
Wanita aneh Rev
Ini adalah sore hari. Karna hari ini hari Kamis, Temanku yang dari kota di liburkan. Mereka memutuskan untuk menginap, saat ini mereka sedang menelpon kepada orang rumah. Yesie juga telah pulang, aku masih melambaikan tangan saat ia pergi.
"Bos sedih saat selirnya pergi!" Radit berteriak kecil saat ia menghampiriku.
"Jangan mengada-ada, memangnya kamu tidak pulang? Tante Rika tidak marah?" Tanyaku, Radit itu anak kesayangan orang tuanya. Di tambah lagi ia adalah anak tunggal. Biasanya Tante Rika agak protective kepadanya.
"Aku izin sama Mama kalau aku main ke tempat Boss bareng Yuda. Jadi Mama mengizinkan." Ujarnya dengan senyuman. Meski Tante Rika protective kepada Radit, dia percaya padaku, Ardian, dan Yuda. Tante Rika percaya kepada kami untuk menjaga Putra yang dia anggap Putri itu.
Aku hanya menganggukkan kepala, sembari memikirkan dimana kira-kira mereka tidur. Temanku semuanya telah pulang saat pukul lima sore, yang tersisa adalah Radit dan Yuda. Yang satu pendek yang satunya tinggi. Yang satunya biasa, yang satunya seperti banci. Jujur saja aku mengira kalau mereka berdua mirip pasangan Gay. Yah sebenarnya sering di hasut sama Linda juga. Linda adalah gadis yang suka membaca cerita BL atau komik BL, jadi dia sering berasumsi aneh kepada beberapa orang.
"Oke apa yang akan kita lakukan berikutnya?" Aku bertanya sambil mengusap rambutku dengan handuk. Yah, aku baru saja Mandi.
Yuda duduk dengan bersandar ke kursi, ia tidak terlalu suka berpikir. Kalau Radit, ia mengangkat bahu. Radit tidak terlalu suka membuat keputusan. Alya datang dengan Hallin. Malam ini Ayah, Ibu, dan Anak-anak pergi ke rumah Nenek, dan akan kembali besok siang.
Hallin berkata dengan semangat. "Mari kita menonton film hantu!"
Alya terlihat mengangguk ragu. Radit diam saja, namun tangannya menggenggam tanganku yang duduk di sampingnya. Kalau Yuda hanya mengangkat bahu. Semuanya memandangku.
"Terserah kalian."
__ADS_1
Yah aku tidak takut untuk menonton film seram. Ketertarikanku pada genre horor biasa saja, bagaimanapun juga penampilanku sendiri tidak jauh berbeda dengan hantu. Aku lebih suka melihat tutorial yang berhubungan dengan seni lukis atau seni dua dimensi. Tapi yang paling aku suka adalah film dokumenter tentang binatang buas.
Aku menatap televisi dengan pandangan bosan. Di sisi kiriku ada Alya, di kananku ada Radit, di samping Radit Yuda, lalu di depanku ada Hallin yang memeluk bantal. Untuk mendapatkan suasana yang baik, Hallin mematikan lampu ruangan tempat kami menonton televisi.
Saat semua orang fokus melihat televisi, ada sesuatu yang menyentuh punggungku. Aku berbalik untuk melihat, namun tidak ada siapapun di sana. Radit atau Alya juga sibuk menikmati film. Lantas siapa? Yuda sudah tidur dan Hallin sedang memelototi televisi.
Aku meningkatkan kewaspadaan ku. Mengedarkan pandanganku untuk memastikan. Ruangan ini sedang gelap, tapi ada cahaya remang dari televisi sebagai penerang. Di tambah dengan kemampuan unikku, aku mampu melihat apapun dalam gelap.
Pandanganku menangkap sosok wanita? Tidak, itu adalah sesuatu yang memiliki tekstur seperti rambut. Sepertinya Virong? Ah, bukan juga. Aku baru saja melihat Virong sedang tidur di kamarku, saat aku memakai pakaian beberapa saat lalu.
"Aku pamit sebentar, jaga diri kalian." Aku melangkah menuju dapur, ke arah benda hitam itu pergi.
Namun saat aku memasuki dapur, tak kulihat benda mencurigakan itu di manapun. Mungkinkah itu hanya hantu iseng yang menjahiliku? Ya itu adalah salah satu kemungkinan besar. Pilihan terbaik adalah mengabaikannya. Tidak ada gunanya untuk meneruskan kejahilan mereka.
Namun pintu belakang tiba-tiba terbuka. Dan ada suara berisik di belakang rumah. Semakin aku mengabaikan, semakin suara itu membuatku tertarik. Oke, sesekali mungkin aku harus melihat.
Tepat saat aku baru saja berbalik, pintu masuk ke rumah tiba-tiba tertutup. Begitu cepat namun tidak menimbulkan suara berisik. Oke, aku memang sedang di permainkan oleh hantu itu. Saat aku berpikir untuk berbicara dengan hantu itu. Sepasang tangan memelukku dari belakang dengan begitu erat. Aku tidak bisa menunduk untuk melihat sepasang tangan itu. Atau menoleh kebelakang untuk melihat sosok yang memerangkap diriku di pelukannya.
Yang dapat ku pastikan saat ini adalah, sosok itu seorang wanita. Aku dapat merasakan gunung kembar miliknya. Dari suhu tubuhnya dia bukanlah hantu. Suhu tubuh sosok itu hangat dan tidak dingin seperti diriku, sehingga aku sangat yakin dia bukanlah hantu. Dari posisi buah dadanya, ku perkirakan dia sedikit lebih tinggi dariku.
Aku ingin sekali melihat wajahnya. Namun sulit karna pergerakan tubuhku terkunci. Seolah ada tang besi yang mencengkram diriku. Aku merasakan nafas hangat di telingaku. Saat itu Indra pendengarku mendengar kata. "Meong..."
???
Kucing?
__ADS_1
Ah, mungkin ia hanya bermain-main saja.
"Aku tertarik kepada Auramu Myao..." Aku merasakan kepalaku di usap, mungkin dengan kepalanya. Karna aku dapat merasakan hidungnya mengusap helaian rambutku.
"Aku Cartelia... Datanglah kemari setiap seminggu lagi... Saat bulan naik dan keluargamu sedang sibuk..." Ia berbicara dengan suara manja. Aku dapat merasakan pelukan itu semakin erat.
"Kenapa diam saja? Cartelia menunggu jawabanmu..." Semakin erat pelukannya di rasa, begitu membelitku seolah menginginkan nyawaku.
Tangan kanannya masih menahan tubuhku, tapi tangan kirinya ia gunakan untuk mengusap leherku. Tangan itu bergerak mengusap rahangku. Lalu kembali turun ke leherku. Usapan itu berganti cekikan. Aku merasakan masing-masing jarinya memiliki kuku yang tajam. Ia mencekik diriku hingga aku kesulitan untuk bernafas.
"Jawablah Cartelia!" Bukan nada manja seperti sebelumnya. Namun nada tinggi seakan marah.
"Y..a..." Dengan susah payah aku berkata.
Namun setelah dua huruf pertanda persetujuan itu keluar dari mulutku, cekikan dan belitan itu terlepas. Aku terduduk di lantai dengan batuk keras mengiringi nafasku.
Saat aku berbalik, tidak ada sosok wanita itu. Aku masih merasakan cakarnya seakan kuku wanita itu masih menempel di leherku. Sensasi itu terlalu nyata untuk di katakan ilusi. Aku merasa lelah dan penat. Itu adalah hadiah ulang tahun paling buruk yang pernah ku terima. Dan aku tak paham dengan kalimat wanita aneh itu.
Sejujurnya apa yang di lakukan wanita itu terasa tidak nyaman, namun di balik rasa sakit ada rasa lain yang lebih besar. Semacam nikmat? Entahlah aku tidak yakin. Namun jantungku berdebar-debar di sertai sensasi panas yang aneh. Dan sensasi itu cukup nikmat ku rasa. Aku tidak tau kenapa diriku seperti itu, tapi itulah yang kurasakan. Adakah diantara kalian yang bisa memberitahu ku rasa apa itu?
Saat aku melangkah memasuki rumah. Aku mengambil air minum untuk melegakan dahaga. Saat itu aku melihat Virong di jendela dapur yang masih terbuka. Ia menghampiriku. Ia mengeong dengan mata berkedip, seolah bertanya apa yang terjadi kepadaku. Hehehe... Tingkahnya selalu membuatku semakin menyukainya.
Aku berjongkok untuk mengusap kepalanya, lalu menggendongnya dalam pangkuanku. "Bukan apa-apa, hanya ada wanita aneh yang muncul membelitku."
Aku berkata kepadanya. Virong mengusapkan kepalanya ke leherku, seolah sedang menghibur kekesalanku. Ekornya sedang bergerak ke kanan dan kiri seolah merencanakan sesuatu. Aku mencium pucuk telinganya saat berjalan. Telinganya bergerak-gerak saat bersentuhan dengan bibirku.
__ADS_1
Lalu aku melangkah menuju ruang televisi. Radit dan Yuda tertidur berbarengan. Hallin sudah pergi, mungkin ia sudah memasuki kamarnya. Bagaimanapun juga hari sudah larut saat itu. Aku melihat Alya masih terbangun, saat ia melihatku ia tersenyum. Lalu mematikan televisi dan mengikuti menuju kamar tidur. Yah tentunya aku pergi setelah menyelimuti dua temanku yang tidur di depan televisi.