
Senyuman Rev
Seakan-akan tubuhku adalah besi tua yang berkarat, begitu aku berdiri dari dudukku, aku dapat mendengar suara 'kretek' dari setiap persendian tubuhku. Terhitung tiga hari aku tidak masuk ke sekolah, yang ku lakukan di rumah hanya duduk, menonton televisi, makan dan tidur.
Ibu melarangku untuk pergi kemanapun atau melakukan apapun, sampai tangan kiriku tersambung kembali. Untungnya hari ini tanganku sudah baik-baik saja. Awalnya Ibu masih kurang percaya, tapi setelah melihat aku memutar tangan kiriku, Ibu mengizinkan aku bersiap menuju sekolah.
Seperti biasa aku berangkat pagi. Ku pikir seharusnya aku bisa bersantai sejenak. Begitu aku memasuki kelas, Iqish menyapaku dengan suaranya yang khas. "Pagi Kak! Oh iya semalam Kakak sakit apa?"
Aku tidak berbicara, hanya menunjukkan senyum tipisku. Ada sebuah dugaan di mata Iqish. "Jangan-jangan Kakak...."
"Ya, aku..."
"Kakak bolos sekolah ya?!" Iqish menyela kalimatku.
Aku menghela nafas kesal. "Tidak."
"Lalu?"
Aku berjalan ke tempat dudukku dan Iqish mengikutinya dari belakang. Pertanda bahwa dia tidak akan pergi sebelum aku bercerita. "Yah... Lengan kiriku putus saat memancing."
Seolah membayangkan sesuatu, Iqish menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Matanya yang indah kemudian menatapku. "Lalu, apakah sudah membaik?"
"Tentu, kamu bisa merasakannya sendiri." ujarku.
Seperti kucing yang tertarik dengan benang. Gadis muda itu mengelilingiku, menggerakkan lengan kiriku, memutarnya, sesekali memijatnya.
"Apa yang salah?" Tanyaku sambil menarik kembali lenganku.
"Kok bisa tersambung kembali? Bahkan tidak di amputasi. Aneh tapi nyata!" Seru Iqish.
"Begitulah, aku juga tidak tau alasannya apa." Aku mulai fokus ke buku catatan milikku.
Iqish menarik kursi Rafit yang duduk di sebelahku. "Oh iya, selama Kakak tidak datang, ada yang mencari Kakak loh...."
Aku terus menggoreskan pena di catatan ku. "Yang benar? Siapa memangnya yang mencariku?"
"Anak kelas Agama, dia temanku juga, namanya Yesie."
Goresan penaku terhenti. Yesie? Bukankah itu nama gadis itu? Dia mencariku?
Aku berdehem untuk menahan gejolak semangatku. "Lalu apa dia mengatakan sesuatu tentangku?"
__ADS_1
"Ya, dia bertanya kepadaku. Dia bilang dia mencari Kakak. Aku mengatakan kalau Kakak tidak datang karena sakit." Iqish menjelaskan.
"Bagaimana ekspresinya saat itu?"
"Sebenarnya wajahnya terlihat kecewa, apa Kakak berhutang padanya?"
"Apa yang kau pikirkan, ini adalah rahasia diantara aku dan dia." Aku menunjukkan seringai tipis lagi.
"Hihh... Senyum Kakak mencurigakan. Terlihat seperti senyuman Pria bejat."
"Apa-apaan sih, mana ada aku terlihat seperti itu. Memangnya kamu bisa mengenali perbedaan senyumanku yang setipis kertas itu?" Aku menatapnya ingin tau.
Jika itu Hallin, dia akan menjabarkan banyak tentang ekspresi datar dan senyum tipisku. Aku jadi ingin mendengarnya dari orang yang baru ku kenal. Aku ingin mendengar pendapat mereka tentangku.
"Sejak awal, Kakak memiliki kesan misterius dan terasing. Tapi, aura Kakak sangat khas. Jelas-jelas seorang Wanita tapi terasa seperti sedang berbicara dengan seorang Pria. Senyum tipis Kakak, aku bisa mengenali niat di belakang mereka hampir akurat."
Aku menyeringai lagi. Sepasang alisku Turun dengan helaan nafas pasrah. "Apa yang kau tau?"
"Itu senyum meremehkan."
Eh, dia benar-benar tau?
"Fu Fu Fu... Aku akan tunjukkan kepada Kakak, kalau aku bisa mengidentifikasi senyum tipis Kakak." Ujarnya.
"Terserahmu saja, selama kamu tidak menggangguku itu sudah cukup."
Iqish benar-benar mengikutiku untuk menunjukkan padaku bahwa ia bisa mengidentifikasi senyum tipisku. Tentunya dengan Rinmie di sisinya. Saat aku memakan sarapanku yang sengaja ku bawa ke sekolah, seseorang yang ku tunggu-tunggu datang.
Ya, itu Yesie. Ketika matanya bertemu denganku dia tersenyum. Lalu mendekati mejaku. "Hai Arian!" Dia tampaknya sangat senang.
Meski tipis, aku mencoba yang terbaik untuk tersenyum. "Halo juga"
"Senyum tulus!" Tiba-tiba Iqish bergumam.
"Ah, iya. Apakah kamu ingin makan Yesie?" Tanyaku.
"Boleh, kebetulan aku kemari juga membawa bekal." Ia tersenyum begitu manis. Aku harap kami dapat berteman baik.
"Kak Yesie. Sepertinya Kakak senang hari ini?" Tanya Iqish.
Mungkin melihat tatapan bingungku, Iqish berkata lagi. "Kak Yesie seusia dengan Kak Rin. Sama-sama lahir tahun 2004."
"Benarkah? Kamu lahir tanggal berapa Arian?" Yesie tampaknya tertarik dengan topik ini.
"Tujuh belas Agustus."
__ADS_1
"Wah! Kita hanya berbeda usia satu hari! Aku lahir pada tanggal 18 Agustus. Lebih muda sehari." Ujarnya.
Menarik, sepertinya aku dan dia di takdirkan untuk berteman. Aku percaya diri dengan ini, dan akan berusaha untuk menjaga hubungan ini tetap baik. "Ngomong-ngomong kau sakit apa semalam?"
"Apa kau ingat kondisi jariku di pertemuan pertama kita?"
Yesie mengangguk. "Nah posisi jari itu di tukar dengan lengan kiriku. Itulah yang terjadi."
Yesie hanya menganggukkan kepalanya. "Wah... Sejak kapan kalian bertemu? Sejak kapan kalian berteman? Aku ingin tau" Ujar Iqish.
Melihat aku yang diam saja, Yesie sepertinya memutuskan untuk berbicara. "Aku bertemu dengan Arian beberapa waktu yang lalu. Aku awalnya tidak ingin mendekati Arian, yang wajahnya tidak pernah berekspresi. Sampai aku secara tidak sengaja memperlihatkan sisi lemahku padanya."
Setiap mengingat momen itu, jantungku selalu berdebar. Seorang gadis menangis di pelukanku. Aku merasa pernah melakukan hal yang sama dahulu sekali. Lagi pula momen itu membuatku mengingat aroma khas yang ku sukai dari Yesie.
Aku tidak bisa menahan senyum tipisku.
"Eh eh... Kakak sedang malu ya?" Iqish bertanya dengan nada menjengkelkan.
"Tidak." ujarku.
Aku percaya bahwa seharusnya nada bicaraku yang dingin dapat menghapus rasa maluku. "Tapi wajahmu sedikit lebih merah dari biasanya."
Aku memalingkan wajahku agar Yesie atau Rinmie tidak melihat wajahku. "Ohoho... Kak Rin sedang malu... Lihatlah betapa canggungnya wajahmu...hehe..."
"Sudah-sudah Qis hentikan. Biarkan Kak Yesie menyelesaikan ceritanya." Kali ini aku tertolong, Rinmie ini tidak seburuk yang ku pikirkan.
"Baiklah Kak Yess, ceritakan padaku dan Rinmie tentang pertemuan kalian, kakak-kakakku..." Ujar Iqish di penuhi tawanya yang menggoda.
"Em... Biarkan Sisie saja yang bercerita. Aku harus menyelesaikan makanku." Eh sepertinya aku salah berbicara. Apa aku memanggil Yesie dengan sebutan Sisie?
"Uwah! Kalian bahkan memanggil dengan sebutan istimewa. Satu memanggil Sisie dan yang satu memanggil Arian. Aduuh nama yang jarang di dengar, kalian bahkan seperti sepasang kekasih jika aku tidak melihat wajah kalian." Goda Iqish.
"Tidak, tidak, kalian salah dengar, aku memanggilnya Yesie. Bukan Sisie." Aku berujar tanpa melihat wajah mereka.
Yesie hanya terkekeh ringan. Ia kemudian melanjutkan. "Saat itu aku sedang berada dalam masalah, yang membuat aku merasa tidak nyaman dengan dunia. Arian meminta aku untuk menceritakan masalahku padanya. Saat itu tanpa sadar aku merasa nyaman dengan kehadirannya. Tak lama kemudian aku merasa, mungkin jika aku berteman dengan Arian, akan menjadi kisah yang indah. Begitulah." ujar Yesie
"Oh, ternyata begitu." Iqish berkata dengan senyum yang melebar.
"Tapi mengapa Kakak memanggil Kak Rin dengan sebutan Arian?" Rinmie bertanya. Di sepasang matanya ada sebuah rasa ingin tahu yang besar yang mana hal itu jarang terjadi.
"Oh, hahaha... aku pikir itu bagus, aku suka memanggil seseorang dengan panggilan yang berbeda dari orang lain. Ku pikir jika dipanggil Arian akan lebih baik, lagipula sepertinya Arian juga suka nama itu." ujarnya sambil menatapku.
Tatapannya bukan tetapan biasa, menurutku ada rasa syukur dan sayang di matanya, yang mana hal itu hanya membuat jantungku berdebar. Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. "Kalau begitu aku pergi ke kelasku dulu ya, selamat tinggal Arian."
"Iqish, apa dia memang seperti itu?" tanyaku.
__ADS_1
"Ya begitulah Kak Yesie, meski begitu dia sangat baik. Karena kalian akan dekat kurasa Kakak harus membiasakan diri ya." Iqish mengedipkan sebelah matanya.