
Beristirahat
Ah, ini sudah hari berikutnya. Aku mencoba bergerak sedikit untuk memeriksa kondisi diriku. Namun saat itu di lakukan, tubuhku seakan remuk menjadi ribuan keping.
"Aaaarrggghhh!!!" Aku yakin inilah yang di sebut rasa sakit. Aneh sekali, mengapa aku bisa merasakan sakit?
Aku tidak bisa bergerak sedikitpun. Bergerak sedikit saja bisa membuatku berteriak lantaran sakitnya yang menyiksa. Aku menatap sekeliling, sepertinya aku tidak mengenal tempat ini sama sekali.
Namun sepertinya teriakanku di dengar seseorang. Di buktikan dengan beberapa langkah terburu-buru yang datang menuju ruangan ini. Orang terdepan yang membuka pintu kamar asing ini adalah Ratna. Gadis muda berambut pirang yang mengaku sebagai adikku.
"Kak! Kakak baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit sakit." ujarku.
Teringat satu hal, aku bertanya kepada Ratna. "Jika aku di sini, bagaimana dengan sekolahku?"
Terlihat raut wajah Ratna sangat kesal saat itu. Ia bertingkah seolah aku melakukan kesalahan, ini membuatku bingung. Ratna meminta pelayan yang berdiri di belakangnya untuk mengambilkan sesuatu. Ternyata itu cermin. Ratna menghadapkan Cermin itu ke wajahku.
"Memangnya Kakak mampu pergi sekolah dengan wajah ini? Yang ada manusia pada ngacir ketakutan nanti." Ujarnya dengan mencibir.
__ADS_1
Yang kulihat di cermin bukanlah wajah dingin yang pucat. Melainkan wajah seekor Macan kumbang hitam. Mungkin itu hanya gambar, bukan sebuah cermin. Aku mengedipkan mataku, jika gambar berkedip maka itu benar adalah aku.
Ku lihat macan itu juga berkedip. "Ini seperti mimpi saja, bagaimana mungkin aku menjadi macan? Pasti Hallin tidak membangunkan aku."
Aku masih tak bisa mempercayai kenyataan. Apa yang kulihat? Pasti itu hanya mimpi saja. Mana mungkin aku adalah Macan besar. Sekalipun aku adalah roh laki-laki, pasti itu manusia. Gambar yang di buat Rini waktu itu adalah manusia.
"Apakah mimpi bisa membuatmu merasakan sakit seperti ini?!" Ratna menggapai lenganku, lantas menggerakkannya ke area yang mampu di lihat mataku.
"Grrraaaooo!" Raungan itu keluar dari mulutku. Untuk melampiaskan rasa sakit yang belum pernah ku rasakan sebelumnya, aku berteriak. Namun yang terdengar dari kerongkonganku adalah raungan.
"Benar bukan? Masih mengatakan ini mimpi?" Ratna terlihat kesal saat berbicara.
Sial, kenyataan telah menamparku. Dengan rasa sakit yang belum pernah ku rasakan, aku sangat yakin ini adalah kenyataan. Aku menghela nafas panjang. Lalu mulai mengatakan semua yang aku tau kepada Ratna.
Aku berbicara panjang lebar sambil melihat tanganku, yang ternyata benar adalah cakar binatang buas. Ku lirik ratna, ia hanya mengangkat bahu. "Aku tidak tau Kak, tapi Kakak Ipar tidak ada di manapun. Aku yakin dia yang membantu Kakak menepati janji. Baik aku atau Ibu tau kalau Kakak memiliki janji dengan lelaki manusia itu, tapi kami tidak tau apa yang membuat Kakak mengatakan janji. Hanya Kakak Ipar yang mengetahui kebenarannya. Kami semua juga tau bagaimana Kakak. Bahkan jika ingatan Kakak si segel, Kakak masih seorang Pria yang memegang janjinya. Aku sangat menyayangi Kakak, tapi aku juga khawatir dengan Kakak. Untuk saat ini aku harap Kakak beristirahat dengan baik. Biarkan Kakak Ipar yang membantumu."
Ratna mengusap kepalaku, tangannya yang mungil seolah tak menyentuh kepalaku. Namun aku masih ingin tau satu hal sebelum ia beranjak pergi.
"Ratna, katakan padaku satu hal."
Ratna yang akan berdiri kembali duduk. Ia tetap tak berbicara seolah sedang menantikan aku untuk berbicara. "Katakan padaku, sampai kapan aku akan berbaring seperti ini? Dan mengapa aku menjadi Macan? Rini bilang saat itu aku adalah pria dewasa, lantas mengapa aku menjadi macan besar?"
"Tentunya sampai Kakak sembuh. Mengapa menjadi Macan? Kakak, kita adalah Siluman Macan tutul. Kita mampu meraih bentuk manusia setelah kekuatan kita mencapai batas tertentu. Namun setelah terluka parah atau kekuatan kita terkuras begitu banyak, kita akan kembali ke bentuk asli kita." Ratna mengangkat bahu. Sebelum pergi ia mendekati telingaku dan berbisik.
__ADS_1
"Hei Kak, saat waktunya makan siang nanti Ibulah yang akan membantu Kakak Makan. Bersiaplah untuk mendengar ceramahnya, siapkan telingamu agar tidak berdarah. Wahahaha..." Lalu ia meninggalkanku lagi. Dengan seluruh pelayan yang menyertainya.
Aku hanya menghela nafas. Sejak aku mampu mengingat sesuatu, aku membenci kalimat panjang lebar atau Omelan. Telingaku terasa gatal bila aku mendengarnya. Itu adalah perasaan yang alami. Sesuatu yang ada bersama dengan hadirnya diriku.
Aku menghela nafas panjang. Beberapa rahasia yang ku tau belum cukup untuk membangkitkan kenangan yang tertahan dalam jiwaku. Aku menginginkan ingatanku kembali, tapi itu tidak terlalu terburu-buru. Mari bersantai dan duduk untuk nikmati apa yang ada. Tidurlah, dengan bermimpi semuanya akan membuatmu lebih baik. Dengan memeluk mimpi indah, moodmu bisa menjadi lebih baik.
Aku menatap cakarku yang tadi di gerakkan oleh Ratna. Helaian bulu hitam yang pendek itu terasa indah dan mempesona. Hehehe, pantas saja selama ini aku menyukai warna hitam. Sepertinya inilah alasannya.
.....
"Rajendra... Bangunlah... " Aku mengakui kalau itu adalah namaku. Suara halus dan lembut itu terdengar nyaman di telingaku.
Saat aku membuka mata, Ibu tersenyum saat melihatku. Ia mengusap kepalaku. Usapannya terasa sangat nyaman dan menenangkan. "Menurut perkiraan Ibu, kau akan sembuh dalam beberapa Bulan. Seharusnya luka kecil ini akan sembuh dalam beberapa jam. Namun Jiwamu sendiri telah kelelahan. Kekuatanmu berkurang setengah setelah kamu menyegel ingatanmu. Di serapnya kekuatanmu oleh wanita kucing itu telah membuatmu melemah hingga titik harus berubah ke bentuk aslimu untuk mempertahankan keberadaanmu. Jika saja Calya tidak membawamu segera kepadaku, kamu bisa tiada Anakku! Dasar anak bebal! Jika saja aku melarangmu berkencan keluar saat itu, kau tidak akan mengumbar janji bodoh mu itu! Uugh! Setiap kali memikirkannya, ingin rasanya Ibu memanggangmu menjadi Barbeque!"
Ibu terlihat sangat kesal, tangannya terlihat seperti orang yang greget ingin memukulku, dan menghukumku. Tapi tidak tega karna aku sedang sakit. "Ibu boleh menghukumku setelah semuanya berakhir. Tunggu aku menyelesaikan janjiku. Setelah itu aku akan melakukan apapun untuk menebus apa yang aku lewatkan selama sembilan belas tahun belakangan ini. "
Ibu menyeringai hingga taring panjangnya terlihat olehku. "Hehe... Kalau begitu buatkan Ibu Cucu-cucu kecil yang lucu. Apakah itu kucing hutan atau Macan tak masalah."
"Ibu..."
"Kenapa? Katanya akan melakukan Apapun..."
Aku hanya memberikan senyuman ala kadarnya saja. Lalu Ibu mulai menyuapiku dengan bubur merah. Rasanya tidak buruk walau warnanya terlalu nyentrik.
__ADS_1