Who Am I?

Who Am I?
Healing


__ADS_3


Healing Revisi



Setelah Ibu memberi beberapa nasihat pada Hallin dan teman-temanku, kami berangkat menuju salah satu destinasi favorit temanku. Letaknya juga tidak terlalu jauh dan tempatnya cukup tersembunyi. Rinmie berkata tempat ini bisa di sebut perawan. Karna masih terjaga keasliannya dan hanya beberapa orang yang mengetahui tempat ini.


Tempat ini adalah bukit hijau yang terletak tak jauh dari rumahku. Di sisi kiri bukit ada sungai kecil yang aliran airnya masih sangat jernih. Di sisi kanan bukit ada Padang ilalang yang hijau. Iqish membentangkan karpet, dan meletakkan makanan dan barang-barang lain yang kami bawa di tengah karpet. "Aku bawa tongsis nih, foto bareng yuk."


"Aku tidak suka berfoto." Ujarku.


Tiga gadis itu menatapku kecewa, alis mereka turun sebagai buktinya. "Ayolah Kak, ini kenangan indah kita."


Aku masih menolak. Bagiku yang ingatannya pendek ini, kenangan singkat seperti ini biasanya akan terlupakan. Jadi aku tidak terlalu berambisi untuk membuat kenangan kenangan indah, karna menurutku, toh itu semua akan terlupakan.


"Kak kumohon..." Hallin memohon dengan mata berkaca-kaca seolah akan menangis, wajah dan hidungnya bahkan memerah seperti orang yang sudah menangis.


Apa-apaan itu!? Mengapa ia bisa berakting sampai segitunya? Dasar Ratu drama. Tapi aku sungguh tidak bisa membiarkannya. Aku tidak tahan melihat air mata anak perempuan yang ku kenal, baik itu Adikku atau temanku. Perasaan ingin melindungi dan menuruti keinginannya untuk membuatnya bahagia itu ada.


Aku meneguk ludah, kemudian menggelengkan kepalaku untuk menyingkirkan pikiran tidak pantas. "Baiklah tapi hanya sekali ya."


"Yay!!! Kakak yang terbaik!" Iqish dan Hallin berkata bersamaan. Sedangkan Rinmie ia hanya tersenyum lega. Kalau di pikir-pikir senyumnya manis juga.


Argh... Aku tertipu janji manis perempuan!


Katanya cuma sekali! Tapi malah mengambil foto lebih dari Lima kali. Lalu saat makan masih harus melanjutkan foto. Entah itu foto binatang, langit, sungai, semuanya di foto seolah-olah memori teleponnya infinity alias tak terbatas. Tak lama kemudian Hallin membuka makanan, ku pikir waktunya makan. Tapi saat aku ingin mengambil camilan tambahan yang di berikan ibu, Hallin menepuk lenganku.

__ADS_1


"Bentar, aku mau mengambil foto makanannya untuk di pamerkan ke teman-teman baruku."


Aku memutar mataku, sepertinya untuk sementara aku harus makan angin. Tak lama kemudian perutku berbunyi bagai alarm. Tiga gadis konyol itu menatapku, lalu saling tatap satu sama lain.


"Yah, sepertinya sudah waktunya untuk makan siang." Rinmie memecah keheningan.


Kemudian kami makan bersama, saling bertukar cerita dan juga bertukar menu makanan tentunya. Aku lebih banyak mendengarkan dari pada bicara. "Sebenarnya aku ngajak Kakak karna mau mengajak 'healing' di sini. Ngga ku sangka ternyata Kakak punya Adik yang cantik dan perhatian"


Sebenarnya apa maunya sih gadis? Ini mengapa dia begitu ingin mengganggu hari hari ku? Jujur saja kebahagiaan dan kenyamanan versi diriku itu sangat sederhana. Aku hanya ingin sendiri dan menikmati waktuku. Menghabiskan akhir pekan dengan menulis puisi atau cerita adalah hal favoritku.


"Kak, jangan terlalu murung dong. Kita di sini untuk bersantai. Ayo Lin, bujuk Kakakmu." Iqish tersenyum menggoda.


Argh... Aku benar-benar berharap bahwa Ayah ada di sini. Menjadi seorang gadis dengan pikiran lelaki itu sulit! Apa lagi jika kau memiliki teman wanita yang sexy dan Adik yang manis. Aku benar-benar berharap aku menjadi lelaki sungguhan.


Aku menepis pikiran itu, mustahil.


Rinmie? Dia menemaniku di karpet. Aku dapat merasakan lirikannya yang tajam. "Apa Kakak tau sebenarnya tempat ini adalah tempat favoritku sejak kecil. Aku jarang membawa temanku. Iqish adalah orang pertama yang ku bawa kemari, selain keluarga ku tentunya."


"Lalu apa yang salah? Aku yakin kalian berdua mengajakku bukan hanya sekedar ingin 'healing'." Aku menatap Rinmie sambil menutup bukuku.


"Sebenarnya Iqish baru saja di putusin pacarnya, jadi dia merasa berat, frustasi dan sedih." Ujar Rinmie.


"Lalu apa hubungannya denganku? Kita bahkan belum sampai seminggu berkenalan. Dalam tahap ini, kita masih orang asing kau tau." Ujarku dengan sedikit rasa kesal di hatiku.


"Yah... Iqish itu selalu begitu orangnya. Dia tipe yang sangat menyenangkan, dia dekat dengan semua orang. Tapi ada alasan lain juga sih." Ujar Rinmie, jika aku tidak berjarak dekat dengannya, aku mungkin tidak mendengar apa yang dia katakan.


Aku tidak mengatakan apapun, namun aku mendekati Rinmie untuk mengetahui lebih jelas. Melihat tingkahku, sepertinya Rinmie mengetahui maksudku. Rinmie menghela nafas pasrah.

__ADS_1


"Iqish menganggap Kakak dewasa dan enak di ajak berteman. Ia merasa nyaman saat bersama Kakak."


Aku menatap langit. Rata-rata teman memang berkata demikian padaku, terutama teman perempuan. "Apa alasannya?"


Rinmie menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak tau, tapi karna Iqish bilang nyaman, ya sudah. Tapi nih, sejujurnya, aku merasa tingkah Kakak nggak seperti anak perempuan. Karna itu aku sempat mengira Kakak ke sekolah sambil pake Crossdressing. Tapi aku tau dari Hallin, kalau Kakak memang pure seorang wanita."


Aku mendengus dan menggoreskan kembali pena tinta ke buku. Rinmie hanya melirikku dengan sepasang matanya yang sipit. Iqish datang dengan Hallin ke karpet. "Semuanya mandi yuk! Air sungainya jernih dan menyegarkan!"


Iqish berteriak girang, di barengi dengan anggukan Hallin. Aku melihat mereka bertiga satu persatu. Hanya membayangkan mereka bertiga basah di sungai saja, aku sudah berpikir entah kemana. Tidak bisa! "Anu.. aku tidak ikut mandi. Aku memancing saja" Ujarku.


Hallin tertawa pelan, seolah ia mengerti apa yang aku maksud. Ia berkata. "Tidak apa-apa, tapi hati hati ya Kak."


Aku mengangguk. Lalu pergi mencari ranting panjang. Aku menggunakan benang jahit milikku dan jarumnya sebagai kail. Umpannya? Aku menggali cacing di bawah pepohonan. Aku pikir sungai kecil ini mungkin hanya memiliki beberapa ikan kecil.


Namun siapa sangka ternyata ikan yang menyambar umpanku begitu besar. Aku menariknya dengan sedikit tehnik yang aku pelajari bersama Adik lelakiku. Si bungsu suka memancing, meski kembarannya tidak terlalu menyukai nya, tapi aku selalu jadi teman memancingnya.


Aku tidak tau pasti berapa berat ikan ini, tapi ukurannya saja sudah termasuk besar. Mungkin seukuran lengan ku, dari telapak hingga siku. Panjangnya ada sekitar Empat puluh cm, dengan diameter Lima belas cm. Aku yakin ikannya sedang hamil.


Aku berbalik untuk memamerkan tangkapan ku ke Hallin dan yang lainnya. Tapi yang ku lihat membuat suhu tubuhku naik. Sehingga darah mengalir terbalik dan keluar dari hidungku a.k.a mimisan.


Hallin dan yang lainnya memang tidak melepas pakaian mereka. Namun air membasahi pakaian mereka. Kalian tau, aku bahkan bisa melihat warna bra mereka, sialan. Baiklah sebaiknya abaikan mereka.


Aku mulai memisahkan kail dari mulut ikan.


Baiklah anggap saja ikan ini sebagai hadiah untuk Ibuku nanti. Setelah memasukkan ikan ke kantong plastik, aku memancing lagi. Kali ini aku mendapatkan ikan kecil, mungkin empat ekor. Aku tidak menghitungnya dengan benar.


Ku lihat matahari mulai condong ke barat. Aku berbalik untuk melihat gadis-gadis, mereka sepertinya sedang ganti pakaian. Aku melihat telponku untuk menghitung waktu. Ternyata hari sudah hampir Ashar. Aku membenahi alat pancing daruratku.

__ADS_1


Memilah empat ikan kecil untuk di berikan pada dua teman cantikku. Ukuran ikannya sih tidak begitu kecil, ku perkirakan sepanjang tujuh belas sampai dua puluh centi meter. Malam ini aku ingin makan ikan asam pedas buatan Ibuku. Nyam... Memikirkan rasanya saja air liurku sudah basah di mulut.


__ADS_2