
Hari hujan di bulan November
Karna ujian sudah dekat, kami memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan belajar. Walau bagiku itu percuma, karna nantipun aku lupa apa yang baru saja ku baca. Tekadku tak cukup kuat untuk mengingatnya hingga ujian tiba. Selain aku, Alya, dan Yesie, ada Iqish dan Rinmie yang juga ikut belajar bersama di perpustakaan. Katanya mereka ingin rajin belajar, lalu beradu yang mana yang paling tinggi nilainya di antara mereka berdua. Itu terlalu sengit. Bagiku yang memiliki otak mati, mampu berfungsi saja sudah bagus.
Untung saja belakangan ini aku sering menyerap energi alam di bawah paksaan Alya. Sehingga tubuh mati ini berfungsi sedikit lebih baik di banding sebelumnya. Selain itu, lewat portal yang di bangun Calya saat itu, Cakra jadi sering mampir ke rumah. Tentunya dengan menyamar. Agak tidak nyaman saat melihat penyamarannya, karna ia menyamar menjadi gadis muda yang manja. Mungkin karna aku sendiri sudah tau dia laki-laki, maka dari itu aku merasa risih dengannya.
"Ngomong-ngomong setelah ujiankan ada libur semester. Apakah kalian sudah memikirkan kemana ingin pergi?" Yang memulai pembicaraan adalah Alya.
"Di rumah saja mungkin?" Itu Rinmie.
"Atau jalan-jalan ke kota?" Itu adalah Yesie.
"Kalau Kak Alya gimana?" Yang bertanya adalah Iqish.
"Iya, memangnya kamu nggak rindu sama keluargamu?" Tanya Yesie.
Saat itu kurasakan tatapan Alya. Saat aku meliriknya ada warna kemerahan di wajahnya. "Aku selalu bersama keluargaku."
Dia berujar senang. Mungkinkah yang dia maksud adalah aku? Bosan dengan jawaban aneh Alya, yang lain malah menatapku. "Kenapa?"
"Kalau Kakak kemana?" Iqish bertanya mewakili yang lain.
__ADS_1
"Aku sih berencana untuk mengadakan kemah dengan keluarga, kalau bisa di tempat yang sedikit lebih jauh supaya atmosfer hutannya terasa." Ujarku santai.
Tak lama setelah aku menjawab pertanyaan. Keheningan kembali melanda. Saat ku lirik satu persatu wajah para wanita di depanku. Ada ekspresi mengantuk dan bosan di wajah mereka.
Yah, karna sekarang ini memang jam kosong. Beberapa mata pelajaran sudah selesai di bahas. Dan yah jujur saja hari-hari di sekolah semakin membosankan. Iqish dan Rinmie adalah yang pertama kali berdiri untuk menyimpan bukunya. Lalu pergi setelah mengucap selamat tinggal.
Tak lama setelahnya, salah satu teman sekelas Yesie memanggil Yesie karna kelas mereka sudah masuk dan guru sedang dalam perjalanan menuju kelas mereka. "Aku bosan.."
Alya mulai mengeluh ke padaku. "Kan sudah ku bilang, tidak ada gunanya. Lagi pula dengan otak pintarmu, apa perlu membaca setiap halaman? Aku yakin dengan kemampuanmu membalik secara acak pun sudah tertempel di kepalamu. "
"Hehe... Aku hanya mendalami peranku sebagai manusia." Ujar Alya asal.
"Baiklah mari kita hirup udara segar. " Ajakku.
Tentu Alya yang sedang bosan itu segera mengangguk. Ia bergegas menyimpan kembali buku yang dia dan aku baca. Dengan segera ia menarik tanganku keluar perpustakaan. Seperti biasa begitu aku keluar para kucing akan berlarian mengikuti setiap langkahku. Tapi kali ini mereka juga mengelilingi Alya.
Padak akhirnya karna ingin tau, akupun bertanya. "Apakah... Apakah Lea ingin punya anak?"
Pertanyaan itu berhasil menghentikan gerakannya. Gadis itu melirikku dengan wajah malu-malu. Dengan anggukan kecil ia memalingkan wajahnya ke tempat lain. Dia terlihat manis saat malu. Aku tidak tau Alya punya sisi itu.
"Lalu, jika seandainya telah hamil nanti, bayi apa yang kau inginkan? Macan sepertiku? Atau Kucing hutan sepertimu?" Aku bertanya lagi.
Saat itu Alya menatapku dengan sedikit tersipu. Ia lalu mengusap anak kucing yang usianya mungkin belum sampai setahun. "Sebenarnya bagiku tak masalah anak kita akan sepertimu atau sepertiku. Bagiku keduanya sama baiknya."
Itu jawaban yang cukup bijak untuk seorang Ratu. Aku hanya mampu menatap langit. Sekarang bulan November, udara terasa lembab dengan langit yang mendung. Jika menghitung waktu, tak sampai setengah tahun lagi janji ini akan berakhir. Aku juga ingat kalau aku memiliki janji lain dengan Ibu. Ibu kandungku yang sedang sibuk menggantikan aku di kerajaan Lakeswara. Hehehe... Sebenarnya aku sangat menantikan kembali, bagaimanapun juga rindu itu selalu ada. Tak cukup puas bila hanya mampir sesekali.
__ADS_1
"Coba katakan dengan jujur. Apakah kau marah saat aku dengan sembarangan mengujar janji seperti ini?" Tanyaku lagi.
"Marah atau tidak? Tentu saja marah! Kita baru saja menikah hari itu, lalu saat akan 'bersenang-senang' tiba-tiba kau menghilang. Saat aku cari, ternyata kau berada di hutan bersama manusia itu." Alya terlihat kesal saat itu. Kurang lebih aku mengerti sedikit masalahnya.
Sepertinya aku orang yang impulsif. Entah mengapa semakin aku mengingat diriku sendiri semakin aku malu pada diriku sendiri. Sepertinya aku sendiri bukanlah orang yang baik. Dari ingatan yang samar, aku juga tau kalau aku adalah orang yang suka merepotkan keluargaku.
Aku menghela nafas panjang. Alya menatapku saat itu. "Kenapa?"
Ia bertanya dengan sepasang mata yang tampak khawatir. Aku hanya menggeleng pelan. "Saat seperti ini aku mengingat seluruh ingatan samarku, dan menyadari bahwa sepertinya aku telah banyak merepotkan kalian semua. Padahal kalian semua sangat baik. Haaaah.... Saat aku ingat semuanya nanti, akan ku coba untuk memperbaiki diri."
Ada senyuman di wajah Alya saat aku mengatakan itu. Lalu ia berkata dengan nada bahagia. "Sebenarnya kau sudah cukup baik untukku, serta untuk kami semua. Kalau ingin intropeksi diri..."
Di akhir kalimat nada suaranya melambat. Ia juga mendekatkan dirinya kepadaku. Dengan mendekat, ia berbisik pelan. "Manjakanlah aku suamiku..."
Deg
Aku menyentuh jantungku. Entah mengapa saat mendengar bisikannya, jantung mati ini tiba-tiba berdebar. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Ada apa denganku?
Aku terpesona?
"Hahahaha... "
Saat ku lihat Alya melalui sela jariku. Ia tertawa lepas. Aku dapat merasakan kebahagiaan yang samar saat ia tertawa. Alya menyeka sudut matanya yang berair akibat tertawa. "Aku tidak tau reaksimu akan begitu... Itu cukup lucu sebenarnya. Sangat menarik saat melihatmu salah tingkah di tubuh yang mati itu."
Alya berujar senang. Yah, kalau dia senang aku juga senang. Lalu ku rasakan hidungku terkena tetes air. Perlahan langit mulai meneteskan air hujan yang lainnya. Dengan bergegas Alya dan aku berlari ke kelas kami.
__ADS_1
Untungnya hujan belum terlalu lebat saat kami mencapai bagian depan kelas. Anak-anak kucing tadi juga melarikan diri mencari tempat berteduh. Alya mengajakku memasuki kelas karna di depan kelas, teman sekelasku beberapa bermain air. Alya tidak ingin terkena tempias hujan yang mereka siram. Aku setuju dengan pendapatnya. Saat kami memasuki kelas, beberapa teman sekelas yang lain telah tidur di meja mereka.
Melihat itu, Alya berkata kalau ia juga ingin tidur. Dengan begitu jam pelajaran yang tersisa kami habiskan dengan tidur. Lagi pula menurut sepengetahuanku, saat hujan deras begini guru enggan memasuki kelas.