
Chapter spesial 2
'Mengunjungi teman lama 1'
Setidaknya dengan Lea yang tidur di kamar Hallin, aku dapat tidur tenang. Naif jika aku berpikir begitu. Karna di malam hari pintu kamarku di buka. Lebih tepatnya di tengah malam. Aku yang tidur-tiduran dengan santai dan tenang, tiba-tiba terbangun karna seseorang melompat dan duduk di perutku.
Siapa lagi jika bukan Lea.
"Hm.. ada apa?"
Biasanya dia menginginkan sesuatu. Seperti ngidam atau apalah itu. "Raj! Aku mau nasi goreng! Aku mau yang warnanya merah! Bangun Raj! Buatkan aku nasi goreng merah!"
"Iya-iya, aku bangun."
Agaknya istri cantikku senang dengan jawaban itu. Ia mengecup pipiku dengan gembira. Dan itu tidak sekali, ia mengecup pipiku berkali-kali karna senang. Yah, tak hanya di pipi, di dahi, bibir atau pucuk hidung juga. Intinya ia mengecup seluruh wajahku.
"Oke-oke berhenti mengecupku, aku akan mulai memasak."
"Oke, tapi gendong aku menuju meja makan yang ada di dapur." Ia berujar dengan nada manja.
Aku pun mulai menggendong Ratu manjaku. Ku intip jam yang terpasang di dinding. Pukul tiga dini hari. Haaah... Karna seingatku orang di rumah ini tidak terlalu menyukai makanan pedas, aku hanya membuat seporsi untuk Lea saja. Sembari membuat segelas kopi untukku tentunya.
Ku pikir aku bisa memasak dengan tenang tanpa menimbulkan suara. Siapa sangka memasak pada waktu dini hari itu begitu berisik. Saat itu aku baru saja menyelesaikan nasi goreng merah extra cabai dan saus. Yah, tidak merah sih. Mungkin agak merah muda.
Saat itu aku sedang menuangkan air ke gelas kopi. Ibu Rini dan Ayah Rini telah datang dan berjalan gontai ke sisi dapur. Aku pikir mereka mungkin takut ada pencuri memasuki rumahnya. "Maafkan aku, Lea ngidam nasi goreng merah. Aku tidak mungkin menolak orang yang sedang ngidam bukan?"
"Ya, tidak apa-apa... Hoam... Penting untuk Ibu hamil agar ngidamnya terpenuhi." Ujar Ibu Rini.
Saat aku memberikan piring nasi goreng. Lea segera menyantapnya. "Em... Perlukah aku membuat yang baru untuk kalian? Atau kalian ingin teh?"
Wajah Ayah Rini memucat. Sedangkan Ibu Rini hanya menggeleng pelan. Dengan senyuman halus, ia berujar. "Tidak perlu... Kalian nikmati waktu berdua saja."
"Ya! Ka-kami akan kembali tidur. Selamat malam Nak Rein dan Alya." Ayah Rini berujar dengan nada panik. Lalu membawa istrinya ke kamar untuk tidur. Hehehe... Bagaimana tidak panik ketika Raja siluman menawarkan diri untuk membuatkanmu minuman atau makanan.
"Bagaimana? Apa saja yang kau dapat dari berbincang dengan Hallin?" Aku bertanya sambil menyeruput kopi hangatku. Ah, aroma kopi memang paling menyenangkan.
"Banyak. Aku mendapatkan seluruh info teman-temanmu! Rata-rata dari mereka sudah menikah. Namun Yesie tidak, dia masih mengembangkan karirnya sebagai Guru Biologi. Selain itu ia juga menjadi seorang penulis yang cukup terkenal di masa ini. Selain itu, aku juga menunjukkan Hallin alamat rumah kita di dunia manusia. Tidak apa-apa bukan?"
"Yah, ku rasa tak apa. Ia bisa datang kapanpun ia mau. Nanti aku yang akan bicara dengan kepala pelayan. Bagaimanapun kita jarang menerima tamu Manusia." Sambungku lagi.
Lea hanya menganggukkan kepalanya dengan pipi penuh. Pipinya bulat sebab ia mengunyah nasi goreng. Ini mengingatkanku dengan teman kecil Ratna. Ratna punya teman siluman Tupai betina. Mulutnya selalu penuh dengan kacang. Ku pikir Lea sekarang terlihat seperti dia.
__ADS_1
"Rein mau?" Tanyanya.
Aku menggeleng. Dia menawarkan aku makanannya saat yang tersisa hanya sesendok terakhir dari makanannya. "Tidak, aku tidak lapar. Makanlah."
Ada senyum di wajahnya saat ia menelan makanannya.
.....
Keringat dingin menetes di dahiku meski AC mobil sudah cukup dingin. "Istriku yang cantik, Ratuku yang baik, apa benar kau akan baik-baik saja setelah merokok begitu? Kamu kan sedang hamil. Kan ada peringatan di kotak rokoknya. Tuh, Ibu hamil tidak di perbolehkan."
"Ini barang manusia kan? Kita ini Siluman, janinku takkan selemah itu. Kecuali aku memang berniat membunuh Anakku." Lea berujar dengan penuh kebencian.
"Ja-jangan begitu..." Aku berujar dengan nada agak khawatir. Mungkin kebosanan mulai mengganggu Lea saat kami tak kunjung sampai ke rumah Radit. Ya, kami dalam perjalanan ke tempat itu.
Lea hanya tersenyum mencurigakan saat melihat jawabanku. Ia mengusap lenganku sejenak. Lalu berujar. "Tidak kok, inikan anak pertama kita."
Aku menghela nafas lega. Kebetulan kami sampai di depan rumah Radit. Mungkin karna ia adalah anak tunggal, rumahnya sama dengan rumah lamanya. Mungkin hanya berganti warna saja. Radit sudah menikah dan dia bekerja sebagai seorang dosen di sebuah universitas di kota ini. Menurut keterangan dari Hallin, di akhir pekan Radit selalu cuti untuk menemani anak dan istrinya.
Aku tak tau apa yang di pikirkan Lea. Sepertinya dia sangat bersemangat untuk menemui Radit. Di luar gerbang, ia memencet bel pagar berkali-kali. Saat itu seorang gadis kecil membuka pintu depan. Ia memiliki mata yang mirip dengan Radit dan wajah lucu yang ku pikir mirip dengan Ibunya. Tubuhnya mungil mungkin dia berusia tiga atau empat tahun. Saat melihatku, ia kembali berlari memasuki rumah.
Tak lama kemudian, Radit keluar bersama Istrinya yang sedang menggendong gadis kecil tadi. "Em... Alya ya?"
"Iya! Ini aku! Aku kemari buat mengunjungi Radit! Oh iya, ini suamiku Reindra Ambarawa." Lea berujar sembari memeluk lenganku.
"Radit." Aku dan Radit bersalaman sesaat. Sama seperti Anwar dan Arvid, Radit menatapku dengan mata aneh.
"Kalau begitu mari masuk Mas, Mba." Ujar istrinya Radit.
Meski sudah bertahun-tahun berlalu, Radit tidak pernah berubah. Ia masih mengenakan kacamata rabunnya. Selain itu wajahnya masih terlihat manis seperti dulu. Mungkin hanya menjadi tampan sedikit di bagian tertentu. Bagaimanapun kini ia telah tumbuh dewasa.
Kami memasuki halaman rumahnya. Lalu istrinya yang namanya Mayang itu membukakan pintu masuk. Aku dan Lea duduk di kursi ruang tamu. "May, buatkan kopi dan dua teh ya."
Setelah memberikan anak mereka, Mayang mengangguk dan pergi. Aku sangat heran, mengapa orang-orang tau aku menyukai kopi? Padahal sekarangkan aku ini bukan Rini. "Apakah Anda menyukai Kopi Tuan Rein?"
"Kebetulan aku menyukainya." Ujarku.
"Syukurlah jika demikian. Maafkan saya, nama Anda dan aura Anda menyerupai teman lama saya. Saya jadi merindukannya." Wajah Radit tampak sedikit sendu saat itu.
"Papa... jangan sedih..." Anak Radit memeluk Radit.
"Kamu jangan terlalu tenggelam dalam duka, Radit. Reinkan anak baik, meski dingin dia anak baik. Jadi dia pasti sudah bahagia di alam sana." Lea berujar sembari menghibur Radit.
__ADS_1
Mata kiriku berkedut saat mereka berbincang pelan mengenai diriku saat menjadi Rini. "Aku masih tak bisa melupakan Boss. Tuan Rein mirip sekali dengan Boss, aku tak yakin bagian mana yang mirip, tapi kalian sangat mirip. Ini membuatku kembali ingat ke masa itu."
Sepasang matanya berkaca-kaca. Dia pasti sangat merindukan aku. "Masa itu? Kapan? Ayo cerita!"
"Lea, Radit terlalu sedih untuk bercerita." Aku berbisik.
Lea meremas rambutku. "Aaa, aku mau dengar cerita. Rein suruh Radit cerita! Bayinya mau dengar cerita!"
Aku berujar sembari meringis menahan sakit. "Maafkan aku, istriku sedang hamil. Moodnya agak berubah-ubah. Kalau seandainya Radit tidak ingin cerita juga tidak apa-apa."
"Aaaa... Rein jahat! Aku mau dengar cerita! Bayinya mau dengar cerita!" Lea meremas rambutku lagi.
Tak lama Mayang datang. Meski di sembunyikan aku dapat melihat ekspresi terkejutnya. "Mas, mungkin sebaiknya cerita aja... Siapa tau rindu Mas terlepaskan jika bercerita. Selain itu kasihan Mas Rein."
Aku lihat kalau Radit sempat menatapku cukup lama. "Baiklah, Alya, aku akan bercerita."
"Yay!" Lea melepas cengkramannya dari rambutku. Lalu mulai menantikan Radit untuk bercerita.
Radit melirikku. Aku memberikannya jempol tanganku. "Thanks Bro."
Ia hanya cengengesan pelan. Aku merasa moodnya naik. Ia tidak sedih lagi. Aku menyandarkan kepalaku di kursi tamu. Untuk menghilangkan perasaan perih akibat rambut yang di remas Lea. "Rein di minum kopinya. Alya juga."
Radit menyuguhkan kopi dan Teh kepada kami, lalu mulai bercerita. "Seperti biasa, di hari ulang tahun Boss, kami selalu datang untuk merayakannya bersama. Aku datang bersama Yuda seperti biasa. Boss adalah pahlawan di hatiku, aku selalu suka saat aku bersamanya. Aku membawakan buku puisi terbaru dari pujangga favorit Boss sebagai hadiah."
Aku menyeruput kopi perlahan untuk menikmati cita rasanya. Beberapa kali aku memergoki Radit yang bercerita sambil menatapku sesekali. Aku tak tau apa yang ia lihat, yang pasti aku hanya ingin menyeruput kopi.
"Yuda juga membawa hadiah, aku tak tau apa isinya, dia membawa dua kotak. Yang satu untuk Hallin katanya. Kami datang dengan suka cita, namun di sambut dengan berita duka. Ada bendera putih yang berkibar di depan rumah mereka saat itu. Kami mengurungkan niat untuk memberi hadiah sebab itu hari duka. Aku sangat takut kalau yang mati adalah Boss. Dia selalu membual tentang hidupnya yang takkan sampai melewati dua puluh satu. Kami datang melayat sebagai sahabat. Hari itu kami datang beramai-ramai. Ada aku, Yuda, Ardian, Lesti, Bayu, Rangga dan Linda. Kami semua datang, tapi mayat yang kami lihat saat itu membuyarkan air mata kami. Itu adalah hari terburuk bagi kami semua. Di hati kami semua, Boss adalah teman terbaik. Aku jadi ingat saat terakhir kali aku melihat Boss di festival makanan. Aku sangat sedih setiap mengingat hari itu..." Mata Radit berkaca-kaca, ia melepas kacamatanya lalu mengusap air matanya sebelum jatuh.
"Reiiin... Huhuhu..." Lea melompat ke pelukanku. Kebetulan aku sudah menghabiskan kopiku. Dan gelasnya juga sudah di meja.
Aku menepuk punggungnya. Lea menangis cukup lama hingga ia tertidur. Aku menyeka air matanya yang telah kering. "Apakah Yesie datang di hari itu?"
"Eh?" Radit bertanya.
"Ah, maafkan aku. Lea tadi bertanya sambil menangis, tapi mungkin kalimatnya agak sulit di mengerti." Ujarku mencari alasan.
Radit memakai kembali kacamatanya. "Aku tidak yakin. Karna aku tidak melihatnya di manapun."
"Kalau begitu kami pamit Radit. Maaf jika aku dan istriku menyulitkanmu." Aku berucap kalimat perpisahan.
Radit hanya memberikan senyum maklum. Aku mengangkat tubuh Lea dengan gendongan ala pengantin. Ia tertidur begitu lelap sehingga saat kami pergi ia masih mengantuk. "Kami pamit." Aku melambaikan tangan sebelum pergi.
__ADS_1
Radit balas melambaikan tangannya dengan senyum lega di wajahnya.