Who Am I?

Who Am I?
Malam perpisahan


__ADS_3


Malam perpisahan



Waktu liburan sangat singkat, namun berharga. Ada banyak yang aku pelajari dalam perjalanan singkat ini. Apakah itu mengenai masa lalu, ataukah mengenai hubungan yang akan datang. Tapi aku benar-benar menikmatinya, tak peduli saat aku menggantikan Rini Ariani atau kembali menjadi diriku sendiri.


Ini adalah hari terakhir kami di Rumah Nenek. Aku takut melupakan tempat ini begitu aku kembali ke tubuhku. Maka aku diam-diam pergi ke hutan bambu untuk melukis tentang portal air terjun. Tentu saja di siang hari, antara agar lebih detail dan keinginanku untuk melihatnya di siang hari.


Aku merasakan hawa dingin eksentrik yang menimbulkan sedikit rasa tidak suka dalam hatiku. Aku sangat jelas mengenai hawa ini. Ini adalah hawa ketika Ida datang. "Aneh sss.. aku mencium ssss... bau Rajendra, mengapa malah sss... seorang manusia yang muncul. Ah apa jangan-jangan ssss.... kabar itu benar?"


Ida datang, aku mampu mendengar suara menyebalkannya. Saat aku berbalik aku tak menemukannya di manapun. "Kau mencariku? Bocah, aku di sini sss..."


Dengan menoleh ke kanan dan kiri, akhirnya aku menemukan cacing kecil yang berwarna putih. "Kak Ida?"


"Ternyata kau sss... benar-benar merasuki tubuh manusia sss..."


"Aku tidak ingat mengapa dan bagaimana semuanya berasal. Tapi begitulah adanya." Aku berujar santai, lagi pula semuanya akan segera berakhir.


"Woah... Gambarmu sangat sss... bagus..."


"Ya..." Karna tidak secara menyeluruh kenanganku mengenai Ida kembali, aku merasa kami sedikit canggung saat ini.


"Hm... Ngomong-ngomong siapakah yang membuat portal itu?" Aku bertanya sambil menunjuk air terjun.


"Aku tidak tau ss... Itu sudah ada sss... Sejak leluhur sss.. ada. Tak ada sss.. yang tau siapa ssss.. yang membuatnya ssss..."


"Aku mengerti, tapi cukup menyebalkan mendengar desissan dari mulutmu."

__ADS_1


Langit saat itu mendung dan tanda akan turun hujan sudah mulai terlihat. "Dasar bocah menyebalkan."


Ia merubah dirinya ke bentuk manusia dan duduk di sisiku. Sebagai wanita dewasa, ia lebih tinggi dariku. "Kata-katamu persis seperti saat kita pertama kali bertemu. "


Ida menatapku dengan tatapan penuh nostalgia, bahkan jika begitu aku tidak terlalu tertarik dengannya. Melihat awan yang mulai gelap aku segera pamit. "Kalau begitu kak Ida, aku harus pergi untuk pulang, awan sudah mulai gelap dan akan turun hujan. Jika tubuh ini pulang dalam keadaan basah karena hujan aku yakin aku hanya akan pulang menerima omelan."


"Hahaha... ya, pergilah... hati-hati di jalan. Aku tidak akan menyulitkan mu." Ujarnya.


Dengan begitu aku pun pergi menuju rumah Nenek. Sebenarnya masih ada hal yang ingin aku sampaikan kepada Ida. Sayang sekali waktu begitu cepat berlalu, mungkin kapan-kapan aku akan kembali bersama Calya atau mungkin bersama anak-anakku, hehehe... Aku tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bagaimanapun juga aku akan kesana mengunjungi Ida sebagai teman lama.


Tepat saat aku memasuki pintu belakang, hujan mulai turun. Ibu atau Alya sama-sama berada di area belakang. Dengan aku yang datang dari pintu belakang, ku pikir apa yang mereka pikirkan adalah hal yang sama. Yakni aku bermain sendirian. "Kau pergi ke hutan bambu ya. Kalau menurut mitos-mitos yang tersebar di desa, hutan bambu ini memang ditunggui oleh seekor ular besar jejadian." Tentu saja aku tahu siapa itu.


Tentu saja ibu khawatir dengan aku yang pergi dan kembali dari pintu belakang. Bagaimanapun juga dalam sudut pandang manusia, makhluk halus atau makhluk jejadian seperti kami adalah makhluk yang berbahaya. Yah, ku akui mungkin ada beberapa yang berbahaya, aku tak mengerti standar berbahaya bagi manusia dan bagi diriku sendiri.


Begitu aku kembali ke kamar untuk berbenah. Alya berbisik kepadaku. "Apa yang kau lakukan di hutan bambu?"


Aku membuka buku tebalku dan memperlihatkan gambar yang ku buat hari ini. Dalam sekali pandang ia mengenal gambar itu dan bertanya. "Apakah ini air terjun itu?"


"Tubuh ini tak mungkin mengingatnya, jadi aku membuat gambarnya. Aku takut janjiku malam itu kepadamu akan terlupakan, begitu aku tidak mengingat tempat itu." Aku berbisik pelan.


Ia hanya mengangguk-angguk lalu Hallin datang. "Kak keluarga Lisa baru saja panen jagung. Karena Lisa tau kalau hari ini adalah hari terakhir kita di tempat Nenek, maka ia mengundang kita semua untuk membuat bakar jagung. Dan memakannya sebagai perayaan atas perpisahan kita. Sari bilang ia juga ingin mengambil foto kita untuk dijadikan kenangan."


"Ya, aku akan pergi selama Alya pergi." Ujarku santai.


"Tentu aku pergi." Ujar Alya sambil memberi sebuah senyuman.


"Oke, kalau begitu kita mau pergi malam ini sekitar pukul 07.00 atau 08.00." Ujar Hallin lalu pergi. Menurut apa yang dikatakan Ayah, kami akan pulang ketika hari esok tiba.


.....

__ADS_1


Malam telah tiba dan bulan telah naik. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Udara tidak terlalu dingin malam itu. Karena aku, Hallin, dan Alya, telah meminta izin kepada Ibu dan Ayah, mereka menyetujuinya.


Dengan melangkah ringan kami bertiga keluar dari rumah Nenek. Hallin memandangi bintang yang terus saja berkedip. Aku dapat merasakan atmosfer senang dan bahagia di sekitarnya. Bahkan jika perpisahan itu ada, ia tidak bersedih, bagaimanapun mereka adalah teman yang telah saling bertukar kontak.


"Kau senang?" Tanyaku saat hallim bersenandung ria.


Halin mengangguk pelan. "Tentu saja aku senang, dulu kami tidak bisa saling menghubungi karena kita masih kecil. Sekarang semua orang telah dewasa dan memiliki telepon pribadi. Sehingga bisa saling bertukar kontak dan akan selamanya berhubungan. Aku sangat senang dengan ini."


"Memangnya Kakak tidak ingat sama sekali dengan mereka?" Tanyanya lagi saat aku tak mengatakan apapun.


"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku tidak mengingat mereka sama sekali. Kesanku tentang mereka hanyalah Lisa yang pemalu dan Sari yang merepotkan dan suka marah-marah."


"Hihihihi... Sari telah cerita tentang hari itu. Hari dimana saat Kakak dan dia bertemu. Kalian adalah orang yang saling kenal, tapi satu sama lain tidak mengenal karena telah dewasa. Dia bahkan mengganggap kakak adalah laki-laki. Yah kalau orang yang pertama kali bertemu, wajar menangkap Kakak sebagai laki-laki. Apakah itu penampilan, suara, ataupun aura, kakak benar-benar mirip laki-laki dari pada perempuan."


"Yah, itu memang cukup canggung." Gumamku.


Tak butuh waktu lama untuk kami sampai di depan rumah Lisa. Sari melambaikan tangannya memanggil. Hallin adalah orang yang paling bersemangat untuk mengikuti kegiatan malam ini di antara kami bertiga. Ia lekas berlari untuk menemui dua temannya itu.


Karena itu adalah rumah Lisa, aku dapat melihat Ibunya Lisa. Ia tampak senang saat melihat kami, lebih tepatnya saat melihat interaksi kami dengan Lisa. Sama seperti orang lain, Ibunya Lisa juga menganggapku laki-laki. Matanya sedikit menyipit saat melihat kehadiranku.


Bagaimanapun juga, jika dia memang menganggapku seorang laki-laki, itu memang terlalu mencolok di antara empat perempuan. Hallin segera mengenalkan aku dan Alya. "Tante, ini adalah Kakakku Kak Rin, Tante ingat tidak? Dan ini adalah temannya Kakak, namanya Kak Alya."


Ada keterkejutan di sepasang mata Tante itu. Itu adalah hal normal yang terjadi kepada orang yang baru saja mengetahui identitas ku. Mungkin ada sedikit ketidakpercayaan, namun akan menghilang begitu melihat KTP ku. Biasanya begitu.


"Anak-anak ingin minum apa? Biar Tante buatkan, Tante senang kalian datang. Akhirnya anak Tante yang pemalu ini memiliki teman, Tante tentu saja senang, silahkan katakan kalian ingin minum apa?"


"Tidak usah repot-repot Tante" Ujar Hallin


Lalu aku berkata. "Ya tidak perlu merepotkan Tante. Tapi jika Tante tidak sibuk, Tante bisa membuatkan aku secangkir kopi hitam tanpa gula."

__ADS_1


"Wah... baiklah kalau begitu, Tante juga akan buatkan teh untuk yang lainnya. Kalian pasti merasa dingin, teh hangat dan jagung bakar akan menjadi perpaduan yang sempurna." Tante itu tersenyum lalu memasuki rumah.


Hallin hanya menyipitkan matanya kepadaku. Dengan tatapan penuh ancaman, aku mengangkat bahu. "Dia telah menawarkannya, tidak ada salahnya untuk menjawab bukan?"


__ADS_2