
Alya dan Yesie Rev
Waktu adalah hal yang berlalu tanpa terasa jika kau tak melihatnya. Namun begitu kau menantinya, setiap detik akan terasa berat dan lama. Begitulah kenyataannya. Begitu aku bersenang-senang sehingga lupa waktu, tau-tau waktu masuk di kelas baru tiba. Sekarang aku sudah resmi memasuki kelas XI. Dengan peringkat yang terbilang lumayan untuk orang yang otaknya tumpul seperti aku.
Di kelas yang baru ini, hampir 60% siswa di kelas X IPA 1 sekelas denganku. Salah satunya adalah Iqish tentunya. Tapi ia tidak sekelas dengan Rinmie. Itu membuat gadis periang itu sedikit murung. Berita baiknya kelas Rinmie berada tepat di samping kelas kami. Berita buruknya, Alya sekelas dengan kami.
Berita itu buruk untukku. Sekarang tak peduli apakah itu di sekolah atau bukan, dia akan terus menempel di sisiku seperti perangko. Namun tidak perduli seberapa menyebalkannya ia menurutku, orang-orang menyukainya. Mungkin karena sifatnya yang menyenangkan dan sangat baik.
"Rein, tunggulah aku." Suaranya yang menyenangkan seolah bernyanyi di telingaku.
Tapi aku masih tidak terlalu menyukainya tentu saja. Aku akan memperkenalkan Yesie dengan Alya. Aku berharap mereka berdua akan menjadi teman baik. Seperti Aku dan Yesie. Seperti biasanya Yesie akan selalu ada di tempat favorit kami. Ia selalu menungguku.
Tapi bahkan sebelum aku dan Alya mendekati tempat itu, Alya sudah bertingkah. Untuk sesaat, ekspresinya tampak kesal. Tangannya mengepal dan alisnya bertaut. Tenggorokannya menggeram seolah ia binatang buas. Dari sela geramannya ku dengar ia menyebutkan. "Ini bau Wanita itu!"
Sesaat matanya sempat berubah warna, itupun jika aku tidak salah melihat. "Lea?"
Begitu ku panggil panggilan yang dia sukai itu, dia tampak tersentak. Lalu melihatku dengan senyum canggung. Ku lihat saat itu tangannya masih mengepal. Dan senyumnya tampak tak setulus biasanya. "Kau baik-baik saja?"
Ia mendekatiku lantas menggerakkan tanganku ke wajahnya. Wajahnya terasa sedikit hangat, namun setelah di kompres dengan tanganku ia tampak segera membaik.
"Aku baik-baik saja."
__ADS_1
Tampaknya keributan kecil yang di lakukan oleh kami mengganggu Yesie. Ia menghampiri kami, dengan buku di tangannya. Matanya menatap Alya, lalu berbalik menatapku. Ia memberi kode kepadaku yang seolah mengatakan. 'siapa dia'
Aku segera memperkenalkan Alya. "Yesie, ini Alya yang pernah ku sebutkan kepadamu. Lea, ini Yesie yang ingin kau temui."
Ku kira mereka akan berteman dekat atau paling tidak mereka akan saling cocok. Tapi yang ku lihat adalah, mata mereka yang saling menatap dengan tatapan kewaspadaan. Mata mereka yang dalam dan gelap menatap ke arah masing-masing dengan peringatan. Keduanya seolah saling membaca karakter masing-masing melalui tatapan.
Tatapan mereka yang tak pernah terputus membuatku merasakan aura kehancuran. "Em... "
Aku tidak tau harus apa untuk menghentikan perang dingin mereka. Tiba-tiba Yesie berbalik menatapku. "Dia mirip gadis di buku tebalmu."
Syukurlah perang dingin itu telah berakhir. "Apakah Rein pernah menggambarku? Bolehkah aku lihat?"
Binar berkilau dari manik Alya dan senyum hangat dari Yesie. Reaksinya membuatku menghela nafas yang panjang. Kakiku seakan lunglai menghadapi perang dingin di depanku. "Fuh... Kalian berdua membuatku takut..." Aku jatuh terduduk di rumput hijau itu.
"Rein..."
Suara mereka samar-samar menggema di kepalaku. "Ayo bawa Arian ke bawah pohon."
Tapi kepalaku masih terasa kosong. Rasanya perang dingin di antara dua gadis di depanku tak akan berakhir dengan mudah. Dan hari-hari berikutnya ku rasa akan sangat berat. Saat kesadaranku kembali, ku lihat dua orang gadis itu menatapku dengan khawatir.
"Rein tidak apa-apa?"
"Apa-apaan sih, kok namanya jadi Rein? Kan Arian lebih bagus."
"Namanya adalah Reindra! Kau tidak tau apa-apa! Jadi tutup saja mulutmu!"
__ADS_1
Lalu Alya tampak kesal, tangannya terkepal dan giginya bergemeletuk keras. Tak kalah Yesie juga tampak tak menyukai gagasan Alya. "Sebenarnya tidak masalah nama apa yang kalian sematkan untukku. Senyaman kalian saja. Dan ku harap kalian memiliki hubungan baik. Bagaimanapun kalian berdua adalah teman baikku. Setidaknya demi aku, berbaikanlah."
Ku buat nada suaraku seakan sedang sedih melihat pertikaian mereka. Mereka berdua adalah orang yang sama-sama mengenalku. Karena wajahku yang datar, mereka hanya dapat mengandalkan nada suara untuk memastikan emosiku.
Dua gadis itu menatapku prihatin lalu duduk di sisiku. "Kami akan coba berbaikan untuk Rein/Arian."
Kalimat mereka di ucapkan bersamaan. Satu di telinga kiri dan satunya lagi di telinga kanan. Suara ganda yang ku dengar ini membuatku pusing. Baiklah, nikmati saja. Dua wanita cantik menemani di kanan maupun kiri, coba katakan padaku apa yang tidak nikmat!
"Meski tidak bisa menganggap diriku pandai, bolehkah aku menggambar sketsa wajah kalian?" Aku bertanya kepada mereka.
"Tentu saja, gambar aku dulu ya Rein!" Alya segera menyahut.
"Boleh, karena kita berkenalan lebih dulu, gambar aku duluan ya, Arian!" Yesie berkata dengan mengedipkan mata kirinya.
Aku berdehem sebentar. "Biar ku ulangi, bolehkah aku menggambar sketsa wajah kalian berdua, dengan berdampingan?" Ku tekankan kata 'Berdua' dan 'berdampingan'
Dua gadis itu mengerutkan alisnya tak setuju. Mereka kembali saling menatap sinis. Aku menghela nafas panjang. Mendengar helaan nafasku, mereka tampak bersama-sama mengambil posisi. Namun jika kau memiliki mata yang jeli, kau dapat melihat masing-masing tangan mereka yang saling mencubit halus.
Aku hanya bisa meringis membayangkan rasa sakitnya. Aku punya sahabat dekat, namanya Ardian. Begitu dia berbuat salah, baik Adiknya, Ibunya, atau kekasihnya, akan mencubit pinggangnya dengan cubitan halus. Saat ku singkap pakaiannya, akan terlihat memar merah yang seperti di gigit semut. Saat kutanya 'apakah itu sakit?' Ardian selalu berkata 'sakitlah, masa engga' dengan nada kesal. Karena aku tak dapat merasakan rasa sakit, aku tak paham prinsip rasa sakit. Sehingga aku hanya dapat membayangkannya saja.
Omong-omong, rindu juga aku dengan para sahabat lelakiku. Meski sedikit mereng otaknya, mereka adalah teman yang baik. Mereka tak pernah menganggapku sebagai perempuan, aku selalu di anggap laki-laki oleh mereka. Sekalipun mereka pernah melihat aku berpakaian feminim, mereka akan mentertawaiku dan berkata bahwa aku tak cocok mengenakannya. Aku akan terlihat seperti banci yang biasa berkeliaran di jalanan. Lagi pula mereka selalu menolak untuk menganggapku perempuan. Aku tak yakin apa alasannya, mungkin karena suaraku yang serak. Atau karena Auraku yang lebih maskulin dari pada feminim.
"Rein, kami sudah berpose, apa yang kau lamunkan?" Alya berkata dengan nada khawatir.
Panggilan itu menyadarkanku. Segera ku buka lembaran kertas yang masih putih kosong tanpa apapun. Dengan sebuah pensil, ku mulai sketsa wajah mereka. Aku tak bisa menyebut diriku berbakat. Tapi aku menganggap diriku bisa. Ini adalah hobi pertamaku. Kakekku juga hobi menggambar. Ia seorang pengukir kayu. Biasanya ia akan mengukir ranjang atau kursi.
__ADS_1
Ia juga seorang penjahit pakaian. Dia sungguh berbakat. Ku pikir hobi itu seharusnya menurun darinya. Beberapa menit ku habiskan untuk menggambar sketsa kasarnya. Hanya sisa untuk membuat detail kecil saja. Namun bel masuk telah memanggil kami. Kami bertiga berjalan bersama untuk memasuki kelas masing-masing.