Who Am I?

Who Am I?
Bapaknya Yesie


__ADS_3


Bapaknya Yesie Rev



Aku melangkah dengan perasaan kosong ke kamar yang terasa sangat besar bagiku. Setiap kali pulang sekolah, kamar ini terasa dingin. Rasanya setiap memasuki kamar ini, perasaan merasa ditinggalkan dunia akan menghampiriku. Aku benar-benar kesepian setiap berada di kamar ini.


Aku sengaja membuka pintu kamar sedikit lebar, agar para kucing dapat menemaniku yang kesepian. Lalu mereka bermunculan memasuki kamarku. Sebelumnya mereka akan mengelilingi kamarku, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang. Lalu datang untuk menguburku dengan bulu-bulu lembut mereka.


Sedikit bermalas-malasan membuatku merasa nyaman. Rasa letih dan lelah akibat mengejar materi yang tertinggal belakangan ini telah sirna secara perlahan. Lalu malam ini aku harus kembali belajar, sebenarnya untuk merangkum materi untuk ujian. Aku akan meringkasnya dengan bahasaku lalu menghapalya di malam sebelum ujian tiba.


"Kak, Ibu memanggil Kakak." Hallin mengusir Anak-anak kucing dari tempat tidurku. Lalu aku menyusulnya menemui Ibu.


Saat berjalan aku bertanya kepada Hallin. "Sejak kesembuhan Kakak, Kakak tidak melihat si kembar. Dimana mereka?"


"Ee... Aku tidak tau... Mungkin mereka sedang bermain di luar..." Hallin menjawab dengan penuh keraguan.


Aku hanya menghela nafas pasrah. Rasanya hubunganku dan yang lain menjauh setelah aku sakit. Teringat lagi olehku wajah Hallin yang menangis saat itu, ia menangis sambil mengatakan aku yang katanya seperti orang kesetanan. Haih... Aku bahkan tidak punya ingatan itu, aku tidak tau apa yang terjadi.


Saat aku melihat Ibu yang menyesap kopi susu di halaman belakang, aku di minta duduk. Ada kopi pahit di atas meja. Ya, ku kira mungkin itu untukku. Aku duduk di sisi Ibu. "Minumlah kopinya, bukankah itu kesukaanmu?"


Aku menyeruput kopi untuk merasakan aroma dan rasanya perlahan. "Ada apa Bu? Mengapa memanggilku?"


Ku lihat Ibu juga menyeruput kopinya. Lalu ada Hallin yang memberi makan para Anak-anak kucing. "Sebentar lagi ujian kenaikan kelas tiba, jadi Ibu ingin mengingatkanmu lagi. Jangan memaksakan dirimu..."


Aku meneguk air kopi, sambil menatap ekspresi ketakutan Ibu, yang seolah baru saja mengingat sesuatu yang buruk. "Ibu baik-baik saja?"


Ibu mengangguk. "Pokoknya, jangan memaksakan diri. Oh iya, nanti saat libur semester. Akan ada keluarga jauh yang datang. Ayahmu bilang dia seumuran denganmu. Dan akan menginap di kamarmu. Dia juga akan menjadi murid pindahan."


Aku merasa tertarik dengan kalimat Ibu. "Yang benar? Apa dia seorang gadis?"

__ADS_1


Hal itu yang pertamakali ku pikirkan. Untungnya ibu tidak memperhatikan kejanggalan dalam kalimatku. Ia hanya mengangguk dengan senyuman bahagianya. "Benar, namanya Alya Perwita."


Nama yang Ibu ucapkan senada dengan nama Calya Bawita. Membuatku mengingat mimpiku saat itu, dimana aku mengintipnya di sela bambu. Sore berlalu dengan beberapa perbincangan lagi. Saat kopiku telah habis, Ibu memintaku mandi.


Aku melanjutkan rutinitasku yakni merangkum materi dan mengerjakan beberapa tugas tambahan. Sayang sekali aku ketiduran saat hari mulai larut. Aku tidak tau siapa yang memindahkan aku saat tidur, di pagi hari aku bangun dalam keadaan berselimut di tempat tidur.


Dengan semangat yang tersisa beberapa, aku segera bangun untuk kembali menjalankan hari melelahkan. Untungnya di sekolah aku menjalani hari yang menyenangkan dengan Yesie.


Dengan percakapan ringan kami hari ini, aku menceritakan kerabat jauhku yang akan menjadi murid baru kepada Yesie. "Wah... Apa dia semenyenangkan dirimu?"


"Aku tidak tau, aku hanya tau namanya. Ibu berkata namanya Alya Perwita. "


"Ya, aku harap dia juga menyenangkan sepertimu, atau sehati dan sepemikiran seperti kita." Yesie berkata dengan semangat di matanya yang gelap.


"Ya, kuharap begitu..."


"Oh iya, nanti Bapakku yang akan menjemputku. Apakah kau ingin bertemu dengannya? Cara berpikirmu mirip dengan Bapakku, jadi ku pikir kalian harusnya cocok." Ujar Yesie.


Dari cerita Yesie, ia merupakan korban dari penceraian orang tuanya. Yesie hidup dengan Bapaknya, tak ada Ibu di sisinya. Sebenarnya jika itu aku, aku tidak tau harus berbuat apa. Meski Ayah sepemikiran denganku, yang benar-benar mengerti aku dan mengenal diriku hanyalah Ibu.


Mendengar bahwa hari ini Yesie akan pulang bersama dengan Bapaknya, tentu aku senang. Aku ingin melihat seperti apa rupa Ayah yang juga merangkap tugasnya sebagai Ibu. Aku yakin dia pasti orang hebat. Yesie sesekali melirikku. "Kenapa?"


Yesie berkata dengan mata menyipit. "Aku tidak tau apa yang kau pikirkan Arian. Tapi sejak tadi senyum tipis di mulutmu tak pernah berhenti terbit."


"Ah, mungkin hanya perasaanmu saja." ujarku.


Mungkin karna aku menunggu sekolah berakhir, jam rasanya bergerak lebih lambat dari biasanya. Pelajaran sejarah membuatku mengantuk. Segala yang di jelaskan hanyalah monyet-monyet tua yang dikatai manusia purba kala. Aku sudah tidak terlalu tertarik dengan itu.


Karna aku duduk di bagian belakang, aku berniat untuk tidur. Dengan menggunakan buku tebal khusus dari perpustakaan, aku menutupi wajahku seolah sedang membaca. Ku harap dengkuran ku tidak terdengar oleh orang lain.


Aku bermimpi menjadi Macan hitam besar. Saat aku berjalan-jalan di wilayahku, aku bertemu dengan pemukiman kecil yang mirip dengan suku pedalaman. Saat aku melompat ke pemukiman itu, ada yang aneh. Aku memang melihat pemukiman, tapi isi pemukiman itu adalah ayam jumbo, bukan manusia.

__ADS_1


Tapi tidak apa-apa, ku rasa memakan ayam pun bukan hal yang buruk. Dengan ukuran ayam yang gemuk, tentu saja aku sebagai macan kelaparan sangat senang. Ku kejar mereka, sembari mempermainkan. Perasaan mempermainkan mangsa di bawah cakar sangatlah menyenangkan.


Lalu aku mendengar teriakan marah. "Argh! Kau hendak mencuri Ayam-ayam ku?!"


Saat aku berbalik, itu adalah monyet besar yang memegang sebuah tongkat kayu. Aku berlarian kesana kemari. Namun sekuat apapun aku berlari, monyet besar itu selalu saja dapat mengejar.


"Aaaarrgh!!!


"Hei, Arian, berhenti berteriak, suaramu terlalu menyeramkan, saat di dengar di ruangan sunyi ini." Saat aku merasakan bahuku di goyang-goyangkan oleh sesuatu, aku membuka mata. Hal yang pertama kali ku lihat adalah sepasang mata khawatir. "Sepertinya kamu di kerjai orang sekelas Arian. Mereka tidak membangunkanmu bahkan saat bel pulang telah berbunyi."


"Ya, sepertinya begitu."


"Mari kita ke gerbang bersama. Aku akan memperkenalkanmu dengan Bapakku."


Aku segera berkemas. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan Bapaknya Yesie, aku ingin belajar sesuatu darinya. Akupun mengikuti Yesie ke gerbang depan. Saat kami sampai Yesie membawaku bertemu seorang Bapak-bapak bertopi.


Wajah bapak itu putih, keriput menandakan usianya yang sudah tua. Tatapannya teduh dan senyumannya hangat. Ia tersenyum saat melihat Yesie mendekat. "Pak, ini Arian. Teman yang pernah ku ceritakan itu."


Aku menyalami tangan bapak itu dengan kegugupan. Saat itu aku merasakan tangannya tersentak saat ia menyentuh tanganku. Ku rasa dia terkejut karna suhu tanganku.


Saat mata kami berpapasan. Wajahnya memucat. Ia tampak panik saat melihatku. "Ndut ayo naik cepat! Kabur! Cepat Ndut!" Ia segera menyalakan motornya secepat yang ia bisa.


Aku tau Bapaknya Yesie pasti melihat sesuatu dariku. Tapi apa yang ia lihat hingga ketakutan begitu? Lalu mengapa dia ketakutan?


Semua hal ini kembali membuatku memikirkan kata, siapa aku sebenarnya?


Mengapa ini? mengapa itu? Haih... Setiap kali aku memikirkan hal yang tidak terjawab ini, aku akan sakit. Bagaimanapun aku tidak dapat mengetahui apapun. Semua orang yang ku pikir mengetahui sesuatu tentang ku, tampaknya akan menutupi kebenarannya dariku.


Ibu muncul dengan klakson sepeda motornya. Aku menghampirinya, dan kami pulang bersama. Di perjalanan Ibu berkata hal yang membuatku mengingat Yesie dan Bapaknya.


"Tadi ada Bapak-bapak kecelakaan. Bawa motornya kencang banget sih. Ibu tidak yakin apakah mereka selamat, karna sepertinya darah di jalanan terlihat banyak sekali tadi."

__ADS_1


Aku hanya dapat berharap kalau itu bukan Yesie.


__ADS_2