Who Am I?

Who Am I?
Aku dan Yesie


__ADS_3


Aku dan Yesie Rev



Seperti yang terlihat dengan mata telanjang. Aku dan Yesie mulai akrab, ya, pendekatanku berhasil. Dalam delapan belas tahun hidupku, kehadirannya adalah yang paling berarti. Namun instingku mengatakan bahwa pertemanan ini akan segera berakhir.


"Hei Kak, apa Kakak tau?" Iqish menyenggol bahuku.


"Tidak."


"Kan belum ku ucapkan...." Matanya menatapku kesal.


"Kalau begitu katakan apa yang kau tau." Aku kembali menatap bukuku. Jam kosong benar-benar menyiksaku. Aku ingin segera istirahat dan pergi ke tempat favoritku.


"Kakak terlihat seperti seseorang yang sedang kasmaran loh...." Dia menggodaku dengan mata menyipit dan seringai lebar.


"Dari mananya?" Tanyaku.


"Begini...." Iqish meminjam buku catatan kecilku dan pena.


Ia tampak mencoret sesuatu di kertas bukunya. "Ini adalah ekspresi Kakak saat tidak ada Kak Yesie. Dan ini ekspresi Kakak saat Kak Yesie di sekitar. Kakak benar-benar seperti orang yang sedang jatuh cinta"


Iqish tertawa geli, sambil menepuk-nepuk bahuku. "Itu wajar 'kan? Sejauh yang aku ketahui kau seharusnya juga begitu dengan Rinmie."


"Ehehe... iya juga sih." Iqish hanya cengengesan dengan wajah konyol.


Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi. Iqish menarik tangan Rinmie dan menghilang dari kelas dalam hitungan menit. Aku melihat Rinmie yang tertekan. Hahaha... aku memahami perasaannya.


Seperti biasa aku melangkahkan kakiku menuju tempat favoritku. Aku telah setuju dengan Yesie. Saat jam istirahat pertama kami akan bertemu di tempat favorit, sedangkan saat jam istirahat kedua kami akan bertemu di kelasku.


Ku lihat sosok punggung familiar di sisi semak belukar. Ya, itu seharusnya adalah Yesie. Seakan mendengar langkah senyapku, gadis muda itu berbalik dan tersenyum manis padaku.


Ada buku dan pena di tangannya. Ya, aku tau dia memiliki hobi yang sama denganku saat kami mulai dekat. Satu hal yang berbeda adalah, aku suka membuat puisi dan dia tidak. Yesie hanya suka mendengarnya. Aku duduk di sisinya.

__ADS_1


Saat itu, aku tidak sengaja mematahkan jari di tangan kiriku. Hah... ini merepotkan. Aku meletakkan bukuku, dan mulai mengeluarkan isi sakuku. Pergerakanku membuat gerakan Yesie terhenti. "Kamu kenapa?"


Aku memperlihatkan tanganku yang terluka. Kali ini jari telunjuk. Tepat di buku-buku jari. Tulang putih menyembul keluar saat aku memperlihatkannya. Yesie menatapku prihatin. "Aku tau tubuhmu unik, tapi mengapa terlalu rapuh? Maaf nih, tubuhmu seperti Zombi."


Aku mengangkat bahu. "Begitulah, aku tidak tau mengapa bisa begini."


Aku mencoba untuk membalut luka kecil ini. "Apa tidak sakit?"


"Aku tidak bisa merasakan sakit."


"Saat pertama kita bertemu juga, jarimu terlepas bukan?"


"Ya, tubuhku rapuh seperti tubuh Zombi. Wajah kaku dan suhu tubuh yang dingin. Jika bukan karena kemiripan wajahku dengan ayah, ku pikir aku adalah zombi mutasi yang berkeliaran di film-film Sci-fi itu."


" Sepertinya kau kesulitan, biarkan aku membantumu." Yesie mendekatkan dirinya ke sisiku dan mulai membantuku membenarkan posisi jari telunjuk tangan kiriku.


"Terimakasih."


Yesie menepuk bahu kiriku. Ia berkata dengan senyum manisnya. "Tidak ada Terimakasih dalam hubungan kita. Tapi jika ingin membalaskan bukannya tidak ada cara."


Ia tampak semakin misterius di mataku. Terutama saat senyum dinginnya di perlihatkan. Aaaa mleyot hatiku jadi bubur. Mempesona! Anggun! Pintar dan cantik!


"Hihihi... Wajahmu memerah tuh, aku tidak tau apa yang salah denganmu. Tapi setiap aku memperlihatkan senyum jahat, tatapan sinis atau kata hinaan. Pasti wajahmu memerah."


Aku menghela nafas panjang, bagaimana tidak merah? Kamu begitu manis! Namun aku tidak berani mengatakannya.


"Omong kosong, mungkin saja itu hanya perasaanmu. Apa yang kau inginkan kalau begitu? Biar Arian ini akan membalaskannya untukmu." Aku berkata dengan nada serius.


Gadis itu tertawa hingga air mata menggenang di ujung matanya. "Mendengar nama Arian dari mulutmu, rasanya aneh. Kau terbiasa menyebutkan dirimu sebagai 'aku'. Ketika kau menyebut dirimu sebagai Arian di depanku, aku merasa melihat pria muda yang manja, hahaha..."


"Oke-oke berhenti tertawa, katakan apa keinginanmu Nona muda?"


"Hm... Aku ingin memelukmu ketika hari terasa panas." Seperti bocah kecil yang bahagia, Yesie mengangkat kedua tangannya untuk menunjukan semangatnya.


"Bolehkan?"

__ADS_1


Wajahnya berseri terkena sinar matahari, senyumnya bahkan sama hangatnya dengan matahari. Matanya begitu indah, ada kegelapan tak berdasar di kedalaman matanya. Seolah membuatmu terhipnotis untuk mengatakan 'Ya!'


"Ya... Boleh boleh saja. Memangnya kenapa?"


Mendengar jawabanku, gadis muda itu memelukku. Sesekali ia menggunakan telapak tanganku untuk di kompres kan ke wajahnya. "Dingin dan nyaman." gumamnya.


Dalam kondisi seperti ini, aku tidak bisa tenang. Pikiranku entah sudah melayang kemana. Biasanya jika ada interaksi intim seperti ini, akan terbawa mimpi. Dan biasanya di mimpi itu aku akan... Argh lupakan.


"Oh iya, ngomong-ngomong apakah tubuhmu memang sudah rapuh sejak kecil?"


Tatapannya tampak perihatin, ada sedikit kasih sayang kepada sesama teman di matanya.


"Ya. Tapi tidak juga. "


"Mengapa?"


"Menurut yang ku ketahui, tubuhku bisa lebih keras di banding batu, ketika emosiku memuncak. Aku tau itu ketika aku masih sangat kecil. Saat itu aku masih kelas dua SD. Teman baikku Triana menangis karna gangguan seorang bocah lelaki paling nakal di kelas. Aku sangat marah karna bocah itu. Aku mengejarnya dan melemparkan sebuah pukulan padanya. Tapi pukulan itu meleset dan menghancurkan sebuah meja belajar di kelas. Bocah itu menangis ketakutan, dan aku di tegur oleh Bu guru."


"Waaahh artinya kau termasuk kuat dong ya?" Tatapan matanya penuh Kilauan kagum.


"Tidak, karna kondisi untuk membuat emosiku memuncak sangat jarang terjadi. Seingatku itu pernah terjadi hanya sekali."


Yesie mengangguk-angguk. Ia kembali mengusapkan kepalanya ke telapak tanganku. Matanya memicing seperti Kucing yang di usap majikannya. "Bagaimana denganmu? Apakah ketidakhadiranku di tempat ini baik atau buruk?"


Mata indah gadis itu terbuka. Senyuman manis muncul di bibirnya. Ia menatapku sesaat. "Sebenarnya sejak aku mengenalmu, aku merasa emosiku meringan. Setiap aku mengingat hari itu, ada kedamaian di hatiku. Setiap hari di jam yang sama aku selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat ini. Untuk pertama kalinya, aku merasa kecewa saat tidak melihatmu di sini. Aku memberanikan diri untuk mencarimu di kelas. Tapi tidak ada kau di sana."


"Maaf, aku sakit saat itu."


"Aku tau.. tapi ku harap kisah pertemanan ku dan kamu akan menjadi happy ending. Aku juga berharap kita tidak akan mengalami apa yang di sebut konflik." Yesie tersenyum dengan senyum peringatan.


Matanya tertutup dengan lengkungan bulan sabit. Mulutnya mengulum senyum manis. Tapi instingku memperingatkan ku dengan keras bahwa Yesie sedang memperingatkan ku. Kalimatnya seolah berkata 'Tidak boleh meninggalkan aku, dan tidak boleh ada pertengkaran di antara kita.'


Aku tidak bisa tidak meneguk ludah gugup. Apakah aku sudah mengikatkan bunga beracun ke sisiku?


Aku yakin aku akan merasakan lebih banyak debaran jantung di masa depan! Karna tiga hal yang membuat jantungku berdebar-debar ada pada Yesie!

__ADS_1


Sebenarnya debaran jantungku akan membuatku mengingat sesuatu yang samar. Mungkin dengan kehadiran Yesie, aku dapat mengingat sesuatu yang aku lupakan.


__ADS_2