Who Am I?

Who Am I?
Malam Mingguan


__ADS_3


Malam mingguan



Setelah hari itu, Ratna jadi sering datang untuk bermain. Ia sering menyamar menjadi teman sekelas yang ikut pulang untuk bermain. Apakah ia akan memasak bersama Hallin, atau sekedar menemani kami menghabiskan sisa hari. Kemarin ia datang lagi. Lalu aku berpesan kepadanya untuk membawa beberapa buku tebal di kamarku jika ia datang lagi.


Ini adalah pagi Minggu yang cerah. Aku baru saja mandi pagi dan sedang menikmati secangkir kopi pahit. Di hari biasa kehidupanku akan di sibukkan dengan banyak hal yang berhubungan dengan sekolah. Maka di akhir pekan seharusnya bersantai. Hallin akan menonton televisi bersama Arvid. Anwar akan memancing dengan Ayah. Ibu akan berkebun, aku biasanya membaca atau menulis puisi, dan Alya akan menemaniku selama sisa hari.


Sekarang aku sedang ingin membaca buku-buku tebal kemarin, atau berjalan-jalan di pasar Siluman. Tapi itu tidak mungkin untuk di lakukan sekarang. "Rein, apa yang kau pikirkan hingga wajahmu terlihat kusut begitu?"


Aku menatap Alya yang mengusap kepala kucing. "Tidak apa-apa, aku hanya sedang berpikir apa yang harus kita lakukan untuk sisa hari ini."


"Belajar bisa. Sebentar lagi ujian semester bukan? Di liburan semester kita bisa berlibur panjang. Itu hal yang menyenangkan." Ujarnya.


"Benar juga, bagaimana jika kita berkemah di hutan lain? Aku ingin melihat Siluman di sana." Aku berbisik agar pembicaraan ini tak di dengar oleh yang lain.


"Itu ide yang bagus. Jika Bibi tidak mengizinkan, kita bisa pergi dengan Hallin dan Paman. Seharusnya itu dapat berhasil. Dan aku juga ingin berburu, sudah lama aku tidak berburu. "


Saat Alya terlalu antusias, kukunya akan memanjang. Aku berdehem dan memperingatkannya. Berburu ya.. Benar juga, Aku adalah Macan Hitam, kemarin aku tak bisa bermain keluar dan hanya boleh bermain di istana.


"Lea, kamu bisa menghipnotis tidak?" Aku bertanya ketika aku memikirkan beberapa hal.


"Tidak."


Aku mengubah pertanyaanku. "Bagaimana dengan menyihir agar orang lain tidur nyenyak?"

__ADS_1


Alya terlihat berpikir sejenak. Ia kemudian berkata dengan wajah yang sedikit meragukan. "Sepertinya kalau itu bisa."


"Besok masih akhir pekan. Mari kita berburu malam ini."


Saat aku menawarkan itu. Alya menatapku dengan mata berbinar. "Waah! Benarkah?!"


Aku menganggukan kepala. Alya berteriak girang sembari memeluk diriku. Aku ingin mencoba berlari dan berburu dalam bentuk Macan. Karna Alya berkata ia ingin berburu, maka sekalian saja. Mari habiskan malam ini untuk berburu.


.....


Sejak tadi Alya bertingkah seperti orang kebelet, yang sudah kapacirit. Ia terus saja menyikut perutku dengan tidak sabaran. Ya, wajar saja sih. Bulan sudah naik dan bintang telah bersinar. Tidak ada tanda-tanda turun hujan. Ini adalah malam yang sempurna untuk berburu beberapa mamalia bertanduk.


"Tapi ini baru pukul tujuh, paling tidak tunggu langit berubah gelap. Atau tunggu setelah Ibu meminta kita makan."


"Hmph! Nanti kan kita juga makan!" Ujar Alya kesal.


Dengan bujukanku, Alya akhirnya menurut dan diam di sisiku. Aku mengusap kepalanya. "Kucing pintar, aku akan menangkap anak kerbau untukmu"


Aku berbisik dengan suara rendah. Beberapa ingatanku kembali saat aku berada di tubuh asliku. Salah satunya adalah Identitas Calya. Jika aku adalah Siluman Macan, maka Calya adalah siluman kucing hutan. Salah satu ingatan lain adalah Calya hobi berburu, binatang favoritnya adalah anak kerbau muda. Dagingnya yang empuk dan darahnya masih terasa segar dan manis. Binatang muda adalah favorit para gadis siluman karnivora besar. Itu seperti kue dan cemilan manis di dunia Manusia.


"Rein..." Hasilnya adalah Alya menatapku begitu intens dengan tatapan terharunya.


"Riiiin, Nak Alyaaaa, Hallin, Anak-anak, ayo makan malam!" Suara Ibu telah menggema ke seluruh ruangan.


Maka kami mulai melangkah menuju ruangan makan. Sebenarnya sejak aku memakan makanan buatan Calya saat itu, aku tak lagi berselera untuk makan makanan buatan Ibu atau Hallin. Aku yakin cepat atau lambat Ibu akan tau dan bertanya, untuk itu aku harus menyiapkan sebuah kebohongan kecil.


"Ya ampun kalian berdua makan sedikit sekali, di tambah dong." Ibu protes saat aku hendak menyudahi makanku.

__ADS_1


"Tapi..."


"Nak Alya, diet tidak baik jika kau secara paksa makan sedikit. Rin makanlah yang banyak nanti Magh mu kambuh." Ibu memperingatkan lagi.


Aku hanya meminum air. Namun sepertinya seseorang tidak tahan untuk mendengar celotehan Ibu. "Sudah cukup! Aku tidak suka jika orang yang lebih muda mengaturku!"


Alya berkata dengan nada Marah. Sebelum semuanya sempat bereaksi dengan kalimatnya. Alya mengangkat tangan kanannya, lalu merapatkan jari telunjuk dan tengahnya. Sementara jari yang lainnya di lipat. Mendekatkan tangan kanan itu ke sisi depan bibirnya, lalu ia membisikkan beberapa kata. Yang aku tak paham apa artinya.


Di akhir bisikan, ia menghembuskan asap kebiruan ke seluruh ruangan. Seolah mengantuk berat seluruh orang kecuali aku dan Alya terlihat merem melek. Mereka juga segera mengakhiri makan mereka, dan pergi berjalan seperti zombi. Aku yakin mereka pergi ke kamar.


Saat aku menoleh, Alya telah berubah menjadi Calya. Rambut abu-abunya yang khas terlihat mempesona. "Tunggu apa lagi! Ayo kita kencan! Maksudku berburu!"


"Aku harus menangani tubuh ini terlebih dulu." Setelah itu aku melangkah menuju kamar tidurku. Setelah berbaring, aku mulai mengumpulkan energi di udara. Lalu keluar perlahan dari tubuh Rini. Ini semua adalah kali pertama kulakukan. Jadi ada sedikit perasaan was-was. Tepat setelah aku keluar dari raga Rini Ariani, pembusukan mayatnya mulai terlihat dengan mata telanjang. Sebelum membusuk total, aku meletakkan energi yang ku kumpulkan tadi untuk mempertahankan kondisi tubuh Rini Ariani.


Tubuh mati Rini Ariani mampu bertahan karna ada energiku yang menahan dan memaksanya untuk tumbuh. Jadi begitu aku meninggalkannya, tubuh itu akan membusuk segera seperti halnya Mayat. Itu adalah teori yang entah bagaimana aku pahami begitu saja.


"Aaah! Rajendra!" Setiap kali aku secara sadar kembali kepada tubuhku sendiri, Calya pasti akan melompat senang ke pelukanku. Aku tak tau mengapa ia begitu.


"Ayo pergi." Mendengar Ajakanku, Calya sangat senang hingga kepalanya mengangguk-angguk seakan hendak lepas.


Aku dan Calya berubah ke bentuk Binatang. Meski aku sudah tau kalau Calya adalah Kucing hutan, aku masih saja terpesona saat melihat bentuk kucing hutannya. Terutama mata hijau Almondnya yang terlihat gelap.


"Aku tidak tau kamu begitu Imut" Aku memeluknya lantaran suka dengan bentuknya yang sekarang.


Calya mendorong wajahku agar menjauh dengan cakarnya. "Ayo kita pergi, Kau telah berjanji akan menangkapkan aku satu ekor anak kerbau."


Aku menghentikan tindakanku. "Oke mari kita pergi."

__ADS_1


Saat itu aku menggigit kulit punuk leher Calya untuk membantingnya agar ia terlempar ke punggungku. "Berpegangan ya, aku akan membawamu untuk pergi ke arena perburuan!"


__ADS_2