
Telepati
Akhir pekan yang menyenangkan sekaligus kencan yang mengenyangkan. Kini tibalah hari Senin, hari di mana aku dan seluruh teman sekelasku harus menghadapi apa yang di sebut Ulangan. Karna kemampuanku dalam menyerap materi cukup buruk karna otak yang hampir tak berfungsi, aku cukup kesulitan.
Namun melihat pertanyaan di lembaran soal, ekspresiku cukup buruk pastinya. Dari sepuluh soal isian singkat, hanya enam yang aku ketahui. Lalu dari lima soal pilihan ganda hanya dua yang aku ketahui. Ini buruk karna nilai total dari yang aku ketahui baru Lima puluh poin!
*Author note: Soal ulangan Protagonis terdiri dari lima soal pilihan ganda dan sepuluh isian singkat. Untuk soal isian singkat masing masing nomor memiliki nilai lima poin. Sedangkan untuk soal pilihan ganda masing-masing memiliki nilai sepuluh poin. Tingkat kesulitannya lebih sulit soal pilihan ganda.
"Karna Ibu sudah kasih tau sejak seminggu yang lalu, artinya persiapan kalian seharusnya sangat baik. Jadi yang memiliki nilai di bawah KKM harus mengelilingi lapangan sebagai gantinya." Ibu guru yang duduk di kursi guru berujar dengan senyuman mematikan.
Ahh! Mampus aku. Bila berlari mungkin sepasang kakiku akan putus pada pergelangan kakinya.
Haih... Bagaimana ini?! Sementara orang-orang yang telah selesai mengerjakan mulai meninggalkan kelas. Mampuslah aku.
'Rein? Rein!'
Aku mendengar suara Alya. Bukankah ia sudah keluar kelas lebih dulu karna sudah selesai mengerjakan soal? Kemanapun aku menoleh tak ku temukan ia dimanapun. "Rini."
Bu Guru mengetuk mejanya saat mendapati aku menoleh kanan kiri. Meski di kanan kiriku sudah kosong. "Maaf Bu." Aku menunduk untuk mulai mengerjakan.
'katakan apa yang belum kau kerjakan, biarkan aku membantumu! Jika kau berlari karna nilai yang rendah, kakimu bisa putus!' Kan! Suaranya muncul namun sosoknya tidak terlihat di manapun!
'Rein! Ini telepati! Cepat katakan nomor berapa saja yang belum selesai!'
__ADS_1
Oh, Telepati. Aku seharusnya ingat itu. Hm... Untuk mencapai nilai yang pas-pasan, tak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Mungkin nilai 85 sudah bagus. Aku butuh tiga puluh lima poin lagi. Jadi aku minta jawaban untuk tiga soal pilihan ganda, lalu satu soal isian singkat. Oke nilai yang pas-pasan sudah di dapatkan.
Aku aman, tidak terlalu di atas atau di bawah. Dengan helaan nafas lega aku mengumpulkan lembaran jawaban. Lalu keluar untuk menghampiri Alya. Beruntungnya aku karna mampu bertelepati. Jika saja kalian mampu begitu, pasti nilai ujian kalian akan terjamin hahaha...
Matahari telah naik saat aku, Alya, dan Yesie sedang makan siang bersama. Karna makananku hanya bubur merah, menelannya hanya butuh waktu singkat. Sisa waktu aku gunakan untuk menggambar Yesie dan Alya yang sedang makan.
"Ini sudah hampir pertengahan semester, aku pikir aku mungkin akan pindah sekolah lagi. Aku memiliki cukup banyak urusan sehingga itu mengharuskan aku untuk pindah." Alya berujar pelan.
Pindah? Ah, aku ingat, i tu memang rencananya. Calya akan berhenti bermain peran setelah Rini mendekati usia dua puluh. Dia harus membantuku mempertahankan tubuh Rini yang sudah hampir mencapai batasnya.
Yah, kurasa peranku benar-benar akan berakhir dalam beberapa bulan. Karna kekakuan tubuhku mulai terjadi semakin sering. Dan lagi kesadaranku juga tak bisa di pertahankan terlalu lama, lantaran tubuh yang rusak semakin banyak.
"Uhuk uhuk." Aku batuk karna merasa gatal di tenggorokanku. Siapa sangka aku hampir mengeluarkan organ dalamku hanya dengan batuk ringan. Batuk ringan membuat darah ikut keluar dalam batukku. Untungnya dua gadis yang sedang makan tidak melihatnya. Atau mungkin mereka akan kehilangan selera untuk makan.
Saat batuk aku menggunakan tangan kiriku untuk menutup mulutku. Namun Kekakuan tiba-tiba datang dan aku mengalami mati rasa di bagian yang kaku. Dengan segera aku mengambil tisu di saku dengan tangan yang lainnya untuk menyeka darah hitam.
Aku memeluk bahunya dengan tangan kananku. "Aku takkan pergi kecuali maut yang menjemputku." Ujarku.
Yesie tidak mengatakan apa-apa saat itu. Ia hanya memelukku sesaat sebelum memberikan senyum miris. Lalu ia melangkah pergi dengan tergesa-gesa. "Rein kita juga harus cepat! Pak Guru mapel Bahasa Indonesia sudah berjalan menuju kelas!"
Aku menganggukkan kepalaku, lalu mulai berlari-lari kecil. Tepat saat aku mendudukkan pantatku di kursi, Pak Guru itu melangkahkan kakinya memasuki kelas. Pak guru ini selalu mengajar dengan sangat cepat, anehnya semua murid mengerti apa yang di jelaskan oleh Bapak itu. Lalu setelah menjelaskan materi, biasanya akan di adakan latihan singkat. Lalu Bapak itu akan menghabiskan waktu yang tersisa untuk curhat atau mendongeng.
Itu adalah sesi latihan saat tangan kananku yang menulis ikut mengalami kekakuan. Karna bingung aku mulai mengajak Alya yang duduk jauh dariku untuk berkomunikasi melalui telepati.
'Kenapa? Mau jawaban lagi?' nadanya saat berbicara begitu tulus. Ia jelas menghawatirkan aku.
'Tidak, tangan kananku kaku. Aku tidak bisa merasakannya.'
__ADS_1
Alya duduk di barisan depan, ia menoleh ke arahku saat aku baru saja selesai bertelepati. Ada kekhawatiran dalam sepasang matanya. Aku memperlihatkan tanganku yang kaku. Alya tampaknya sedang berpikir keras saat itu. Seperti saat aku terjebak dalam soal matematika Minggu lalu.
'Serap energi di sekitar Pak Guru.'
'Apakah nanti ia akan baik-baik saja?' Aku bertanya karna ingat pengalaman saat wanita aneh menghisap energiku. Terlalu tidak berdaya dan merasa seolah akan tiada.
'Dia akan baik-baik saja, mungkin hanya mengantuk sedikit.' Saat itu Alya berbalik dan memberikan anggukan kepadaku, untuk lebih meyakinkanku.
Baiklah kalau begitu aku hanya bisa mencoba. Meski menyerap energi juga tidak bisa membuat tanganku kembali seperti semula, aku yakin Alya punya solusi di dalam otak pintarnya.
Aku memperhatikan dengan seksama. Menyerap energi di sekitar Pak Guru adalah hal mudah. Pak Guru tampaknya sedang mengantuk berat setelah energinya di hisap. Kantung matanya tampak menghitam seperti orang yang tidak tidur beberapa hari. Ia pun menjadi lebih sering menguap.
"Anak-anak, Bapak mengantuk dan lelah sekali. Nanti jika tugasnya sudah selesai silahkan di kumpulkan di meja Bapak ya." Di akhir kalimatnya, Pak Guru menguap begitu lebar. Ku pikir saking lebarnya penghapus papan tulis bisa masuk ke dalamnya.
Karna Iqish sedang tidak sekolah karna sakit, kursi di sisiku kosong dan tidak di tempati. Alya membawa bukunya dan berpindah ke belakang. Ia bergerak ke sisiku di bawah tatapan intens para murid kelas. Tanganku sudah tegang dan Kaku. Tangan kiri dari telapak sampai siku. Sedangkan tangan kanan hanya telapaknya saja.
Alya memegangi tangan Kanan dan kiriku. Lalu menatapku dengan sepasang mata khawatir, masih ada Empat jam sampai pelajaran hari ini berakhir. Jika tangan kananku ikut kaku, bukankah aku akan kesulitan menulis?
Ia lalu duduk di tempat duduk Iqish. Lalu mulai mengerjakan soal yang ada di bukunya. Aku hanya melirik bukuku. Memikirkan jawaban sembari berpikir bagaimana caraku agar bisa menulis. Alya yang sedang serius menulis bertelepati kepadaku.
'Gunakanlah energi itu untuk menggerakkan tanganmu yang kaku mengikuti jawaban dari soal. Aku akan pikirkan cara supaya di sisa pelajaran kamu tidak perlu menulis.'
Aku mengangguk kaku. Ku pikir leherku juga mulai Kaku, tapi tidak sekeras tanganku sekarang. Dengan mengikuti apa yang di katakan Alya, aku berhasil menuliskan jawaban. Namun tulisannya tampaknya lebih buruk dari pada tulisanku.
Haih... Hatiku sempat mengalami ketegangan saat guru berikutnya masuk. Namun guru itu tampaknya tidak berniat untuk duduk di kursinya. "Anak-anak, Ibu harus pergi karna ada keperluan mendadak. Jadi Ibu cuma kasih tugas saja ya. Buka LKS-nya dan kerjakan Uji kompetensi A, B, dan C Bab tiga. Ibu mau buku latihan kalian sudah di kumpulkan sebelum pukul tujuh besok pagi."
Setelah mengatakan itu, Guru itu pergi meninggalkan kelas yang bersorak. Aku pun bersorak dalam hati. Dengan demikian aku tak perlu lagi menulis.
__ADS_1