk membawamu berburu, maka kita akan berburu."


"Di air?" Tanyanya. Wajahnya tampak bingung saat itu.


"Ini bukan air terjun biasa, ini adalah jalan pintas yang dibuat oleh beberapa siluman di sini. Aku menemukannya saat aku bermain-main saat masih kecil dahulu. Seingat ku fungsinya hampir mirip seperti portal yang kau buat. Jika tak salah ini akan membawa kita ke sebuah laut. Ku pikir aku ingin mencoba daging hiu, apakah kau ingin?"


Mendengar pertanyaan ku, ia hanya tersenyum pelan lalu mengangguk. Dengan begitu artinya ia telah setuju dengan ajakan ku. Ku genggam tangannya lalu kami menembus tirai air terjun.


Sebenarnya aku tidak pernah menembus ke dalam tirai air terjun. Aku hanya pernah melihatnya saat bermain bersama Ida saat aku masih kecil dahulu. Aku benar-benar tidak pernah memasukinya, sehingga aku sama terkejutnya dengan Calya. Pemandangan yang di depan kami adalah pemandangan yang dapat dikatakan 'estetik'.


Hutan tempat kami datang jelas adalah malam hari, namun saat kami menembus tirai air terjun itu adalah tempat dengan matahari bersinar di atasnya. Yang berarti tempat di siang hari. Langit terlihat cerah tanpa ada awan di atasnya, suasananya juga hangat dan tenang. Tak ada orang lain selain aku dan Calya di sini. Di depan kami terbentang sebuah pantai dengan lautan biru yang luas, ku pikir impianku untuk makan daging hiu akan terwujud.


"Bagaimana?" Aku bertanya untuk menanyakan pendapat Calya terhadap tempat ini.


Calya mengucapkan kalimat yang cukup panjang. Ia menggenggam tanganku cukup keras. "Tempat ini sangat indah, aku sangat ingin kita kembali lagi suatu saat nanti. Bilamana saat kita lelah, aku ingin tempat ini menjadi salah satu tempat untuk kita berkunjung menghilangkan penat."

__ADS_1


Ia berujar dengan senyuman memohon, bagaimana mungkin aku menolaknya?


__ADS_2