
Perang makanan Rev
Sejak hari itu, aku dan Yesie kembali berteman. Semakin kemari semakin dekat. Instingku juga terus memperingatkan bahwa waktu untuk meninggalkan semuanya semakin dekat.
"Snif... Snif..." Alya mengendus aroma tubuhku saat aku pulang ke rumah.
Aku menjauhkan wajahnya dari leherku. "Hentikan, aku baru saja berolah raga di sekolah, tidakkah aroma keringatku bau?"
Gadis itu mengepalkan tangannya dengan tekad yang kuat di matanya. "Aku harus memastikan sesuatu! Rein sepertinya memiliki aroma wanita di tubuhmu."
Aku menghela nafas, sambil menahan kepalanya agar tidak terlalu dekat denganku. "Akukan Wanita, tentu saja berbau seperti wanita."
Lalu ku tinggalkan Alya yang mengekoriku ke kamar. "Maksudku ada aroma lain, Rein! Sepertinya aroma orang lain begitu lekat di tubuhmu! Belakangan ini juga begitu, tapi kali ini lebih kuat. Rein tidak berbuat yang aneh-anehkan?"
"Apa yang kau pikirkan Lea? Hentikan imajinasi liarmu. Aku lelah, ingin mandi. Jadi jangan ikuti aku lagi."
Dengan pakaian ganti di tangan kanan dan beberapa pakaian kotor di tangan yang lainnya, aku melangkahkan kakiku ke dapur. Di sisi dapur ada ruangan yang seukuran dengan dapur. Disanalah tempat para manusia di rumah ini mandi, mencuci pakaian, atau mencuci piring. Ruangan itu adalah kamar mandi umum di rumah ini.
Belum lama pintu kamar mandi tertutup. Suara manis Alya kembali terdengar. "Rein cepatlah mandi! Aku ingin menunjukkan sesuatu!"
Dan banyak lagi omong kosong yang ia ucapkan di balik pintu. Tapi ku abaikan saja. Jika di ingat-ingat lagi, tingkah Alya benar-benar seperti Spongebob Squarepants yang selalu mengganggu hari indah Squidward Tentacles.
__ADS_1
Tapi aku tak sepenuhnya membencinya. Aku selalu merasa Alya yang misterius adalah orang yang di kirim untuk menemaniku, di waktu yang menurutku akan berakhir. Begitu ritual mandiku telah selesai, aku di sambut oleh aroma yang belum pernah ku hirup sebelumnya.
Aroma ini sedikit membuat jantungku berdebar. Dan instingku untuk makan meningkat. Rasanya ada sesuatu yang bangkit dalam diriku, saat aku menghirup aroma ini. "Rein, aku membuatkan ini untukmu. Ku pikir kau akan suka."
Alya berkata dengan teriakan senang. Di tangannya ada sebuah Piring yang atasnya di tutup oleh sesuatu. Sehingga aku tidak tau apa menu di balik tutup itu. "Hm... Dari aromanya, sepertinya sangat lezat."
Kemudian Alya tersenyum angkuh ke Hallin yang juga memegang piring. Piring yang di pegangnya juga di tutupi oleh tutup kecil. Melihat senyum angkuh Alya, wajahnya berubah Masam. Melihat dua wanita berbeda usia itu memegang piring berisi makanan, di waktu makan siangku. Aku menebak beberapa hal. "Dimana Ibu? Mengapa kalian yang memasak?"
Hallin meletakkan piring di tangannya ke meja makan. Lalu mendorong tubuhku ke salah satu kursi. Dengan menekan bahuku, akupun di buat duduk di salah satu kursi. Hallin menepuk bahuku pelan, lalu berkata. "Ibu baru saja pergi bersama si kembar, tak lama sebelum Kakak mandi. Mereka pergi ke rumah Nenek. Dan akan kembali besok sore. Jadi yang masak makanan adalah aku dan Kak Alya."
Dia berkata dengan senyuman yang mengembang. Namun aku merasakan ketegangan diantara dua gadis ini. Masing masing dari mereka tersenyum dengan peringatan di mata mereka. "La-lalu bagaimana dengan Ayah?"
Alya meletakkan piringnya, ia melangkah ke sisiku yang lainnya. Tangannya bergerak mengusap rambutku perlahan. Tangannya bergerak halus menyisir helaian rambut pendekku. "Paman pergi ke kota untuk sebuah keperluan. Belum di pastikan berapa lama ia di sana."
Di akhir kata ada suara tawa kecil yang membuat Alya terkesan misterius. Penekanan pada kata 'Segar' membuatku secara tak sadar merinding. Hallin juga menyeret piring miliknya ke depanku. "Kakak, makan juga buatanku. Aku telah belajar banyak dari Ibu. Dan aku tau selera makan Kakak yang aneh hanya bisa di penuhi olehku atau Ibu. Bukan oleh orang asing."
Kalimat terakhir di ucapkan dengan nada dingin. Sekarang aku sangat yakin, inilah yang di sebut persaingan para gadis. Aku dapat merasakan peringatan yang kentara dari tatapan mereka berdua. "Tenangkan diri kalian, ini bukanlah lomba masak. Tidak perlu bersaing seketat itu bukan?"
Alya dan Hallin menggebrak meja makan dengan tangan mereka bersamaan. Suaranya yang berisik membuat aku terkejut. "Kalau begitu makanlah makanan buatanku. Kami yakin makanan pertama yang di makan Kakak/Rein adalah yang terenak!"
Mereka berkata bersamaan, kepalaku di penuhi dengung suara mereka. "Kalau begitu aku akan makan semuanya bersamaan!"
Saat ku buka kedua tutup dari piring makanan itu. Aroma masakan yang membuat seleraku naik muncul dari keduanya. Dari piring milik Hallin memiliki aroma yang biasanya di buat Ibu. Sedangkan dari piring Alya, itu di dominasi oleh warna merah yang menantang. Aku sendiri tidak tau apa itu, tapi samar-samar aku dapat mencium aroma menggiurkan darinya. Aroma sesuatu yang tak pernah ku cium. Memang makanan yang di buat Hallin itu menggugah seleraku. Tapi makanan yang di buat Alya lebih menggodaku. Air liurku menetes saat melihatnya.
Segera ku seka air liur yang hampir menetes keluar mulutku. Karena aku berjanji akan memakan keduanya, maka ku tusukkan garpuku ke masing-masing daging di piring. Tapi saat garpu menusuk daging di piring milik Alya, garpunya sedikit membal dan tidak menyisakan lubang sedikitpun.
__ADS_1
Berbeda dengan daging di piring milik Hallin yang begitu juicy. Dengan mudah garpu menancap di sana. Ku lirik dua wanita yang menatapku dengan tatapan penuh perhatian. Aku tidak tau harus apa. Kemudian aku berkata dengan nada canggung. "Karena garpu..."
Belum selesai kalimatku, Aura mengerikan dari Alya keluar. Aku meneguk ludah. Aura mengancam yang di keluarkannya membuatku merasakan apa yang di sebut ketakutan untuk pertama kalinya. Kemudian aku menukar garpu yang tak mampu menusuk daging itu dengan pisau makan.
Meski agak sulit, pisau itu masih mampu membelah serat daging yang seakan masih mentah. Dengan mengambil potongan kecil, akupun mulai memasukkan kedua daging berbeda warna itu ke mulutku.
Keempukkan daging dari piring Hallin terasa lezat sebagaimana lezatnya masakan Ibu. Namun, perasaan taring yang mengoyak serat daging yang di berikan potongan daging dari piring Alya membuatku ketagihan. Bila ingin jujur, tentu rasa dan sensasi baru yang di berikan oleh Alya lebih mantap. Tapi melihat persaingan mereka yang seperti perang besar, aku tidak ingin jujur.
"Bagaimana rasanya?" Dua gadis itu mendesak ku untuk berkomentar.
Ah! Aku merasa hidupku sudah di ujung tanduk!
Baiklah, Mari berpikir! Berputar lah otakku!
"Hm... Keduanya sangat enak." Aku berujar dengan wajah datar yang biasa. Dengan ekspresi dan nada datar, maka tak akan ada yang menyadari kebohonganku.
"Sekarang kalian keluar dari ruangan ini ya. Aku ingin makan tanpa gangguan. Tatapan kalian yang begitu intens seolah menelanjangiku, sehingga itu membuatku tidak nyaman." Aku berkata sembari mendorong dua gadis muda itu, keluar dari dapur.
Setelah menutup rapat pintu dapur, jendela dan segala akses menuju ruangan ini. Aku pun mulai menikmati makanan di depan mejaku dengan santai. Pertama aku memakan daging buatan Hallin dengan nasi. Setelah kandas, ku makan makanan milik Alya dengan perlahan.
Untuk apa?
Tentu saja untuk menikmati cita rasanya yang menarik dan unik!
Jujur saja ini sangat enak. Jika harus di beri rating, maka rating makanan milik Alya adalah bintang sepuluh jika ada!
__ADS_1